
Sejak pertemuannya dengan Erosh di rumahnya, hidup Alya menjadi tidak tenang. Dia takut jika Erosh akan membocorkan rahasianya pada keluarganya, apalagi Erosh begitu dekat dengan Ibu tirinya, dan sekarang ini dia lumayan sering muncul di rumahnya secara mendadak. Walaupun pada kenyataannya belum satupun kecurigaan Alya terbukti. Rahasianya tetap aman bersama Erosh.
Namun tetap saja, dia benar-benar benci harus menerima kenyataan jika Erosh adalah seseorang dari masa lalunya. Seharusnya dia tidak perlu muncul lagi dalam hidupnya jika pada akhirnya harus menjadi sosok yang membuat hidup Alya tidak tenang. Tidak dipungkiri bahwa Erosh di masa lalu adalah seseorang yang Alya kagumi, tapi untuk sekarang dia hanyalah cowok kaya berandalan yang suka berkelahi, membuat onar dengan mobil sportnya, menyebalkan dan belum lagi kedekatannya dengan Mega, teman satu sekolah Alya yang bisa menjadi ancaman.
Alya berharap, cukup sampai di sini Erosh membuat hidupnya jadi merasa terusik. Dia tidak mau lagi Erosh nantinya terlalu ikut campur dalam kehidupan keluarganya. Tapi siapa yang menyangka? Sifat Alya yang acuh justru kerap membuat Erosh semakin penasaran dengannya.
Pagi ini Alya terlambat bangun tidur, dia kelelahan karena tempo hari waktu istirahatnya terkuras habis untuk mengerjakan deadline tugasnya sebelum Mid-test. Setelah mandi kilat tiga menit dia terburu-buru memakai seragamnya dan langsung menghambur keluar kamar karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat.
"Alya, kamu nggak sarapan dulu?" Kebetulan Papanya sedang pulang ke rumah dan dia melihat Alya keluar dari kamar terburu-buru. Bahkan dia berjalan sambil mengenakan sepatunya.
"Udah telat Pa..." Jawab Alya tanpa menoleh. Dia sedang fokus dengan sepatunya.
"Tadi Papa bangunin nggak mau sih?! Papa pikir kamu masuk siang."
Alya mendengkus kesal, memangnya sejak kapan sekolahnya ada jam masuk siang?! "Kapan Papa bangunin Alya?"
"Tadi udah Papa bangunin berkali-kali tapi kamu jawabnya masih pagi."
"Yaudah deh Pa, Alya udah telat!" Seru Alya melangkah keluar rumah tanpa sempat berpamitan pada Alfian yang masih terdiam mematung di tempatnya.
"Lho Pa, Alya nggak sarapan dulu?" Nia yang baru saja muncul bertanya heran.
"Udah telat katanya Bun."
Nia geleng-geleng kepala menatap Alya yang mulai meninggalkan rumah. Sudah menjadi kebiasaan Alya berangkat dalam keadaan waktu yang lumayan mepet namun kali ini sepertinya dia benar-benar sudah terlambat.
Setengah berlari Alya buru-buru meninggalkan rumah. Biasanya jika sudah siang begini angkot yang mengantarkannya menuju ke sekolah akan sedikit lebih lama. Alya terlihat gelisah apalagi menyadari kalau jam pertama ini adalah pelajaran Matematika dengan gurunya yang super killer itu.
Angkot yang dinanti Alya belum juga datang, namun dari arah yang sama, Alya melihat sebuah mobil melaju kencang menuju ke arahnya. Awalnya Alya tidak peduli, namun ternyata mobil itu berhenti persis di depannya membuat Alya menatap heran.
Seseorang keluar dari mobil sedan hitam mewah itu dan terlihat seulas senyum mengembang pada wajah tampannya. "Hai Al..."
Alya buru-buru memalingkan muka melihat kedatangan lelaki tampan yang tidak pernah dia harapkan kemunculannya. Siapa lagi kalo bukan Erosh?
"Lo belum berangkat?"
"Ngapain lo nanya-nanya?" Sahut Alya masih tak menatap lawan bicaranya.
"Cuma mau mastiin aja."
Wajah Alya terlihat semakin kesal. "Ngapai pagi-pagi gini lo udah nangkring di depan rumah gue?" Alya tidak habis pikir Erosh ada di rumahnya sepagi ini.
"Tadi gue ada janji sama Papa." Jawab Erosh kemudian menghampiri Alya yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Papa?" Tanya Alya sinis. "Nggak usah panggil bokap gue Papa lagi. Risih tau dengernya!"
Erosh bergumam. "Emm tapi bokap lo sendiri kok yang minta..."
