
HAPPY READING
AUTHOR BY AXRANS
********
Alya duduk bersandar pada sofa merah yang ada di pojok ruangan, sesekali dia memandang sekelilingnya sambil berargumen sendiri dalam hati, sesekali juga mencuri pandang pada seorang cowok yang telah membawanya paksa ke tempat ini. Dia sedang membicarakan pekerjaannya sejak beberapa menit yang lalu dengan beberapa orang yang dia kenalkan tadi sebagai temannya.
HP Alya bergetar tiba-tiba dan sedikit mengagetkannya. Sepertinya ada telpon masuk, dan benar saja sebuah nama yang sudah sangat dia hafal tertera di layar androidnya.
"Ada apa?" Alya mengawalinya dari balik telpon.
"Lo jadi ke rumah gue kan? Jam berapa?"
"Iya jadi, tapi belum tahu jam berapa. Nanti ya kalo urusan gue udah kelar."
"Lo ada urusan apa sih Al?"
Alya terkekeh mendapati sahabatnya berusaha kepo. "Ntar deh gue ceritain."
"Kok ketawa sih! Lo sekarang jadi super aneh ya, padahal kita baru nggak ketemu beberapa hari."
"Aneh apa'an sih Mir?"
"Pokoknya awas aja kalo sampe lo nyembunyiin rahasia dari gue!" Ancam Mira.
"Rahasia apa sih? Ada-ada aja deh lo. "
"Gue tahu nih lo lagi main rahasia-rahasian, udah kecium dari gelagat lo. Awas ya, gue nggak mau kalo ujung-ujungnya kayak kemarin dan gue nggak tau apa-apa."
Lagi-lagi Alya terkekeh dengan sedikit rasa bersalah. Dia akui memang dia bersalah karena tidak memberi tahu Mira sejak awal tentang persoalannya dengan Erosh dan Mega. Tapi untuk kondisi saat ini sepertinya bukan hal yang wajib untuk diceritakannya. Entahlah, Alya merasa malu atau lebih tepatnya dia belum ingin memberi tahu Mira jika dirinya kini menjadi lebih dekat dengan Erosh. Dia malu mengakuinya.
"Ketawa lagi nih anak!" Sentak Mira kesal.
"Em Mir, udah dulu ya. Nanti gue telpon lagi, belajar yang rajin sana!" Ujar Alya melihat Erosh berjalan menghampirinya. Sepertinya dia sudah menyelesaikan urusannya dengan teman-temannya tadi.
"Pokoknya kabari gue nanti!" Mira mematikan telponnya lebih dulu karena bel tanda berakhirnya istirahat sudah berbunyi. Dia harus bersiap menerima pelajaran selanjutnya.
"Mira ya?" Tanya Erosh melihat Alya baru saja melakukan panggilan. Dia mengambil posisi duduk sejajar dengan Alya.
"Kepo!"
"Emang siapa lagi yang nelpon lo selain Mira?"
Alya menatap cemberut. "Lo ngledek gue?"
Erosh terkikik.
"Lo mau ngajak gue kemana? Urusan lo di sini udah selesai kan?"
"Kenapa? Lo nggak betah ya di sini?" Erosh beralih menatap Alya, membuatnya sedikit grogi karena posisinya yang lumayan dekat.
"Gue nggak enak, temen-temen lo pada ngliatin gue." Alya memelankan suaranya. "Lagian kan tempat ini buat kerja bukan buat main-main."
"Karena lo beda, makanya diliatin. Temen-temen gue nggak ngrasa terganggu kok, mereka kan kerjanya di luar."
Alya mencibik, jelas saja dia berbeda, dia hanya cewek seorang diri. Sebenarnya Alya memang merasa canggung berada di bengkel milik Erosh. Apalagi dia tidak mengenal siapapun di tempat ini kecuali Erosh dan satu temannya lagi yang pernah dia lihat saat mobil Erosh pernah hampir menabraknya. Mira benar, ternyata dia baik juga. "Tapi lo tadi kan bilang cuma mau mampir sini bentar!"
