
Alfian pulang ke rumahnya di kawasan Jalan Sutomo, Surabaya Timur. Dia disambut bahagia oleh anak-anak dan istrinya setelah sebulan bekerja ke luar kota. Rasa rindu pada keluarganya terbayar setelah melihat mereka secara langsung dan bisa berkumpul bersama. Walaupun hanya sebentar, setidaknya dia bisa menyisakan sedikit waktunya untuk keluarga di sela-sela kesibukannya.
Saat ini dia dan keluarganya tengah makan malam. Istri dan ketiga anaknya duduk melingkar di meja makan. Alfian sangat bahagia menyaksikan ketiga anaknya yang perlahan mulai tumbuh besar, apalagi Alya. Alya kecil yang dulu sering rewel dan dia gendong sekarang sudah tumbuh menjadi gadis remaja cantik dan mandiri. Sekilas wajahnya mirip dengan Yessi, mantan istrinya yang sekarang entah dimana. Kadang terlintas di benaknya kebersamaannya dulu dengan mantan istrinya, saat dia hidup bahagia di tengah-tengah kesuksesannya. Tapi melihat keadaannya yang sekarang sudah lebih baik bersama Nia dan ketiga anaknya, Alfian bersyukur bahwa dia menemukan sesuatu yang lebih sederhana namun terasa sempurna.
"Al, sekolah kamu gimana?" Tanya Alfian sambil menyantap makanannya.
"Baik Pa." Jawabnya singkat. Dia masih sibuk dengan makanan di depannya.
"Bagus, kalo Angga sama Anggi gimana?" Giliran Alfian bertanya pada anak kembarnya.
"Angga dapet nilai A Pa!"
"Anggi juga Pa!"
Alfian tersenyum bangga. "Bagus, pertahankan yaa!" Katanya menyemangati. "Nanti papa kasih hadiah kalo kalian jadi juara."
"Yeee!!!" Jawab si kembar bersorak gembira bersamaan.
"Bunda gimana? Ada masalah di rumah?" Alfian menatap istrinya yang tengah sibuk meladeni Angga dan Anggi mengambil makanan.
"Nggak ada Pa, semuanya baik." Jawab Nia memamerkan senyumnya.
"Bagus, makasih yaa Bunda selama ini sudah mengurus rumah dan anak-anak." Alfian membalas senyuman istrinya penuh cinta.
Alya berdeham. "Alya udah selesei makan, Alya duluan ya Pa."
"Lho Al, nggak dihabisin?" Tanya Alfian melihat masih ada sisa makanan di piring Alya.
"Kenyang Pa," Jawabnya kemudian berlalu.
Alfian dan Nia menatapnya bersamaan.
"Nanti biar Papa bicara sama Alya, sabar yaa Bunda." Alfian tau, selama ini Alya belum bisa bersikap baik pada Ibu tirinya. Dia juga tau hal ini pasti sangat berat untuk Nia.
Lagi-lagi Nia hanya bisa tersenyum sabar. Dia sudah terbiasa menghadapi sikap Alya seperti itu, bahkan kadang lebih parah lagi, hanya saja Alfian tidak tau. Nia memilih untuk diam dari pada harus mengadu pada Alfian dan bisa membuat hubungannya dengan anaknya menjadi tidak baik.
Alya berjalan menuju teras rumahnya dengan kesal. Entah mengapa melihat keharmonisan keluarganya saat ini justru membuat hatinya sakit. Alya menghela nafas panjang, dia mengamati tangannya yang masih terbalut perban dan terasa perih. Ternyata luka ini tidaklah sebanding dengan perihnya kehidupan yang Alya lalui hingga saat ini. Hidup bahagia yang pernah Alya miliki sewaktu kecil tidak bisa dia nikmati lagi. Kepergian Mamanya membuatnya harus merasakan kehilangan yang teramat dalam.
