
HAPPY READING
AUTHOR BY AXRANS
********
"Kapan saya boleh pulang Dok?" Tanya Alya setelah dokter memeriksa kondisinya.
Dokter wanita paruh baya itu tersenyum. "Besok sudah boleh pulang."
"Beneran Dok?" Alya tampak senang mendengarnya. Tapi meskipun sudah diperbolehkan pulang, tetap saja dia akan selalu berkunjung ke sini untuk melihat keadaan Nia.
Dokter itu mengangguk. "Benar, tapi jika ada keluhan sakit kepala kamu harus segera check-up."
"Baik Dok, saya paham. Terima kasih."
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu."
Alya mengangguk, dokter itu keluar bersama seorang perawat yang sejak tadi membantu bersamanya.
"Kak Alya!" Dari pintu masuk terdengar suara yang Alya rindukan memanggilnya. Dua bocah kecil, laki-laki dan perempuan masuk berlarian mendekat padanya.
"Angga, Anggi!"
"Kak Alya, Angga kangen." Ucapnya lebih dulu memeluk Alya dan disusul Anggi.
"Kak Alya juga kangen kalian berdua!" Dia balas memeluk erat kedua adik kembarnya.
"Kak Alya sakit parah ya? Kenapa dahinya di tempel perban? Kak Alya terluka?" Anggi memburunya dengan pertanyaan.
"Kak Alya udah sembuh kok, besok udah boleh pulang ke rumah."
"Yang bener Kak?" Tanya Angga.
Alya mengangguk ,membuat keduanya bersorak gembira.
"Kak Alya kita punya banyak teman baru lho!"
"Oh ya, siapa?" Tanya Alya menatap Anggi.
"Teman-teman dari Panti. Kemarin kak Erosh datang ke rumah terus kita diajak jalan-jalan ke sana."
"Iya Kak, terus kita dikenalin sama temen-temen di sana. Mereka semua baik lho." Tambah Angga antusias.
Erosh? Alya tahu, dia bukan hanya memikirkan dirinya dan juga Nia, bahkan kedua adik kembarnya. Erosh tahu jika Angga dan Anggi pasti akan merasa kesepian karena Bundanya yang selalu menemani mereka saat ini harus terbaring tak berdaya. Mengingat hal itu membuat hatinya sakit, bagaimana jadinya mereka berdua tanpa Nia? Jangan sampai mereka kehilangan sosok seorang Ibu untuk kedua kalinya.
Alya menghirup nafas dalam-dalam, mencoba menahan air mata yang hampir saja menetes memikirkan semua hal menyedihkan yang harus dihadapinya. "Oh ya, kalian ke sini sama siapa?"
Belum sempat keduanya menjawab, pintu ruangan terbuka dan Alfian melangkah masuk. Mereka datang bersama Papanya.
"Tuh, Papa udah dateng!" Tunjuk Angga.
Alya tersenyum namun tak berani menatap ke arah Alfian. Dia merasa canggung.
"Tadi dokter bilang kamu sudah boleh pulang besok pagi." Alfian membuka percakapan.
Alya mengangguk. "Iya Pa."
"Syukurlah kalo gitu."
Suasana hening sejenak. "Em, Papa bawa Angga sama Anggi ke sini karena mereka kangen kamu. Dan karena mereka juga tidak diperbolehkan ke ruang IGD."
Alya paham maksud perkataan Alfian. Mereka mungkin juga merindukan Bundanya, tapi keadaan belum bisa mempertemukan mereka. "Pa..." Panggil Alya lirih.
"Ya?"
"Alya minta ma'af."
Alfian terdiam sesaat, "Papa juga minta ma'af." Dia sendiri menyadari begitu emosinya dirinya saat itu, dia tidak bisa mengontrol dirinya bahkan tidak bisa melihat tindakan Alya dari sisi positifnya. Bukankah Alya melakukan semua itu dengan tujuan baik?
Melihat keduanya canggung saling mengucapkan ma'af, Angga dan Anggi berpandangan tak mengerti. "Papa sama kak Alya lagi marahan ya?" Tanya Anggi.
"Siapa bilang?" Sahut Alya.
"Kok minta ma'af?"
"Itu karena Kak Alya udah ngrepotin Papa."
Angga dan Anggi mengangguk paham. "Pa, katanya Papa mau ngajak kita nengokin Bunda."
Alfian dan Alya saling berpandangan. "Bunda sedang diperiksa dokter." Jawab Alfian. "Hari ini belum boleh dijenguk."
