
HAPPY READING
AUTHOR BY AXRANS
**********
"Erosh brengsek! Mereka berdua brengsek!" Mega meracau tidak jelas setelah meneguk bergelas-gelas alkohol.
"Iya Meg, iya!" Jawab Irin sambil berusaha memapah Mega berjalan keluar klub dibantu sahabatnya, Sasa.
"Aduh Rin, Mega berat banget!" Keluh Sasa, dia hampir saja jatuh tersungkur saat tubuh Mega kehilangan keseimbangan dan dia harus menopang sebagian berat badannya.
"Gue juga tahu Sa!"
"Kenapa sih Mega pake mabuk segala? Kita juga kan yang repot!"
"Aduh Sa, lo bisa diem nggak sih!"
Sasa terdiam dan membuang nafas kesal.
"Kita pulang ya Meg." Ucap Irin pada sosok Mega yang sudah tidak berdaya.
"Nggak mau! Gue mau sama Erosh!" Mega berusaha meronta tapi tubuhnya semakin melemah.
"Iya, ini nanti ketemu Erosh." Jawab Irin menuruti racauan Mega. Dia dan Sasa berhasil membawa Mega keluar klub. "Sa, buruan telpon pak Wiwit! Suruh bawa mobilnya ke sini."
Sasa buru-buru merogoh HP dari saku celananya dan menghubungi nomor yang sudah dikenalnya. "Pak Wiwit, Mega udah ketemu, kita di depan klub, buruan ke sini!" Perintah Sasa dari balik telponnya dengan nafas terengah.
"Erosh dimana? Erosh dimana?" Mega kembali meracau, membuat kedua sahabatnya berdecak mengeluh bersamaan.
"Erosh sebentar lagi datang, tunggu ya!"
"Erosh datang ke sini?" Mega tersenyum menatap Irin dengan wajah yang sangat berantakan.
"Iya, Erosh datang ke sini. Makanya lo diem aja di sini ya."
Mega mengangguk sambil terkekeh tidak jelas. Kedua sahabatnya hanya saling berpandangan. Ternyata efek patah hati Mega sangat mengerikan. Mereka tahu benar seberapa besar cinta Mega pada cowok yang sudah membuat sahabatnya ini patah hati. Mega bisa saja mengaku jika dia sangat membenci Erosh dan akan balas dendam, tapi nyatanya saat dia hilang kesadaran seperti ini, dia tidak pernah berhenti menyebut nama cowok itu dan bahkan mengatakan cinta berulang kali.
Mobil jemputan yang ditunggu mereka akhirnya datang. Pak Wiwit, sopir pribadi Mega segera turun dari mobil dan membantu memapah Mega masuk ke dalam mobil.
"Aduh, Non Mega kenapa parah begini?" Pak Wiwit panik melihat keadaan Mega.
"Udah Pak, buruan jalan. Kita pulang sekarang sebelum Mega ngamuk!" Perintah Irin.
Sasa mengangguk-angguk setuju.
"Baik Non." Pak Wiwit buru-buru menjalankan mobilnya melaju meninggalkan kafe.
Sepanjang perjalanan, Mega tampak berulah lagi. Dia kembali meracau tidak jelas bahkan kadang berteriak-teriak memanggil nama Erosh.
"Kenapa Non Mega bisa sampai begini?" Pak Wiwit melontarkan pertanyaan prihatin. "Kalo Nyonya besar tahu pasti dia marah sekali."
Irin dan Sasa saling memandang khawatir, tentu saja mereka takut setelah mendengar perkataan pak Wiwit. Mereka adalah saksi yang akan diintrogasi Elena perihal keadaan Mega sekarang. Biasanya Mega masih bisa mengontrol diri dan menghadapi Mamanya seorang diri, tapi kali ini keadaannya benar-benar parah bahkan dia tidak sadarkan diri dan bertingkah gila.
Setelah beberapa menit perjalanan yang terasa sangat panjang dan melelahkan, akhirnya mobil yang ditumpangi Mega cs bersama sopirnya memasuki gerbang dan terhenti di halaman depan rumah persis. Pak Wiwit kembali membantu menurunkan Mega dari mobil, sementara Sasa melangkah lebih dulu untuk memencet bel yang menempel di dekat pintu depan.
Seorang ART di rumah Mega keluar, Sasa sedikit menghela nafas lega. Namun tidak berselang lama terdengar suara ketukan sepatu yang beradu dengan lantai menuju ke depan membuat Sasa maupun Irin yang tengah memapah Mega berubah gugup. Benar saja, Elena muncul dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
Sasa mengulum bibirnya gemetar, "Em, selamat malam Tante." Sapanya kemudian sedikit menundukkan wajahnya.
"Malam..." Jawab Elena singkat, membuat Sasa maupun Irin semakin gemetar. "Bik, bantu Pak Wiwit bawa Mega masuk ke dalam." Perintahnya kemudian.
"Baik Nyonya." Jawabnya patuh dan segera beranjak melaksanakan perintah majikannya.
