
HAPPY READING
AUTHOR BY AXRANS
*********
Kedua mata Alya terbuka perlahan, wajahnya terlihat pucat dengan perban menempel pada dahinya. Dia menatap ke sekeliling ruangan yang tampak asing. Setelah mendapati selang infus tergantung di samping tempat tidurnya dan tersambung pada tangannya, barulah dia tersadar dimana dirinya berada saat ini.
Erosh ada di sampingnya, duduk tertidur dengan kepala menelungkup sementara satu tangannya menggenggam tangan Alya.
Alya ingin beranjak pergi, ingatannya mulai tertuju pada kejadian yang dialaminya sebelum dia berakhir di rumah sakit ini. Bagaimana keadaan Bundanya? Apa dia baik-baik saja setelah sebuah mobil menabraknya? Alya masih bisa mengingat dengan jelas, kedua matanya melihat tubuh Nia bersimbah darah dan tergeletak di jalan.
Alya berusaha bangun namun kepalanya benar-benar pusing. Apa keadaannya sendiri sekarang ini parah? Dia merasa jika kepalanya hanya membentur sebuah bahu jalan, lalu bagaimana keadaan Bundanya yang penuh dengan darah itu? Pikiran Alya menjadi tidak karuan.
"Alya," Gerakan tubuh Alya membuat Erosh terbangun. Ternyata wajahnya tak kalah pucat dari Alya. Tampak jelas kekhawatiran terpancar dari kedua bola mata sayunya. "Lo udah bangun? Ada yang sakit?"
"Gue nggak apa-apa, cuma pusing." Jawab Alya. "Gue mau duduk."
Dengan sigap, Erosh membantu mendudukkan Alya. "Lo mau minum?"
Alya menggeleng. "Bunda gimana?"
Erosh terdiam sejenak. "Bunda juga dirawat di sini."
Alya sudah menduga, Bundanya pasti juga terluka. "Gimana keadaan Bunda sekarang?" Alya tampak khawatir.
"Dokter masih menanganinya."
"Gue mau ketemu sama Bunda sekarang."
"Nanti dulu Al," cegah Erosh. "Keadaan lo masih lemah."
"Tapi gue mau lihat keadaan Bunda."
"Iya, nanti gue anterin. Tapi setelah keadaan lo membaik ya?"
"Gue baik-baik aja!" Alya terus memaksa membuat Erosh sedikit kewalahan.
Alya belum tahu tentang keadaan Bundanya yang sebenarnya. Kecelakaan yang menimpa Nia membuatnya harus menjalani operasi karena patahnya beberapa tulang belakangnya. Nia kehilangan banyak darah dan dokter memvonis bahwa dia akan mengalami kelumpuhan karena cedera otak yang dialaminya jika Nia bisa berhasil melewati masa kritisnya dan bisa tersadar kembali. Saat ini dia sedang berada di antara hidup dan matinya. Nia harus berjuang melawan semua keadaan yang sewaktu-waktu bisa menyeretnya pada kematian.
"Erosh," panggil Alya. "Anterin gue ketemu Bunda sekarang!"
Erosh menghela nafas berat, cepat atau lambat Alya tetap akan mengetahui keadaan Nia. "Gue panggil dokter dulu ya buat mriksa keadaan lo."
"Tapi gue baik-baik aja."
"Iya, gue tahu." Erosh tersenyum menatap Alya kemudian membelai pipinya lembut. "Dokter bilang dia harus ngecek keadaan lo setelah lo sadar."
Alya membalas senyumannya kemudian mengangguk lega. Entah mengapa kekhawatirannya sedikit terkikis, dia merasa tenang saat Erosh ada di sampingnya.
ㅡBWY ㅡ
Mega duduk bersandar di atas tempat tidur dengan selimut membungkus tubuhnya. Dia memeluk kedua kakinya yang ditekuk ke depan. Matanya sembab, wajahnya pucat dengan bibir bergetar karena ketakutan. Sementara Irin dan Sasa berjalan mondar-mondir tak jauh darinya.
"Gimana Rin?" Tanya Sasa setengah berbisik, sesekali dia melihat ke arah Mega khawatir.
"Diem lo Sa!" Bentak Irin. Usahanya menelpon seseorang sejak tadi pagi tidak berhasil juga.