Dan lagi, masalah perekonomian keluarganya yang membuat Alya harus menempuh jalan yang tidak mudah. Dampak dari kebangkrutan perusahaan Papanya yang cukup parah itu membuat Papanya kesulitan untuk membangun kembali perusahaannya. Apalagi gosip buruk tentang citra perusahaannya yang tercoreng akibat penipuan oleh partner bisnisnya yang tiba-tiba menghilang entah kemana membuatnya tidak mudah menemukan kepercayaan rekan kerjanya lagi. Satu hal yang bisa dilakukan Papanya saat ini adalah memulai karirnya dari nol lagi.
"Kak Alya!" Anggi berlari ke arah Alya dan membuyarkan pikirannya. Di belakangnya Angga menyusulnya.
"Jangan lari-lari Anggi, nanti jatuh!" Teriak Alya.
"Angga mau ngrebut mainanku Kak." Anggi bersembunyi di balik badan Alya.
Alya menatap Angga yang terengah-engah sehabis berlari mengejar saudara kembarnya. "Jangan gitu Angga, kamu kan cowok. Pakai mainan kamu sendiri."
"Mainan Angga rusak Kak Alya." Angga mengadu.
"Rusak? Mana bawa sini, Kak Alya benerin." Pinta Alya.
Angga berlari ke dalam mengambil sebuah robot Iron Man lalu keluar lagi dan memberikannya pada Alya.
Alya mengamatinya. Engsel penyambung kaki robot itu pecah, sehingga kakinya patah dan robotnya tidak bisa berdiri lagi.
"Angga, kayaknya mainan kamu nggak bisa dibenerin lagi. Besok Kak Alya beliin yang baru yaa." Janji Alya pada Angga.
"Beneran Kak?" Angga menatap Kakaknya penuh harap.
Alya mengusap kepala Angga pelan dan tersenyum. "Iyaa dong, besok Kak Alya beliin habis pulang sekolah."
"Horeee!!!" Teriak Angga dengan gembira.
"Kak Alya, Anggi juga mau dibeliin." Rengek Anggi mengetahui kembarannya akan dibelikan mainan baru.
"Iyaa, Anggi juga. Besok Kak Alya beliin buat kalian berdua."
"Hore!!!!" Giliran Anggi bersorak gembira.
Alya tertawa melihat tingkah dua adik kembarnya. Walaupun jenis kelamin mereka berbeda, tapi wajahnya sangat mirip dan itu yang membuat mereka selalu terlihat menggemaskan saat berdekatan. Alya begitu menyayanginya, setidaknya dia berharap mereka tidak akan merasakan sakit seperti yang Alya rasakan saat ini. Mereka selalu terlihat bahagia bahkan tanpa tahu jika Mama kandungnya pergi meninggalkan mereka.
"Angga, Anggi, Ayo tidur, sudah malam!" Nia keluar menghampiri anak-anaknya.
Alya menghentikan tawanya seketika.
Nia mendekat ke arah Angga dan Anggi. "Udah jam setengah sembilan, ayo tidur!"
"Yah, Bunda, Anggi masih pengen main." Protesnya.
"Mainnya dilanjut besok siang aja. Besok Papa kan libur, hayoo siapa yang mau main sama Papa?" Bujuk Nia.
"Anggi mau!"
"Angga juga mau Bunda!"
Nia tersenyum menatap dua anak kembar tirinya. "Kalo gitu, sekarang tidur dulu yaa."
"Iyaa Bunda." Jawab Angga dan Anggi serempak. Mereka berlari kecil masuk ke dalam menuju kamar tidur mereka masing-masing.
Sekarang hanya tinggal Nia dan Alya yang saling terdiam di teras depan. Nia menatap Alya sekilas, dia melihat sebagian telapak tangan Alya yang ditutup perban.
"Tangan kamu kenapa Al?" Tanya Nia.
"Jatuh." Jawab Alya singkat.
"Kamu jatuh dimana? Lukanya parah nggak?" Nia sedikit terkejut.
"Nggak kok."
Nia menghela nafas lega. "Syukurlah."
Suasana hening sesaat. Baik Alya ataupun Nia saling memandang ke arah yang berbeda.
