
HAPPY READING
AUTHOR BY AXRANS
********
Mega menuruni tangga dengan gusar menuju lantai bawah melewati ruang makan, bahkan tanpa memperhatikan jika Elena tengah duduk menantinya sejak tadi. Atau mungkin Mega memang sedang tidak ingin duduk di sana bersama Mamanya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Elena. "Nggak sarapan dulu?"
Mega menghentikan langkahnya. "Mama nggak lihat Mega pake seragam sekolah gini?" Ucapnya tanpa berniat menatap wajah Elena, dia masih kesal karena Elena memarahinya beberapa waktu yang lalu saat dia pulang dengan keadaan mabuk berat.
"Mama lihat."
"Terus kenapa nanya, lagian pagi-pagi gini emangnya mau pergi kemana kalo nggak ke sekolah?!"
Elena beranjak menghampiri putri semata wayangnya itu. "Tapi kemarin kamu nggak ada di sekolah, Mama hanya ingin memastikan kali ini kamu berangkat ke sekolah."
Mega membuang nafas kasar. Siapa suruh semua orang membuatnya kesal kemarin. Dia kehilangan mood untuk melakukan apapun, termasuk pergi ke sekolah.
"Sejak kapan kamu suka membolos?"
"Mama kenapa sih? Kayaknya dari kemarin ngajakin Mega ribut terus?!"
"Mama nggak ngajakin kamu ribut, Mama hanya ingin meluruskan jika sikap kamu masih melenceng."
"Sikap apa maksudnya?"
"Mega," Elena menatap Mega yang masih membuang muka darinya. "Mama hanya ingin kamu bisa bersikap lebih baik lagi."
"Jadi menurut Mama selama ini sikap Mega buruk?"
"Bukan gitu sayang."
"Ah, udahlah, nggak penting! Mega lagi buru-buru." Mega hendak melangkah namun Elena menahannya.
"Mega, Mama nggak mau kamu menyakiti orang lain."
Kali ini Mega mengalihkan pandangannya pada Elena dengan tajam. "Maksud Mama apa?"
"Mama sudah tahu semuanya."
Mega terdiam, dia sudah tahu jika Mamanya telah mengorek informasi dari Irin dan Sasa. Mereka sudah menceritakan semuanya, termasuk peringatan Mamanya kepada kedua sahabatnya untuk tidak lagi membantunya berurusan dengan Alya.
"Mungkin ini semua salah Mama karena terlalu memanjakan kamu, memberi apapun yang kamu inginkan. Mama sama sekali tidak berpikir jika perlakuan Mama akan membuat kamu seobsesi ini."
"Ini bukan obsesi, Mega memang menyukai Erosh. Dan Mama nggak tahu apa-apa soal cinta!"
"Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti soal cinta Mega."
"Mama pikir Mama tahu soal cinta?" Mega balik menyerang Elena. "Papa aja nggak pernah cinta sama Mama kan?"
"Mega!" Hardik Elena, dia tidak menyangka jika putrinya bisa mengatakan hal itu padanya. Rasanya bahkan lebih sakit dibandingkan kenyataan yang harus di terimanya selama ini.
"Kenapa? Mega bener kan?"
"Kamu tidak berhak ngomong seperti itu!"
Mega menyeringai. "Mama juga nggak berhak ngomong seperti tadi sama Mega!"
"Kamu harus tahu Mega, jika kamu menyakiti orang lain kamu yang akan menerima sakitnya suatu saat nanti."
"Mega nggak akan lemah seperti Mama, Mega akan dapatkan apa yang Mega inginkan tanpa merasa sakit!"
"Bukan seperti itu caranya, Mama nggak pernah mengajari kamu untuk berlaku seperti itu."
"Mega nggak peduli!" Ucapnya acuh. "Yang Mega tahu, apapun yang Mega mau pasti bisa Mega dapatkan!" Kemudian dia melanjutkan langkahnya.
"Mega tunggu!" Sergah Elena. "Mama belum selesai bicara." Dia berusaha untuk menggapai Mega yang sudah terlanjur menjauh.