"Nggak usah bawa-bawa bokap gue lagi. Mendingan sekarang lo singkirin nih mobil dari hadapan gue. Mobil lo ngalangin jalan gue!"
"Lo lagi nungguin angkot?"
Alya memutar bola matanya jengah. Harusnya Erosh tidak usah bertanya hal semacam itu padanya karena Alya akan semakin kesal. Dia memang sedang menunggu angkutan yang tak kunjung datang.
"Gue anterin aja gimana? Kayaknya angkotnya bakalan lama." Tawar Erosh yang lagi-lagi membuat Alya kesal. Sepertinya apapun yang Erosh katakan akan memancing emosinya tak peduli apapun alasannya.
"Nggak usah sok baik deh lo! Gue nggak butuh bantuan lo."
"Gue cuma nawarin solusi supaya lo nggak telat. Cuma itu aja."
"Mendingan gue telat dari pada lo anterin."
"Serius? Ini udah jam tujuh kurang sedikit."
"Al, kamu berangkat sama Erosh aja. Dari pada telat. Naik angkutan kan lama, belum lagi kalo berganti bis." Saran Papanya tiba-tiba dengan sedikit mengeraskan suaranya.
Alya menoleh. Papanya sudah berdiri di ambang pintu depan rumahnya. Alya menghela nafas kesal. Kenapa Papanya harus akrab dengan Erosh, padahal mereka baru bertemu. Kenapa juga semua orang di rumah ini baik padanya? Mereka nggak tau jika Erosh tidak sebaik yang mereka kira. Dia adalah cowok kaya berandalan!
"Mending Alya telat dari pada harus dianterin dia!"
"Loh kenapa? Memangnya apa masalahnya? Yang penting kamu nggak telat."
"Kenapa sih Papa hobi banget maksa orang lain?" Tanya Alya bersungut.
Alfian menatap putrinya yang sedang kesal itu. "Papa yang maksa atau kamu yang keras kepala?"
"Terserah Papa deh, Alya nggak peduli! Alya udah telat!" Alya bermaksud melangkah pergi.
"Gue anter Al.." Erosh berbalik mengikuti langkah Alya. "Anggep aja lo lagi naik taksi." Tambah Erosh.
Samar-samar Alfian terkekeh mendengar kata-kata Erosh.
Alya berpikir sejenak. Sejujurnya dia juga ingin mengiyakan tawaran Erosh karena waktunya sudah terlalu mepet dari pada harus naik angkutan dan berganti bis lagi, pasti memakan waktu yang lebih lama.
Alya terdiam dan Erosh menganggap ini adalah jawaban setuju dari Alya. Dia membuka pintu depan mobilnya dan mempersilahkan Alya masuk.
"Pa, kita berangkat dulu yaa!" Teriak Erosh.
Alfian mengangguk, "Hati-hati!" Katanya dengan senyum mengembang. Nia yang sedari tadi berdiri menyaksikan di samping suaminya ikut tersenyum.
"Diem aja?" Tanya Erosh di sela-sela perjalanan menuju sekolah Alya.
Alya tidak ingin menjawab, dia fokus menatap ke depan. Dia memperhatikan jalanan yang sudah mulai ramai dipadati kendaraan sementara sekolahnya masih lumayan jauh. Dia tidak tahu apakah naik mobil Erosh adalah ide bagus atau dia tetap akan terlambat di jam pertama miss killer.
"Lo pake save beltnya dan kalo emang nggak sanggup, lo tinggal merem!" Ucap Erosh tiba-tiba seakan-akan bisa membaca kekhawatirannya.
Alya mengerutkan keningnya, masih terdiam tak memahami ucapan Erosh.
"Apa perlu gue pakein save beltnya?"
"Nggak usah macem-macem!" Jawab Alya ketus. Dia segera menuruti ucapan Erosh.
Erosh tersenyum geli melihat tingkah Alya sementara tangan dan kakinya sudah bersiap pada gas dan persnelengnya untuk memecah jalanan yang memang agak padat. Sebenarnya ini melanggar aturan dan Erosh juga sudah lama tidak menggunakan kemampuan menyetirnya, tapi apa boleh buat, demi mengantar Alya sampai pada tujuan dalam waktu yang terbatas.
Beberapa detik kemudian mobil Erosh terpacu dengan kecepatan tinggi diimbangi skill menyetir Erosh yang menakjubkan melewati kendaraan yang berlalu lalang. Alya yang duduk di samping kursi kemudi hanya terpaku mencicit dengan menahan degupan jantungnya yang hampir saja terlonjak keluar. Dia meremas sisi roknya dan sesekali memejamkan matanya karena mobil Erosh hampir bersentuhan dengan mobil di depannya, dan itu jelas tidak mungkin terjadi karena Erosh sudah memprediksinya. Inilah saat dimana Alya benar-benar membuktikan sisi Erosh sebagai pembalap liar.
