
HAPPY READING
AUTHOR BY AXRANS
*******
Nia melangkah keluar dari ruang Kepala Sekolah setelah satu jam lebih berdiskusi dengan para dewan guru. Dia menghampiri dua orang yang dengan sabar menunggunya memenuhi panggilan pihak sekolah SMA Andromeda. Erosh menyambut kedatangannya dengan penuh tanda tanya, sementara Alya tetap berdiam diri di tempatnya dan terlihat putus asa.
"Bunda, gimana hasilnya?" Tanya Erosh tak sabar mendengar keputusan yang Nia bawa dari pihak sekolah.
Nia tersenyum, entah itu tulus dari dasar hatinya atau hanya karena menutupi keadaan yang sesungguhnya. "Semuanya baik-baik aja kok."
"Alya nggak dikeluarin dari sekolah kan Bun?" Potong Erosh cepat.
"Biar Bunda ngobrol dulu sama Alya yaa." Nia menghampiri anak tirinya yang tengah duduk di sudut teras, Erosh mengangguk menurut.
Nia menghela nafas panjang sebelum mengambil posisi duduk di samping Alya. "Bunda sudah ngobrol dengan guru-guru..." Ucapnya mengawali percakapan dengan Alya.
Alya masih terdiam tak bersemangat.
"Bunda yakin, niat baik kamu pasti bisa dipahami oleh pihak sekolah." Tutur Nia melanjutkan.
"Bilang aja yang sebenarnya, Alya udah siap nerima konsekuensinya." Alya menanggapi.
"Mereka nggak ngeluarin kamu kok. Apa yang salah dengan kerja part time?"
Erosh tampak sumringah mendengarnya sementara Alya terlihat bernafas lega walaupun dia tidak bersemangat sedari awal.
"Tapi karena ada aturan sekolah yang tidak memperbolehkan siswa bekerja, kamu harus kena skorsing selama satu minggu. Kamu nggak apa-apa kan? Yang terpenting, kamu harus siap menghadapi teman-teman kamu."
"Alya nggak peduli sama omongan orang-orang yang nggak suka dengan hidup Alya." Komentarnya.
Nia tersenyum mendengar jawaban Alya. "Bunda setuju dan Bunda yakin kamu pasti bisa. Mulai sekarang kamu harus fokus dengan sekolah kamu, sebentar lagi ada Mid-test dan kamu juga sudah kelas tiga."
Alya mengangguk perlahan, "Makasih..." Katanya pelan dengan wajah tertunduk.
Nia terhenyak, selama dia menjadi Ibu sambungnya, baru pertama kali ini dia mendengar ucapan terima kasih dari anak tirinya itu. Nia begitu terharu.
"Papa jangan sampai tahu soal ini..." Kata Alya menambahkan dengan cepat, menutupi rasa canggungnya atas ucapannya tadi. Butuh keberanian besar hanya untuk mengucapkan satu kata terima kasih untuk Ibu tirinya itu.
"Bunda akan jaga rahasia kamu dengan baik. Kamu bisa percaya sama Bunda." Ucap Nia sungguh-sungguh. Dia begitu bahagia sampai tidak bisa menahan senyumannya yang bertahan mengembang di bibirnya. Dia memberanikan diri membelai pundak Alya pelan untuk pertama kalinya.
Alya sendiri hanya bisa tersenyum kecil, sementara Erosh begitu terharu melihat pasangan anak dan Ibu yang baru saja memulai kedekatannya.
"Sekarang Erosh anter pulang yaa..." Ujarnya mencairkan suasana canggung diantara Alya maupun Nia.
"Gue pulang sendiri aja, gue mau ketemu Mira dulu." Jawab Alya.
Erosh mengangguk.
"Yasudah kalo gitu biar Bunda saja yang pulang sama Erosh. Kamu hati-hati ya."
Alya mengangguk pelan kemudian melangkah terlebih dahulu meninggalkan Nia maupun Erosh untuk menemui sahabatnya yang pasti juga tengah menanti kabar baik darinya.
ㅡBWY ㅡ
"Alya!" Mira melambaikan tangannya begitu melihat Alya celingukan di dekat taman belakang sekolah.
"Ini kan jam pelajaran! Lo bolos?" Tanya Alya begitu dirinya sudah berdiri di hadapannya.
"Gue nggak peduli! Duduk sini!" Mira menyeret lengan Alya dan berakhir dengan mereka duduk berdampingan di bangku taman.
"Kalo ketahuan guru bisa dihukum lo!"
"Udah nggak usah ngomongin hukuman! Buruan sekarang lo cerita sama gue. Lo nggak lihat perjuangan gue bisa sampai di sini dan bo'ongin Bu Eva?" Tutur Mira tak sabar.
"Lo berani bo'ongin bu Eva?"