Mega yang belum tersadarkan diri dipapah oleh pembantu beserta sopirnya menuju ke kamarnya, menyisakan Irin dan Sasa yang diam mematung di tempatnya.
"Tante ingin bicara sama kalian berdua." Ucap Elena kemudian melangkah menuju ruang tamu, Irin dan Sasa mengekor.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Irin dan Sasa duduk terdiam di depan Elena dan belum ada satupun dari mereka yang menjawab.
"Mega pasti masih sering pergi ke klub kan?"
"Maaf Tante." Irin membuka suara. "Mega seperti ini karena Erosh..."
"Jangan menyalahkan orang lain, Tante nggak suka!" Seru Elena membuat keduanya bergidik. "Ini salah Mega karena tidak mau menuruti perkataan Tante. Dan tante harap kalian tidak ikut-ikutan!"
Keduanya terdiam. Beberapa saat kemudian Elena berujar lagi, "Tante dengar dari pihak sekolah kemarin Mega membuat ulah."
"Mega nggak salah Tan..." Jawab Irin kemudian ucapannya terhenti.
"Salah orang lain lagi?" Tanya Elena. "Tante tahu betul seperti apa anak Tante. Dia pasti yang sudah menimbulkan kekacauan itu dan melimpahkan kesalahannya pada orang lain. Benar kan?"
"Bukan Tante! Kalau ini Mega benar-benar nggak salah!" Kali ini Sasa angkat bicara. "Mega melakukan tindakan yang bagus karena dia sudah membongkar rahasia siswi di sekolah yang bekerja sebagai waiters di klub." Ungkapnya jujur.
Irin melotot mendengar penuturan Sasa, dia menyenggol lengannya. Dasar bodoh! Umpatnya kesal. Kenapa malah ngomong seperti itu di depan Tante Elena? Bantin Irin sementara Sasa hanya meliriknya tak mengerti.
"Untuk apa Mega membongkar rahasia siswi itu?" Selidik Elena.
Kali ini keduanya saling bungkam. Bagaimana mereka akan mengatakannya kalau Mega melakukan itu karena cemburu pada Alya yang dekat dengan Erosh?
"Karena siswi itu lebih cantik dari Mega? Lebih kaya? Atau lebih populer?" Tanya Elena, dia sangat paham betul sifat Mega yang selalu kesal jika ada seseorang yang lebih unggul darinya.
"Bu.. kan Tante." Jawab Irin terbata.
"Itu karena..." Sasa tidak melanjutkan perkataannya, kali ini Irin memberi kode lewat tendangan pelan di kakinya.
"Katakan sama Tante, Sasa. Tante nggak akan marah sama kalian, di sini Mega yang bersalah!"
Sasa menghela nafas, "karena Mega cemburu..." Ucapnya lirih hampir tak terdengar.
Irin tak percaya Sasa akan mengatakan hal itu pada Elena. Dia hanya terdiam menunduk.
Elena tersenyum simpul. "Kalau kalian ikut dalam masalah ini, kalian harus minta maaf dengan siswi itu!"
"Apa kalian tahu kalau siswi itu bekerja di klub karena keterbatasan biaya sekolah? Dia sudah bersusah payah sejauh itu dan tiba-tiba kalian berulah dengan membongkar rahasianya di depan umum seolah-dia adalah gadis yang berperilaku buruk?"
"Tapi Tante, bekerja itu dilarang..."
"Tante tahu..." Elena memotong kata-kata Irin. "Biarkan pihak sekolah yang bertindak, bukan dengan kalian membuka rahasianya karena urusan pribadi. Kalian tahu bagaimana rasanya jika menjadi siswi itu? Bagaimana kalau hal ini terjadi sama kalian?"
Irin dan Sasa kembali terdiam walaupun mereka masih belum bisa menerima perkataan Elena sepenuhnya.
"Kalian harus minta maaf! Dan mulai sekarang, jangan pernah lagi menuruti permintaan Mega yang tidak masuk akal. Ini bukan permintaan, ini peringatan dari Tante!" Ucap Elena mengakhiri perkataannya.
ㅡBWY ㅡ
Alya mengecilkan nyala api yang dirasa akan segera membuat masakannya gosong. Dia kebingungan, bagaimana hal yang terasa mudah itu ternyata sulit sekali untuk dilakukan? Alya menghela nafas, menatap telur goreng di hadapannya dengan miris. Kayaknya gue gagal!
"Alya?" Alya terkejut mendapati Nia sudah berdiri tak jauh darinya dengan wajah yang masih sayup-sayup mengantuk. Jelas saja, ini masih jam setengah empat pagi dan Alya sudah membuat suara berisik di dapur mengganggu tidur orang-orang rumah. "Kamu lagi ngapain?"
"Eng..." Belum sempat Alya menjawab pertanyaan, Nia langsung melongok ke arah penggorengan yang ada di hadapan Alya.
"Kamu mau bikin telur dadar?"
Alya menggeleng canggung, "telur gulur sebenernya."
Nia tersenyum menatap Alya. "Sini Bunda ajarin."
