
Seperti biasanya, malam ini Alya melakukan tugasnya di bar sebagai waiters. Dia tetap bekerja walaupun perasaannya sedikit was-was. Alya takut cowok itu akan menemuinya lagi, dia juga takut saat pulang nanti akan bertemu cowok-cowok pengganggu itu lagi. Ini adalah kali pertamanya Alya diganggu oleh cowok-cowok berandalan seperti kemarin, dan tidak bisa dipungkiri bahwa dia sendiri diselamatkan oleh cowok yang selalu dia hindari itu.+
"Are you okey?" Tanya Dio saat Alya menghampirinya. Dia baru saja mengantarkan pesanan dan kembali lagi ke konter.
Alya menggumam. "Not bad!"
"Lo kenapa? Ada masalah?" Dio melihat ekspresi Alya tidak seperti biasanya.
Alya menggeleng. "Nope!" Jawabnya tersenyum. Dia enggan memberitahu Dio perihal kejadian kemarin. Alya tidak mau membuat Dio mengkhawatirkannya, dia sudah terlalu banyak membantu masalahnya.
"Kalo ada sesuatu, lo bilang aja ke gue."
"Iya Yo." Jawab Alya singkat.
"Oh iya gue hampir lupa Al."
Dahi Alya mengerut. "Kenapa?"
"Kemarin ada cowok yang nanyain lo." Kata Dio kemudian.
"Cowok?" Ulang Alya dengan nada datar, dan ini bukan kali pertamanya ada cowok yang menanyakannya lewat Dio. Wajah Alya yang memang cantik natural itu membuat beberapa cowok yang pernah melihat Alya ingin mengenalnya. Dan sikap Alya yang dingin dan acuh itu membuat beberapa dari mereka lebih memilih menanyakannya pada Dio.
"Namanya Erosh." Jawab Dio.
Alya membulatkan mulutnya. "Oh..." Dia sama sekali tidak tertarik dengan urusan cowok.
"Al, dia tau lo masih sekolah." Bisik Dio melihat ekspresi cuek Alya.
Alya terperangah. What??? "Dia tahu tentang gue?"
Dio mengangguk. "Tapi dia udah janji kok nggak akan bocorin rahasia lo, jadi lo nggak perlu khawatir, tenang aja."
"Lo percaya dia nggak bakal bocorin rahasia ini?" Alya terlihat khawatir.
"Gue kenal baik dia Al, dia nggak akan mungkin bohong."
"Tapi gue nggak yakin Yo. Gimana kalo dia bohong?"
"Nggak mungkin Al, gue bisa jamin."
"Tunggu! Jadi cowok itu, maksud gue Erosh, dari mana dia tahu identitas gue?" Tanya Alya masih tak percaya. "Bukan lo yang sengaja ngasih tau kan?"
"Yaelah Al, lo tahu gue nggak akan nglakuin itu kan? Dia bilang pernah ketemu lo, dia juga pernah ngliat lo pake seragam sekolah."
Bibir Alya langsung melongo. Nggak salah lagi! Pasti cowok itu! Batin Alya. Memangnya siapa lagi yang pernah melihatnya bekerja di ini sekaligus mengetahui dia mengenakan seragam sekolah? Hanya cowok itu! Ternyata cowok itu memang sengaja mengikutinya, buktinya dia juga mencari tahu tentang dirinya lewat Dio. "Tapi lo nggak bilang apa-apa ke dia kan? Sekolah gue? Alamat rumah gue?" Cecar Alya.
"Dia sih cuma bilang kalo pernah ngliat lo pake seragam SMA, tapi lo sante aja Al, identitas lo yang lain aman." Jelas Dio.
Alya menghela nafas. Ini bener-bener gawat! Gue harus jauhin dia. Jangan sampai rahasia gue kebongkar. Batinnya. Kini dia benar-benar diliputi perasaan takut yang semakin bertambah walaupun Dio sudah meyakinkannya.
"Kayaknya dia tertarik sama lo." Dio melirik Alya.
Alya mendengkus kesal. "Gue nggak peduli Yo. Dia sama aja kayak cowok-cowok yang lainnya kan?"
"Tapi dia baik Al!"
"Terus gue harus ngapain?"
Dio terkekeh menatap Alya, membuat suasana hatinya yang menegang sedikit mencair. "Nih Amareto siap, anterin ke meja delapan yaa." Dia meletakkan shot glass di atas nampan. "Inget, lo nggak perlu khawatir soal Erosh." Imbuh Dio.
Alya hanya tersenyum datar menanggapi. "Okee..." Kemudian dia melangkah melaksanakan tugasnya.
Ada seorang cowok yang wajahnya agak sangar duduk di meja delapan. Dia terlihat menikmati alunan musik yang menggema di bar sambil bersorak sorai. Alya sedikit menggenggam nampannya erat dan memantapkan langkahnya, entah mengapa semenjak kejadian semalam dia jadi agak parno. Tidak seperti biasanya, ada sedikit ketakutan saat melihat cowok dengan tampilan yang agak menyeramkan. Alya mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Tenang aja Al, santai...Katanya dalam hati meyakinkan diri sendiri.
