I WANT TO BE WITH YOU

I WANT TO BE WITH YOU
CH 25 - MASALAH



HAPPY READING


AUTHOR BY AXRANS


*******


Alya berjalan menyusuri koridor sekolah, dia baru saja datang. Mira berjalan sedikit agak dibelakangnya dan masih sibuk dengan hafalan Sosiologinya karena hari ini dijadwalkan akan ada ulangan pada jam pertama. Alya tidak ambil pusing. Sudah menjadi kebiasaannya menghadapi ulangan tanpa belajar. Sudah tidak ada waktu lagi untuk mempersiapkannya karena malamnya dia harus bekerja, walaupun setelah akhir bulan ini dia memutuskan untuk resign. Toh, selama ini dia selalu mendapat nilai ulangan di atas batas standar. Jadi Alya tidak terlalu memusingkan waktu belajarnya.


Alya sudah ada di ujung koridor dan bersiap untuk menuju kelasnya yang ada di belokan kedua setelahnya. Tapi entah mengapa dia merasa ada yang aneh dengan tatapan semua siswa di sekolah ini. Mereka berbisik-bisik seperti sedang membicarakannya. Alya celingukan dan menghentikan langkahnya.


"Ada apa Al?" Tanya Mira setelah menyadari sahabatnya tiba-tiba berhenti mendadak.


"Kok mereka pada ngeliatin kita sih." Alya balas bertanya pada Mira. "Emang ada yang salah ya sama penampilan kita?" Dia kebingungan, namun setelah itu dia melihat beberapa siswa menggerombol di depan mading sekolah.


"Eh? Masak sih?" Mira agak terkejut lalu melihat ke arah dirinya sendiri. Dia tidak merasa ada yang aneh.


"Tunggu!" Alya mengentikan salah seorang siswa yang berjalan berlawanan arah dengannya. "Itu kok rame-rame ada apaan sih?" Tanyanya.


Siswa itu terdiam sesaat dan memandang Alya dengan tatapan aneh. "Lo Alya ya? Yang digambar itu kan?"


Secara bersamaan Alya dan Mira langsung saling berpaut. "Gambar apaan sih maksud lo?" Alya keheranan.


"Liat aja sendiri." Jawabnya sambil berlalu.


Alya langsung bergegas menuju mading, sementara Mira yang juga tidak tahu apa-apa dan kebingungan sendiri membuntuti langkah Alya.


Alya berjalan cepat menghampiri papan mading. Dia berusaha menyibak kerumunan siswa SMA Andromeda yang menutupi seluruh bagian depan mading. Alya begitu penasaran dengan isi mading yang membuat heboh seantero SMA, dan lagi karena ucapan salah satu siswa yang tiba-tiba mengatakan kalo dirinya ada di sebuah gambar. Gambar apa yang dimaksud? Apa hubungannya dengan gambar itu? Siapa yang menempelnya? Alya ingin segera melihatnya. Dan...


Deg!!!


Alya terdiam beberapa saat setelah melihat gambar yang tertempel di mading. Bibirnya kelu, wajahnya berubah pucat dan kakinya lemas terkulai. Badannya mematung di depan mading tidak kuasa bergerak kemanapun.


"Alya?" Mira menghampiri Alya dengan memasang ekspresi terkejut. Dia lebih tidak percaya lagi dengan apa yang dilihatnya di mading sekolah.


Alya berusaha menahan amarahnya dan dengan cepat dia mencopot semua gambar dirinya yang terpampang di mading. Semua siswa yang berkumpul di sekitar mading melihat Alya dengan tatapan risih dan miris. Bahkan ada sebagian dari mereka yang langsung menyorakinya.


"Siapa yang nempelin gambar-gambar ini Al?" Mira bertanya kebingungan sambil membantu Alya mencopot gambar-gambar itu.


Alya tidak menghiraukan pertanyaan Mira, perasaannya campur aduk.


"Good... Good.. Good..." Tepuk tangan dengan irama perlahan datang menghampiri Alya disertai nada mengejek.


Alya menoleh. Tepuk tangan itu berasal dari seorang cewek cantik yang datang bersama dengan dua temannya. Alya menelan salivanya berat. Mega!


"Nggak gue sangka ya? Ternyata di sekolah gue ada cewek... Ups!" Tiba-tiba Mega berkomentar di depan Alya dan masih banyak juga siswa yang berkerumun di tempat itu. "Gue nggak sanggup ngomongnya, terlalu menjijikkan!" Lanjutnya.


Alya memberanikan diri menatap Mega. Awalnya dia merasa sedikit gentar, tapi mendengar ucapannya, keberanian Alya meluap seketika. Dia tidak terima Mega mengatainya. "Jadi lo yang nempel gambar-gambar ini?"


"Gue nggak bilang gitu, jadi lo mengakui semuanya? Lo mengakui tentang kerjaan sampingan lo menggoda orang itu?" Kata Mega dengan senyum piciknya.


