I WANT TO BE WITH YOU

I WANT TO BE WITH YOU
CH 16 - MODUS ATAU BAIK HATI ?



Malam ini kafe Logo lumayan rame. Erosh dan Arga datang ke sana setelah hampir sebulan vakum karena Erosh tidak diperbolehkan masuk gegara perkelahiannya dengan Alex. Sebenarnya Erosh tidak mau ke sana tapi Arga memaksanya,  dan alasan Erosh simpel, dia tidak mau Alya merasa terganggu karena kemunculannya. Erosh sadar betul tiap kali Alya melihatnya yang ada di pikiran gadis itu mungkin hanya membencinya entah untuk alasan apa Erosh sendiri juga tidak tahu. Padahal dia sudah berjanji akan menjaga semua rahasianya.


Erosh duduk di sofa paling ujung. Seperti biasa, dia lebih senang berdiam diri di situ dari pada mengikuti Arga ke lantai dansa. Kedua matanya terus mengamati orang-orang di sekitarnya, barang kali dia akan melihat Alya.


"Babe!" Mega datang menghampiri Erosh tiba-tiba.


Erosh menghela nafas kesal. Dia bertemu lagi dengan orang yang paling tidak dia harapkan kehadirannya.


"Aku kangen kamu! Kenapa kamu nggak pernah angkat telpon aku? Akhir-akhir ini kamu juga sering ngilang, aku cariin di rumah nggak ada, di bengkel nggak ada, di kampus juga nggak ketemu. Aku frustasi!" Mega mengadu panjang lebar dan membuat Erosh geram mendengarnya. Dia pikir dia siapa mengharuskan Erosh lapor setiap apapun yang dilakukannya.


"Gue sibuk." Balas Erosh tidak peduli.


"Sibuk terus sih? Kapan ada waktu buat aku babe?" Tanya Mega manja. Dia duduk di samping Erosh dan memandang wajahnya lekat.


Erosh menjaga jarak. "Mendingan lo pulang aja. Gue kan udah bilang, lo nggak usah nemuin gue di sini lagi."


Mega mengerucutkan bibirnya. "Cuma di sini aku bisa nemuin kamu, aku nggak mau pulang."


"Gue telpon Nyokap lo sekarang atau lo pulang sendiri?" Tawar Erosh kesal. Dia memang paling risih saat Mega bertingkah manja di depannya.


"Telpon aja! Kamu nggak bakal berani ngadu ke Mama, iya kan?" Mega tersenyum sinis. "Aku nggak mau ngebiarin cewek murahan yang kamu bela-belain sampe berkelahi sama Alex deketin kamu di sini."


Erosh menatap Mega tajam. "Jaga mulut lo!"


"Kenapa? Jadi bener kan? Kamu berantem sama Alex karena belain cewek itu? Cewek nggak jelas!" Mega balas menatap Erosh.


"Gue nggak suka lo sebut-sebut orang lain yang nggak lo tau dengan sebutan cewek murahan!" Erosh berucap tegas. Mulut Mega memang sering keterlaluan. Itu juga yang membuat Erosh tidak menyukainya.


Mega tersenyum tipis mendengar kata-kata Erosh. "Pasti ada sesuatu antara kamu sama cewek itu, iya kan? Sampe kamu bela-belain dia?"


"Bukan urusan lo!"


"Jelas itu urusan aku! Aku nggak mau kamu deket cewek lain Rosh! Kamu ngerti kan?"


Erosh tersenyum miring. "Lo nggak berhak nentuin hidup gue. Bahkan orang tua gue sekalipun."


"Tapi Rosh,"


"Lo bisa minggir? Gue mau pergi." Erosh beranjak dari duduknya dan bersiap melangkah.


Mega terdiam sesaat, sikap Erosh kerap kali membuatnya sakit hati, dia selalu saja mengalah dan membiarkan Erosh melakukan hal sesukanya. Kali ini Mega geram, dia bangkit dari duduknya. "Oke, gue minggir tapi setelah ini," Dan tanpa diduga Mega mencium bibir Erosh. Tepat di bibirnya, diantara kerumunan orang-orang yang tengah menikmati hiburannya.


Erosh terperanjat, dia mendorong Mega dan melepaskan ciumannya.


"Gue minggir sekarang." Ucap Mega tersenyum licik.


Erosh menatap tajam Mega. Rahangnya mengeras menahan amarah. Andai saja Mega seorang lelaki, dia pasti sudah menghajarnya habis-habisan. Berani sekali Mega menciumnya di depan umum. Bahkan ini adalah pertama kalinya Erosh dicium seorang cewek.


Dari kejauhan Alya tercengang menatap Erosh dan Mega. Dia memang tidak tau apa yang terjadi di antara mereka berdua bahkan tidak peduli. Tapi melihat apa yang baru saja mereka berdua lakukan Alya langsung memandang jijik. Bisa-bisanya mereka melakukan adegan mesra di depan umum, bahkan lebih dari sekedar berpelukan. Mendadak kebencian Alya terhadap Erosh semakin besar.