---- BWY ----
"Lo udah gila yaa?"
"Lo mau bikin gue mati?"
Kata-kata itu masih terngiang di benak Alya sembari dia melangkah cepat menuju kelasnya. Sepertinya bel tanda masuk kelas sudah berbunyi namun masih banyak siswa yang masih berkeliaran di luar kelas.
Alya menghela nafasnya berkali-kali bahkan dia meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Jantungnya bahkan masih berdegup tak beraturan. Dan ini bukan lagi soal dirinya yang hampir saja terlambat di jam pelajaran pertama Matematika tapi karena baru saja dia seperti menaiki roller coaster di jalan raya yang penuh kendaraan.
Bagaimana bisa Erosh menyetir mobilnya dengan cara seperti itu? Dia memang berharap Erosh mengantarnya agar dia tidak terlambat masuk sekolah, tapi bukan dengan cara seperti itu? Alya yakin dia bisa kena tilang dengan pasal berlapis jika polisi berhasil menangkapnya.
Alya tidak peduli, bahkan mungkin Eroah sudah terbiasa dengan hal semacam itu. Alya hanya tak habis pikir, Erosh hanya terkekeh saat dia memakinya tadi. Apa itu terdengar lucu baginya? Bagi seorang Erosh melihat raut wajah Alya yang pucat karena ketakutan menaiki mobil dengannya?
Alya menghentikan langkahnya di depan kelas 12 IPS 4, kepalanya mendongak masuk memastikan bahwa guru Matematikanya belum memasuki kelas. Dan benar saja, di dalam kelas suasana masih ramai dengan riuh sorai ala anak SMA. Alya buru-buru melangkah masuk dan kedua bola matanya langsung menangkap sosok Mira yang langsung memelototinya.
"Biasa aja dong Mir ngliatnya!" Alya merasa risih dengan sikap Mira.
"Lo kok telat sih? Untung Bu Dewi belum masuk."
"Iya gue juga tahu." Sahut Alya sembari duduk di samping Mira dan mengatur nafasnya yang mulai stabil.
"Lo bangun kesiangan ya?"
"Emangnya apalagi sih problematika gue selain bangun kesiangan?"
"Dewi fortuna lagi berpihak sama lo! Untung aja nggak telat."
"Gue dianter Erosh." Celutuk Alya tiba-tiba lalu sedetik kemudian dia menyesali perkataannya. Kenapa harus cerita ke Mira?
"What? Cowok ganteng itu! Al, lo serius kan?" Dan kali ini Mira benar-benar antusias sekali.
"Apa'an sih lo Mir, gue cuma dianter doang. Itupun karena terpaksa."
"Emm... Dari sorot mata dan pipi lo yang kemerahan ini, gue simpulin lo bahagia banget pagi ini." Goda Mira.
Alya kelagapan dan mengusap wajahnya,rona kemerahannya ini berasal dari kekagetannya selama menaiki mobil Erosh tadi. "Ini tu nggak seperti yang lo pikirin!"
"Gue nggak mikirin apa-apa kok. Eh, tapi sumpah ya Al, ini tuh kayak dream comes true!!"
"Maksud lo mimpi yang mana?"
"Yang waktu itu gue bilang, ketemu mas-mas ganteng, baik hati dan suka nolongin. Ya kan?"
"Ihh, udah deh Mir, pagi-pagi nggak usah halu!" Alya mencibir.
"Eh, awas lho ntar kalo lo suka gimana?" Celutuk Mira.
"On your imagine!"
Mira terkekeh, "Emangnya dia sekarang tinggal di rumah lo ya?"
Alya melirik Mira sinis. "Tau tuh, pagi-pagi udah nangkring di rumah gue."
"Bagus dong, tiap hari bisa liat muka gantengnya!"
"Iya, ganteng-ganteng songong!" Cetus Alya dengan muka yang masih kesal. Erosh memang selalu membuatnya kesal. Belum lagi jika dia ingat bahwa Erosh adalah pacarnya Mega, cewek yang terkenal bengis di sekolah ini. Kalo saja Mira tau soal hal ini, dia mungkin tidak akan memujinya seperti sekarang.
"Lo ngaku juga kalo dia ganteng kan?"
"Miraa..." Alya bersiap menjitak kepala Mira namun Bu Dewi sudah memasuki ruang kelas.
Semua murid termasuk Alya dan Mira menghentikan semua aktivitasnya. Mereka bersiap menerima pelajaran Matematika dari guru super killer hari ini.
"Selamat pagi!" Sapa Bu Dewi dengan suara beratnya.
Alya dan Mira serempak menghela nafas berat.
---- BWY ----