"Buat apa lo ngurusin hidup gue? Segitu pentingnya ya hidup gue buat lo?" Balas Alya sengit.


Mega tidak mau kalah. Dia terus mencari akal untuk menyudutkan Alya dengan perkataannya. "Gue jelas nggak terima dong, di sekolah gue ternyata ada cewek murahan. Iya kan temen-temen?" Mega melemparkan pertanyaan pada siswa-siswa yang menyaksikan adu mulutnya dengan Alya.


Ada sebagian siswa yang terdiam namun ada pula yang langsung menanggapi setuju seperti yang dilakukan oleh dua orang sahabat Mega yang sejak tadi membuntutinya, Irin dan Sasa.


Sementara Mira yang masih tidak tahu dengan apa yang terjadi merasa ketakutan. Bagaimana mungkin sahabatnya bisa berurusan dengan geng paling menakutkan di sekolah ini. Mira ingin mengajak Alya meninggalkan tempat itu tapi sepertinya sudah tidak mungkin lagi untuk menghindar.


"Lo nggak tau apa-apa soal gue! Dan hidup gue sama sekali nggak pernah ngrugiin lo. Jadi apa urusannya sama lo?" Bela Alya. "Lo bisa aja menyebar gambar dengan keterangan palsu, apa lo punya bukti yang lebih jelas kalo gue cewek yang suka menggoda orang?"


Mega geram. Dia tidak menyangka kalau orang yang dihadapinya ini ternyata punya keberanian membalas perkataannya. "Jelas-jelas lo menggoda cowok gue! Lo masih nyangkal?"


"Cowok lo? Cowok lo yang mana? Jadi lo nempelin gambar-gambar nggak bermutu gini karena lo nuduh gue nggoda cowok lo?"


"Bulshitt! Jelas-jelas lo pergi sama Erosh. Masih nggak mau ngaku?" Mata Mega mulai berapi-api.


Alya mengambil nafas dalam-dalam. Dia memendam amarahnya demi tidak menimbulkan keributan di sekolah. Apalagi Mega membahas masalahnya dengan Erosh di tempat yang tidak seharusnya. Alya sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. "Denger ya, gue nggak pernah menggoda Erosh. Dan lo nggak seharusnya menempel gambar-gambar kayak gini kalo niat lo hanya karena cemburu sama gue."


"Eh, cewek murahan! Lo bisa aja nyangkal kalo lo nggak menggoda cowok gue, tapi lo nggak akan bisa nyangkal kalo lo kerja di tempat yang menjijikkan itu kan?" Ucap Mega mengulum senyumnya.


"Itu bukan urusan lo!" Alya menjawab tegas dan bermaksud meninggalkan tempat itu. Namun sayangnya tangan Mega mencekalnya.


"Sekolah harus tau, kalo ada salah satu muridnya kerja di tempat menjijikkan sebagai cewek murahan!" Mega menyeret tangan Alya.


Alya memberontak. "Lepasin! Apa maksud lo?"


"Lepasin!" Sergah Alya lagi dengan suara yang agak meninggi.


Tiba-tiba dari arah yang tidak diketahui ada seseorang yang menampik tangan Mega hingga tangan Alya terlepas. "Lepasin dia!"


Alya dan Mega serentak menoleh.


"Gue heran ya sama lo? Masalah cowok aja lo gedhe-gedhein sampe sekolah, stupid banget!" Sebuah suara terlontar dari mulut seorang cewek yang menepis tangan Mega dan langsung membuat emosinya memuncak.


"Gue nggak mau ikut camput urusan lo. Gue cuma mau bantuin sahabat gue dari cewek picik kayak lo." Tegasnya lagi.


Alya sedikit terkejut. Apa maksud cewek ini berkata kalau dia adalah sahabatnya? Dia sama sekali tidak mengenalnya.


"Oh.. Pantes aja ya, dua cewek murahan berkumpul jadi satu." Komentar Mega.


"Gue nggak peduli, tapi asal lo tahu ya, Erosh itu nggak pernah suka sama lo. Jadi lo nggak usah nglakuin hal-hal kayak gini. Percuma Mega, lo paham kan maksud gue?" Katanya dengan suara lembut namun begitu menampar di hati Mega.


"Lo bener-bener..." Mega melangkah mendekati cewek itu dan bermaksud menamparnya namun cewek itu bisa menghindarinya, dia justru balas mendorong Mega dan hampir saja terjatuh jika kedua sahabatnya tidak menopangnya.


"Yang nggak pantes buat sekolah ini itu lo, bukan Alya!" Tandasnya kemudian berbalik mendekat ke arah Alya. "Ayo, pergi dari sini sebelum ada guru yang ngeliat." Dia menggamit tangan Alya dan menggiringnya keluar dari kerumunan itu menuju parkiran sekolah.


