I WANT TO BE WITH YOU

I WANT TO BE WITH YOU
CH 34 - TERKUAK



HAPPY READING


AUTHOR BY AXRANS


***********


Sejak bangun tidur tadi Alya lebih banyak menggeleng, termasuk saat Erosh memberikan obat yang harus Alya minum. Setelah melihat keadaan Nia kemarin, Alya merasa sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri. Apalagi ketika dokter memberi tahu yang sesungguhnya tentang keadaan Nia. Dia kritis, berada di suatu titik antara hidup dan mati.


Belum lagi kenyataan yang harus dia terima bahwa Bundanya akan mengalami kelumpuhan jika dia bisa melewati masa kritisnya. Membayangkannya saja Alya tidak sanggup, bagaimana perasaan Nia nanti saat mengetahui keadaan yang sebenarnya? Sanggupkah Bundanya menerima kenyataan pahit itu? Alya bahkan tak sanggup membayangkan perasaan Papanya yang pasti akan sangat terluka.


"Kalo nggak mau minum obat gimana mau sembuh Al?" Erosh masih memegang nampan kecil berisi obat yang harus Alya minum.


Alya tak menjawab, dia bahkan tak menatap Erosh. Erosh menghela nafas, kemudian meletakkan nampannya kembali di atas meja. "Gue tahu semua ini berat buat lo, buat gue juga Al, buat semuanya. Tapi..."


"Papa masih marah sama gue ya?"


Erosh mengerutkan keningnya. "Marah kenapa? Jadi lo berpikir Papa marah sama lo karena Bunda kecelakaan?" Tanya Erosh.


Alya terdiam, sejak kemarin dia memang belum melihat Papanya menemuinya dan bertanya tentang keadaannya. Mungkin dia lebih mengkhawatirkan keadaan istrinya.


"Bahkan kemarin Papa panik banget waktu tahu lo nggak sadarkan diri.


"Bukan karena mengkhawatirkan Bunda?"


"Al..."


Alya mengalihkan tatapannya pada Erosh. "Sebenarnya Papa udah tau kalo gue kerja di bar."


Erosh terkejut. "Papa tahu? Dari mana?"


Alya ragu ingin menjawab pertanyaan Erosh. Haruskah dia bilang pada Erosh bahwa Alex yang telah membeberkan rahasianya dan dialah akar dari permasalahan ini?


"Siapa yang bilang sama Papa? Apa Mega yang..."


"Alex." Potong Alya sebelum Erosh menuduh.


"Alex?!" Erosh lebih terkejut lagi. Bagaimana bisa Alex yang telah membocorkan rahasia Alya pada Papanya, bukankah Alex tidak ada hubungannya dengan Alya?


"Gue ketemu Alex di hari sebelum Bunda kecelakaan. Dia berniat nyulik gue tapi Papa menggagalkan rencananya."


Erosh merasa geram mendengarkan cerita Alya, laki-laki pengecut itu benar-benar tidak pernah jera mencari masalah. Haruskah dia memberinya pelajaran? Jika sampai hari itu Alex menculik Alya dan menyakitinya, mungkin Erosh tidak akan pernah memaafkannya.


"Dan saat itu pula Alex menceritakan semuanya sama Papa karena dia ngliat gue berseragam SMA." Lanjut Alya.


"Alex bener-bener keterlaluan, nggak bisa dibiarin!" Wajah Erosh menyiratkan kemarahan.


"Alya!!!" Pintu ruang inap Alya terbuka tiba-tiba.


"Lo nggak apa-apa kan? Lo baik-baik aja kan?" Suara cempreng itu menggema di dalam ruangan membuat Alya dan Erosh sontak mengerutkan wajah mereka bersamaan.


"Mir, gue nggak apa-apa." Jawab Alya. "Lo lebay banget sih!"


Mira tidak peduli, dia menghambur memeluk Alya tanpa mempedulikan Erosh yang ada di samping Alya. "Lo jahat banget sih, masuk rumah sakit nggak bilang-bilang! Gue panik Al!"


Alya terkekeh, kehadiran Mira sedikit membuat suasana hatinya lebih baik. "Gue nggak apa-apa Mir. Lo liat kan gue baik-baik aja?"


Mira melepaskan pelukannnya. "Baik gimana? Nih, dahi lo diperban gini!" Tunjukknya pada dahi Alya.


"Cuma luka kecil."


"Bodo amat! Mau luka kecil, luka gedhe, pokoknya lo sampai dirawat gini dan lo nggak ngasih tau gue!"


"Kan sekarang lo udah tahu."


Mira bersungut, "Setelah gue nelpon dan ngirimim lo pesan ratusan kali?"


"Iya, iya. Gue tahu gue salah. Udah dong marah-marahnya." Alya mencoba merayu sahabatnya. "Eh, kenalin, ini Erosh." Alya menatap ke arah lelaki yang begitu spesial di hatinya itu.


Mira tersadar kemudian, ternyata di sebelah Alya ada lelaki tampan yang sejak tadi bahkan sudah berada di sana. Mira sedikit malu. "Gue Mira, sahabatnya Alya." Ucapnya menyodorkan tangan.