"Kenapa? Kak Alya boleh, kenapa Bunda nggak boleh?"
"Anggi, Bunda sedang tidak boleh diganggu. Biar cepet sembuh seperti kak Alya."
"Oh, jadi kalo udah sembuh seperti kak Alya baru boleh dijenguk?"
"Ya, bener! Kamu pinter Anggi."
Tok... Tok... Tok...
Semuanya serentak menoleh ketika tiba-tiba pintu ruangan diketuk oleh seseorang.
"Selamat siang semua," Erosh muncul dari balik pintu. "Lagi pada ngumpul ya?"
"Kak Erosh!" Angga dan Anggi terlihat bergembira, begitu juga Alya yang langsung mengembang senyumnya.
"Rosh, kamu udah datang?"
Erosh menyunggingkan senyumnya. "Iya Pa."
"Sini masuk, kenapa berdiri di situ?" Pinta Alfian melihat Erosh mematung di dekat pintu.
"Eng, Pa, ada tamu."
Alfian mengerutkan dahinya, "Siapa?"
"Ayo masuk Tante." Ajak Erosh pada seseorang yang ternyata sudah menunggu dipersilahkan masuk.
"Selamat siang." Ucapnya lembut disertai senyumannya.
"Selamat siang." Alya menautkan alisnya penasaran, siapa wanita paruh baya yang dibawa Erosh ini? Apa dia Mamanya Erosh?
Alfian dan wanita tadi beradu pandang, menatap dengan serius beberapa saat, lalu "Elena..." Ucap Alfian.
"Papa kenal Tante Elena?" Erosh terkejut.
Baik Alfian maupun Elena hanya saling terdiam.
"Kenalin, ini Tante Elena, mamanya Mega."
Alya agak terkejut. Mega?
"Eng, sebenarnya kedatangan Tante Elena ke sini mau jenguk kamu sama Bunda." Tutur Erosh.
Kali ini Erosh ikut terdiam.
"Papa akan bicara dengan Tante Elena di luar. Erosh, kamu di sini dulu ya, temani mereka." Ucap Alfian memandang ketiga anaknya.
"Baik Pa."
"Mari, lebih baik kita berbincang di luar."
Elena hanya mengangguk kemudian mengikuti langkah kaki Alfian meninggalkan ruangan.
ㅡBWY ㅡ
Alfian duduk berhadapan dengan Elena. Keduanya saling menatap ke arah yang berbeda. Bahkan dua cangkir berisi kopi di atas meja yang tadi dipesannya belum tersentuh sedikitpun. Keduanya terdiam cukup lama.
"Bagaimana kabarmu dan keluarga Fian?" Akhirnya Elena memutuskan untuk membuka percakapan.
"Baik." Jawab Alfian singkat.
Elena menarik nafas berat. "Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi."
Alfian tersenyum datar. Bertemu atau tidak baginya sama saja, Elena membuatnya mengingat sesuatu yang menyakitkan dalam hidupnya.
"Aku bingung harus mengatakan apa,"
"Ada apa kamu datang ke sini?" Tanya Alfian kemudian.
Entah Alfian benar-benar tidak tahu atau hanya berpura-pura harusnya dia tahu maksud kedatangan Elena. "Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, tapi aku ingin minta maaf dengan setulusnya atas kesalahan anakku."
"Kamu tidak perlu meminta maaf untuk kesalahan yang tidak kamu lakuan El."
"Tapi dia anakku." Elena nampak menyesal. "Bahkan setelah suamiku membuat hidup keluargamu berantakan, kali ini anakku yang berulah. Aku benar-benar minta maaf, untuk kedua kalinya keluargamu harus tersakiti lagi. Bahkan mungkin rasa sakit yang dulu belum sempat hilang."
"Itu cerita lama El, tidak perlu dibahas lagi." Balas Alfian.
"Tapi aku tidak bisa hidup tenang selama ini."
"Lagi pula ini bukan kesalahanmu."
"Justru itu Fian, aku merasa berdosa sekali karena mereka adalah keluargaku."
Alfian terdiam. Perlahan ingatan masa lalunya satu persatu muncul kembali dengan jelas di pikirannya. Alfian sangat membencinya. Dia benar-benar ingin terlepas dari masa lalunya, sepahit apapun itu, baginya tak ada yang perlu disesali lagi. Namun nyatanya, rasa sakit yang menggores di hatinya terlalu dalam. Bahkan hanya dengan mengingat secuil saja, semua kenangan pahitnya seperti menyeret dan menenggelamkannya dalam masa lalunya yang amat menyakitkan itu.