"Gue bilang perut gue sakit dan dia nyuruh gue istirahat ke UKS!"
Alya terkekeh pelan. "Dasar murid bandel!"
"Ih, buruan lo cerita, keburu tua nih gue nunggunya dari tadi."
"Iya, gue ceritain nih."
Mira buru-buru memasang pendengarannya dengan baik.
"Emm... Gue..."
"Apa?"
"Gue nggak dikeluarin dari sekolah."
"Lo nggak bohong kan Al? Lo serius kan?" Mira memeluk Alya sambil terisak haru. Sedari awal dia sangat yakin Alya pasti tidak akan dikeluarkan dari sekolah.
"Aduh Mir, lepasin! Gue nggak bisa napas ini." Protes Alya.
Mira melepaskan pelupakannya dengan bibir mengerucut. "Lo nih! Gue kan lagi seneng banget. Tapi lo beneran nggak bohong kan Al!"
"Ngapain juga gue bohong."
Mira tersenyum lebar, tidak bisa dipungkiri, dia ikut merasa bahagia mendapat kabar ini. Mira paham benar akan situasi yang harus dihadapi Alya setelah kemarin mendengar penjelasan darinya. Menurutnya, pihak sekolah memang tidak seharusnya mengeluarkan Alya dari sekolah.
"Gue berterima kasih banget sama pihak sekolah karena nggak ngeluarin gue." Kata Alya ikut tersenyum. "Tapi kita nggak bisa ketemu seminggu dulu yaa."
"Kenapa? Lo kena skorsing ya?"
Alya mengangguk. "Menurut gue, itu udah hukuman teringan yang harus gue dapet."
Mira memaklumi, apalagi posisi Alya yang bekerja saat statusnya masih sebagai pelajar memang menyalahi aturan sekolah ini. "Kita kan masih bisa ketemu kalo udah pulang sekolah, yaa kan?"
"Iya, yang penting lo jangan males belajarnya kalo gue nggak ada."
Mira nyengir. "Yang ada gue yang harus bilang gitu ke lo! Selama masa skorsing jangan lupa belajar!"
Alya terkikik mendengar nasehat sahabatnya.
"Gue masih syok banget karena kejadian kemarin. Untung aja semuanya udah selesei sekarang. Lagian tuh, si Mega ngapain coba pake ngadu ke pihak sekolah!" Rutuk Mira penuh amarah.
"Terus Erosh gimana? Berlalu juga?" Tanya Mira jail.
"Miraaa!" Alya mencubit lengannya pelan. "Gue nggak mau bahas itu lagi!"
"Gimanapun juga, dia yang udah bela-belain lo."
"Terus?" Alya berlagak sok tidak peduli. "Nyatanya orang tua gue dipanggil juga kan ke sekolah."
"Oh iya, Papa lo nggak tahu masalah ini kan?"
"Nggak kok, semuanya aman. Gue cuma tinggal mikirin, seminggu ini gue harus ngapain? Papa gue sekarang udah nggak keluar kota lagi."
"Di rumah gue aja." Jawab Mira girang.
Alya memanyunkan bibirnya. "Terus kalo Bokap lo pulang tiba-tiba, gue mesti jawab kalo gue lagi di suruh belajar di rumah gitu?"
Mira terkekeh. "Iya juga sih. Tapi kayaknya Papa gue juga nggak bakalan pulang kok."
"Yaudahlah itu urusan gampang. Sekarang lo masuk kelas sana! Gue mau pergi, gue mau puas-puasin jalan-jalan. Lo belajar dulu ya!" Kata Alya setengah mengejek.
Mira lansung nyengir. "Dasar ini anak!"
"Jangan lupa ya, lo harus dengerin materinya baik-baik. Nanti lo yang jadi guru pengganti gue seminggu ini."
"Iya Al, lo tenang aja. Soal urusan kejar mengejar pelajaran, lo nggak usah khawatir."
"Thanks ya Mir." Kali ini giliran Alya memeluk Mira. Berterima kasih bahwa dia mempunyai sahabat yang sangat baik dan selalu pengertian. Mira membalas pelukannya.
ㅡBWY ㅡ
Erosh menghentikan laju mobilnya di sebuah rumah yang tak asing lagi baginya. Setelah mengantarkan Nia kembali ke rumah dia langsung bergegas berpamitan dengan alasan ada keperluan penting yang mendadak.
Tanpa menunggu lama, Erosh langsung turun dari mobil dan memencet bel rumah itu. Wajahnya tampak kesal namun sengaja dia sembunyikan. Beberapa detik kemudian, seorang ART yang dia kenal membuka pintu dan langsung mempersilahkan masuk.
"Nyonya sedang tidak di rumah Den Erosh, kalo nona muda ada di kamar. Sedang tidak enak badan." Jelas ART itu memberitahu Erosh.