"Iya, habis ini kita cabut! Gue mau ngajakin lo ke suatu tempat."
"Kenapa sih lo hobi banget ngajakin gue pergi? Gue kan ada janji sama Mira." Protes Alya, kalo bukan karena Papanya tadi pagi ngotot tetap ingin mengantarkannya ke sekolah, dia tidak akan meminta tolong Erosh lagi. Dan beruntungnya Erosh memang selalu muncul di saat keadaan Alya genting.
"Mira kan pulangnya masih nanti. Emangnya lo mau ngapain di rumah dia sendirian?"
"Tidur."
"Dasar tukang tidur!" Erosh bangkit dari duduknya sekaligus mengacak-acak rambut Alya pelan. "Ayo kita pergi!"
Alya tersontak kaget mendapati perlakuan Erosh, dia sedikit menahan nafasnya karena jantungnya saat ini berdetak lebih kencang. Dia menunduk malu dengan kedua pipi yang bersemu merah.
"Jadi pergi nggak?" Tanya Erosh melihat Alya masih mematung di tempatnya.
"Eh, jadi dong!"
Erosh tersenyum, dia tahu jika Alya tengah tersipu malu. Diapun juga tengah berusaha menyembunyikan eksrpresi wajahnya yang bersemu.
Setelah berpamitan pada Arga yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Mereka berjalan keluar menuju mobil Erosh yang terparkir di depan, dan sebelum melajukan mobilnya, kepada teman-teman yang lain, Erosh meninggalkan acungan jempolnya.
Tak berselang lama setelah kepergian Erosh dan Alya, sebuah mobil Jazz merah berhenti tepat di depan bengkel dengan kasar bahkan hingga menimbulkan derit mengejutkan karena gesekan aspal dengan ban mobil, mencuri perhatian dari beberapa teman Erosh yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Seorang cewek berseragam putih abu-abu keluar dari mobil dengan raut wajah tak mengenakkan. Tanpa memperdulikan keadaan sekitar bahkan gerombolan cowok yang sedari tadi menatapnya dia melenggang masuk bengkel.
"Erosh!" Panggilnya begitu tiba di dalam bengkel.
"Erosh nggak ada." Sebuah suara menyahut.
Cewek itu berbalik badan menatapnya. "Dimana Erosh?"
"Erosh pergi."
"Kemana?"
"Gue nggak tahu Meg."
"Lo jangan bohong Ga!" Mega melotot ke arah Arga. Kekeselannya hari ini sudah cukup menguras emosinya.
"Kenapa lo nggak nanya dia aja sendiri?!"
Mega menarik wearpack bagian depan Arga dengan kasar. "Gue nanya sama lo!"
Arga tersenyum santai, sama sekali tak terpengaruh dengan perlakuan kasar Mega. Arga tidak akan semudah itu memberitahu keberadaan Erosh, apalagi saat ini dia tengah bersama Alya. "Gue udah bilang sama lo, gue nggak tahu!"
"Bullshit!"
"Bukannya biasanya lo suruh Nyokap lo buat minta Erosh nemuin lo?"
Mega menatap Arga sengit mendengar penuturannya. "Diem lo!"
Arga mengangkat kedua tangannya. "Fine!"
Mega membuang nafas kasar dan melepaskan cengkeramannya pada Arga. Dia bergegas melangkah pergi setelah tak menemukan seseorang yang dia cari.
Arga menatap punggung cewek yang melangkah meninggalkan bengkel itu prihatin. Dia hanya geleng-geleng kepala, cewek itu sudah masuk ke dalam mobilnya lagi.
"Shit!!!" Umpat Mega setelah kembali duduk di dalam mobilnya.
