I WANT TO BE WITH YOU

I WANT TO BE WITH YOU
CH 1 - AKU YANG SEKARANG



*******


Ana dan Nia masih tertidur didalam ruangan khusus miliknya dan milik Nia, ya lebih dekatnya mereka berdua menginap di markas.


Drrrtttt drrrttt drrrttt


"Siapa sih?!" Omel Ana sambil menggucek kedua matanya dan mengambil hpnya dan menscroll ke atas.


"Halo?"


"Selamat pagi sayang!"


"Hmm, ngapain telfon?"


"Gue kangen aja hehehe, jangan lupa loh kita mau nikah."


"Hmm iyaa, gue mau tidur lagi."


"Hust perawan kok bangun siang? Ga boleh ah"


"Gue capek, habis ba-"


"Ba? Maksud lo?"


"Eee, maksud gue bangun malem."


"Oh, pantesan masih ngantuk."


"Shit, hampir aja keceplosan!" Batin Ana.


"Udahan ya? Gue masih ngantuk."


"Padahal gue masih kangen loh,"


"Lo setiap detik, menit, jam, hari, bulan, tahun selalu kangen!"


"Gak apa apa dong orang calon istri sendiri, emang lo mau gue sama Teresa hah?"


"Yaudah, sana sama Teresa!"


"Lah, ngambek dong sayangnya gue."


"Kata siapa?"


"Kata gue lah sayangg"


"UDAHAN YA FIAN BEDESNYA GUE! GUE MAU TIDUR LAGI BAY!"


"Eh ja-" Ana memutuskan telfonnya lalu terkekeh pelan, sebernarnya dia gak ngantuk tapi dia sengaja bohong ke Fian.


"Woi kebo boker, bangun lo!" Ucap Ana sambil menggoyang goyang tubuh Nia dan Nia langsung menggeliat kemudian bangun.


"Kenapa?" Tanya Nia sambil menggucek kedua mata nya.


"Udah pagi, lo mending mandi terus kalo udah ayo kita pulang." Jawab Ana menyuruh Nia dan mengganguk kemudian bangkit menuju kamar mandi.


Ana duduk disofa sambil melihat tv dan Nia keluar dari kamar mandi dengan kaos hitam polos dengan hem yang dia ikat dipinggang dan celana joker pants hitam.


"Ayo, gue udah selesai." Ucap Nia sambil menyisir rambutnya.


"Hm," Jawab Ana lalu berdiri dan keluar dari markas diikuti Nia dibelakangnya.


******


Ana sudah sampai perkarangan rumahnya diikuti Nia dibelakangnya dan mereka berdua memarkirkan sepeda motornya digarasi kemudian masuk ke dalam rumahnya.


"Ma, kami pulang." Ucap Ana sambil berjalan santai.


"Hey, ayo sini sini nak." Jawab Riana sambil menepuk sofa disebelahnya.


"Iya ma," Ana dan Nia berjalan menuju sofa lalu duduk di dekat mama nya.


"Oiya Silvia, kamu besok gak boleh kemana mana harus dirumah dan kamu gak boleh capek" Ucap Riana.


Ana menaikkan satu alisnya "Kenapa ma emangnya?"


Riana menghela nafas "Silvia, kamu lupa kalau rabu kamu mau nikah sama Zidan hm?" Jawab Riana sambil tersenyum.


"Oh iya, Silvia lupa."


"Yaudah, kalian berdua masuk ke kamar gih, mama mau masak dulu." Ucap Riana sambil mengelus kedua kepala anaknya dan si kembar pun mengganguk kemudian menaiki tangga dan masuk ke kamar mereka masing-masing.


Ana merebahkan tubuhnya dikasur king sizenya dan melihat ke langit tembok.


Ting!


"Siapa ini?" Ana memincingkan mata nya karena nomer yang tidak dia kenal.


Jauhin fian atau lo gak bakalan tenang!


Siapa lo?


Bocil gak perlu tau!


Sok misterius lo!


"Ck, orang sok misterius." Ana memutar bola mata nya malas, masih ada aja orang ngancem pake sok sok an gak dikenal juga, Ana paling males kalo ada orang gitu.


"Silvia, dibawah ada temen mu." Ucap Riana sambil mengetuk pintu kamar Ana.


"Suruh masuk aja ma,"


"HAE ANA NYA AKUH YANG MIRIP KULKAS 5 PINTU!" Teriak Karina dan diberi tonyoran oleh Rena.


"Bego, ini rumah orang jangan teriak teriak." Ujar Rena sambil duduk di pinggir kasur Ana.


"Iya iya deh!" Jawab Karina sambil memutar kedua mata nya malas.


"Oiya na lo kan mau nikah, kok malah nyantai? Emang gak nyiapin?" Tanya Tania.


Hm, udah disiapin jauh jauh hari."


"Hiya yang mau jadi mamud." Celetuk Karina dan semua bingung dengan ucapan Karina.