Erosh menjabatnya. "Gue Erosh." Balasnya tersenyum.


Mira terkagum, Alya benar-benar bodoh jika dia sampai tidak bisa jatuh cinta dengan lelaki setampan Erosh yang wajahnya nyaris perfect,pikirnya. Alya mungkin mengidap sindrom jomblo akut jika sampai menyia-nyiakan Erosh. Apalagi yang kurang darinya, bahkan dia terlihat lembut dan baik hati.


"Mir!" Panggil Alya melihat Mira terbengong.


"Ha?" Mira terkejut, untung saja dia sudah melepaskan jabatan tangan Erosh sejak tadi. "Kenapa Al?"


"Kok bengong sih?"


"Siapa bilang?" Elak Mira. "Eh, lo udah makan belum? Gue suapin ya?"


"Nggak ah, gue nggak laper!"


"Eng, Al, gue keluar sebentar ya." Sela Erosh.


Alya berganti menatapnya. "Kemana?"


"Ada urusan bentar, biar Mira nemenin lo di sini dulu."


"Iya, nggak apa-apa kok. Santai aja, Alya aman sama gue!" Kata Mira dengan sigap.


"Makasih Mir." Erosh tersenyum. "Jangan lupa minum obatnya." Perintah Erosh sambil mengusap kepala Alya pelan.


Alya hanya tersenyum datar.


"Gue pergi." Pamit Erosh kemudian melangkah meninggalkan ruangan.


"Erosh!" Panggil Alya sebelum Erosh menyentuh gagang pintu.


Erosh membalikkan tubuhnya.


"Lupain soal Alex tadi, gue nggak mau lo kenapa-kenapa."


"Gue tahu, jangan khawatir."


"Hati-hati." Ucap Alya kemudian disambut Erosh dengan anggukan kepalanya. Dia melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan.


Sementara itu, Mira hanya diam terbengong melihat dua insan yang entah sejak kapan berubah manis dan saling mengkhawatirkan. Apakah dia ketinggalan berita lagi? Sahabatnya itu benar-benar keterlaluan!


"Ada apa?" Tanya Alya melihat gelagat aneh dari raut wajah Mira.


"Jawab jujur! Lo pacaran sama Erosh kan?" Mira langsung menuding.


Kedua pipi Alya bersemu, "Siapa bilang?" Tanyanya gugup.


"Alya, lo jangan bohong!"


ㅡBWY ㅡ


Elena sedikit terheran dan juga gelisah mendapat laporan dari asisten rumah tangganya bahwa dia kedatangan tamu dari kepolisian. Apalagi polisi itu tidak datang sendirian melainkan bersama Erosh. Berbagai pertanyaan timbul di benaknya.


"Erosh," panggil Elena setelah dirinya tiba di ruang tamu. "Ada apa?"


Erosh menghampiri Elena bersama dua petugas kepolisian yang datang bersamanya.


"Selamat siang Bu." Sapa salah satu dari polisi itu.


"Siang Pak." Jawab Elena kemudian menatap Erosh seakan meminta penjelasan darinya. Dia sama sekali tidak tahu alasan kedatangan Erosh yang menurutnya terlalu ganjil ini.


"Maaf Tante, Erosh ke sini hanya untuk mengantarkan mereka." Jawab Erosh sopan.


"Ada apa ini sebenarnya Rosh?" Tanya Elena.


Erosh menatap dua orang polisi yang ada di sebelahnya, kemudian salah satunya menyerahkan sebuah amplop pada Elena.


"Kami dari pihak kepolisian akan melakukan penangkapan terhadap Saudari Megananda Wijaya atas kasus tabrak lari, ini surat tugas kami, mohon kerjasamanya."


Elena menerima amplop putih itu tak percaya. Apa dia tidak salah dengar? Apa ini hanya halusinasinya saja? Elena diam mematung.


"Tante..." Panggil Erosh.


"Ini bohong kan Rosh? Ini nggak benar kan? Mega nggak mungkin melakukan hal itu." Ucap Elena begitu tersadar.


"Maaf Tante, tapi Mega benar-benar melakukannya. Sekarang ini korbannya kritis di rumah sakit."


"Mega..." Bibir Elena bergetar. "Nggak mungkin." Firasat buruk yang menghampirinya sejak kemarin kini terbukti. Entah mengapa bahkan dia tidak bisa tidur nyenyak hingga bermimpi buruk mengenai putrinya. Lalu dimana sekarang Mega berada? Apakah alasan dia tidak kembali ke rumah karena dia melarikan diri?


"Tante, dimana Mega sekarang?" Tanya Erosh.


"Mega nggak ada di rumah Rosh."


"Tante nggak bohong?"


"Apa Tante terlihat berbohong? Walaupun dia anak Tante yang sangat Tante cintai, tapi Tante tetap akan menghukumnya jika dia bersalah."


"Bisakah kami melakukan penggeledahan?" Tanya petugas polisi itu meminta ijin.


