
HAPPY READING
AUTHOR BY AXRANS
************
Alya menutup telponnya setelah membawa kabar buruk sekaligus bahagia pada Alfian. Kabar buruknya adalah Nia sempat mengalami kejang beberapa saat hingga akhirnya tim dokter berhasil menangani kondisinya, dan kabar baiknya adalah Nia sudah melewati masa kritisnya sehingga dia sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Dokter bilang hanya tinggal menunggu waktu sampai Nia terbangun.
Alya sangat bahagia hingga menitikkan air matanya, akhirnya harapannya agar Nia bisa sadar kembali terkabul. Hanya tinggal menunggu waktu sampai Nia membuka mata dan Alya bisa menyapanya, mengajaknya berbicara dan mencurahkan segala hal yang ingin diceritakannya. Alya begitu merindukannya.
Lewat telponnya tadi Alfian menyampaikan bahwa dia belum bisa datang ke rumah sakit. Alfian bilang ada sesuatu yang sangat penting dan harus diselesaikan saat itu juga. Alya paham karena Papanya kini menjabat sebagai wakil direktur dan menangani semua urusan kantor. Sementara Erosh sudah sekitar tiga puluh menit yang lalu dalam perjalanan menuju ke rumah sakit setelah Alya mengabarinya.
Alya duduk di sebelah Nia yang masih memejamkan matanya. Rasanya dia sudah tidak sabar menunggu Bundanya terbangun.
"Al..." Erosh masuk ke dalam ruangan dan sedikit mengejutkan Alya, akhirnya dia sudah tiba.
Alya tersenyum gembira menyambutnya.
"Gimana Bunda?"
"Dokter bilang tinggal nunggu Bunda siuman."
"Syukurlah kalo gitu." Erosh mendekat di sebelahnya. "Lo gimana?"
Alya menoleh. "Gue?"
"Lo udah nggak ngrasa pusing lagi kan?"
"Nggak, gue udah ngrasa enakan."
Erosh tersenyum menatap Alya kemudian membelai lembut rambutnya. Dia merasa lega.
"Kapan ya Bunda bangun?" Tanya Alya merasa tak sabar.
"Nggak akan lama, gue yakin. Bunda pasti udah kangen sama anak-anaknya."
"Sebenarnya gue takut sama kondisi Bunda setelah sadar nanti."
"Kenapa?" Erosh mengerutkan keningnya.
"Dokter bilang Bunda mengalami kelumpuhan di bagian kakinya. Gimana perasaan Bunda nanti?"
"Bunda adalah orang yang paling tegar yang pernah gue kenal. Dia tidak akan menyerah gitu aja. Gue yakin." Jawab Erosh beralih menatap Nia yang masih terbaring. "Lagi pula Dokter bilang ini bukan kelumpuhan permanen, Bunda pasti bisa sembuh, kita doain aja."
Alya menghela nafas panjang, dalam hatinya dia juga meyakininya, berharap Nia akan tegar menghadapi cobaan yang menimpanya. Tapi saat ini, yang diinginkannya adalah Nia segera membuka matanya. Bahkan Alya terus menggenggam tangan Nia, dia ingin Bundanya tidak merasa sendirian saat terbangun nanti. Alya ingin menjadi seseorang yang dilihatnya pertama kali.
Satu jam berlalu, Erosh tertidur di atas sofa sementara Alya masih setia menemani Nia dengan posisi seperti sebelumnya. Hanya saja kedua matanya kini juga ikut terpejam. Setelah mengobrol banyak tadi, nampaknya mereka berdua kelelahan. Apalagi Erosh yang beberapa hari ini harus bolak-balik mengurus masalah kantor yang memerlukan penanganannya.
Jemari Nia menandakan adanya pergerakan sedikit demi sedikit. Kemudian kedua matanya perlahan terbuka. Yang pertama dilihat Nia adalah langit-langit berwarna putih cerah yang terasa asing baginya. Dia merasa seluruh badannya sulit digerakkan. Bahkan untuk menolehpun harus berusaha dengan sekuat tenaga.
