I WANT TO BE WITH YOU

I WANT TO BE WITH YOU
CH 24 - RAHASIA



HAPPY READING


AUTHOR BY AXRANS


*******


Mega menepikan mobilnya di sebuah jalan yang lumayan sepi dimana deretan pohon perdu yang rindang tumbuh subur di tepinya. Sebuah sepeda motor yang diboncengi dua orang laki-laki kekar dan terpakir tidak jauh menghampiri mobil Mega.


Mega menurunkan kaca mobilnya, sementara dua orang temannya Sasa dan Irin diam menunggu sambil memperhatikan. Dua orang laki-laki itu kini berdiri tepat di samping mobilnya.


"Mana hasil kerja kalian hari ini?" - Tanya Mega angkuh.


Salah satu pria yang membonceng di belakang menyerahkan sebuah amplop coklat berukuran tanggung pada Mega.


Mega menerimanya dan dengan tidak sabar membuka amplop itu. Sasa dan Irin nampak penasaran. Mega mengeluarkan beberapa lembar foto yang ada di dalamnya dan melihatnya satu-persatu dengan tatapan sengit. Seorang cewek dengan balutan pakaian waiters tengah melakukan pekerjaannya. Foto ini diambil dari sisi samping dan belakang sehingga Mega tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. "Cuma ini?"


"Sorry bos, kita tidak bisa leluasa bekerja karena ada seseorang yang mengawasi cewek itu."


"Lo berdua bodoh ya!" Maki Mega. "Gue nggak peduli, itu tugas kalian! Gimana gue  bisa tahu cewek ini kalo gue nggak liat mukanya!"


"Kita pastikan malam ini kita tidak akan gagal bos."


Mega memasukkan foto-foto itu kembali ke dalam dan membanting amplop itu dengan kasar pada dasbor mobil. "Denger ya! Kalo sampe malam ini lo nggak bisa dapetin foto muka cewek itu, lo nggak akan dapat bayarannya!"


"Kita tidak akan gagal kali ini bos." - Janji laki-laki itu pada Mega.


"Lo dapat informasi apa lagi soal cewek itu?" - Tanya Mega kali ini dengan nada bicara agak melembut.


"Nggak ada yang tau banyak tentang cewek itu, tapi kita sudah tahu namanya bos."


Mega tersenyum miring dengan tatapan sadis.


"Sebenarnya kita juga hampir berhasil membuntutinya dan tau dimana dia tinggal bos." - Lapor laki-laki yang sedari tadi bicara dengan Mega.


Mega beralih menatapnya.


"Tapi cewek itu sepertinya dibantu oleh laki-laki yang selalu mengawasinya. Sepertinya dia tahu kalo kita membuntuti cewek itu."


"Sialan! Siapa sebenernya laki-laki yang selalu ngawasi dia?" - Umpat Mega kesal.


"Ah, kita ada beberapa foto saat laki-laki itu membantu cewek itu bos." - Laki-laki itu mengeluarkan ponselnya. Dia membuka menu galeri dan setelah itu menyodorkan ponselnya pada Mega.


Mega mengamati beberapa foto yang diambil laki-laki itu. Nampak seorang cowok dengan jaket kulit hitam sedang berbicara dengan seorang cewek di pinggir jalan. Mega mengamati dengan seksama dan dia mendapati sebuah foto yang memperlihatkan raut wajah cowok itu dengan sedikit jelas.


"Erosh???" - Mega hampir tak percaya.


Mendengar Mega menyebut nama itu, sontak Irin dan Sasa mendekat padanya.


"Erosh sama cewek itu? Mana sini liat." Pinta Irin dan Mega menyerahkan ponsel itu kepada Irin yang diikuti Sasa setelahnya.


"Ini beneran Erosh kan?" Komentar Sasa dan mengembalikan ponsel itu pada Mega lagi.


"Gue nggak mau tau, malam ini juga kalian harus dapetin semua informasi tentang cewek itu!" Dengan kasar Mega menyerahkan ponsel itu kembali pada pemiliknya.


"Baik bos! Kita tidak akan gagal lagi." Ucap laki-laki itu. "Kita cabut dulu bos." Setelahnya dua laki-laki itu pergi dari tempat pertemuannya dengan Mega.


"Cewek sialan!" Mega meremas setir mobilnya dengan kedua tangannya.


"Sabar ya Meg. Gue yakin Erosh cinta sama lo kok." Sasa yang duduk di kursi belakang mengusap pundak Mega pelan.


"Sabar? Gue harus sabar lo bilang?"


Irin memberi tatapan menyalahkan atas perkataan Sasa sebelum akhirnya dia merespon ucapan Mega. "Lo tenang aja Meg, kita pasti bakal bantuin lo ngatasi masalah ini. Kita bakal segera tahu siapa cewek itu dan kita akan bikin perhitungan sama dia. Ya kan?"


