
Erosh menghentikan laju mobilnya di sebuah rumah mewah ㅡbergaya Eropa dengan desain klasik warna coklat muda dipadu indahnya taman depan yang ditumbuhi aneka tanaman hiasㅡ kawasan Sun Gardens. Sebenarnya dia enggan turun dari mobil mengingat siapa anak dari pemilik rumah ini, yang sekarang duduk di sampingnya, Mega yang selalu memaksa dan ingin mengikuti kemanapun Erosh pergi.
"Kita masuk yuk babe! Mama pasti udah nunggu." Ajak Mega dengan suara khasnya yang centil dan manja di hadapan Erosh.
Erosh menatap Mega sesaat kemudian turun dari mobilnya tanpa mengatakan apapun.
Mega memanyunkan bibirnya, dia sudah tahu Erosh akan begitu. Dia jarang memperlakukan Mega dengan lembut kecuali di hadapan kedua orang tuanya, dan itupun bisa dihitung dengan jari. Nyatanya Erosh memang tidak pernah menyukainya, terutama pada sifatnya.
Erosh masuk ke dalam rumah diikuti Mega. Seorang perempuan cantik setengah baya dengan dandanan glamour menyambut kedatangan mereka dengan sumringah.
"Hallo Erosh!" Sapanya lalu memeluk tubuh Erosh dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.
Erosh menyunggingkan senyumnya. "Apa kabar tante?" Tanyanya lembut.
Elena, wanita setengah baya itu membalas senyuman Erosh. "Seperti yang kamu lihat. Selama Mega tidak berulah, kondisi kesehatan tante baik." Katanya sambil melirik ke arah Mega yang berdiri di samping Erosh.
Mega berdecak kesal mendengar penuturan Mamanya. "Okelah! Whatever you say Ma!"
"Mama cuma bercanda sayang.." Elena mengusap lengan Mega pelan.
Mega hanya melirik Mamanya sinis.
"Oh ya, makasih banyak ya Rosh, kamu sudah bersedia menjemput Mega. Tante bener-bener nggak enak sama kamu." Kata Elena.
"Nggak apa-apa kok tante.." Jawab Erosh dengan enteng, jauh berbeda dengan kenyataan di hatinya yang sebenarnya ingin menolak tapi tidak bisa.
"Mumpung kamu di sini tante ingin mengobrol sama kamu." Elena bermaksud menggiring Erosh duduk di sofa.
Mega langsung mencegahnya. "Ih, Mama apaan sih! Mega aja belum sempat ngobrol sama Erosh. Mama main serobot aja!" Tangannya memegang lengan Erosh erat.
"Sayang..." Panggil Elena lembut. "Kamu mandi dulu dong, ganti pakaian kamu juga!" Perintahnya.
"Tapi Ma," Protes Mega.
Elena memandang ke arah Mega dengan tatapan meminta dan ujungnya Mega melepaskan pegangan tangannya pada Erosh. Mega naik ke kamarnya di lantai dua dengan kesal, sementara Erosh menghela nafas lega. Untung saja Mega segera pergi, Erosh tidak tahan dengan sikap manjanya.
Erosh duduk di sofa ruang tamu ditemani Elena. Seorang ART di rumah itu baru saja mengantarkan dua gelas minuman pada mereka.
"Udah lama tante nggak ngobrol sama kamu, tante kangen." Elena membuka percakapan sambil menyeruput minumnya. Dia ingat terakhir bertemu dengan Erosh sekitar dua bulan yang lalu. "Ayo di minum dulu!"
Erosh mengangguk dan meneguk minumnya sedikit.
"Mama sama Papa kamu gimana? Tante sudah jarang banget ngobrol sama mereka sekarang." Ujar Elena. Jangankan dia, Erosh yang tinggal serumah dan merupakan anaknya sendiri saja jarang mengobrol dengan mereka.