Dilihatnya sebuah infus yang digantung di samping kirinya. Kemudian dia menelusur ke seluruh ruangan dan melihat seorang laki-laki tertidur di atas sofa. Nia tersenyum menatapnya. Setelah itu dia baru tersadar jika sejak tadi di sampingnya juga ada seorang perempuan yang tertidur sambil menggenggam tangannya.
Perlahan, Nia berusaha menggapai puncak kepala Alya dan mengusapnya lembut dengan tangan satunya yang masih bebas. Nia merasa sangat bahagia bisa menatapnya lagi setelah mengalami mimpi buruk yang amat panjang. Semua yang ada di mimpinya terasa sangat nyata baginya. Dunia yang asing, sunyi, dan terasa hampa. Dia bersyukur bisa membuka matanya kembali setelah suara tangisan memilukan yang dia dengar berulang kali menuntunnya pergi dari dunia asing itu. Yah, itu suara Alya.
Nia menghentikan usapan pada kepala Alya, sepertinya Alya terbangun karenanya.
Alya segera mendongakkan kepalanya begitu dia merasakan sesuatu memyentuh kepalanya. Melihat sosok yang ada di sampingnya tersenyum, air mata Alya justru mengalir begitu saja.
"Bunda..." Alya menghambur memeluknya, mencurahkan semua kesedihan dan kekhawatirannya ke pelukan Nia.
Nia mengusap punggung Alya lembut dengan air mata yang ikut mengalir di pipinya. Rasa haru saat ini menyelimutinya.
"Bunda, ada yang sakit? Alya panggil dokter ya?" Ucapnya setelah melepas pelukannya yang berlangsung cukup lama.
Nia menggeleng. "Bunda nggak apa-apa. Kamu di sini saja temani Bunda."
"Beneran Bunda nggak apa-apa? Tapi Bunda sudah berhari-hari koma."
"Bunda baik-baik aja Al." Ucap Nia sembari memamerkan senyumnya dengan wajah yang masih agak pucat.
"Alya kangen Bunda."
"Bunda juga sangat kangen kamu, kangen Papa, kangen Angga dan Anggi, kangen Erosh juga."
Alya jadi teringat Erosh yang tadi pamitan ingin istirahat sebentar. Dia menoleh ke belakang, menatap Erosh yang masih tertidur. "Sebentar ya Bunda, Alya bangunin Erosh dulu."
"Nggak usah Al, biarkan dia istirahat. Bunda sudah senang bisa melihat kalian semua baik-baik saja."
Alya terisak lagi dan menghambur memeluk Nia kembali, rasanya tidak bisa dijelaskan lagi bahwa dia begitu bersyukur Nia bisa kembali lagi ke pelukannya. "Maafin Alya ya Bun, Alya nggak akan biarin Bunda seperti ini lagi. Alya janji."
"Sudah Al, jangan bicara seperti itu ya?" Nia hanya bisa tersenyum bahagia mendengar penuturan Alya. Sekarang keadaan sudah benar-benar berubah, dia bahkan bisa memeluk Alya seperti yang selama ini dia impikan.
ㅡBWY ㅡ
Alfian buru-buru memasuki gedung rumah sakit. Mendengar kabar yang paling dinantinya membuatnya tidak sabar lagi. Dia ingin segera bertemu istrinya dan memberikan pelukan hangat untuknya.
Setelah keluar dari lift yang mengantarkannya ke lantai tiga dia bergegas mencari ruangan tempat Nia dirawat. Alfian berjalan celingukan menyusuri lorong utama.
Beberapa saat Alfian melangkah, dia dengan tidak sengaja menabrak seseorang yang keluar dari sebuah ruangan. "Ma'af, saya tidak sengaja." Tutur Alfian.
