
HAPPY READING
AUTHOR BY AXRANS
*******
"Gue Karina." Kata cewek yang sekarang duduk di samping Alya memperkenalkan diri. Dia membawa Alya ke rumahnya dan sekarang mereka duduk di gazebo yang ada di pelataran rumahnya.
"Gue Alya." Jawab Alya singkat. Dia masih bingung dan canggung harus berbuat apa setelah mengalami kejadian yang cukup membuatnya syok.
"Soal Mega tadi nggak usah lo pikirin." Karina berusaha menenangkan Alya.
Alya hanya diam tersenyum. Otaknya tidak mampu berpikir lagi, semua kemungkinan buruk yang akan terjadi membayang-bayanginya.
"Sebentar lagi Erosh ke sini."
"Jadi Erosh yang nyuruh lo bawa gue ke sini?" Tanya Alya dengan raut wajah tidak suka.
Karina menoleh ke arah Alya keheranan. "Gue bawa lo kabur dari sekolah supaya masalah lo nggak membesar."
"Percuma aja, sekarang semua udah tahu tentang gue."
"Seenggaknya lo bisa klarifikasi kebenarannya karena yang dituduhin Mega nggak bener."
"Mereka nggak akan mungkin percaya orang seperti gue, dan harusnya lo nggak bawa gue pergi ke sini." Ujar Alya pasrah.
Karina menghela nafas panjang, sepertinya Alya terlalu cepat menyerah dengan keadaan.
"Makasih buat bantuan lo tadi." Ucap Alya lagi. "Gue harus pergi sekarang." Alya beranjak dari duduknya.
"Lo jangan pergi dulu sebelum Erosh datang." Sergah Karina.
"Gue nggak mau berurusan sama Erosh, dan gue nggak mau kejadian kayak tadi terulang lagi."
"Lo nggak perlu takut sama Mega." Karina berusaha meyakinkan Alya.
"Lo nggak tau apa-apa soal gue Karina, lebih dari rasa takut gue, ada hal lain yang lebih gue khawatirin. Dan lo nggak tau apa-apa soal ini." Jelas Alya dengan suara mulai bergetar. Sejak tadi yang ada di pikirannya hanyalah bayangan Papanya. Bagaimana kalo sampai pihak sekolah tau dan melaporkannya pada Papanya?
"Mungkin gue nggak tau apa-apa, tapi suka nggak suka lo harus mengahadapi Mega. Dia orang yang suka melihat orang lain tertindas."
"Gue udah nggak peduli apa yang akan dilakukan Mega." Kata Alya bersikukuh. "Dia nglakuin ini ke gue karena Erosh."
"Lo belum tau siapa Mega! Dia licik dan sekali dia menemukan seseorang untuk dibantai, dia akan terus membuntutinya sampai dia pergi dari kehidupannya. Lo harus bisa mempertahankan diri di sekolah, jangan biarin Mega menguasai hidup lo!"
Alya menghela nafas berat. Situasi apalagi yang harus dihadapinya setelah ini? Alya benar-benar merasa tidak sanggup lagi. Siapa yang mengira masalahnya justru akan berubah rumit begini, padahal sebentar lagi dia akan pergi dari tempat yang menyeretnya ke dalam masalah ini.
"Lo tenang aja, gue bakal bantuin lo ngadepin Mega."
"Kenapa lo bantuin gue? Karena lo musuhnya Mega?" Selidik Alya, sebenarnya dia tidak peduli jika Karina ingin membantunya karena mulai saat ini juga Alya sudah memustuskan untuk menyudahi urusannya dengan Mega. Dia akan menyuruh Erosh menjauhi dirinya.
Karina tersenyum tipis. "Mungkin... Tapi gue tetep nggak akan biarin Mega bertindak sesuka hati sama orang lain."
"Gue nggak tahu apa yang akan terjadi sama gue setelah ini. Kalo sampai pihak sekolah tahu, gue pasti akan dikeluarin. Dan... end..." Alya menerawang ke depan dengan putus asa.
"Kita bisa cari cara Al, lo nggak bakal dikeluarin dari sekolah."
"Cara apa? Buktinya udah jelas kalo gue kerja di Bar!"
"Apa salahnya kerja di Bar?! Selama lo nggak nglakuin hal negatif, itu sama sekali nggak jadi masalah."
"Lo pikir sekolah akan percaya?" Tanya Alya dengan pikiran penuh keraguan.
"Kenapa nggak? Asalkan lo bicara jujur, sekolah pasti akan nerima." Jawab Karina mantap.