"Sepertinya Mega memang tidak ada di rumah Pak." Jawab Erosh menyela. Dia tahu Elena tidak berbohong, dia sudah mengenalnya begitu baik.


"Baiklah, kami percaya. Tapi segera mungkin saat Saudari Megananda kembali ke rumah ini, dia harus menyerahkan diri. Kalau tidak, kami akan membawa paksa Saudari Megananda. Juga, dia telah ditetapkan sebagai DPO, jadi Saudari Megananda tidak bisa melarikan diri kemanapun."


Elena mengangguk pasrah mendengar penuturan polisi itu.


"Kami permisi, terima kasih atas kerjasamanya, selamat siang."


"Selamat siang Pak." Jawab Elena lemas.


Dua petugas polisi tadi berbalik meninggalkan rumah Elena.


"Erosh, boleh Tante bicara?" Pinta Elena pada Erosh yang masih berdiri di tempatnya.


Erosh mengangguk, kemudian mengikuti langkah kaki Elena yang ternyata menuju ke sebuah ruangan di salah satu rumahnya.


Elena mengambil sebuah kotak kayu yang terlihat usang, dia membukanya lalu mengeluarkan seluruh isinya berupa kumpulan foto-foto masa lalu.


"Kamu masih ingat ini?" Elena menyerahkan sebuah foto pada Erosh.


Erosh menerimanya kemudian mengamati foto dua orang anak kecil yang tersenyum sambil berangkulan. Erosh tersenyum menatapnya.


"Sejak dulu, Mega adalah gadis yang keras kepala dan pemarah. Dia bahkan tidak bisa tersenyum manis seperti itu sebelumnya, sebelum bertemu kamu." Cerita Elena.


"Papanya hanya peduli dengan kehidupannya sendiri, bahkan menganggap semua uang yang diberikannya pada Mega sudah cukup membuatnya bahagia. Mega tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Papanya, dan semua itu salah Tante." Lanjut Elena.


Erosh menghela nafas berat, mendengar cerita Elena membuat Erosh berkaca pada dirinya sendiri. Jika kecelakaan itu tidak menimpa kedua orang tua kandungnya, mungkin Erosh tidak akan pernah merasa seperti ini, merasa tidak pernah mendapat kasih sayang dari orang tua yang telah membesarkannya dengan materi, tanpa peduli betapa kesepiannya dia selama ini.


"Tante takut Mega kekurangan kasih sayang. Tante nggak mau dia merasa berbeda dari teman-temannya. Itulah mengapa Tante sangat memanjakannya, Tante ingin dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Tapi Tante salah besar, semua yang Tante lakukan justru membuat Mega merasa selalu ingin menang. Dia ingin mendapatkan apapun yang dia mau. Itu semua salah Tante."


"Tante tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Erosh tahu, Tante adalah Ibu yang sempurna untuk Mega."


"Tapi nyatanya Tante gagal mendidik Mega, dia bahkan tidak pernah mau mendengarkan Tante sebagai Ibunya." Elena mulai terisak, membuat Erosh merasa berada di posisi yang salah.


"Maaf Tante."


"Untuk apa kamu minta maaf Rosh?"


"Karena Erosh sudah mengecewakan Tante mungkin." Jawabnya.


"Kamu sama sekali tidak mengecewakan Tante, bahkan kamu sering membantu Tante. Tante yang harus minta maaf, Mega pasti selalu mengganggu dan merepotkan kamu."


Erosh terdiam, semua perkataan Elena memang benar.


"Apa kamu tahu kalo Mega menyukai kamu?"


Erosh sedikit terkejut mendengar pertanyaan Elena. Dia sangat tahu, bahkan selama ini pula Mega selalu mengatakannya berulang kali. Namun sayangnya dia tidak bisa jatuh cinta pada gadis itu. Perasaannya hanya untuk Alya, gadis kecil yang pertama kali ditemuinya dan membuat dia selalu ingin melindunginya.


"Maaf jika dia bersikap seenaknya sama kamu. Dia hanya tidak bisa mengekspresikan kasih sayangnya."


"Tante, Tante tidak perlu minta maaf begini. Semua ini bukan salah Tante."


"Tante minta maaf untuk Mega, dia pasti tidak bisa melakukan semua ini. Bahkan di saat seperti ini, dia tidak memberi tahu Tante, Tante tidak tahu sekarang dia ada dimana."


Erosh tidak menjawab, dia mendekat pada Elena kemudian memberi usapan perlahan pada lengannya. Dulu ini yang sering Elena lakukan padanya saat dengan tidak sengaja Mega melakukan sesuatu yang kasar pada Erosh ketika mereka bermain bersama.


"Erosh..." Panggil Elena.


"Iya Tante."


"Antarkan Tante ke rumah sakit."


"Ke rumah sakit?"


"Tante ingin minta maaf atas tindakan Mega."


Erosh berpikir sejenak kemudian menganggukkan kepalanya.


ㅡBWY ㅡ


*************


JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, DAN VOTE BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BUAT UPDATE SETIAP HARI ❤️