I WANT TO BE WITH YOU

I WANT TO BE WITH YOU
CH 2 - SUATU KEBETULAN ?



Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela kamar besar yang menempel pada dinding bernuansa greyish. Seorang cowok berwajah oriental ㅡberparas tampan dengan hidung mancung, alis tebal, dan bibir menawan serta tatanan rambut yang acak-acakanㅡ masih tertidur menelungkup di atas kasurnya. Kemeja hitam yang dia lipat setengah siku dan celana jeans biru mudanya lengkap dengan sepatu sneakernya masih melekat di badannya sejak dia pulang subuh tadi.


Beberapa saat kemudian, HPnya berdering mengganggu tidurnya. Dia meraba-raba di sekitar tempat tidur mencoba mencari HPnya tapi tidak berhasil menemukannya, akhirnya dia terpaksa bangun.


Dia membuang nafas kesal begitu menemukan HPnya tergeletak di atas meja samping tempat tidurnya dan melihat si penelepon yang membuat HPnya berdering menganggu tidurnya. Dia meletakkan kembali HPnya setelah menggantinya dengan mode silent tanpa berniat sedikitpun mengangkatnya. Dia ingin melanjutkan tidurnya lagi.


Tok... Tok... Tok!!!


Terdengar suara pintu kamar di ketuk. Cowok itu mengurungkan niatnya untuk berbaring lagi di tempat tidurnya.


"Den Erosh!" Teriak sebuah suara dari luar kamar. "Sarapan sudah siap sejak tadi!"


"Iya Bik!" Jawab cowok yang dipanggil Erosh tadi dari dalam kamar. Hasratnya untuk kembali ke alam mimpi hilang seketika, dia bangkit dari tempat tidurnya dan memutuskan untuk mandi.


Oh shit! Umpatnya dalam hati. Dia hampir saja lupa melepas sepatunya sebelum masuk ke kamar mandi.


Setelah hampir setengah jam membersihkan diri lalu berganti pakaian casual rapi, Erosh mematut sebentar di depan cermin. Setelahnya, dia melangkah keluar kamar dan menenteng tas ranselnya menuju ruang makan di lantai bawah.


"Silahkan makan Den." Pembantu rumah tangga Erosh menyambutnya.


Erosh tersenyum. Dia menatap meja makan yang penuh dengan berbagai macam makanan. Rasanya bosan setiap hari menatap begitu banyak makanan tersaji di atas meja besar hanya sendirian begini. "Papa sama Mama udah berangkat kerja Bik?" Tanyanya basa-basi, sebenarnya dia sendiri sudah hafal betul jika kedua orang tuanya tidak pernah menyempatkan sarapan


di rumah.


"Sudah Den, sejak jam setengah enam pagi tadi." Jawabnya sopan. "Kalo begitu Bibi permisi dulu ya Den."


"Iya, makasih Bik." Ucap Erosh.


Dia masih belum mengambil tempat duduk dan terdiam mengamati meja makan. Sebenarnya perutnya lapar, tapi selera makannya mendadak hilang saat teringat kedua orang tuanya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Jangankan untuk makan bersama mereka, bertemu saja jarang bahkan hampir tidak pernah. Orang tua Erosh berangkat kerja pagi sekali sebelum dia terbangun dan pulang larut setelah Erosh tertidur atau semenjak Erosh dewasa ini justru orang tuanya sudah terlelap lebih dulu karena Erosh baru tiba dirumah dini hari.


Realita itu bahkan sudah berlangsung sejak dia masih kecil. Yang lebih parah lagi, kadang mereka bertolak ke luar negeri untuk waktu yang lumayan lama karena urusan pekerjaan. Erosh merasa kesepian di rumah, itulah sebabnya dia tidak suka berada di rumah dan lebih memilih menghabiskan waktunya bersama teman-temannya di luar atau kadang teman-temannya yang menyempatkan datang ke rumahnya.


Erosh mengambil HPnya dari dalam saku celananya. Dia melihat dua puluh panggilan tak terjawab dan tiga puluh pesan diterima melalui aplikasi WAnya. Dia hanya menyunggingkan bibirnya.


Dasar cewek gila! Batin Eros. Dia tidak peduli dengan itu dan mengabaikannya, dia ingin menelpon orang lain.


"Hallo! Dimana Ga?" Tanya Erosh begitu panggilan telponnya dijawab dari sebrang sana.


"Gue baru on the way nih."  Sebuah suara menyahut dari HP Erosh.


"Ke kafe depan kampus yaa?" Pinta Erosh. "Gue berangkat sekarang!"


"Beres bos." Jawab cowok yang dipanggilnya Arga itu menyetujui permintaan Erosh.