"Haih, maksud gue mamud itu mama muda." Ana melototkan matanya lalu menimpuk Karina dengan guling miliknya.


"Pala lo mamud!"


"Oiya na gue mau bilang sesuatu," Ana menoleh dan menaikkan satu alisnya yang menandakan 'Apa?'


"Si cabe merah mau ngerebut Fian dari lo na." Ucap Rena.


"Valen?" Rena mengganguk.


"Hmm, lumayan ada mainan baru setelah teresa" Batin Ana sambil tersenyum miring.


"Lo gak takut si Fian nyantol ke cabe merah?" Tanya Tania dan Ana menggeleng.


"Wih, si anjir gak takut beneran." Sahut Karina sambil bertepuk tangan.


"Kenapa harus takut sama cabe? Kan Fian bakalan jadi milik Ana sepenuhnya, begitu juga Ana." Bukan Ana yang bicara tapi Nia dari depan pintu kamar.


"Lo bukannya tadi tidur?" Tanya Ana sambil melihat adiknya yang bersender di pintu.


"Iya sih, tapi gue gak ngantuk lagi." Jawab Nia santai.


"Sini aja, Ya." Ujar Rena sambil menepuk kasur Ana dan Nia pun mengganguk kemudian duduk di kasur Ana.


"Na, jangan lupa bikin adek kecil yhaaa?" Ucap Karina menggoda Ana dan Ana melotot kan matanya.


"Iya tuh bener, jangan lupa bikin Fian jr" Sahut Tania sambil terkekeh pelan.


"Bacot lo pada!" Ketus Ana.


*******


ANA POV


Gue sebenarnya males bangun pagi yah lebih deketnya gue terpaksa bangun pagi.


Gue udah make seragam sekolah dan seperti biasa, seragamnya gue keluarin gak pernah gue masukin.


Setelah sarapan, gue pun langsung menelfon Fian soalnya dia gak dateng dateng. Biasanya dia jemputnya jam 06.20, tapi gak tau kenapa dia belum dateng dan sialnya gak diangkat sama Fian.


"Mana sih tu anak? Gak biasanya dateng telat." Batin gue.


"Ngapain belum berangkat?" Tanya adik gue-Nia.


"Nungguin Fian," Jawab gue malas sambil tolah toleh ke kanan dan ke kiri.


"Mending lo berangkat dulu aja deh, daripada telat." Ujar Nia yang akan ke garasi ngambil motornya.


Gue pun gak pake basa basi, langsung aja menyambar kunci mobil yang emang sengaja gue taruh di meja tv dan gue langsung narik Nia masuk ke dalam mobil.


Gue langsung berangkat sama Nia naik mobil gue. Bodoh amat kalo Fian nungguin dirumah gue, biarin salah nya dia sendiri jemputnya telat.


Gue udah masuk ke dalam sekolah dan gue pun memarkirkan mobil gue tapi tunggu, gue sangat familiar dengan motor yang ada disamping mobil gue dan gue lihat lihat lagi ternyata itu motor milik Fian. Oh, ternyata tuh onta udah berangkat duluan, awas aja kalo gue ketemu sama tuh onta.


Gue dan Nia berjalan melewati koridor koridor yang rame, ya karena emang ini masih belum bel masuk.


Nah, pas gue ada dikoridor kelas IPA, gue ngelihat anak anak pada heboh ngegosip sambil lihatin dua orang yang lewat di koridor IPS, gue dan Nia awalnya yang gak kepo pun lama lama kepo juga dan akhirnya kita juga ngelihat kesana.


Saat gue ngelihat dua orang anak itu, gue kayaknya familiar sama cowoknya dan ternyata... Cowok itu Fian, dia lagi gandeng cewek dan parahnya lagi cewek yang digandeng Fian itu adalah Caroline-Musuh gue pas SMP.


Haha, si cantolan baju itu emang ganjen sih, gue akui dia cabe setelah Teresa dan Valen. Kenapa gue bilang dia cabe? Yah dulu dia berhasil membuat hubungan Danu dan Tania kandas.


AUTHOR POV


Ana gak peduli dengan apa yang dia lihat tadi, ya meskipun Ana cemburu tapi dia gak boleh curiga dulu sama Fian karena belum ada bukti kalo Fian punya cewek dibelakang.


Ana sekarang berada di rooftop, lebih tepatnya dia bolos. Dia ingin menghilangkan negative thinking nya, tak lupa juga dia mengajak ketiga sohibnya untuk bolos juga.


"Weh, anjir bagi jajan!" Ucap Karina sambil merebut jajan yang ada ditangan Rena.


"Males!" Jawab Rena lalu menyaut jajan nya lagi.


"Anjir lah pelit!"


"Bodo amat!"


"Gue gak yakin kalo hubungan gue bakalan berjalan dengan baik, pasti aja ada masalah yang muncul." Batin Ana sambil melihat langit yang mendung.


**********