Mega menatap ke depan dengan mata penuh kilatan emosi. "Gue nggak akan biarin cewek murahan itu ngrebut Erosh dari gue! Liat aja nanti!"


"Iya Meg, kita akan bikin perhitungan secepatnya." Ucap Irin sembari memberikan usapan menenangkan pada lengannya.


Sasa yang merasa bersalah ikut mengangguk setuju dengan perkataan Irin.


ㅡBWY ㅡ


"Ada sesuatu yang harus gue omongin ke lo Rin." Erosh menatap Karina yang duduk di depannya. Ada Arga yang juga duduk bersantai di samping Karina. Mereka tengah berada di sebuah kafe karena undangan makan siang dari Erosh secara mendakak.


"Ada apa Rosh? Kayaknya serius." Tanya Karina, sementara Arga hanya diam menatapnya. Sebelumnya Erosh memang sudah lebih dulu meminta pendapat padanya tentang apa yang akan dia utarakan pada Karina.


"Ini tentang Alya."


"Alya? Anak Andromeda itu?"


Erosh mengangguk. "Gue mau minta tolong sama lo."


"Jadi akhirnya lo mau gue nyariin info tentang dia?" Karina tersenyum lebar.


"Bukan itu Rin." Sanggah Erosh dan membuat Arga terkikik.


"Sebelumnya ada hal yang harus lo tahu tentang Alya."


Karina menyimak baik-baik perkataan Erosh.


Erosh menghela nafas panjang. "Sebenarnya gue pernah ketemu Alya di bar setelah kejadian gue hampir nabrak dia. Tadinya gue nggak percaya kalo orang yang hampir gue tabrak itu adalah orang yang gue temui di bar, tapi dia memang Alya. Dia adalah salah satu karyawan di Logo."


"Alya kerja di Logo?" Tanya Karina kaget. Dia hampir tak percaya mendengar cerita Erosh. Bagaimana mungkin cewek yang terlihat polos dan acuh itu ternyata bekerja di sebuah bar?


"Dia kerja di situ bukan tanpa alasan. Dia cewek baik-baik Rin. Hanya saja keadaan yang bikin dia harus kerja part time di sana."


"Tapi kenapa pihak bar mengijinkan pelajar kerja di sana?"


"Lo tahu lah kalo Alya bisa masuk ke situ pasti karena ada yang bantu dia."


Karina terdiam, sebenarnya ada beberapa hal yang membuatnya penasaran dan ingin ditanyakannya tapi dia urungkan. "Lalu, apa yang bisa gue bantu?"


"Lo tahu kan posisi Alya akan terancam kalo sampai ada pihak sekolah yang tahu? Dan sepertinya Mega mulai curiga dengan keberadaan Alya."


"Mega tahu tentang Alya?"


"Karena lo deket sama Alya?" Tanya Karina.


"Gue udah janji sama dia kalo gue nggak akan cerita ke siapapun tentang rahasia ini. Tapi posisinya saat ini sepertinya terancam. Dan gue harus nglakuin sesuatu." Ucap Erosh.


"Lo nggak usah khawatir Rosh. Rahasia dia aman sama gue." Janji Karina.


"Gue yakin, laki-laki yang tadi malem ngikutin Alya pasti ada hubungannya sama Mega."


"Lo yakin Rosh?" Kali ini giliran Arga bertanya.


"Gue yakin, dan cepat atau lambat, Mega pasti akan cari tau tentang Alya."


"Seberapa jauh Mega tau soal lo dan Alya?" Tanya Karina.


Erosh menyeruput minumnya yang di pesan beberapa saat yang lalu sebelum menjawab. "Gue nggak begitu yakin, tapi dia tau kalo gue lagi deket sama seseorang yang kerja di bar."


"Gue nggak pengen ikut campur, tapi sebenarnya kenapa Alya nggak keluar aja dari bar itu?"


"Gue udah nyoba buat bujuk dia keluar dari bar tapi dia nggak mau, ada alasan lain yang nggak bisa gue ceritain."


"Oke, gue paham Rosh." Karina mengangguk memahami. "Lo tenang aja, gue akan awasi dia di sekolah."


"Gue takut, Mega akan nglakuin sesuatu sama Alya. Dia nggak salah, hanya keadaannya aja yang harus jadi rumit gini."


"Itu semua gara-gara lo deket sama dia kan?" Sambar Arga menggoda.


Karina menepuk lengan Arga pelan.


"Ya, gue tahu. Gue udah nempatin dia di posisi yang terancam."


"Jadi lo sekarang udah nemuin cewek yang bisa bikin lo jatuh cinta?" Arga teringat ucapan Erosh waktu itu.