"Baik tante." Jawab Erosh singkat. Memangnya apa lagi yang bisa dikatakannya. Erosh hampir tak punya cerita tentang mereka.
"Tante denger mereka sering bertolak ke luar negeri? Pasti sibuk sekali."
"Iya tante, ada beberapa relasi Papa dari luar negri."
Elena mengangguk paham, "Lalu, kamu sendiri bagaimana? Kamu pasti kesepian di rumah."
Apa yang dikatakan Elena memang benar. Erosh tersenyum menanggapi perkataannya. "Mau gimana lagi tante, lagi pula mereka memang pergi untuk mengurus pekerjaan."
"Iya Rosh, tante mengerti." Elena menghela nafasnya. "Mereka nggak berubah sejak dulu. Sebenarnya tante nggak suka kalo mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya, pasti jarang ada waktu buat kamu."
Erosh terdiam mendengarkan curhatan Elena, lagi-lagi semua ucapannya benar.
"Tante nggak enak sama kamu karena tante yang udah bawa kamu ketemu mereka." Elena menatap Erosh dengan wajah kecewa.
"Nggak apa-apa tante, Erosh sudah terbiasa." Jawab Erosh bohong. Nyatanya selama ini dia selalu merasa kesepian dan benci tinggal di rumah itu.
"Kalo ada apa-apa kamu bilang aja sama tante yaa?! Tante sudah anggap kamu seperti anak tante sendiri." Ujar Elena. "Kalo kamu bosen di rumah, sering-seringlah main ke sini, rumah tante selalu terbuka untuk kamu."
Erosh mengangguk. Elena memang selalu baik dan perhatian padanya sejak dulu, bahkan sejak dia bertemu dengannya di panti asuhan untuk pertama kalinya tujuh tahun yang lalu.
Awalnya Papa dan Mamanya juga begitu, mereka sangat menyayangi Erosh sebelum disibukkan dengan pekerjaan masing-masing dan mereka sering meninggalkannya sendirian seperti sekarang. Tidak dipungkiri kebutuhan finansial Erosh memang tercukupi semua, mulai dari rumah, sekolah, mobil, uang saku, bahkan fasilitas penunjang lainnya yang sangat fantastis. Tapi bukan hanya itu saja yang sebenarnya Erosh butuhkan. Dia juga ingin mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya dan hal itulah yang sampai saat ini belum dia dapat.
ARGA CALLING
HP Erosh berdering tiba-tiba, Erosh meraihnya dari saku celananya. Dia menatap Elena, meminta ijin untuk mengangkatnya.
"Angkat dulu saja telponnya Rosh." Kata Elena tersenyum.
Erosh balas tersenyum kemudian berdiri agak menjauh dari Elena.
"Gimana?" Jawab Erosh dari balik HPnya.
"Gue dapet laporan dari anak-anak, Alex cs membuat keributan di bengkel Rosh." Lapor Arga dari seberang sana.
Erosh mengangguk paham begitu mendengar laporan dari Arga, si penelepon. "Gue ke sana sekarang." Katanya lalu menutup telponnya.
"Kamu mau pergi Rosh?" Tanya Elena begitu Erosh selesai menelpon.
"Emm... Iyaa tante, Erosh ada perlu dengan temen Erosh." Jawab Erosh dengan sedikit ragu-ragu. Dia merasa tidak enak harus mengatakan hal itu pada Elena.
Elena tersenyum mengerti. "Oke, kita bisa lanjut mengobrol lain kali. Kamu selesaikan dulu urusanmu."
"Baiklah tante, kalo gitu Erosh pergi dulu." Erosh berdiri dari hadapan Elena dan berpamitan.
"Hati-hati ya Rosh." Ucap Elena.
"Iya tante." Erosh mengangguk sopan kemudian meninggalkan ruang tamu dan Elena yang menatap langkahnya.
Seandainya saja Adam dan Bella bisa sedikit lebih perhatian pada anak itu... Mereka harusnya bersyukur memiliki anak lelaki yang sekarang sudah tumbuh dewasa bahkan dengan begitu baik. Batin Elena.