"Sialan!!!" Umpat Mega seraya membenarkan posisinya yang tadi hampir terjatuh. Nafasnya memburu emosi melihat Alya kabur dibawa musuh bebuyutannya itu.


Akhirnya Mega cs pun meninggalkan tempat itu dengan kesal. Teruatama Mega sendiri yang langsung meledak emosinya. "Minggir semuanya!!!" Bentaknya garang. "Liat aja pembalasan gue, siapa yang akan keluar dari sekolah ini!" Katanya sambil berlalu, Irin dan Sasa hanya terdiam mengikuti langkah Mega.


Sementara Mira yang ketakutan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Biasanya dia hanya menatap pertengkaran Mega yang mengerikan itu dari jauh, tapi sekarang dia benar-benar ada dihadapannya. Dan yang lebih tidak disangkanya adalah sahabatnya sendiri yang harus menghadapi pertengkaran dengan Mega.


Selama ini Alya tidak mengatakan apapun perihal masalahnya dengan Mega. Mira merasa dirinya seperti orang bodoh. Kenapa dia sampai tidak tahu apa yang dialami sahabatnya? Dan apa maksud Mega mengatakan kalo Alya menggoda Erosh? Apa hubungan Mega dengan Erosh? Mira ingin tahu semuanya tapi sayangnya Alya sudah pergi dengan cewek yang mengaku sebagai sahabatnya. Kepalanya rasanya ingin pecah seketika. Siapa lagi cewek yang dengan tiba-tiba muncul dan membawa Alya pergi itu? Mendadak dia amnesia dengan semua hafalan Sosiologinya.


ㅡBWY ㅡ 


"Halo..." Sapa Erosh dari balik HPnya. Dia baru saja akan memasuki ruang meeting sebelum akhirnya dia menerima panggilan dari Karina.


"Rosh, lo dimana?"


"Ada apa Rin?" Erosh balik bertanya sembari melangkah agak jauh dari pintu ruangan yang akan dimasukinya.


"Mega udah nyuri start."


Erosh menautkan kedua alisnya. "Apa yang dia lakuin Ke Alya?"


"Biasa, cara kotor!" Suara Karina terlihat agak kesal. "Dia udah tau kalo Alya kerja di bar dan foto-fotonya tersebar di mading sekolah."


Erosh menelan salivanya berat, kedua matanya berubah merah penuh emosi dan tangannya mengepal geram. "Dimana Alya sekarang?"


"Gue bawa dia pergi dari sekolah, kita ada di rumah gue sekarang."


"Lo tahan Alya di situ dulu Rin. Secepatnya gue akan dateng."


"Oke, lo tenang aja. Alya aman sama gue."


"Makasih Rin."


"No problem." Ucap Karina dan Erosh menutup telponnya. Dia membuang nafas pendek kemudian mengendorkan dasi yang melilit lehernya. Erosh ingin segera pergi tapi meetingakan segera dimulai dan ini juga demi kebaikan Alya dan keluarganya. Dia mengusap kepalanya frustasi, dia ingin segera pergi menemui Alya. Dia tahu Alya pasti tidak baik-baik saja saat ini.


"Erosh..." Sebuah suara mengalihkan perhatian Erosh dan dia menatap seorang laki-laki tengah baya yang berjalan menghampirinya.


Erosh berusaha tersenyum. "Ah, iya Pak Anton. Ada apa?"


"Meetingnya akan segera dimulai. Pak Alfian dan yang lainnya juga sudah menunggu di dalam."


"Baik pak, saya akan segera ke sana."


Anton, sekretaris pribadi Papa Erosh mengangguk tersenyum kemudian melangkah mendahului Erosh.


"Tunggu Pak Anton..." Panggil Erosh dan membuat langkah Anton terhenti.


Dia berbalik dan menatap Erosh. "Iya Erosh?"


Erosh terdiam sejenak, "Saya ada urusan mendadak yang sangat penting, apa saya bisa pasrahkan semuanya kepada Bapak?"


Anton nampak berpikir dan menatap Erosh selidik. "Bagaimana kalo Papa kamu menanyakannya?"


"Saya yang akan berbicara langsung sama Papa." Jawab Erosh dengan wajah cemasnya.


"Saya bisa saja menghandle semuanya, tapi bagaimana dengan klien baru..."


"Bapak tidak perlu meragukan Pak Alfian lagi, saya yang akan menjamin." Potong Alfian cepat sebelum Anton menyelesaikan perkataannya. "Beliau sudah malang melintang dengan urusan bisnis seperti ini."


"Baiklah Erosh. Saya percaya sama kamu. Saya akan menghandle semuanya."


Erosh tersenyum lega. "Saya tunggu laporan dari Bapak."


"Baik Erosh."


"Saya permisi dulu Pak." Pamit Erosh kemudian melenggang pergi.


"Silahkan." Anton tersenyum dan berbalik menuju ruang meeting untuk segera memulai tugasnya.


ㅡBWY ㅡ