"Mungkin memang sudah saatnya semua kebusukan Bram satu persatu terungkap." Elena mencoba menerawang kembali masa lalunya.
"Semua ini sudah menjadi takdir yang harus aku jalani." Jawab Alfian berusaha ikhlas.
"Aku dengar kondisi Yessi kritis."
Alfian tersenyum miring mendengar nama itu disebut. "Bukan Yessi."
Elena menatap Alfian heran. "Bukan Yessi?"
"Dia istri baruku, namanya Nia."
Elena nampak terkejut, apa dia tidak salah dengar? Sabahat lamanya ini bukanlah tipe lelaki yang suka berganti-ganti pasangan. Bahkan dia tahu jika Alfian sangat menyayangi Yessi, istrinya yang dulu dinikahinya bahkan setelah mereka berpacaran bertahun-tahun lamanya.
"Kamu menikah lagi Fian?"
"Ya, lebih tepatnya setelah Yessi meninggalkanku dan anak-anak."
Elena lebih tak percaya lagi.
"Setelah perusahan bangkrut, Yessi tidak mau hidup denganku lagi." Ujar Alfian, mencoba berkata jujur walaupun menyakitkan.
"Kenapa Yessi bisa keterlaluan begitu?"
Alfian berganti menatap Elena.
"Ma'af." Ucap Elena secepatnya begitu menyadari tatapan Alfian. "Semua ini sepenuhnya salah Bram."
"Sudahlah El, aku sudah tidak mau mengingatnya. Aku sudah cukup bahagia dengan kehidupanku sekarang." Yah, kehidupannya yang jauh lebih bahagia sebelum kondisi Nia seperti sekarang ini.
"Maaf," Elena tertunduk. "Kamu terlihat sangat akrab dengan Erosh." Ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Nia adalah orang tua angkatnya dulu, sebelum dia diadopsi."
Lagi-lagi Elena dibuat terkejut. "Ternyata dunia sesempit ini. Aku yang mengadopsi Erosh untuk temanku."
"Oh ya?"
Elena mengangguk.
Suasana kembali hening, Elena sedang menyesali semua masa lalunya yang begitu banyak menyakiti sahabatnya ini, bahkan dia sampai harus kehilangan istrinya. Elena merasa bersalah tidak bisa melakukan apapun untuk mengembalikan semua keadaan yang sudah terlanjur hancur. Sementara Alfian, dia sibuk dengan pikirannya yang masih mengkhawatirkan keadaan istrinya. Dia ingin segera menyapanya, berbicara dengannya, dia rindu senyumnya dan kehangatannya, bahkan sampai membuatnya berpikir jika dia belum bisa membahagiakannya.
"Fian, aku boleh minta tolong?"
Alfian kembali tersadar setelah mendengar pertanyaan Elena.
"Ya?"
"Apa kamu mau mencabut surat penahanan Mega?"
Alfian terdiam, apa dia harus kembali mengalah untuk kedua kalinya?
"Aku berjanji, jika kamu membebaskan Mega, aku akan membawanya pergi jauh. Bahkan dia tidak akan bisa menyentuh keluargamu lagi."
"Aku masih belum tahu El, bahkan aku tidak tahu apa motif anakmu menabrak Nia. Aku mendengar dari Erosh, dia sengaja menabraknya."
"Dia hanya korban dari keegoisan hatinya dan kecemburuannya pada Alya."
"Alya?"
Elena mengangguk. "Dia berusaha untuk menyakiti Alya, maka dari itu aku akan membawanya pergi jauh. Aku ingin memulai hidup baru yang lebih tenang."
Kini semuanya terdengar cukup jelas bagi Alfian. "Apa dia menyukai Erosh?"
"Kamu sudah tahu alasannya."
Alfian tersenyum miring, "Dia memang anak Bram." Ujarnya mengingat semua kelakuan busuk suami sahabatnya yang sudah menghancurkan perusahaannya. Sifatnya yang egois tak jauh beda dengan Mega.
"Sebagai gantinya, aku akan mengembalikan semua milikmu yang diambil Bram."
"Aku tidak butuh lagi El."
"Bukan hanya itu saja, aku akan membuat Bram menebus semua kesalahannya. Tolong beri aku kesempatan terakhir Fian, aku janji akan melakukan yang terbaik."
Alfian tampak menghela nafas panjang mendengar perkataan Elena.
ㅡBWY ㅡ
************
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, DAN VOTE BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BUAT UPDATE SETIAP HARI ❤️