"Saya juga minta ma..." Suara seorang perempuan yang bertabrakan dengan Alfian tercekat. Dia dan Alfian saling menatap lama.
"Yessi?" Panggil Alfian lirih dengan nada tak percaya.
Perempuan yang dipanggil Yessi ini hanya terdiam.
"Kamu di sini?" Tanya Alfian. Kedua matanya menatap Yessi dengan raut wajah yang berubah tak tertebak. Entah apa yang Alfian rasakan, hatinya bahkan hampa saat bertemu dengannya kali ini.
Yessi tersenyum mengangguk kemudian menunduk canggung.
"Apa kabar?" Alfian bertanya tanpa merasa terbebani sedikitpun. Dia pikir mungkin dia akan sangat terluka saat bertemu dengannya, sama seperti ketika dia hanya memikirkannya saja. Tapi pada kenyataannya, bahkan dia bisa dengan mudah menghadapinya. Hanya hatinya tidak bisa merasakan apapun, seperti mati rasa.
"Em... Aku baik."
"Sedang apa di sini?"
"Aku sedang..."
"Yessi," Seorang laki-laki yang terlihat seumuran dengan Alfian menghampiri mereka berdua.
Alfian hanya diam memperhatikannya, membuat Yessi nampak canggung. "Hanya kecapekan."
Laki-laki itu manggut-manggut kemudian beralih menatap Alfian.
"Mas, kenalin ini..."
"Saya Alfian." Ucap Alfian dengan segera.
"Teman Yessi?"
Alfian mengangguk.
"Saya Reza." Balasnya. "Em, baiklah, kalo begitu silahkan dilanjut dulu ngobrolnya."
"Tidak usah. Saya..."
"Aku ingin bicara sebentar Mas Fian." Potong Yessi.
Alfian terdiam.
"Baiklah, kalo begitu saya permisi dulu." Ucap laki-laki bernama Reza itu. "Nanti kabari aku." Reza menatap Yessi dan Alfian sesaat kemudian melangkah pergi.
ㅡBWY ㅡ
Alfian dan Yessi memutuskan untuk duduk berhadapan di taman rumah sakit. Mereka berdua terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Yessi memulai berbicara lebih dulu.
"Tadi itu Reza, anak teman Papa. Sekarang aku bekerja di kantornya."
Alfian mengangguk dan tersenyum datar. Baginya informasi yang diutarakan Yessi sama sekali tidak penting untuknya. Dia tidak peduli siapa laki-laki tadi, bahkan dia tidak tahu dengan siapa saja Yessi berada selama bertahun-tahun ini. "Kamu tidak ingin menanyakan kabar anak-anak?"
Yessi terdiam.
"Bagaimanapun juga mereka adalah darah daging kamu, kamu yang telah melahirkan mereka."
"Aku merasa tidak pantas."
"Kenapa?"
Yessi merasa malu untuk mengatakannya walaupun memang inilah kenyataannya. "Selama ini aku tidak pernah merawatnya, bahkan meninggalkan mereka. Aku terlalu jahat."
"Itu masa lalu." Jawab Alfian singkat namun mampu membuat hati Yessi tersentuh sekaligus sakit.
"Aku tahu, mungkin aku sudah kehilangan hakku untuk sekedar menanyakan tentang mereka."
"Kamu tetaplah Ibu kandung mereka."
Yessi terdiam lagi, perasaan yang sejak dulu selalu ditahannya kini meronta dan merusak pertahanannya. Sebenarnya dia sangat merindukan anak-anaknya, bahkan merasa bersalah atas segala yang telah dia lakukan pada mereka. Bahkan terkadang tubuhnya tidak bisa berbohong bahwa dia merasakan sakit yang aneh, seperti terkoneksi pada ketiga anaknya. Kenyataan bahwa dia memanglah Ibu yang melahirkan mereka memang tidak bisa dipungkiri lagi.