Mega tidak menggubris, dia bahkan melenggang pergi sekalipun Elena menahannya.
"Mega tunggu! Mama peringatkan kalo kamu tidak boleh bertindak nekat!" Teriak Elena mengejar langkah Mega.
Mega mempercepat langkahnya menuju halaman depan dan memasuki mobilnya, menutup pintu dengan membantingnya keras dan bergegas melaju.
"Mega tunggu!" Panggil Elena. Akhirnya dia hanya bisa menghela nafas panjang mendapati Mega sudah melaju dengan mobilnya tanpa mempedulikannya. Dia benar-benar khawatir saat ini.
Mega adalah tipe gadis nekat yang selalu berusaha mendapatkan apapun yang dia inginkan. Elena takut anaknya itu akan mengambil langkah yang salah. Dia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan apapun yang akan Mega lakukan jika itu bisa membahayakannya. Elena tidak bisa kehilangan anak perempuan satu-satunya yang sangat dia cintai.
ㅡBWY ㅡ
"Bunda!"
Nia menoleh, menghentikan kegiatannya yang tengah menyiram bunga di teras rumahnya. Alya sudah berdiri di hadapannya dengan piyama yang sejak semalam dikenakannya. "Kamu sudah bangun Al?"
"Kok Bunda nggak bangunin Alya?" Alya balik bertanya.
Nia sedikit terheran, "Memangnya kamu mau pergi kemana? Bunda pikir karena kamu masih dihukum kamu nggak akan pergi kemana-mana."
"Papa udah berangkat?" Alya mengecilkan volume suaranya.
"Udah, kamu nggak usah khawatir."
"Lho..."
"Papa ada meeting dengan klien, makanya berangkat pagi-pagi sekali." Sela Nia. "Dan karena tadi Bunda lihat kamu tidurnya pules sekali, Bunda nggak tega mau bangunin kamu."
"Tapi Papa nggak curiga kan?"
Alya menghela nafas lega. "Syukur deh kalo gitu."
Nia terkekeh melihat tingkah Alya, "Hari ini kamu bisa istirahat di rumah, mumpung Papa lagi sibuk dengan kerjaannya."
"Hari ini Alya mau ke rumah Mira."
"Lho, kemarin bukannya udah ke sana?"
Alya tersipu mendengar pertanyaan Nia. Ya, seharusnya kemarin dia ada di rumah Mira tapi nyatanya tidak. Dan jangan salahkan Alya kalau Mira mengamuk gara-gara hal ini. Salahkan saja Erosh yang membuatnya jadi lupa waktu. Dia terlalu lama mengajaknya bernostalgia bahkan hingga membuat Alya merasa nyaman berlama-lama di dekatnya. Alya sampai tidak sadar jika dia ada janji untuk bertemu dengan Mira.
"Alya?" Nia melambaikan tangannya di depan Alya.
"Ah, iya Bunda?" Jawab Alya tergugup.
"Kamu kenapa? Kok malah senyum-senyum sendiri gitu?"
"Masak sih Bunda?" Alya mendadak salah tingkah.
"Kamu nggak apa-apa kan?"
"Nggak kok!"
"Kamu nggak jadi ke rumah Mira kemarin?" Nia mengulang pertanyaannya tadi.
Alya meringis. "Belum jadi Bunda."
"Bunda pikir, kamu pulang agak telat karena habis ngerjain tugas di rumah Mira."
"Bunda duduk sini!" Alya menyeret lengan Nia pelan agar dia duduk di dekatnya. Ada sesuatu yang sangat ingin dia sampaikan padanya.
"Ada apa Al?"
"Um, kemarin Erosh ngajakin Alya ke makam orang tuanya."
"Oh ya?" Nia terkejut. "Berarti kemarin kalian ke tempat tinggal Bunda?"
"Tempat tinggal Bunda yang mana?" Alya balik bertanya agak bingung. Erosh tidak menceritakan bagian yang itu.
"Dulu Bunda tinggal di daerah itu, sama Erosh juga. Tapi nggak lama sih."