" mamuergi main Al?" Tanya Nia. Memang setahu Nia biasanya Alya sering pergi keluar, tapi tidak pernah pulang larut jika Papanya ada di rumah. Alya bilang, dia ijin ke rumah Mira.
"Nggak ada apa-apa kok Al. Bunda cuma tanya."
Alya bangkit dari duduknya. Dia bermaksud meninggalkan teras depan dan menuju kamarnya.
"Lain kali kamu jangan seperti itu sama Bunda kamu Al." Alfian muncul dari balik pintu depan dan Alya menghentikan langkahnya.
"Maksud Papa?" Tanya Alya.
"Jangan bersikap seperti itu sama Bunda kamu. Walau bagaimanapun Bunda Nia tetap Ibu kamu." Jawab Alfian.
Alya mendengkus kesal. "Udahlah Pa, Alya nggak suka Papa membahas masalah seperti itu."
"Papa ngerti, tapi kamu juga harus menghormati Bunda." Ucap Alfian.
Alya menghela nafas." Kalo Alya nggak menghormati, mungkin Alya nggak akan nerima kehadirannya di sini."
"Alya, jaga bicara kamu. Papa nggak suka!"
Suasana diantara pasangan anak dan Bapak ini mulai agak menegang.
"Papa selalu aja belain dia."
"Papa nggak belain siapa-siapa, Papa hanya ingin kamu bersikap sopan terhadap Bunda."
"Papa harus tau Alya cuma punya satu Ibu dan itu Mama. Nggak ada yang lainnya Pa!" Seru Alya ketus.
Alfian terperanjat, begitu juga Nia.
"Alya cukup!" Suara Alfian meninggi.
"Kenapa Pa? Itu kenyataannya."
"Alya, kamu tidak berhak berbicara seperti itu!"
"Mama pergi dari rumah ini pasti karena dia kan Pa?"
"Alya!!!" Teriak Alfian penuh emosi dan bahkan hampir saja tangannya melayang.
Alya menatap Papanya sengit dan setelah itu melenggang pergi menuju kamarnya.
"Alya tunggu!" Cegah Alfian.
Nia meraih tangan Alfian." Udah Pa, udah." Dia mengusap lengannya pelan. "Biarin aja, Papa nggak boleh ikut emosi, sabar yaa. Tolong maklumi Alya."
Alfian menghela nafas. Sampai kapan kamu akan seperti itu Al?? Kamu nggak tau, betapa Bunda sangat menyayangi kamu.
Di dalam kamarnya Alya langsung menghambur di atas kasur. Badan dan pikirannya sama-sama lelah. Dia bosan tiap kali Papanya pulang ke rumah, dia pasti akan berdebat jika itu menyangkut pembicaraannya mengenai Ibu tirinya. Dia tidak bisa bersikap baik padanya. Alya sangat membencinya sejak hari itu, sejak hari dimana Papanya memutuskan untuk menikahinya.
"Kak Alya marahin Bunda lagi ya? Papa pasti marah."
Alya memiringkan posisinya, dia menatap adikya yang belum tertidur. Pasti karena mendengarnya bertengkar dengan Papanya.
"Anggi kok nggak tidur?" Alya balik bertanya.
"Anggi denger Kak Alya berantem sama Papa tadi. Pasti kak Alya marahin bunda lagi, makanya Papa marah. Kenapa kak Alya begitu?"
Alya nampak berpikir sejenak sebelum menjawab. "Mendingan sekarang Anggi tidur aja ya, udah malem. Besok sekolah kan?"
Anggi menatap Kakaknya dengan penuh tanya. Setiap kali dia menanyakan alasan kemarahannya dengan Bundanya, Alya pasti akan mengalihkan pembicaraan. "Jangan marahin Bunda lagi Kak. Bunda nggak salah, Bunda selalu baik sama kita, sama Papa, sama Kakak, sama Angga, sama Anggi juga."
Alya tersenyum. "Yaudah, sekarang Anggi tidur yaa. Kak Alya temenin."