"Gue nggak yakin dan gue bener-bener udah kehilangan harapan." Alya tertunduk lemas.
"Alya..." Erosh sudah tiba di rumah Karina dan menghampiri Alya di tempatnya.
Alya tidak terkejut. Erosh pasti akan segera menemuinya seperti yang dikatakan Karina tadi.
"Ngapain lo ke sini?" Sambut Alya ketus.
Karina memandang keduanya bergantian. "Emmm.. Gue ke dalem dulu ya." Pamit Karina. Dia tidak ingin ada di antara perdebatan keduanya.
Alya terdiam sementara Erosh mengangguk setuju.
"Gue minta maaf Al." Kata Erosh memulai pembicaraan. "Mega bener-bener keterlaluan."
"Yang keterlaluan itu lo!" Alya menatap Erosh dengan kesal. "Gue udah bilang sama lo, jangan pernah deket-deket gue lagi. Ini yang gue takutin."
Erosh terdiam sesaat. "Gue minta maaf Al. Gue akan seleseiin masalah ini."
"Iya, semuanya akan selesei karena gue akan dikeluarin dari sekolah!" Bibir Alya mulai bergetar, tak kuasa menahan tangisnya yang hampir pecah.
"Lo nggak bakalan dikeluarin dari sekolah. Lo percaya sama gue kan?" Erosh mendekat, memberanikan diri meraih bahu Alya.
"Gue nggak seharusnya percaya sama lo!" Alya menepis tangan Erosh. Dia berdiri dan mengambil langkah bersiap pergi.
"Gue janji Al, semuanya pasti baik-baik aja." Erosh berusaha menahan langkah Alya.
"Usaha gue hampir berhasil dan semuanya baik-baik saja, tapi semuanya jadi rumit gara-gara lo dan Mega."
Erosh menatap Alya dengan perasaan bersalahnya. "Gue janji Al, please percaya sama gue semuanya bakal baik-baik aja."
"Kenapa sih lo keras kepala? Lo nggak ngerti kalo rahasia gue udah terbongkar itu artinya pihak sekolah akan tahu, Papa juga akan tahu semuanya!"
"Papa nggak akan tahu, gue jamin. Semuanya akan selesei dengan baik."
"Apa dengan masalah ini selesei, Mega juga akan selesei ngganggu hidup gue?"
"Mega nggak akan berani ganggu hidup lo lagi."
"Dengan cara apapun Al, gue akan nglindungin lo."
Suasana mendadak hening, baik Alya maupun Erosh terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"Harusnya lo nggak muncul di kehidupan gue."
Erosh masih terdiam menunduk mendengar penuturan Alya.
"Gue minta sama lo kali ini, please jauhin gue. Ini terakhir kalinya gue berurusan sama lo dan juga Mega."
"Tapi Al..."
"Kehidupan gue udah cukup menderita selama ini. Beban hidup gue udah terlalu berat." Kali ini Alya benar-benar mengungkapkan isi hatinya dengan jujur. "Apa lo mau bikin hidup gue semakin menderita?"
"Gue nggak bermaksud untuk menambah beban hidup lo..."
"Tapi itu kenyataannya."
"Gue nggak akan ngebiarin lo menderita begini Al, semua yang gue lakuin..."
"Gue nggak butuh lo, gue tahu apa yang harus gue lakuin buat hidup gue!"
"Al..."
"Please... Jauhi gue." Ucap Alya dengan raut wajah memohon.
Lagi-lagi Erosh terdiam, bukan ini yang Erosh inginkan. Bagaimana bisa dia harus menjahui Alya sementara hatinya saja menginginkannya? Erosh bahkan sudah berjanji pada dirinya sendiri akan selalu ada di samping Alya dan melindunginya. "Gue nggak bisa Al."
"Apa susahnya menjauh dari gue? Apa yang harus gue lakuin supaya lo jauhin gue?"
"Nggak ada satupun hal yang bisa bikin gue jauh dari lo."
"Lo mau bikin hidup gue semakin menderita?"
"Al, gue nggak akan bikin hidup lo menderita!" Erosh sedikit meninggikan suaranya karena tersulut emosi di dalam hatinya. Entahlah, dia hanya ingin meyakinkan Alya jika semuanya akan baik-baik saja. Dia akan selalu ada di samping Alya, apapun yang terjadi.
Alya tersentak dengan kata-kata Erosh. "Tapi semua ini bikin hidup gue menderita! Lo lihat apa yang Mega lakuin ke gue?"
"Gue janji, ini nggak akan terulang lagi."