"Jadi Erosh pernah tinggal di situ juga Bunda?"
Nia mengangguk. "Pertama kali Bunda ketemu Erosh, dia tidak mau membaur dengan teman-teman di Panti. Makanya Bunda ajak dia tinggal di rumah Bunda."
"Kok Erosh nggak bilang ya?" Gumam Alya.
"Bunda ingat, waktu itu dia pendiam sekali. Bunda sampai takut kalo dia mengalami depresi atas kematian orang tuanya. Tapi lama-kelamaan, dia jadi pemberani. Apalagi waktu keadaan emosionalnya sudah membaik, dia bersedia tinggal di Panti bersama teman-temannya."
Alya mendengarkan cerita Nia dengan seksama, membuatnya jadi merasa terharu dan semakin mengagumi sosok Erosh.
"Dan kamu tahu?"
Alya menautkan alisnya menatap Nia.
"Erosh berubah menjadi sangat pemberani semenjak dia bertemu kamu."
Pipi Alya mendadak bersemu. "Kenapa bisa gitu Bunda?"
"Bunda juga heran, tapi ada satu hal paling membuat Bunda agak kesal, dia sering berantem sama teman-temannya."
Alya terkikik mendengar penuturan Nia, "Tapi kan Erosh berantem karena membela Alya."
"Itu dia, Bunda apresiasi niat baiknya sih. Tapi Bunda jadi khawatir sekali, apalagi kalau wajahnya babak belur, yang Bunda nggak habis pikir, dia nggak pernah mengeluh sakit sekalipun. Kalaupun Bunda paksa ke rumah sakit dia tidak akan mau, katanya trauma."
"Dasar Erosh!" Alya jadi teringat saat beberapa waktu yang lalu dia babak belur dipukuli oleh orang tak dikenal. Kalo dia sampai merintih kesakitan seperti itu pasti rasa sakitnya sudah diluar batas.
"Dia sering bilang sama Bunda kalo dia nggak terima ada anak-anak nakal gangguin kamu. Ah, dan kamu tahu nggak?"
"Apa Bunda?" Tanya Alya dibuat penasaran.
"Dia manggil kamu putri cantik!"
"Putri cantik???" Alya membulatkan mulutnya tak percaya. Cowok seperti Erosh? Apa benar dulu Erosh menyebut dirinya seperti itu?
Nia tersenyum menggangguk. "Bunda juga nggak tahu dia bisa punya pemikiran seperti itu dari mana? Yang jelas, dia ingin selalu nglindungin kamu. Itulah kenapa Bunda manggil dia Raja, karena dia paling pemberani diantara teman-teman yang lainnya."
Sekarang sudah lebih jelas bagi Alya. Dia memang tidak salah jika mengijinkan Erosh untuk melindunginya. Alya tahu, Erosh benar-benar tulus bahkan niatnya tidak berubah sekalipun sejak dulu.
"Lalu, apa tanggapan kamu soal Erosh sekarang?" Tanya Nia membuat Alya gugup kehilangan kata-katanya.
"Eh, tanggapan apa maksud Bunda?"
Nia terkekeh pelan, "Bunda lihat pipi kamu bersemu merah!"
"Ih, Bunda apa'an sih!" Elak Alya malu-malu.
"Lho, Bunda kan bicara apa adanya. Lagi pula Bunda cuma nanya pendapat kamu."
"Apa'an sih Bunda! Udah ah, Alya mau mandi! Mau ke rumah Mira!" Alya segera melenggang pergi sebelum pipinya berubah merah tomat karena perkataan Bundanya.
Nia hanya geleng-geleng kepala mendapati tingkah anaknya. Dia tahu jika Alya sudah mulai nyaman dengan Erosh, sikapnya sudah berubah, tidak seperti awal mereka bertemu. Kebencian yang Nia lihat di kedua mata Alya sekarang sudah memudar.
ㅡBWY ㅡ
**********
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT DAN VOTE BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BUAT UODATE SETIAP HARI ♥️