I WANT TO BE WITH YOU

I WANT TO BE WITH YOU
I WANT TO BE WITH YOU ( END )



HAPPY READING


AUTHOR BY AXRANS


************


Lima tahun berlalu...


Seorang gadis kecil dengan rambut bob tergerai sedikit ikal berlari-lari di sebuah taman belakang rumah yang luas dengan beberapa tanaman serta pohon perdu terjajar rapi. Setelah menemukan tempat yang dirasa cukup menyenangkan, dia bersembunyi di sana, dibalik tanaman yang menggerombol.


"Angel, kamu dimana? Angel..." Sebuah suara bariton memanggil nama gadis kecil tadi. Dia celingukan memandang ke segala arah.


Sementara itu, gadis kecil berusia enam tahun itu terkikik di balik tanaman sembari menutup mulutnya sendiri. Dia merasa bahagia bisa bersembunyi mengelabuhi lelaki yang sedari tadi sigap menjaganya itu.


"Angel..." Panggil lelaki itu. "Ayo dong keluar, kamu pasti lagi ngumpet kan?" Tebaknya.


Angel tetap tidak menyerah, dia ingin terus bersembunyi di tempatnya.


"Angel, ayo makan dulu. Nanti kita main lagi."


Walaupun lelaki itu terus memanggilnya, nyatanya Angel tidak mau keluar dari persembunyiannya.


"Angel..." Lelaki itu terus memanggilnya walaupun dia tahu, kali ini gadis kecil itu pasti mempermainkannya lagi. Dia menghela nafas panjang. "Jadi kamu tetap nggak mau keluar?" Tanyanya dengan nada frustasi.


"Dikerjain anak kecil lagi?" Tanya seorang gadis remaja yang masih berseragam putih-biru datang menghampiri. Dia menyunggingkan senyumnya.


"Kamu udah pulang Anggi?"


"Udah Kak, baru aja." Jawabnya. "Angel ngumpet lagi?"


"Ya gini deh, tiap waktu makan siang, dia pasti kabur."


Anggi kecil yang sekarang sudah menjelma menjadi gadis remaja ini menertawakannya. "Kayaknya Kak Erosh belum lulus ujian jadi Bapak."


"Kamu ngledek?"


"Bukannya ngledek, nyatanya Angel aja kabur dari kak Erosh."


"Ini tuh karena dianya aja yang bandel, coba kalo sama Kak Alya, pasti dia nurut."


"Bilang aja kamu udah nyerah ngurusin Angel, iya kan?" Sebuah suara menyahut. Pemiliknya adalah seorang perempuan cantik dengan dress putih selutut yang rambutnya tergerai panjang melebihi bahu.


Baik Anggi maupun lelaki yang dipanggil Erosh itu menoleh.


"Kamu tahu kan dia bandel!" Elak Erosh.


"Dia itu jahil, kayak kamu." Jelas Alya.


"Kok aku sih?"


Alya melangkah ke sisi taman. "Angel, sini sayang. Mama kamu udah dateng."


"Mama..." Sebuah suara cempreng muncul dari balik tanaman. "Mama udah dateng Tante?"


Alya tersenyum. "Iya, Mama udah dateng."


Angel bersorak girang.


"Jadi tadi Angel sengaja ngumpet dari om Erosh?" Tanya Erosh dengan tatapan menginterogasi.


"Habis om Erosh nggak seru." Jawab Angel dengan polosnya.


Alya dan Anggi serempak tertawa kecil. "Angel, Tante Anggi anterin yuk ketemu Mama."


"Iya Tante!" Angel berlari kecil menghampiri Anggi kemudian berlalu bersama Anggi yang menggamit lengannya meninggalkan taman.


"Syukur deh Vera sama Dio udah dateng." Erosh bernafas lega, wajahnya tampak sedikit kusut karena kelelahan. Hampir setengah hari ini dia harus menjaga gadis kecil yang tidak bisa tinggal diam di tempat itu.