"Sialan lo!" Umpat Erosh membuat Arga dan Karina terkekeh pelan. "Sekali lagi gue minta tolong sama lo Rin."


"Iya Rosh. Lo serahin aja sama gue. Yang terpenting, lo juga harus ngawasin gerak-gerik Mega. Siapa tahu dia udah nyiapain rencana buat nglakuin sesuatu ke Alya."


"Gue udah suruh orang buat mata-matain dia. Termasuk kalo dia melakukan sesuatu yang mencurigakan."


"Bagus deh kalo gitu."


"Thanks ya Rin buat bantuannya."


"Udahlah Rosh, nggak usah sungkan."


"Inget ya, kalo lo berdua jadian, lo wajib ntraktir kita berdua." Lagi-lagi Arga menggoda.


Erosh hanya nyengir.


ㅡBWY ㅡ 


Mira geleng-geleng kepala melihat sahabatnya terlelap di atas tempat tidurnya. Sejak tadi di sekolah Alya hanya tertunduk lemas di tempat duduknya. Mira menduga penyebabnya tak lain adalah karena pekerjaannya yang menuntutnya harus siap siaga di malam hari sehingga menguras seluruh tenaganya di siang hari.


Mira tidak tega membangunkannya meski Alya sudah tertidur sejak lima jam tadi. Sebenarnya Alya sudah berpesan untuk membangunkannya, tapi Mira masih tidak tega melihat Alya yang begitu sangat menikmati tidurnya. Dia hanya membiarkannya dan menunggu sampai Alya terbangun sendiri sambil mengerjakan tugas sekolahnya.


Namun selang beberapa menit kemudian, ponsel Alya berdering, membuat Mira bingung apakah dia harus mengangkatnya dan mengatakan kalo Alya sedang tertidur atau hanya membiarkanya begitu saja. Mira tidak tahu siapa peneleponnya karena di layar HPnya hanya tertera nomer saja.


Akhirnya Alya terbangun karena dering telpon itu tidak berhenti. Dengan setengah sadar dia meraih HP yang tergeletak tidak jauh dari jangkauannya. Alya melihat layar sekilas kemudian merejectnya.


"Siapa Al?" Tanya Mira penasaran. "Tadi mau gue angkat tapi nomer doang sih."


"Nggak tau Mir, biarin aja, lagian gue nggak kenal." Jawan Alya asal.


"Iya sih."


"Udah malem, gue mandi dulu deh." Kata Alya sambil meregangkan badannya sambil melihat keluar jendela yang tampak gelap karena sudah pukul 7 malam.


"Iya, lo udah tidur lima jam!" Jawab Mira dengan membentuk muka kagumnya melihat Alya tidur lumayan lama.


"Masak sih?" Tanya Alya tidak percaya. "Gue masih ngrasa ngantuk sebenernya, tapi udah waktunya persiapan kerja."


"Lo mau kerja?" Mira balik bertanya. "Kenapa nggak resign sekarang aja sih Al?"


Alya berdecak protes. "Gue profesional Mir, gue kan udah janji resign akhir bulan. Gimana sih lo?!"


"Iya deh iyaa." Mira hanya bisa mengalah.


Alya beranjak dari tempat tidur Mira bermaksud menuju kamar mandi, namun sebelumnya tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Emm Mir..." Ucap Alya menggantung.


Mira masih fokus pada tugas sekolahnya. "Iya Al, kenapa?"


"Emm..." Alya bergumam panjang.


"Apaan sih?" Tanya Mira yang akhirnya menoleh ke arah Alya. "Jangan bikin gue penasaran dong!"


"Nggak ada apa-apa kok."


"Mulai deh lo! Buruan apa'an?" Paksa Mira.


"Nggak ada apa-apa Mir. Gue cuma mau nggodain lo aja." Alya terkekeh.


Mira mengerucutkan bibirnya sebal. "Bisa nggak sih lo tuh nggak bikin gue marah, sehari aja!"


"Emangnya kapan gue bikin lo marah?"


"Terserah lo deh Al."


Alya hanya tersenyum lebar menanggapi kemarahan Mira. Sebenarnya memang ada sesuatu yang ingin dia katakan tapi Alya mengurungkannya. Apa harus dia ceritakan tentang pernyataan Erosh tadi malam kepadanya? Alya hanya merasa hal itu sangat menganggu pikirannya. Tapi jika Mira sampai tahu, bisa dipastikan dia tidak akan tinggal diam dan membrondongnya dengan berbagai pertanyaan gila kepadanya.


Alya menghela nafas. Eh kenapa gue jadi mikirin itu? Ah, perasaan apa ini? Alya terus bergumam sendiri dalam hatinya sebelum akhirnya dia meninggalkan Mira dan memulai mandi.


ㅡBWY ㅡ