"Kalo Papanya Mega nggak mau terima telponnya gimana?"
"Aduh Sa, bisa nggak sih mulut lo itu diem! Gue pusing, jangan bikin gue tambah pusing!"
Sasa mencicit, sebenarnya dia hanya takut dengan keadaan yang dialami Mega saat ini. Pikiran buruk tak bisa menyingkir dari otaknya.
"Hah! Shit!" Umpat Irin, usahanya sia-sia. Dia menghentikan tindakannya kemudian melangkah mendekati Mega. "Meg, lo cuma punya dua nomor ini? Semuanya nggak bisa dihubungi."
"Papa nggak ngangkat telpon gue?" Tanya Mega setengah tak percaya.
Irin mengangguk. "Apa kita nelpon Nyokap lo aja?"
"Jangan!" Tolak Mega. "Mama nggak akan ngerti keadaan gue sekarang! Gue butuh Papa!"
Irin menghela nafas frustasi, apa yang harus dilakukannya sekarang?
"Mega, gue takut!" Sasa melangkah mendekati kedua sahabatnya. "Gimana nanti kalo..."
Irin memeloti Sasa. "Sasa! Gue peringatin lebih baik lo diem!" Potong Irin cepat.
Akhirnya Sasa terdiam menunduk dan membungkam mulutnya sendiri.
"Pokoknya gue harus bisa menghubungi Papa sekarang juga!"
"Tapi Papa lo nggak bisa dihubungi." Ujar Irin. "Apa kita ke tempat Papa lo aja?"
"Nggak! Nggak bisa Rin!" Sergah Mega. "Gue nggak bisa pergi kemanapun sekarang, gue harus bersembunyi!"
"Tapi kalo Papa lo nggak bisa dihubungi kita nggak punya pilihan lain."
"Gue yakin mereka akan ngejar gue!" Mega menggigit bibirnya ketakutan. "Gue nggak mau ketangkep!"
"Nggak bisa Rin, Papa nggak bisa ditemui sembarang orang."
"Terus kita harus gimana? Kita nggak bisa diem terus gini kan?"
Irin ada benarnya juga, Mega tidak bisa diam terus begini. Tapi apa daya? Dia sendiri saat ini tengah diliputi rasa ketakutan yang sangat besar.
Ponsel Mega berdering, membuat ketiganya yang tengah duduk gelisah terkejut.
"Papa lo nelpon!" Ujar Irin bersemangat.
Mega buru-buru merebut ponselnya yang sedari tadi ada di genggaman Irin. "Papa, tolongin Mega!" Ucapnya setelah mendengar sapaan dari sebrang sana.
ㅡBWY ㅡ
Erosh mendorong kursi roda yang Alya duduki. Mereka menuju ke ruang IGD setelah dokter memeriksa kondisi Alya dan dia diijinkan untuk keluar ruangan. Jantung Alya berdebar, memendam rasa khawatir terhadap kondisi Bundanya yang belum dia ketahui secara pasti. Dia terus menggigit bibir bawahnya bahkan tak berhenti mengerat pakaian biru muda khas rumah sakit yang dikenakannya.
Setelah beberapa menit menyusuri lorong utama, mereka tiba di ruang IGD tempat Nia dirawat. Alya tampak menghela nafas panjang. Erosh menghentikan kursi roda Alya kemudian berjongkok di hadapan Alya. Dia menangkup kedua tangan Alya dan menggenggamnya erat.
"Sebelum kita lihat kondisi Bunda, lo mau kan janji satu hal sama gue?" Pinta Erosh membuat Alya menatapnya heran.
"Maksud lo apa?"
"Lo janji dulu sama gue."
"Erosh..."
Erosh semakin mempererat genggamannya.
"Iya, gue janji." Ucap Alya berhasil membuat Erosh menyunggingkan senyumnya. "Emangnya janji apa?"
"Apapun keadaan yang akan lo alami nanti, jangan pernah menyerah ya. Gue akan selalu ada di samping lo, gue nggak akan pernah ninggalin lo."
"Gue tahu."
Erosh kembali tersenyum kemudian dengan sigap berbalik dan mendorong kursi roda Alya menuju pintu IGD.
Alya menghela nafasnya, sedikit ragu ketika memandang pintu yang sebagian terbingkai kaca tembus pandang memperlihatkan bagian dalam ruang IGD.