"Kenapa?"


"Kamu tahu sendiri kan Al, gimana bandelnya dia? Lagian sampai kapan sih Dio nitipin anaknya ke kamu?"


"Sampai rumahnya selesei direnovasi dong." Jawab Alya santai.


"Hah???" Wajah Erosh terlihat kaget. Sepertinya hari-harinya ke depan akan semakin menyiksa. Jika dia ingin bertemu dengan Alya, maka yang harus di hadapinya di rumah ini adalah gadis kecil yang membuatnya lelah itu.


"Ngurus Angel aja kamu udah nyerah, gimana ngurus anak kamu nanti?"


"Emangnya kamu udah siap?"


Alya melirik tajam. "Siap buat apa?"


"Punya anak, eh maksud aku kita nikah dulu."


Alya berdecak, "Aku bilang setelah dua tahun bekerja."


"Tapi perusahaan itu kan punya Papa."


"Aku nggak mau menyalahi aturan, sekalipun itu perusahaan Papa sendiri aku tetap akan mengikuti prosedurnya."


Apa boleh buat. Erosh terdiam memperlihatkan wajah kecewanya.


"Lagi pula aku akan tetep nunggu sampai terapi pemulihan kaki Bunda selesai. Aku yakin beberapa kali lagi pasti kaki Bunda bisa sembuh total."


"Iya, aku tetap akan nunggu waktu yang tepat, seperti permintaan kamu. Tapi kapanpun itu, aku udah siap."


"Kamu beneran udah siap?"


"Siap dong!" Jawab Erosh mantap.


"Kalo gitu besok Minggu kamu siap-siap."


Alya terkekeh. "Besok Minggu itu resepsi pernikahannya Arga sama Karina. Kamu lupa?"


"Kirain... Jadi nikah beneran tuh anak?" Tanya Erosh memasang muka iri. Pasalnya sudah beberapa tahun terakhir ini Erosh sering mendapat kabar dari Arga bahwa mereka sering putus nyambung. Apalagi karena kesibukan Arga mengelola perusahaan orang tuanya dan jarak Karina yang terpaut jauh karena harus melanjutkan kuliahnya ke luar negeri.


"Kenapa? Kamu cemburu sahabat kamu diambil orang?"


"Ngapain aku cemburu, aku kan udah punya kamu."


"Udah deh nggak usah gombal." Ledek Alya kemudian berlalu dari hadapan Erosh. Namun sebelum itu, Erosh segera menyambar tangan Alya dan tak membiarkannya pergi.


"Erosh!"


"Kenapa sih, akhir-akhir ini kamu nyebelin?" Erosh membawa tubuh Alya mendekat ke arahnya seraya memeluk pingganggnya.


"Erosh, malu nanti kalo ada yang liat!" Protes Alya.


"Emangnya siapa yang akan liat? Ini kan rumah Papa kamu, rumah kamu juga. Nggak bakalan ada orang lain kan?"


"Iya, aku tahu. Tapi..."


"Tapi apa?" Erosh mendekatkan wajahnya.


"Cie..." Sebuah suara mengagetkan Erosh maupun Alya.


Alya segera berusaha melepaskan diri dari pelukan Erosh, namun sayangnya Erosh tak membiarkannya.  "Cuma Angga..." Bisik Erosh.


"Udahlah Kak, buruan nikah! Keburu tua!" Ledek Angga dari serambi rumah.


"Kak Alya nih yang nggak mau!"


"Bukannya nggak mau Kak, tapi malu-malu."


"Angga, diem deh! Udah sana pergi." Usir Alya dengan memasang wajah galaknya.


"Iya tahu. Yang mau mesra-mesraan. Gue juga nggak mau ganggu!" Teriak Angga kemudian ngacir.


"Hish! Angga tuh ketularan kamu, lepasin!"