Kebenciannya pada Alya mendadak bertambah besar, apalagi pikiran negatifnya saat ini menggiringnya berpikir jika Erosh pasti tengah bersama Alya. Tapi dimana? Kemana lagi Mega bisa menemukan keberadaannya? Mega hanya tak bisa membiarkan jika Erosh bersama dengan wanita selain dirinya. Apalagi Alya, cewek yang dirasa lebih rendah darinya.
Mega merasa harus melakukan sesuatu, dia tidak bisa tinggal diam dan menyerah begitu saja. Dia meraih HPnya lalu menelpon seseorang, "Halo, gue butuh bantuan lo berdua sekarang juga!"
"Tapi Meg,"
"Gue nggak mau tahu!" Ucap Mega sengit. "Kerjain aja apa yang gue suruh!"
ㅡBWY ㅡ
Erosh berjongkok di depan gundukan tanah yang berjajar rapi. Dia meletakkan dua bouquet bunga sekaligus pada dua gundukan tanah tadi. Erosh menghela nafas panjang. "Pa, Ma, Erosh datang."
Alya masih berdiri mematung di samping Erosh. Semenjak dia tahu Erosh akan mengajaknya ke makam orang tuanya mendadak Alya bungkam. Entah mengapa dia merasa sedih, menyadari satu hal bahwa orang yang kadang menyebalkan ini bahkan sudah ditinggal pergi oleh orang tuanya sejak kecil. Dia mungkin merasakan sakit yang lebih dalam dari pada dirinya.
"Hari ini Erosh nggak datang sendirian. Erosh ngajak seseorang yang udah lama banget pengen Erosh kenalin sama kalian." Ucapnya tersenyum pada jasad yang terkubur di dalam sana. Alya menatap Erosh haru kemudian ikut berjongkok di sebelahnya.
"Apa kabar Om, Tante." Sapa Alya.
Erosh beralih menatap Alya. "Dia cantik kan Ma, Pa? Tapi sayang, agak galak."
Alya mengerucutkan bibirnya.
"Apalagi kalo lagi marah, tambah cantik."
"Anak Om sama Tante ini suka banget ngledekin Alya, boleh kan kalo Alya jewer?"
Erosh menautkan alisnya. "Tuh kan, galak banget!"
"Tapi anak Om sama Tante baik banget sama Alya, dia selalu nglindungin Alya."
Perkataan Alya sontak membuat Erosh terdiam.
"Makasih Tante, udah nglairin seseorang yang begitu baik sama Alya. Tante sama Om harus bangga!" Alya berucap begitu tulus. Dia memang harus berterima kasih atas semua yang sudah Erosh lakukan selama ini.
Erosh tersenyum, tanpa disadari hatinya tiba-tiba menghangat oleh semua ucapan Alya. Dia tidak menyangka Alya yang beberapa waktu lalu begitu angkuh, dingin dan tak tersentuh berubah menjadi selembut ini padanya. Erosh sudah menantikan hal ini begitu lama, dimana Alya yang dulu dia kenal kembali lagi. Menjadi Alya yang baik, lembut dan penuh kasih sayang.
Setelah beberapa saat mereka saling bercakap-cakap di depan makam orang tua Erosh, mereka kini melangkah meninggalkan makam menuju sebuah taman bermain yang masih berlokasi di daerah yang sama. Erosh memang sengaja memarkirkan mobilnya di sana. Dia bilang pada Alya ingin berjalan kaki menyusuri jalan di sekitarnya sambil sedikit bernostalgia, suasana sepi dan menyejukkan di sini memang sangat mendukung untuk sekedar mengenang masa lalu.
"Dulu Bunda sering banget ngajakin gue mampir ke taman sehabis dari makam." Ujar Erosh.
"Lo baik-baik aja kan?"
Erosh mengerutkan dahinya menatap Alya yang berjalan di sampingnya.
"Gue yakin lo baik-baik aja." Ujar Alya.