Setelah itu Erosh menutup telponnya. Dia melangkah pergi meninggalkan sarapannya yang belum dijamahnya sedikitpun menuju kafe yang baru saja dibicarakannya ditelfon bersama Arga.


---- BWY ----


Alya dan Mira ada di kantin sekolah. Mereka duduk di pojokan dekat pohon Kresen yang tumbuh rindang di sebelah bangunan kantin. Alya memesan mie ayam bakso dan Mira lebih suka makan dengan batagor. Ulangan Bahasa Inggris sebelum jam istirahat tadi menguras tenaga dan pikiran mereka, membuat makan mereka menjadi sangat lahap.


"Al, sebentar lagi kita ada Midtest!" Celutuk Mira di sela-selanya makan.


Alya hanya diam melotot, menyiratkan tanya, terus kenapa? sambil melahap baksonya.


"Lo mau tetep kerja walaupun ada Midtest?" Tanya Mira.


"Ya iyalah!" Jawab Alya tegas dengan mulut yang masih sibuk mengunyah.


"Terus kapan lo belajar? Jujur gue nggak setuju kalo lo harus kerja saat kita ada Midtest!" Kata Mira dengan wajah kecewa.


"Sekarang gue tanya deh, semalem lo belajar?" Alya balik bertanya.


"Belajarlah! Tiap hari gue belajar."


Alya tersenyum miring. "Terus tadi lo bisa ngerjain ulangannya?"


Mira terdiam sejenak. "Enggak sih... soalnya susah banget."


"Tuh kan? Apa gue bilang! Belajar ato enggak, sama aja nggak bisa. Jadi ya... nggak usah belajar." Tutur Alya seenaknya.


Mira langsung merengut kesal. "Tapi Al.. "


"Apa lagi Mir?"


"Kalo Papa lo tahu gimana?" Mira terus mencari alasan agar Alya mempertimbangkan nasihatnya. Suaranya agak dipelankan.


"Nggak bakalan! Selama Papa gue kerja di luar kota, dia nggak mungkin tau. Lagian pulangnya juga sebulan sekali, itu juga pas malem Senin. Gue lagi off!" Jawab Alya santai.


Mira tidak menyerah, "Lo nggak tau sih, tiap malem gue khawatir banget sama lo. Gue nggak bisa tidur mikirin keselamatan lo di sana." Katanya masih dengan suara pelan.


"Nggak bakalan! Selama Papa gue kerja di luar kota, dia nggak mungkin tau. Lagian pulangnya juga sebulan sekali, itu juga pas malem Senin. Gue lagi off!" Jawab Alya santai.


Mira tidak menyerah, "Lo nggak tau sih, tiap malem gue khawatir banget sama lo. Gue nggak bisa tidur mikirin keselamatan lo di sana." Katanya masih dengan suara pelan.


"Yaelah Mir, nyatanya gue baik-baik aja kan? Lo sante ajalah. Lo nggak usah parno gitu, kayak emak-emak aja sih!" Ledek Alya. Dia melahap makanannya hingga bersih tak bersisa.


Lagi-lagi Mira kalah dan hanya terdiam pasrah. Dasar keras kepala! Batin Mira kesal.


Sebenarnya dia kasian juga setiap malam Alya harus bekerja di klub. Mira sudah sering menawarkan bantuan jika Alya membutuhkan uang tapi selalu Alya tolak. Alya bilang tidak ingin merepotkan orang lain.


Brang!!!


Seluruh isi kantin termasuk Alya dan Mira terkejut dan menoleh ke sumber suara. Meja di deretan belakang kantin digebrak oleh seorang murid cewek SMA Andromeda. Dia berdiri bersama dua orang temannya dengan muka garang dan siap perang. Di hadapannya ada seorang cewek yang sedang menikmati makan siangnya namum terhenti karena mejanya digebrak oleh si cewek yang datang bersama kedua temannya tadi.


"Berdiri lo!" Paksa si cewek muka garang tadi pada cewek di hadapannya.


Si cewek yang ada di hadapannya berdiri dengan santainya.


"Eh, gue udah peringatin lo ya! Jangan pernah deketin Arga! Dasar cewek ganjen!" Makinya.


Cewek yang di maki itu tersenyum sinis. "Harusnya lo sadar, Arga itu bukan siapa-siapa lo!"


"Brengsek lo!" Tangannya bersiap menampar mendengar kata-kata cewek tadi namun di tepisnya.


Semua orang di kantin yang menyaksikan bengong di tempatnya, termasuk Alya dan Mira. Tidak ada satu orangpun yang berani mendekat saat cewek-cewek garang ini saling beradu mulut.