"Papa ada di dalem." Ujar Erosh. "Cuma boleh ada satu orang yang masuk."
Alya mengangguk paham, kemudian berusaha berdiri dengan di bantu Erosh yang memapah tubuhnya yang masih lemah. Dia melongok, kedua matanya menatap ke dalam ruangan yang tersekat kaca. Terlihat tubuh Nia berbaring tak berdaya dengan berbagai macam selang terhubung pada tubuhnya. Di sampingnya Papanya menunggu sembari menggenggam tangan Bundanya.
Bibir Alya terkatup, dia sudah tidak sanggup menahan bulir-bulir air mata yang terbendung di kedua sudut matanya. Tubuhnya bergetar dan tangisnya pecah, membuat Erosh yang berdiri di sampingnya tidak sanggup menatapnya.
Erosh kemudian menarik tubuh Alya, membawanya ke dalam dekapannya. Alya menangis sesenggukan dan membenamkan kepalanya pada dada Erosh.
"Semua ini salah gue." Lirih Alya terbayang-bayang kejadian saat dengan tiba-tiba sebuah mobil melesat dengan kecepatan tinggi menyambar tubuh Nia.
"Al, lo nggak salah, jangan nyalahin diri sendiri."
"Tapi semua ini memang salah gue, kalo aja gue nggak emosi dan pergi dari rumah pasti kejadiannya nggak akan seperti ini." Alya masih terisak.
"Al," Erosh melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua bahu Alya lembut. "Semua ini sudah takdir."
"Tapi gue yang bikin Bunda nerima takdir ini. Gue udah bertindak bodoh, dan sekarang..."
"Al, berhenti nyalahin diri lo sendiri! Semuanya udah terjadi. Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa untuk kesembuhan Bunda."
"Gue takut, gue takut Bunda kenapa-kenapa."
"Bunda akan baik-baik aja, Bunda pasti sembuh, kita harus yakin itu."
Alya terdiam namun air matanya tak berhenti menetes. Dia kembali menatap ke dalam dengan perasaan menyesal yang teramat dalam. Seandainya dia tidak meninggalkan rumah saat itu sehingga Bundanya tidak menyusulnya pasti sekarang Bundanya baik-baik saja. Namun yang sudah terjadi tidak bisa diputar balik lagi, Bundanya kini terbaring tak berdaya.
Dari dalam lubuk hatinya yang terdalam, Alya begitu menyesali semua perbuatannya. Semua hal yang pernah dia lakukan terhadap Nia dulu. Bahkan rasanya baru sebentar dia dan Nia bisa akrab dan menjalin hubungan layaknya anak dan Ibunya. Dia baru saja merasakan hangatnya memiliki seorang Ibu yang sangat menyayanginya. Lagi-lagi perasaan sakit menghinggapinya.
"Bunda, Alya minta maaf." Ucapnya dengan penuh penyesalan. Erosh mengusap bahu Alya pelan, memberinya kekuatan untuk tetap bersabar.
"Bunda harus sembuh, Alya janji akan jadi anak yang baik. Alya akan bikin Bunda bahagia."
Mendengar ucapan Alya, membuat Erosh ikut merasakan sakit walaupun dia terlihat tegar. Tidak dipungkirinya, Nia adalah seseorang yang berjasa besar untuknya. Dan melihat keadaannya sekarang, membuat Erosh benar-benar sakit.
"Bunda pasti sembuh Al." Erosh berusaha meyakinkan dan menenangkan Alya.
Alya berbalik menatap Erosh, kemudian berusaha mengangguk setuju. Erosh tidak sanggup melihatnya, dia kembali memeluk Alya erat. Alya hanya pasrah, mencoba menerima kehangatan dan ketenangan yang Erosh berikan.
"Gue nggak sanggup kehilangan Bunda."
"Kita semua nggak akan sanggup, Bunda nggak akan ninggalin kita." Kata Erosh yakin. Dan jika sampai sesuatu yang buruk menimpanya, dia tidak akan tinggal diam. Dia tahu apa yang harus dilakukannya. Erosh masih ingat betul mobil yang menabrak Nia, dia bahkan sangat tahu persis. Erosh melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
ㅡBWY ㅡ
************
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT DAN VOTE BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BUAT UPDATE SETIAP HARI