Anggi mengangguk pasrah. Dia memejamkan matanya.
Alya mengusap rambut Anggi dengan lembut, membuat gadis kecil itu semakin terlelap tidurnya. Maaf ya Anggi, Kak Alya belum bisa baik sama Ibu tiri kita. Kata Alya dalam hati.
---- BWY ----
Kawasan Juanda malam ini dipadati gerombolan anak muda pecinta mobil balap liar. Penonton berjejer di tepi jalan untuk menjadi saksi siapakah pengemudi mobil tercepat kali ini. Tidak sedikit diantara mereka menjadikan momen ini sebagai ajang taruhan kecil-kecilan.
Sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat tempo hari, dua mobil yang akan bertarung sudah memposisikan diri, di sisi kanan Erosh sudah bersiap dengan Great Corollanya dan di sisi kiri Alex juga sudah bersiap dengan Lancernya. Mereka saling menggembor-gemborkan deru mesin mobil mereka.
"Rosh, lo harus hati-hati. Mesin kita belum sepenuhnya sempurna. Jangan memaksakan gasnya terlalu dalam. Lo harus mempertahankan posisinya begitu ada di posisi pertama." Ujar Arga memberikan pengarahan pada Erosh diantara keramaian yang membaur menjadi satu.
Erosh mengacungkan jempolnya. "Gue paham Ga, lo nggak usah khawatir."
Arga tersenyum mantap. "Gue percaya sama lo Rosh."
Erosh mengangguk dan Arga mulai menepi dari sisi mobil karena pertandingan akan segera di mulai.
Sementara itu di sisi lain, Alex tersenyum angkuh berlagak bahwa dialah yang akan menjadi pemenang malam ini. Tak henti-hentinya dia menyombongkan diri karena pendukungnya meneriakkan namanya, di tambah lagi dengan tatapan sengitnya yang berusaha meremehkan Erosh dan anak buahnya.
Erosh hanya menatapnya diam.
Dan beberapa detik kemudian, seorang cewek cantik berpakaian seksi melangkah anggun ke sisi tengah antara mobil Erosh dan Alex. Dia menatap Erosh dan Alex bergantian. "Ready?" Tanyanya dengan centil.
Tangan kiri Erosh sudah menggenggam erat persenelingnya. Kaki kirinya menekan penuh pedal kopling. Dan si cewek seksi itu membalikkan badan sambil tangan kirinya berkacak pinggang dan mengacungkan tangan kanan ke depan. "Goo!!!!" Teriaknya kemudian.
Seketika itu juga Erosh dan Alex menekan pedal gasnya kuat-kuat. Mobil mereka melaju dengan kecepatan penuh menembus jalanan malam sepanjang kawasan Juanda. Riuh sorak-sorai terdengar dari para pendukung masing-masing.
Dengan memacu kecepatan yang sangat tinggi Erosh dan Alex saling menyalip dengan sengit. Mereka telah melewati satu putaran jalan, dan satu putaran lagi mereka akan mencapai garis finish. Alex menatap Erosh yang ada di sampingnya dengan penuh amarah. Dia ingin segera mengalahkan Erosh. Dengan cepat Alex mengoper persenelingnya ke gigi lima dan memacu mobilnya lebih cepat mendahului Erosh beberapa meter.
Erosh tidak bisa membiarkan Alex menang begitu saja. Dia menambah kecepatannya lebih tinggi dari Alex. Mendekati garis finish, dia memacu kecepatannya lebih tinggi lagi. Dan...
Perfect!!!! Pekik Erosh dalam hati. Dia berhasil mendahului Alex dengan jarak ban mobil hanya beberapa senti saja.
"Sialann!!!" Teriak Alex kesal. Dia memukul setir mobilnya.
Walaupun hanya terpaut beberapa detik, kalah tetaplah kalah. Erosh berhasil mengalahkan Alex. Dia keluar dari mobilnya dan disambut pendukungnya dengan bangga.
---- BWY ----