"Eh, berani nglawan lo sama kita-kita!" Cewek lainnya yang merupakan teman si cewek garang itu mendorongnya hingga mundur beberapa langkah.


"Apa lo! Beraninya main keroyokan! Gue nggak takut sama lo semua!" Balasnya dengan nada menantang.


"Cari mati lo ha!" Si cewek garang itu menarik kerah lawan bicaranya dengan kasar.


"Mega.. Irin.. ada guru tuh! Ayo pergi! Nanti bisa berabe!" Ucap si teman cewek lainnya yang sejak tadi terdiam.


"Kita cabut!" Cewek berparas cantik dengan tinggi semampai yang dipanggil Mega itu mengajak dua temannya tadi pergi.


"See??? Pengecut kan?" Kata si cewek yang sejak tadi masih memasang muka santai itu.


"Denger ya! Urusan kita belum selesai! Awas lo!" Ancam cewek satunya lagi yang bernama Irin. Dia berlalu dari hadapannya bersama dua orang temannya tadi.


Si cewek yang diancam itu hanya melirik sinis kemudian pergi meninggalkan kantin ke arah yang berbeda dengan ketiga cewek yang memaki-makinya tadi tanpa berniat menyelesaikan makannya kembali.


Setelah keributan selesai orang-orang di kantin saling berbisik membicarakan mereka. Mira langsung angkat bicara di hadapan Alya.


"Wah! Gengnya Mega emang bener-bener serem! Berani banget mereka maki-maki orang, di sekolah lagi, di hadapan banyak orang!" Ucap Mira menggebu-gebu.


Alya mencibir tidak peduli. "Itu sih namanya malu-maluin! Masak urusan cowok dibawa-bawa ke sekolah sih."


"Alyaa!" Pekik Mira pelan. "Jangan ngomong sembarangan tentang mereka! Nanti kalo ada yang denger terus lo di laporin, mereka bisa nglabrak lo."


"Segitunya? Emang mereka siapa? Sok-sokan mau ngelabrak." Gerutu Alya.


Mira terkejut sambil membulatkan mulutnya. "Oh My God! Lo nggak tau Al, mereka itu geng cewek-cewek tajir di sekolah ini. Orang tua mereka itu penyumbang dana terbesar di sekolah ini, nggak ada yang berani sama mereka!"


"Oh, gitu..." Komentar Alya datar.


"Gue serius Al!" Tegas Mira.


"Iya, gue juga tau Mir! Terus gue harus gimana?"


"Gue nggak mau sampe lo berurusan sama mereka."


Alya cekikikan. "Ngapain gue punya urusan sama mereka? Rebutan cowok kayak tadi? Nggak mungkin banget kan?!"


Mira melengos. "Gue kan cuma ngingetin lo Al!"


"Iyaa Mir, iya, gue tahu. Lagian lo ada-ada aja sih!"


"Ih, gue cuma ngingetin! Lo emang susah dibilangin ya Al!"


Alya terkekeh, "Iya Mir, sahabat gue yang paling cerewet, gue nggak akan mungkin berurusan sama mereka!"


Mira hanya terdiam dan memberinya tatapan kesal.


--- BWY ---


Usai jam pelajaran sekolah Alya tidak langsung pulang, dia ngacir ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas Bahasa Indonesia. Mira tidak ikut karena hari ini dia harus les privat Matematika di rumahnya dan lagi pula dia sudah mengerjakan tugasnya lebih dulu, secara dia punya lebih banyak waktu dibandingkan Alya yang harus kerja part time hampir setiap malam.


Sebenarnya Alya biasa mengerjakan tugas di rumah Mira, tapi kali ini dia membutuhkan banyak referensi untuk sinopsis novel yang akan lebih mudah ditemukannya di perpustakaan.


Sudah sejam lebih Alya berkutat dengan buku-buku yang tergeletak tidak beraturan di depannya. Kalo saja nilai tugas ini tidak digunakan sebagai pengganti ulangan, Alya tidak harus sampai repot-repot begini. Harusnya dia bisa tidur nyenyak seperti biasanya sebelum berangkat kerja.


Ah, kenapa sih harus ada tugas ribet kayak gini segala? Gue kan jadi nggak bisa istirahat dulu! Gerutu Alya dalam hati.


Setelah menulis kurang lebih satu lembar folio penuh, Alya meregangkan otot-otot jemarinya. Dia melemaskan lehernya dan menggerakkan pinggulnga ke kanan-kiri. Alya melirik jam tangan hitamnya yang melingkar di tangan kirinya. Sudah pukul empat lebih, dia segera membereskan buku-bukunya, memasukkan alat tulisnya ke dalam tas dan merapikan tempat duduknya.