"Mereka sudah besar sekarang." Ucap Alfian memecah keheningan. "Kamu tidak ingin menemui mereka?"
"Apa aku masih pantas bertemu mereka?"
"Sudahlah, lupakan semua yang telah berlalu. Kamu bisa memulai sesuatu yang lebih baik."
Yessi menghela nafas panjang. Sayangnya dia tidak bisa melupakan masa lalunya, bahkan dia selalu dibayangi perasaan bersalah setiap saat. Tapi mungkin Alfian tidak merasa demikian. "Kamu sudah menikah lagi?" Tanya Yessi memberanikan diri.
Alfian mengangguk pelan. "Kamu pasti masih ingat Nia bukan?"
"Jadi kamu menikah dengan Nia?" Tanya Yessi memastikan. Sebenarnya dia sudah tahu tentang pernikahan Alfian dengan Nia, wanita yang selalu Alfian tolong sebagai pengurus panti dimana Alfian dulu sering memberikan sumbangan di sana. Yessi sudah tahu sejak bertahun-tahun yang lalu saat dirinya merasa menyesal dengan keputusan egoisnya namun sayang semuanya sudah terlambat.
"Ya, banyak alasan yang kupertimbangkan untuk menikahinya, terutama anak-anak."
"Aku tahu mas Fian."
"Kamu sedang apa di sini?" Tanya Alfian mengalihkan pembicaraan.
"Aku sedang check-up."
Alfian manggut-manggut.
"Kalian masih tinggal di sana?"
"Ya." Jawab Alfian. "Sebenarnya rumah itu sudah terlalu kecil untuk ditempati anak-anak yang sudah beranjak besar, tapi aku sedang memikirkannya untuk pindah. Kamu sendiri tinggal dimana sekarang?"
"Selama ini aku tinggal di Jakarta. Tapi beberapa hari ini aku sedang ada pekerjaan di sini." Jelas Yessi. "Siapa yang sakit?" Tanyanya.
Belum sempat Alfian menjawab Yessi menambahi lagi. "Alya sakit? Atau Angga Anggi?"
Alfian menggeleng. "Nia mengalami kecelakaan. Sudah beberapa hari ini dia kritis tapi Alya tadi mengabari kalo Nia sudah sadar kembali."
"Syukurlah kalo begitu, semoga keadaannya segera membaik."
"Terima kasih Yes."
Suasana hening kembali, mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. "Em, apa masih ada yang dibicarakan? Sepertinya aku harus segera pergi." Ucap Alfian sedikit merasa canggung.
"Ah, tidak ada mas Fian. Kamu bisa pergi, kamu pasti sedang sibuk." Yessi tidak bisa menahan Alfian lagi, dia sadar betul bahwa Alfian yang sekarang bukanlah Alfiannya yang dulu lagi. Dia bukanlah prioritas Alfian lagi, dan itu adalah kesalahan terbesar yang dia ciptakan sendiri.
"Baiklah kalo begitu aku permisi Yes."
Yessi mengangguk, "Aku minta ma'af." Ucapnya sebelum Alfian meninggalkannya.
"Untuk apa?"
"Aku tahu ini sudah terlambat, tapi aku ingin minta maaf untuk semua yang sudah aku lakukan."
"Aku sudah memaafkan dan melupakan semuanya Yes. Kita bisa memulai kehidupan kita masing-masing dengan baik."
"Terima kasih." Yessi tersenyum walaupun hatinya merasa sakit mendengar penuturan Alfian.
Alfian membalas senyumnya dan sebelum benar benar beranjak pergi dia mengatakan sesuatu yang membuat Yessi tidak bisa berhenti memikirkannya. "Temuilah anak-anak, sebelum kamu akan menyesalinya."
ㅡBWY ㅡ
*****************
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, DAN VOTE BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BUAT UPDATE SETIAP HARI ❤️