Dia sedikit kecewa dengan sikap kedua sahabatnya yang dinilai kurang serius dalam merawat dan membesarkan Erosh. Mungkin kesibukan mereka itulah pemicu utama mereka tidak dikaruniai seorang anak.
---- BWY ----
"Gue tanya kemana bos lo!!!" Teriak seorang cowok bertubuh lumayan kekar dengan tato di lengan kanannya dan tindik hitam di telinga kirinya. Dia terlihat geram.
"Percuma lo teriak-teriak di sini. Erosh nggak ada!" Jawab seorang cowok yang ada di hadapannya. Beberapa orang yang ada di sekitarnya terdiam dan menatapnya tidak suka.
"Kita obrak-abrik aja bengkelnya bos!" Cowok yang ada di belakang si cowok geram itu mengajukan usulan.
"Eh, diem lu ***!" Orang lain lagi yang tidak memihak cowok geram itu angkat bicara dengan nada kesal.
Si cowok geram bertindik itu menyeringai. "Gue emang mau hancurin bengkel ini!" Katanya sambil menatap sekelilingnya ㅡsebuah bengkel modifikasi mobil yang lumayan luas di lengkapi fasilitas yang memadai milik Eroshㅡ.
"Kenapa? Lo mau ngancam gue? Gue nggak takut!" Si cowok geram itu maju selangkah bermaksud hendak mencengkeram kerahnya.
"Inget ya Lex, ini adalah tempat Erosh dan lo nggak berhak melakukan apapun di sini!" Jawab lainnya memperingatkan cowok geram yang dipanggil Alex itu.
Alex tertawa meremehkan mendengar perkataan orang di hadapannya. "Lo pikir gue peduli?"
"Lo harus siap nanggung akibatnya kalo lo berani sentuh tempat ini! Kita nggak akan biarin lo berulah di sini!"
"Persetan sama lo semua!" Alex geram. "Berani lo sama gue?"Dia maju selangkah lagi lebih dekat.
Orang-orang di hadapan Alex saling bertatapan dengan kepalan tangannya masing -masing. "Kita semua nggak takut sama lo!"
"Kurang ajar!" Erang Alex. Dan sebelum dia benar-benar memulai aksinya membuat keributan di bengkel, Erosh telah tiba bersama Arga.
"Mau apa lo ke sini?" Erosh menghampiri Alex cs di halaman bengkelnya.
Semua menoleh ke arah Erosh.
Alex beralih menatap tajam pada Erosh yang berjalan ke arahnya. "Muncul juga lo!" Katanya ketus.
"Gue rasa lo nggak perlu repot-repot dateng ke sini." Jawab Erosh santai.
"Cuih!" Alex mencela. "Denger ya Rosh, gue mau bikin perhitungan sama lo!" Alex menunjuk ke arah Erosh dengan jari telunjuknya.
Erosh tersenyum tipis. "Perhitungan apa lagi? Gue rasa nggak ada masalah apapun di antara kita."
"Gue udah peringatin lo, jangan ikut campur urusan gue!" Ancam Alex. "Apa maksud lo mukulin anak buah gue?" Dia menyenggol bahu Erosh.
Anak-anak yang pro pada Erosh langsung mendekat. Tidak terima pada sikap Alex.
Erosh menoleh pada teman-temannya yang sudah siap melawan jika Alex bertindak lebih keras lagi. Dia memberinya tatapan untuk tidak gegabah terlebih dahulu.
Erosh masih meladeninya dengan santai. "Bilang sama anak buah lo, jangan sekali-kali mukulin cewek lagi. Gue nggak akan tinggal diam."
"Bulsyit! Kenapa? Lo suka sama ***** itu?" Tanya Alex melotot tajam pada Erosh. "Gue nggak akan biarin lo ikut campur urusan gue lagi!"