What the... Dasar cowok mesum! Batin Alya kemudian memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya. Alya melihat mereka masih saling menatap.


---- BWY ----


Pukul dua dini hari, Alya sudah menyelesaikan pekerjaannya dan keluar dari tempat kerjanya. Dia diantar Dio lagi sampai ke halaman depan kafe. Semenjak ada peristiwa yang menimpa Alya di tempat kerjanya, Dio selalu menemaninya sampai dia mendapat taksi untuk pulang ke rumah.


"Sorry ya Yo, jadi ngrepotin lo." Ucap Alya. "Makasih juga udah nemenin gue."


"Yaelah Al, sante aja dong. Keselamatan sahabat gue nomer satu." Jawab Dio.


Alya tersenyum. Dia dan Dio masih berdiri menunggu taksi yang melintas di depan cafe. "Oh iya, gimana kabar Vera?" Tanya Alya mencari topik pembicaraan sembari menunggu.


"Baik Al, dia lagi isi sekarang." Dio memelankan suaranya, terlihat malu. Vera yang dimaksud adalah istri Dio.


Alya menutup mulutnya kaget. "Yang bener?"


Dio mengangguk dan Alya langsung kegirangan.


"Selamat ya Yo, mau jadi Papa bentar lagi." Alya menepuk lengan Dio pelan.


"Thanks Al, doain ya."


"Siap!" Alya mengacungkan dua jempol tangannya sekaligus.


Nampak dari kejauhan sebuah mobil yang tidak asing lagi bagi Alya maupun Dio mendekat ke arah halaman kafe. Alya dan Dio memandangnya bersamaan.


"Hai..." Erosh keluar dari mobilnya.


"Erosh, ada apa?" Tanya Dio sedikit terkejut. "Ada yang ketinggalan?"


"Emm.. Gue mau jemput Alya." Erosh melirik ke arah Alya.


Wajah Alya mendadak berubah kesal. Melihat wajah Eros, dia jadi teringat kejadian memuakkan tadi yang seharusnya tidak dia lihat. "Gue bisa pulang sendiri naik taksi." Jawabnya ketus.


Erosh menaikkan kedua alisnya. "Lo yakin mau pulang sendiri? Papa udah nungguin di rumah."


Papa? Batin Alya kaget. "Papa, maksud lo papa.."


"Iya, papa masih di rumah. Tadi pagi dia batalin perginya, ada sesuatu yang harus di urus di sini." Jelas Erosh.


Dio garuk-garuk kepala tidak paham. Apa yang sebenarnya Erosh dan Alya bicarakan. Dan siapa yang di maksud Papa di sini? Apakah papanya Alya? Atau papanya Erosh? Kenapa mereka berdua memanggilnya Papa? Bukannya mereka belum mengenal dekat?


"Yang jelas kalo lo pulang sama gue, semuanya bakalan aman. Gue udah pikirin alasannya." Kata Erosh dengan entengnya.


Shit!! Alya menggigit bibir bawahnya. Bagaimana ini? Haruskah untuk kedua kalinya dia terpaksa diantar Erosh lagi? Di saat tadi dia sudah merutuki perbuatannya? Tapi bagaimana juga nasibnya jika sampai Papanya tahu soal pekerjaannya? Alya tidak bisa menjelaskan apapun saat ini.


"Gimana?" Tanya Erosh memastikan jawaban Alya.


"Gue pulang sama lo." Jawab Alya dengan terpaksa.


Senyum di bibir Erosh mengembang. Dia membuka pintu mobilnya untuk Alya dan mempersilahkan masuk.


"Yo, gue pulang dulu ya." Pamit Alya.


Dio masih terdiam keheranan. "Emm... Oke, lo nggak apa-apa pulang sama Erosh?" Tanyanya.


Alya tersenyum dan mengangguk. "Iya nggak apa-apa, makasih ya Yo."


"Oh.. Okee.." Dio masih menatap keduanya dengan rasa penasarannya.


"Gue balik dulu ya!" Erosh melambaikan tangan kanannya gembira ke arah Dio. Dia masuk ke dalam mobilnya menyusul Alya kemudian melaju meninggalkan kafe.


Dio masih berdiri mematung menatap keduanya yang semakin menjauh. Tiba-tiba ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan pada Alya. Dia harus segera mengkonfirmasinya besok jika tidak ingin menyimpan penasaran yang berlebih. 


---- BWY ----


Benar saja, sampai di rumah, Papanya sudah menunggunya di teras ditemani Ibu tirinya. Alfian terlihat gusar dengan rasa penasaran yang siap meluap begitu melihat Alya keluar dari mobil Erosh. Alfian tidak menyangka Alya tiba di rumah selarut ini, bahkan menjelang pagi. Sementara Nia menatap Alya dan Alfian bergantian dengan perasaan was-was. Dia takut terjadi keributan lagi di antara keduanya.