"Segelas Amareto, silahkan." Ucap Alya sambil meletakkan gelasnya di atas meja.
Cowok itu menatap Alya lekat-lekat dari atas hingga ke bawah. Kecantikan Alya dan baju kerjanya yang memang terbilang agak seksi itu tiba-tiba membuat pikirannya kotor. Dia tersenyum miring. "Thank you.."
Alya tersenyum mengangguk dan bersiap melangkah pergi, namun dengan cepat cowok itu meraih tangan Alya.
"Gue belum selesai bicara, bisa duduk di sini?" Katanya pada Alya dengan nada bicara lembut tapi terdengar menakutkan.
Alya berusaha melepaskan tangannya. "Emm.. Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya dengan jantung berdebar takut.
"Duduk sini dong." Cowok itu meraih pinggang Alya dan berusaha membuat Alya terduduk di sampingnya.
Alya terkejut, dengan refleks Alya meronta melepaskan diri namun cowok itu dengan tangan kokohnya memeluk pinggang Alya.
"Lepasin!" Pinta Alya padanya dengan raut wajah takut.
"Hei, sebentar aja kok." Ucapnya lembut namun bersikap tak sopan pada Alya.
"Lepasin!!!"
Bukkk!!!
"Brengsek lo! Gue udah bilang jangan cari masalah!"
Cowok itu terkejut, begitu juga Alya. Dia menatap seorang cowok yang tiba-tiba datang memukul wajah cowok yang berusaha menggoda Alya.
Cowok itu lagi? Batin Alya kaget dan tak percaya.
"Pengecut! Mana janji lo saat kalah balapan? Gue udah bilang sama lo Lex, jangan pernah kasar sama cewek!" Ucap Erosh garang. Matanya menatap penuh amarah ke arah cowok itu.
"Apa peduli lo! Dia cuma waiters! Lo suka sama dia?" Cowok yang ternyata dikenali Erosh dan bernama Alex itu meraih tangan Alya lagi. Dia menariknya dengan kasar dan sontak membuat Alya hampir terjerembab.
Erosh geram melihat Alex dan dengan satu pukulan lagi di wajahnya, Alex terkapar di lantai. Tidak berhenti sampai di situ saja, Eroshpun memukuli Alex bertubi-tubi dan setelah itu terjadilah perkelahian sengit diantara mereka berdua, membuat semua pasang mata yang ada di dalam bar langsung mendekat dan menyaksikannya.
Alya kebingungan melihat situasi yang ada di depan matanya. Dia ingin melerai tapi tidak bisa. Erosh bahkan terlalu menggebu sehingga beberapa orang yang berusaha melerainya kewalahan. Namun selang beberapa saat akhirnya dua orang bodyguard di bar itu datang dan menghentikan aksi keduanya. Mereka menggiring Erosh dan Alex keluar.
Alya masih terpaku di tempatnya. Sementara orang-orang yang berkerumun menyaksikan perkelahian itu mulai bubar. Badan Alya terasa lemas dan dia ketakutan, dua kali berturut-turut ada cowok yang sengaja akan berbuat jahat kepadanya.
"Al, lo nggak apa-apa?" Tanya seorang cewek yang juga waiters di tempat itu. Dia membantu Alya berdiri.
Dio datang menghampiri Alya begitu tahu ada sesuatu terjadi padanya.
"Gue nggak apa-apa kok." Jawab Alya menatap rekan kerjanya dan Dio bergantian.
"Gue pastiin ini nggak akan terjadi lagi." Ucap Dio menenangkan Alya yang masih terlihat ketakutan. "Mereka bakalan gue larang masuk ke sini sementara waktu. Nanti gue bicarain sama bos."
"Thanks Yo." Kata Alya.
"Lo istirahat aja Al, lo bisa pulang lebih awal."
"Nggak Yo, gue nggak apa-apa." Tolak Alya.
"Serius?" Tanya Dio memastikan.
Alya mengangguk. "Gue istirahat sebentar ya." Katanya meminta ijin.
"Okee, Put anter Alya ke dalam." Pintanya pada anak buahnya yang juga rekan kerja Alya.
"Siap bos." Putri menggandeng lengan Alya dan membawanya masuk ke ruang karyawan.
---- BWY ----
Alya duduk bersandar di sofa ruang karyawan. Dia memejamkan matanya sejenak. Bayangan kejadian yang baru saja dialaminya terngiang jelas di benaknya. Dia benar-benar takut. Bagaimana bisa dia mengalami hal mengerikan seperti itu? Sepanjang dia bekerja di sini belum pernah ada seorangpun yang menggodanya hingga seperti itu.