Erosh tak bergeming, hanya memandang Alya yang berusaha melepaskan pelukannya dengan senyuman licik.


"Dasar cowok mesum!"


Erosh melotot terkejut. "Kok mesum sih!"


"Emang mesum, dari dulu juga gitu."


"Kamu masih inget kejadian itu?"


Alya memalingkan wajahnya. "Siapa bilang?"


"Kamu sendiri kan yang bilang ke aku waktu itu. Jadi selama ini kamu masih cemburu sama Mega?"


"Aku? Cemburu sama Mega? Buat apa? Toh sekarang dia juga udah nggak di sini dan..."


Erosh tersenyum menyeringai menatap wajah Alya. "Kamu cemburu!" Ucapnya sambil mendaratkan sebuah ciuman singkat di pipi Alya.


"Erosh!" Alya memukul lengan Erosh.


"Kenapa?"


"Aku udah bilang kan, jangan cium sembarangan! Aku nggak mau disamain sama..."


"Waktu itu Mega yang sengaja nyium aku Al, aku bahkan nggak siap."


"Jadi kalo kamu siap, kamu mau?"


"Kenapa aku harus mau? Aku nggak suka sama dia."


"Tetep aja dia pernah nyium kamu."


"Al..." Erosh mengenggam bahu Alya erat. "Sejak dulu sampe sekarang inipun, nggak ada yang berubah sedikitpun dari aku. Kamu tetap Alya yang aku sayangi dan selalu pengen aku lindungi. Kamu masih meragukan aku?"


"Apa'an sih Rosh..."


"Jangan bilang alasan kamu menunda pernikahan kita karena kamu cemburu sama Mega."


"Bukan gitu, aku kan udah bilang..."


"Aku harus buktiin apa lagi sih Al, biar kamu percaya?"


Alya menunduk dan menghela nafas, "Maafin aku, aku nggak bermaksud gitu."


"Kamu nggak perlu minta maaf, tapi asal kamu tahu, selama ini aku sudah membuktikannya sama kamu. Dan jangan pernah nyuruh aku berhenti untuk terus menyayangi kamu."


"Kamu mau kan, menunggu sebentar lagi?"


Kedua tangan Erosh menangkup wajah Alya. "Jangankan sebentar, selama ini aku nggak pernah lelah nunggu kamu."


"Makasih Erosh." Alya menghambur memeluknya erat. "Aku sayang kamu." Ucapnya dengan begitu tulus.


Erosh membalas pelukan Alya erat. Memeluknya seperti tak ingin kehilangannya. Dia amat menyayanginya, dia ingin selalu menjaga dan melindunginya. Apa yang dia lakukan selama ini, pengorbanannya untuk membahagiakan Alya adalah bukti perasaan tulusnya. Dia hanya ingin bersama Alya, gadis kecil yang dulu membuatnya menjadi pemberani, bahkan mengubahnya menjadi seseorang yang tangguh.


Setelah beberapa saat Erosh melepaskan pelukannya, dia menatap dalam wajah Alya yang selalu membuatnya semakin jatuh cinta. Dia membelai rambutnya pelan, kemudian mengusap lembut pipinya. Dia merasa, ungkapan sayangpun tak akan cukup untuk menggambarkan perasaannya. Perlahan, Erosh memiringkan wajahnya dan mendekat. Membuat jantung Alya semakin berdegub kencang bahkan tubuhnya ikut menegang. Erosh mencium bibir Alya dengan lembut.


Melihat kedua mata Erosh terpejam sambil memagutnya, membuat sorot mata Alyapun meredup dan akhirnya terpejam bersamanya. Tangan Alya yang sedari tadi bebas kini merangkul pada pundak Erosh. Membuat lelaki itu semakin yakin dan memperdalam ciumannya.


I'll always be with you Erosh! Ucap Alya dalam hati tanpa sedikitpun keraguan.


ㅡEND ㅡ