Alya melangkah menuju teras dengan hati berdebar. Kedua tangannya menggengam erat ujung jaketnya. Walaupun Erosh sudah memberi tahu alasan apa yang harus dikatakan pada Papanya, namun Alya tetap saja takut jika kebobongannya bisa terbongkar.


Erosh menyusul Alya dan melangkah di sampingnya, tiba-tiba tangan kirinya menggenggam tangan Alya erat. Alya terperanjat, dia berusaha melepaskannya tapi Erosh tetap menggenggamnya kuat. Tidak bisa dipungkiri memang, genggaman tangan Erosh bisa sedikit melegakan ketakutan Alya. Alya pasrah, dia tidak berani melirik ke arah Erosh yang ada di sampingnya.


Sampai di dekat teras, Erosh melepaskan genggaman tangannya. Dia berganti menatap Alfian dan Nia sementara Alya terdiam menunduk.


"Maaf ya Pa, Bun. Erosh tadi ngajak main Alya ke Malang. Mendadak banget jadi nggak sempet ngasih tau Papa sama Bunda. HP kita berdua juga mati, dan kebetulan perjalanan pulang tadi mobilnya macet." Jelas Erosh. Dia mengatakan kebohongannya tanpa gugub sedikitpun.


Alfian menghela nafas. "Papa khawatir banget. Bahkan nggak kepikiran kalo Alya pergi sama kamu Rosh."


Alya melongo tak percaya. Bagaimana mungkin Papanya langsung percaya begitu saja pada omongan Erosh.


"Sekarang udah nggak khawatir lagi kan Pa?" Nia meraih lengan Alfian. Dia bersyukur sepertinya Alfian menerima alasan Erosh dengan baik. Walaupun dia sendiri masih belum percaya dengan alasan yang Erosh utarakan. Apa benar mereka berdua yang selalu tak akur itu bisa pergi main ke luar kota berdua?


"Maaf ya Pa." Ucap Alya akhirnya.


"Yaudah nggak apa-apa. Tapi lain kali jangan diulangi lagi ya, kabari orang rumah kalo memang kamu mau pergi." Pinta Alfian.


Alya mengangguk. "Tadi mendadak Pa."


"Papa hanya khawatir, takut kamu kenapa-kenapa."


Alya hanya tersenyum datar memanggapi.


"Papa sampai menghubungi Mira, tapi ternyata dia sudah tidur kata pembantunya."


"Papa nelpon Mira?" Alya agak terkejut. Pasalnya sahabatnya itu tidak pandai berbohong, untung saja dia sudah tidur.


"Memangnya siapa lagi yang harus Papa telpon? Cuma Mira yang Papa tahu. Itu juga karena sudah malam kamu belum pulang juga ke rumah."


"Ma'af yaa Pa."


Alfian hanya menggugam mengiyakan jawaban Alya. "Kalo Papa tahu kamu pergi sama Erosh, Papa nggak akan sekhawatir ini."


Alya melirik ke arah orang yang dibicarakan Papanya, ya, Erosh ada di sampingnya dan dengan berbangga hati sedang menjadi pahlawan kesiangannya. Untung saja kali ini Alya sedang dalam posisi yang bermasalah,  kalau tidak sudah pasti Alya akan mengajaknya ribut mendengar perkataan Papanya tadi. "Emm... Papa nggak pergi kerja?" Tanyanya kemudian dengan hati-hati.


Alfian memutar bola matanya, seperti sedang mencari alasan. "Ah, tadi ada urusan pekerjaan di sini. Besok Papa baru pergi, kenapa?"


"Eng, nggak ada apa-apa Pa."


"Yaudah ayo kita masuk ke dalam. Kamu juga harus istirahat Al, besok sekolah kan?"


Lagi-lagi Alya mengangguk.


"Emm Pa, Erosh boleh nginep sini?" Erosh menatap Alfian dengan muka memohon.


Alya melirik. Nginep? Apa-apaan cowok ini, mentang-mentang udah nolongin! Gumam Alya kesal dalam hati.


"Boleh dong, Papa pikir kamu memang mau nginep sini." Jawab Alfian membuat Alya tidak percaya dengan jawabannya.


"Kamu sudah ijin sama Papa Mama kamu Rosh?" Sela Nia.


"Udah Bunda, kebetulan mereka juga lagi perjalanan bisnis keluar negeri, jadi nggak bakal nyariin." Erosh nyengir.


"Yaudah ayo masuk ke dalam. Nanti kamu bisa tidur di sofa, nggak apa-apa kan Rosh?" Ucap Alfian.


"Ah, gampanglah Pa. Erosh bisa tidur di mana aja." Erosh kegirangan sementara bibir Alya langsung mengerucut sebal.


Satu anggota keluarga baru tak diharapkan muncul dalam keluarganya, membuat hidupnya semakin jungkir-balik.


---- BWY ----