Erosh bersungut. "Bunda selalu ngehibur gue, jadi gue nggak pernah ngrasa sedih."
"Bunda memang ajaib banget!"
"Ajaib?"
"Gue juga heran, bahkan Angga sama Anggi sangat lengket banget sama Bunda."
Erosh terkekeh. "Itulah Bunda."
"Terus apa lagi yang lo inget? Katanya mau nostalgia di sini?" Tanya Alya meluruskan pada topik awal.
"Ah, gue inget, di situ!" Erosh menunjuk sebuah pohon akasia di pinggir jalan dimana terdapat sebuah ayunan dari kayu yang menggantung menghadap ke tanah lapang di depannya.
"Ayo, kesana!" Erosh melangkah mendahului Alya.
"Di sini tenang banget ya!" Seru Alya setelah menyusul langkah Erosh menuju tempat yang ditunjuk Erosh. Dia kemudian duduk di atas ayunan kayu itu dan menikmati pemandangan rerumputan yang tumbuh liar di sekitarannya.
"Dulu gue pernah berantem di sini."
"Berantem?" Ulang Alya, dia harusnya tidak heran melihat kebiasaan Erosh yang satu itu. Bahkan saat ini tak jarang masih dilakukannya juga.
"Lo masih inget kan waktu ada anak-anak cowok yang suka malakin lo sepulang sekolah?"
Alya berusaha mengingat perkataan Erosh.
"Gue nggak terima mereka selalu malakin lo! Akhirnya gue ajak mereka berantem di sini."
Alya tersenyum, meskipun dia tidak bisa mengingat semua kejadian di masa lalunya, dia tahu betul Eroshlah yang selalu melindunginya saat itu, seseorang yang selalu membuat Alya merasa aman. "Semenjak lo pergi, gue sering ketakutan."
Erosh mengalihkan tatapannya pada Alya. Pada akhirnya dia memang pergi meninggalkannya karena dirinya diadopsi oleh orang tuanya yang sekarang. "Gue minta maaf."
"Tapi karena lo pergi, gue bertekad untuk jadi seseorang yang pemberani."
"Dengan jadi galak?"
Kini giliran Alya menatap Erosh namun dengan pelototan tak terima.
"Gue bercanda." Erosh terkekeh pelan. "Sekarang gue nggak akan pergi lagi."
Alya terdiam, mendadak suasana jadi sedikit canggung.
"Boleh kan kalo gue selalu di samping lo?" Tanya Erosh tanpa keraguan. "Gue pengen selalu nglindungin lo."
Alya masih tak bergeming, menunduk malu menyembunyikan pipinya yang bersemu merah. Erosh melangkah mendekat, sedikit menduduk di depan Alya yang masih berada di atas ayunan agar bisa menyejajarkan tatapnnya untuk menatap Alya.
"Jangan deket-deket!" Akhirnya kalimat itu yang terlontar dari bibir Alya.
Erosh tersenyum miring. "Jadi gue nggak diijinin nglindungin lo?"
"Bukan itu!" Alya memukul lengan Erosh pelan dan berdiri di hadapannya, membuat Erosh benar-benar gemas menghadapi tingkahnya.
"Terus?"
"Ya terus apa?" Alya balik bertanya malu-malu.
"Pokoknya gue nggak peduli! Gue akan selalu nglindungin lo!" Erosh menarik tubuh Alya dan membawanya ke pelukannya. Alya tersentak kaget, jantungnya kini benar-benar berdebar kencang. Bahkan dengan menahan nafaspun tidak akan membuatnya mampu menahan debaran itu.
Alya pasrah, menikmati setiap aroma wangi dari tubuh Erosh dan pelukannya yang membuatnya merasa hangat dan terlindungi. Alya sangat yakin, laki-laki ini akan selalu ada disampingnya apapun yang terjadi.
ㅡBWY ㅡ
*********
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT DAN VOTE BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BUAT UPDATE SETIAP HARI ♥️