"Gue juga nggak akan biarin anak buah lo mukulin cewek lagi!" Sambung Erosh kini dengan nada yang sedikit tak mau mengalah.
"Lo nantangin gue??" Emosi Alex meledak seketika melihat lawannya mulai meladeni perkataanya.
"Gue cuma peringatin lo Lex."
Alex membuang muka dengan risih. "Jangan sok jadi pahlawan!"
Erosh menautkan alisnya, hanya terdiam mendengarkan celotehan Alex yang menurutnya tak berguna.
"Kita bikin perhitungan sekarang juga! Gue mau kita selesain ini di jalan!" Tantang Alex.
Erosh menaikkan bibirnya sedikit, membentuk senyuman kecil meremehkan. "Siapa takut?"
"Oh, punya nyali juga lo ya?!"
"Bukannya lo yang nantang gue?"
"Kalo gue menang, habis lo semua!" Kata Alex lagi-lagi mengancam. "Jangan pernah ikut campur urusan gue lagi!"
"Kalo gue menang??" Tanya Erosh dengan nada menantang. "Lo pastiin semua anak buah lo nggak akan bikin keributan lagi." Kata Erosh tegas.
"Jangan harap lo bisa menang dari gue kali ini!" Alex menatap Erosh dan semua orang yang ada di pihak Erosh dengan sengit.
"Gue juga nggak akan biarin lo menang kali ini Lex." Balas Erosh membuat Alex semakin geram.
"Awas lo semua!" Ancam Alex kemudian berbalik melangkah bersama dua orang cs-nya. Mereka berjalan dengan gusar menuju mobilnya dan tak berselang lama Bmwnya melaju kencang meninggalkan bengkel.
"Rosh, lo serius terima tantangannya Alex?" Tanya salah satu orang di antara teman-teman Erosh setelah Alex cs berlalu.
"Kita nggak bisa tinggal diam, mereka udah kelewatan." Jawab Erosh padanya.
"Tapi kita belum ada persiapan Rosh." Tambah Arga, sahabat sekaligus salah satu mekanik di bengkelnya.
"Kita nggak perlu persiapan apa-apa Ga."
"Mobil kita belum jadi Rosh, kita nggak mungkin bisa ngalahin mereka." Pikir Arga.
"Siapa bilang?" Erosh tidak setuju.
"Tapi Rosh, Andre juga belum sembuh dari cidera kemarin." Andre yang dimaksud adalah salah satu jongki andalan Erosh. Dia mengalami kecelakaan mobil beberapa minggu yang lalu.
"Gue yang pegang kali ini!" Kata Erosh yakin.
"Lo serius???" Arga melotot tidak percaya. Pasalnya setahun yang lalu Erosh menyatakan diri tidak akan mengendarai mobil untuk balapan lagi. Dia sudah tak berniat untuk melakukan aksi ugal-ugalan ilegal itu semenjak dia pernah cidera dan terpaksa harus menginap di rumah sakit, tempat yang paling tidak diinginkannya.
Erosh menghela nafas. "Gue serius!"
"Tapi, lo nggak apa-apa?" Tanya Arga.
"Kali ini gue akan lebih berhati-hati."
Arga menatap Erosh ragu. "Apa lo yang harus turun tangan?"
"Menurut lo siapa lagi?" Erosh balik bertanya.
"Gue khawatir, kali ini Alex pasti akan berbuat curang."
Erosh menepuk bahu Arga pelan. "Lo santai aja Ga, kali ini gue nggak akan biarin Alex menang."
Arga terdiam dan terlihat pasrah.
"Lo percaya sama gue Ga!" Erosh meyakinkan. "Kita selesaiin mobilnya sekarang."
Arga tersenyum. "Gue percaya Rosh!" Kalo tidak nekat, bukan Erosh namanya. Dan Arga yakin Erosh bisa membuktikan perkataannya.
Erosh balas tersenyum.
---- BWY ----