"Gimana gue bisa percaya? Bahkan sekarang dia udah ngancurin semuanya! Dan gue yang harus nanggung semuanya, bukan lo!"
"Alya dengerin gue..."
"Kenapa? Kenapa harus selalu gue yang menderita? Kenapa gue yang harus nanggung semuanya?" Tangis Alya meledak seketika. Dia tidak bisa berfikir jernih lagi dan bagaimana dia harus menghadapi situasi ini? Semuanya terasa sangat rumit. "Gue capek Rosh, gue capek..." Lirihnya dalam sendu tangisnya.
Erosh tidak sanggup menatap wajah Alya yang berlinangan air mata. Dia ragu-ragu ingin meraih tubuh Alya lagi, tapi akhirnya dia memberanikan diri membawanya ke dalam pelukannya. Awalnya Alya bersikeras menolak namun pada akhirnya dia jatuh juga pada pelukan Erosh.
Alya menangis sejadi-jadinya sampai sesenggukan, dia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Erosh. Sementara Erosh berusaha untuk menenangkannya, mengusap dengan lembut bahunya, berusaha menjadi sandaran ternyaman untuk Alya.
ㅡBWY ㅡ
Mira melangkah mondar mandir di teras rumahnya, sedang menunggu seseorang yang katanya akan datang dan menjelaskan semua hal yang harus Mira ketahui. Dia bahkan hampir tidak bisa memikirkan hal lain sejak pagi tadi karena sesuatu yang sangat menganggunya ini. Semuanya bercampur dengan rasa kekhawatirannya yang begitu besar. Dia mungkin bisa mati penasaran jika harus menunggunya lebih lama lagi.
Sudah setengah jam yang lalu sejak dia menerima telepon pemberitahuannya itu tapi sampai saat ini orang itu belum tiba juga di rumahnya. Selang beberapa menit kemudian, sebuah honda civichitam berhenti di depan gerbang rumahnya. Ini dia! Tebak Mira dalam hati sambil bernafas lega.
"Lo yakin lo mau di sini?" Tanya Erosh sebelum Alya keluar dari mobilnya. Mereka sudah sampai di depan rumah Mira.
"Mira pasti khawatir sama gue." Jawab Alya.
"Oke... Lo baik-baik aja kan?" Erosh memastikan.
Alya mengangguk.
"Mulai sekarang lo nggak usah pergi kerja lagi. Nanti kalo urusan lo sama Mira udah selesei gue jemput lo lagi."
"Lo nggak perlu jemput gue." Tolak Alya. "Mungkin gue akan nginep di sini."
"Lo harus pulang, Papa ada di rumah."
"Papa?" Alya terkejut.
"Tadi Papa ada meeting dengan klien, dan sepertinya Papa nggak akan kerja di luar kota lagi.
"Dari mana lo tahu?" Selidik Alya.
"Tadi gue nemenin Papa." Jawab Erosh sedikit berbohong. Saat ini dia tidak mungkin mengatakan kalo Papanya mendapat bantuan dari perusahaan Papa Erosh untuk membangun perusahaannya yang bangkrut dulu. Alya mungkin tidak akan setuju.
Alya terdiam, sepertinya dia percaya dengan kata-kata Erosh. "Nanti gue pulang sendiri." Ujar Alya kemudian. "Gue baik-baik aja."
Erosh hanya bisa menurut. "Mana HP lo?"
Alya menatap Erosh heran, sementara tangan Erosh sudah menggantung di depan Alya.
"Buat apa?" Tanya Alya namun dia berikan juga HPnya pada Erosh yang dia keluarkan dari saku tasnya.
Erosh mengambil HPnya, dia menelpon sebuah nomor yang akhirnya membuat HP Alya bergetar. "Simpan nomer gue, kalo ada apa-apa kabari gue."
Alya tersenyum datar menatap Erosh. "Thanks, lo hati-hati." Akhirnya Alya keluar dari mobil Erosh.
Mira tampak sumringah melihat orang yang ditunggunya sudah muncul di hadapannya. Alya bergegas menghampiri Mira dan dua sahabat itu saling berpelukan seakan mengerti satu sama lain apa yang sedang dirasakannya. Erosh menyaksikan dari dalam mobilnya dengan rasa bersalah. Tidak dipungkiri bahwa dia adalah salah satu orang yang ikut andil dalam masalah ini.
"Gue siap dengerin semua cerita lo, apapun itu." Ujar Mira setelah melepaskan pelukannya.
"Gue akan ceritain semuanya.." Balas Alya.
Mira tersenyum dan merangkulnya masuk ke dalam rumah.
ㅡBWY ㅡ