Ditambah lagi kejadian Erosh berkelahi dengan seseorang yang mengganggunya tadi dan Alya dengar bernama Alex. Sungguh mengerikan! Dia tidak menyangka Erosh akan memukuli Alex dengan sangat kasar. Erosh benar-benar terlihat menakutkan seperti Alex adalah mangsanya yang sedang dia incar.
Bahkan Alya sampai merinding hanya dengan mengingat bagaimana Erosh memukulinya, tangannyapun masih gemetaran hingga sekarang. Begitukah sifat Erosh sesungguhnya? Apakah dia sekejam itu? Apakah dia benar-benar seseorang yang suka memukuli orang lain seperti itu? Pikiran Alya campur aduk, dia tidak sanggup membayangkannya saat ini.
"Lo baik-baik aja?" Sebuah suara muncul mengagetkan Alya.
Kedua bola mata Alya mengerjap berkali-kali, tiba-tiba Erosh muncul dari balik pintu dan mendekat padanya.
"Lo?" Alya terkejut. "Lo ngapain di sini?" Tanya Alya kemudian beranjak dari duduknya. Dia menatap Erosh dengan sedikit ketakutan. Bagaimana dia bisa masuk ke klub lagi dan berada di ruang karyawan?
"Gue mau mastiin kalo lo baik-baik aja." Jawab Erosh, dia mendekat ke arah Alya berdiri.
Alya melangkah mundur. "Lo nggak perlu tau!"
"Gue takut lo kenapa-kenapa."
"Mendingan lo pergi!" Usir Alya.
Erosh menatap Alya dengan wajah khawatir. Di sudut bibirnya ada luka kecil bekas perkelahiannya dengan Alex. "Gue cuma pengen tau keadaan lo."
"Gue bilang lo nggak perlu tahu."
Erosh terdiam dan menghela nafas. "Mungkin lo masih syok, tapi gue harap lo baik-baik aja."
"Apa peduli lo? Tolong pergi sekarang juga atau gue teriak." Ancam Alya walaupun dia tahu, Erosh tidak akan mungkin macam-macam dengannya. Dia hanya masih merasa takut dengan semua hal yang menimpanya baru saja.
Erosh mengangkat kedua telapak tangannya, dia tidak berani melawan Alya karena jika gadis itu berteriak mungkin dia bisa terkena tuduhan macam-macam. "Oke, gue pergi. Tapi gue bener-bener cuma pengen tau keadaan lo."
"Gue bilang lo nggak perlu tahu!" Jawab Alya cepat.
Erosh mengangguk dengan senyuman datar di wajahnya. Dia bersiap memutar balik badannya.
"Dan satu lagi, tolong jauhi gue dan jangan pernah muncul di hadapan gue lagi." Pinta Alya tiba-tiba.
Erosh terpaku ditempatnya kemudian menatap Alya dengan ekspresi tak terbaca.
"Gue nggak mau kena masalah lagi." Ucap Alya dengan suara sedikit parau. "Gue mohon jauhi gue mulai sekarang." Bahkan kini kedua matanya memerah dengan air mata terbendung di sudut matanya dan hampir tumpah.
Erosh tahu saat ini pasti Alya masih syok, namun dia benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan Alya sampai dia sepertinya begitu membencinya bahkan setelah dua kali dia menolongnya. "Oke, kalo itu mau lo. Gue pergi." Kata Erosh kemudian.
Alya diam tak menanggapi.
"Tapi kalo alasan lo karena lo takut gue akan membongkar rahasia lo, lo salah besar."
Alya menghela nafas. Mengulum bibirnya dan masih berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh. "Gue benci sama lo, itu alasan gue."
Erosh menarik sudut bibirnya sedikit dan menyunggingkan senyum miringnya. Dia tidak tahu apa alasan Alya membencinya. Tapi akhirnya Erosh memustukan untuk berbalik badan lalu pergi meninggalkan Alya tanpa berkata apapun. Baginya kata benci dari Alya sudah cukup membuatnya terusir dari tempat itu.
Alya menatap pintu ruang karyawan yang kembali tertutup dan sosok cowok penolongnya itu sudah menghilang dari pandangannya. Gue benci Erosh? Tanya Alya pada hatinya sendiri.
Alya tidak tau kenapa dia membencinya. Dia bahkan belum mengenalnya. Tapi Alya merasa dia adalah orang yang mengerikan melihat dari teman-temannya termasuk Mega cs, perkelahiannya dengan orang-orang itu juga cukup membuatnya berpikir bahwa dia seperti orang yang sudah biasa bersikap kasar, dan mobil itu, mobil sporty yang sempat hampir menabraknya serta kebiasaannya di sini, dia terlihat seperti orang kaya urakan yang suka menghambur-hamburkan uang dan entahlah Alya merasa memang sudah tepat jika harus membencinya. Dan masalah ini sudah cukup baginya, dia tidak mau menambah masalah lagi hanya karena harus berurusan lagi dengan Erosh.
---- BWY ----