Erosh tersenyum, "Saya langsung ke atas ya Bik."
"Silahkan Den." Ucapnya mengangguk, membiarkan Erosh berlalu menaiki anak tangga menuju lantai dua. Erosh ingin segera menuju kamar yang sudah dia hafal keberadaannya.
Ceklek!
Erosh membuka pintu kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dia melihat sosok gadis yang dia cari sedang berbaring santai di atas tempat tidurnya sambil mendengarkan musik.
"Babe... " Senyum Mega merekah begitu melihat sosok Erosh datang menemuinya. Dia segera mematikan musik yang menggema dari Iphonenya dan mengambil posisi duduk. "Aku tahu kamu pasti akan ke sini."
Erosh menghela nafasnya. "Baguslah! Berarti lo udah tau kan tujuan gue kesini?"
"Kamu kenapa keliatan kesal gitu sih sama aku?"
"Kapan gue terlihat bahagia saat ketemu lo?"
"I know... I know..." Ucap Mega sedikit kecewa. "Kenapa berdiri aja, kamu nggak mau duduk di sini?"
"Gue nggak perlu basa-basi lagi, bisa lo jelasin semuanya ke gue sekarang?" Tanya Erosh ketus. "Selama ini gue udah bersabar menghadapi lo."
Mega mengulum senyumnya. "Tenang dulu babe! Kamu jangan marah gitu dong, aku bisa jelasin semuanya."
Erosh hanya terdiam menanggapi.
"Apa yang pengen kamu jelasin dari aku? Tentang hubungan kita?"
Erosh menatap Mega tajam. "Gue peringatin sama lo, ini pertama dan terakhir kalinya lo mengganggu Alya!"
"Babe!" Mulut Mega membulat. "Kamu mengancam aku?"
"Kalo lo nggak bisa dengerin omongan gue baik-baik, maka gue akan ngancam lo!"
Mega mendengkus kesal. "Apa sih istimewanya dia, sampai-sampai kamu mau ke sini hanya untuk dia?"
"Itulah istimewanya dia, karena Alya bukan cewek seperti lo!"
"Jadi cewek seperti Alya yang kamu suka?" Mega beranjak dari tempat tidur dan berdiri di hadapan Erosh. "Aku bisa kok jadi cewek seperti dia, bahkan lebih kalo aku mau." Katanya dengan angkuh.
"Jangan berharap lo bisa jadi seperti Alya, karena gue nggak akan suka sama lo." Erosh membuang mukanya.
"Aku lebih kaya dari dia, aku lebih cantik, aku lebih pintar, aku lebih dari dia, kamu tahu itu kan?" Mega menatap Erosh penuh harap. "Aku suka kamu sejak dulu Babe."
Erosh sama sekali tidak terganggu dengan raut muka memelas Mega. "Mungkin lo memang lebih segalanya dari pada Alya, tapi gue nggak akan pernah bisa suka sama lo."
"Tapi aku bisa menyayangi kamu lebih dari dia, lebih dari siapapun!"
Kini Erosh menatap ke arah Mega dengan agak lembut. "Tapi gue nggak bisa."
"Kenapa?" Mega meraih tangan Erosh dan menggenggamnya erat. "Kenapa kamu nggak bisa menyayangi aku?"
"Karena perasaan nggak bisa dipaksakan." Balas Erosh. "Dan kalau lo memang sayang sama gue, gue minta jangan ganggu Alya lagi..." Lanjutnya sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Mega.
"Kamu minta sama aku?" Mega tersenyum miring. "Kamu minta sama aku demi cewek itu?"
Erosh terdiam. Sebenarnya dia sudak muak menghadapi tingkah Mega.
"Kamu jahat Rosh! Kamu bener-bener jahat!" Teriak Mega dengan lantang. Amarahnya menumpuk hingga sudut matanya mulai berair.
"Yaa, gue emang jahat!" Tandas Erosh. "Jadi jangan pernah suka sama gue lagi. Dan jangan pernah ganggu hidup Alya!" Erosh mengakhiri percakapannya dan dia mulai melangkah meninggalkan kamar Mega.
Mega diam tak bergeming. Air matanya mulai mengalir deras membasahi pipinya. "Denger ya Rosh!"
Erosh menghentikan langkahnya.
"Aku nggak akan biarin kamu dan Alya bersatu! Inget itu! Aku nggak akan terima apa yang udah kalian lakuin ke aku!"
Erosh berbalik menghadap Mega dan tersenyum menyeringai. "Itu salah satu hal yang nggak gue suka dari lo, sifat jahat lo!"
Mega terdiam tak menjawab, hanya menatap Erosh dengan kilatan amarah dan kekecewaan yang terpancar dari kedua matanya, sementara Erosh langsung beranjak pergi meninggalkannya.
ㅡBWY ㅡ