Alya terdiam menurut kemudian memperhatikan tangan Nia yang sudah lihai dalam hal masak-memasak. Tidak perlu menunggu lama lagi sebuah telur dadar gulung sudah siap tersaji di meja makan.
"Baunya enak sekali!" Nia menghirup aroma telur dari asap yang mengepul.
"Bunda cobain aja." Ucap Alya.
"Ini kan telur gulung buat kamu."
"Ini buat semuanya kok, Alya emang sengaja bikin."
Nia terharu menatapnya, entah apa yang membuat Alya tiba-tiba berubah bersikap manis kepadanya. Ini adalah hal yang sudah lama Nia nantikan. Keinginannya bahkan hanya untuk berbincang-bincang santai dengannya akhirnya terwujud. Tanpa terasa tiba-tiba sudut mata Nia berair.
"Bunda?" Tanya Alya melihat Nia hanya diam terpaku.
Nia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya agar air matanya tak keluar, dia masih merasa canggung jika harus menangis di hadapan Alya. "Ah, iya, Bunda cobain dulu ya." Ucapnya sembari mencomot sedikit telurnya dengan garpu.
Alya menunggu respon Nia dengan penasaran begitu telur itu masuk ke dalam mulutnya.
Nia berhenti mengunyah, kemudian menatap Alya tersenyum.
"Enak?" Tanya Alya.
Nia belum menjawab, sedang berusaha menelan telurnya. Alya semakin penasaran, kemudian ikut mencicipinya.
"What!!!" Umpat Alya kemudian memuntahkan kembali telur yang baru saja menyentuh mulutnya. "Kok Bunda nggak bilang sih kalo telurnya asin banget!"
Nia meringis menatap Alya. "Ini kan hasil masakan pertama kamu."
"Tapi ini asin banget Bun, nggak bisa di makan!"
"Yaudah, kalo gitu kita bikin lagi aja ya? Bunda ajarin, sekalian buat menu sarapan."
Alya mengangguk sumringah, ini pertama kalinya Alya menyentuh dapur setelah bertahun-tahun semenjak Mamanya pergi dan membuatnya kehilangan hasrat untuk melakukan apapun yang berhubungan dengan pekerjaan rumah.
"Oh ya, hari ini kamu pergi kemana?" Tanya Nia terdengar memelankan suaranya. Dia merasa khawatir jika Alya tidak punya tempat tujuan untuk pergi menghindar dari Papanya. "Kalo Papa sudah berangkat kerja, kamu bisa pulang ke rumah, lebih aman."
"Alya mau ke rumah Mira, Bun."
"Emangnya Papanya nggak ada di rumah?" Tanya Nia sambil menyiapkan bahan-bahan mentah yang diperlukan.
"Kebetulan lagi keluar kota." Jawab Alya. "Nanti Alya pulangnya agak sorean ya, mau sekalian nanya pelajaran. Pasti udah banyak ketinggalan."
"Iya, nggak apa-apa Al. Kamu fokus aja sama sekolah kamu ya."
Alya mengangguk, hatinya tiba-tiba terasa hangat mendengar penuturan Nia. Dia begitu rindu dengan penuturan sederhana semacam itu yang membuatnya merasa diperhatikan.
"Em, kemarin kamu pergi kemana sama Erosh?"
Pipi Alya tiba-tiba bersemu mendengar pertanyaan Nia. "Eng... cuma jalan-jalan aja kok Bun."
"Gimana? Erosh masih ngeselin?"
"Dia itu sejak lahir emang ngeselin mungkin." Jawab Alya teringat tingkah Erosh yang kadang membuatnya marah.
Nia terkekeh. "Ya, begitulah sifatnya. Dia memang agak jail, tapi sebenarnya dia baik."
Alya setuju, Erosh memang baik. Terutama sikapnya yang selalu memberikan perhatian penuh padanya.
"Tapi Bunda heran, kayaknya belum ada atupun cewek yang suka sama dia."
Alya menelan salivanya berat, sedikit terkejut mendengar penuturan Nia. Dia jadi teringat Mega, cewek yang tergila-gila dengan Erosh bahkan hingga membuatnya terkena masalah yang sekarang ini sedang dijalaninya. Kalau dipikir-pikir, cowok seperti Erosh apa hanya Mega yang menyukainya?
"Sebagai cewek, kamu nggak tertarik sama Erosh?"
"Ha?!" Alya membulatkan mulutnya kaget. "Bunda nih, ada-ada aja. Ya nggak mungkinlah!"
"Kenapa nggak mungkin?"
"Ya... Ya karena nggak mungkin!" Alya memalingkan wajahnya yang mendadak malu.
"Kalo Erosh suka sama kamu gimana?"
Alya tidak menjawab, dia menggigit bibir bawahnya karena tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan seperti akan terlonjak keluar dari tempatnya. Dia masih ingat betul hari dimana Erosh pernah mengatakan sesuatu seperti ini.
ㅡBWY ㅡ
*********
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, DAN VOTE BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT UNTUK UPDATE SETIAP HARI ♥️