"Waktunya pulang!" Seru Alya gembira lalu menggendong tas ransel biru tuanya. Sambil berjalan meninggalkan perpustakaan yang sudah sepi Alya mengembalikan beberapa buku referensi ke atas rak yang tadi dia pinjam.


Alya berjalan keluar menuju gerbang sekolah dengan ringan. Satu tugas sekolahnya sudah terselesaikan. Dan tugasnya yang baru di tempat kerja sudah menantinya, hanya tinggal beberapa jam lagi.


Beberapa meter sebelum mencapai gerbang, Alya melangkahkan kakinya pelan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Alya melihat cewek yang sepertinya tidak asing lagi di ingatannya sedang mengobrol dengan seorang cowok bertopi yang berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celananya dan bersandar di pintu mobil.


Alya menghentikan langkahnya, sepertinya mereka sedang berbicara serius. Alya tidak mungkin akan berjalan di depan mereka seolah tidak ada siapapun yang dia lihat dan tanpa merasa bersalah sementara tidak ada orang lain lagi yang berlalu lalang. Sialnya lagi, entah mengapa wajah cewek itu terngiang-ngiang di benaknya memaksa agar Alya mengingatnya.


Ah iya! Alya membuang nafas pendek setelah berhasil mengingatnya. Bagaimana dia bisa lupa dengan cewek yang tadi dilihatnya di kantin, bahkan Mira dengan sangat jelas menyebutkan namanya di depannya. Dia adalah Mega si cewek garang yang berkelahi dengan temannya karena masalah cowok.


"Lo bohong lagi kan? Kalo bukan karena tante Elena yang meminta gue, gue nggak bakalan dateng!" Kata cowok itu dengan ketus. Walaupun sama-samar, pembicaraan mereka terdengar cukup jelas dari tempat Alya berdiri.


"Kamu kok gitu sih babe?" Nada manja Mega yang terdengar di telinga Alya tiba-tiba mengingatkannya pada sesuatu. Alya memperhatikan cowok bertopi itu dengan seksama.


"Ayo pulang! Gue sibuk!" Ajak si cowok itu masih dengan nada ketusnya.


Mega cemberut. "Oke! Kita pulang Erosh sayang." Dia mendekatkan wajahnya pada cowok yang di panggil Erosh itu.


Erosh berpaling, dia melangkah ke sisi kanan mobil dan membuka pintunya. Sebelum masuk, Erosh sempat melirik ke arah Alya, cewek yang berdiri mematung tidak jauh dari gerbang dan memperhatikannya.


Alya langsung menunduk. Dia melangkah cepat melewati gerbang menuju halte bis di ujung jalan begitu pembicaraan mereka sepertinya telah berakhir.


Mega masuk ke dalam honda civic Estillo ㅡsedan sporty dengan sedikit modifikasi dan repaint full body ungu lembayungㅡ milik Erosh. Dia menyunggingkan senyumnya karena merasa telah berhasil membuat Erosh menjemputnya di sekolah walaupun dia harus menunggu satu jam lebih dan mendengarkan kata-kata ketus Erosh yang kurang menyenangkan. Mega sudah biasa menghadapinya.


Mobil Erosh melaju meninggalkan sekolah dan melewati Alya yang sedang menunggu bisnya datang. Jantung Alya berdebar tiba-tiba. Wajah cowok yang dilihatnya sepintas tadi tiba-tiba muncul di ingatan Alya. Dia merasa sudah pernah melihatnya, tapi dimana?


Alya mendengkus, kenapa hari ini dia harus dipaksa untuk mengingat wajah-wajah orang yang menurut Alya tidaklah penting. Alya mencoba menepisnya tapi dia justru penasaran dan berusaha mengingatnya lebih dalam dan...


Alya tahu! Sekarang dia sudah bisa mengingat wajah cowok yang mengobrol bersama Mega tadi. Dia adalah cowok yang pernah memesan segelas lemonade di klub tempat Alya bekerja. Dia di meja dua puluh bersama seorang cewek yang sedang mabuk dan sempat memakinya.


Tiba-tiba saja Alya teringat sesuatu lagi yang membuatnya khawatir.


Jangan-jangan! Batin Alya cemas. Alya merasakan debaran jantungnya bertambah kencang, "Nggak mungkin kan kalo cewek itu..." Gumam Alya.


"Jangan-jangan cewek itu Mega!" Alya syok dengan pernyataannya sendiri dan terpaku ditempatnya. Gawat! Dia tidak boleh berhadapan dengan dua orang itu lagi jika mereka muncul di klub. Alya juga harus menjauhkan wajahnya dari Mega di sekolah ini. Dia tidak mau rahasianya terbongkar dan mulai sekarang dia harus lebih berhati-hati.


---- BWY ----