
HAPPY READING
AUTHOR BY AXRANS
***********
Alya melirik jam tangannya, sepertinya dia masih harus menunggu lama. Padahal dia sudah merasa bosan dengan suasana di dalam kafe, bahkan Americano yang dia pesan sudah hampir habis.
Alya menghela nafas perlahan, harusnya dia mendengarkan kata Bundanya tadi untuk pergi ke toko buku sore nanti. Kalo sudah begini dia jadi harus menunggu Mira terlalu lama. Apa iya dia harus pergi ke toko buku terlebih dahulu? Ah, dia benar-benar malas. Lagi pula kenapa Mira harus mengajaknya bertemu di toko buku dulu? Apa Mira pura-pura tidak tahu jika dia tidak suka pada suasana toko buku?
Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Alya memutuskan untuk berjalan-jalan dulu sebelum ke toko buku sesuai janjinya dengan Mira jam tiga nanti. Lagi pula sekarang sudah jam satu, tidak akan mungkin ada yang mencurigai jika pada kenyataannya Alya tidak masuk sekolah. Ini sudah memasuki jam wajar pulang sekolah.
Setelah keluar dari kafe, Alya melangkah menyusuri bangunan di sekitar kafe yang ternyata adalah kawasan pertokoan. Alya baru mengetahuinya, dia bahkan tidak tahu semenjak kapan kawasan ini disulap jadi kawasan pertokoan, dia tidak ada waktu untuk jalan-jalan.
Alya sebenarnya masih bingung harus menuju ke arah mana. Dia ingin ngadem di mall, tapi sepertinya berbeda arah cukup jauh. Tapi kalau dia harus menghabiskan waktu untuk sekedar jalan-jalan begini rasanya panas matahari akan membakarnya cepat. Alya celingukan, mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman untuknya beristirahat asalkan tidak di dalam ruangan yang menurutnya membuatnya jengah. Mungkin karena sudah lama sekali dia tidak bisa menikmati udara luar siang hari begini.
Sesaat sebelum Alya memutuskan untuk duduk di ujung deretan gedung yang lumayan sepi dan teduh di bawah pohon perdu HPnya bergetar, ada sebuah panggilan masuk.
Alya tersenyum memandangi layar HPnya, "Ada apa?"
"Lagi dimana?"
"Kenapa? Kepo!" Jawab Alya dengan senyuman mengembang yang bertahan di kedua pipinya.
"Kok galak sih?" Suara seorang cowok yang tak lain adalah Erosh di ujung sana tidak terima.
"Siapa sih yang galak?"
"Lo dong!" Sambar Erosh. "Di rumah kan?"
"Enggak, kenapa?"
"Kok nggak di rumah sih? Gue on the way ke sana."
"Kan gue udah bilang sama lo kemarin, gue mau ke rumah Mira."
"Iya, gue inget. Tapi jam segini Mira kan belum pulang."
"Nggak apa-apa dong." Jawab Alya masih melangkah ringan sembari bercakap-cakap lewat telponnya.
"Lo udah di sana?" Tanya suara dari sebrang sana.
"Belum."
"Belum? Terus dimana? Gue ke sana ya?"
"Katanya mau ke rumah gue."
Terdengar Erosh menghela nafas kecewa, "Lo kan nggak ada."
"Yaudah lo ngobrol sama Bunda aja, biasanya juga gitu kan?"
"Sekarang kan udah nggak biasa Al."
Alya berdecak. "Dasar! Udah ah, gue matiin telponnya ya, gue sibuk."
"Tunggu! Emangnya sibuk ngapain?"
"Sibuk istirahat." Jawab Alya terkekeh.
"Sibuk istirahat? Bilang aja lo dimana? Gue samperin sekrang juga!"
"Nggak mau!" Tolak Alya. "Pokoknya hari ini lo nggak boleh gangguin gue sama Mira. Nanti dia bisa ngamuk lagi kayak semalem."
"Biarin aja, lo kan punya gue!"
Alya tersipu mendengar penuturan Erosh, sejak kapan dia jadi alay begitu? Tapi bukannya memang benar ya sekarang Alya adalah milik Erosh? Alya sendiri tidak terlalu memusingkan hal itu, yang pasti dia dan Erosh sama-sama tahu tentang perasaannya masing-masing. "Kok gitu sih, kan Mira duluan."
"Nggak mungkin dong, jelas-jelas kita udah deket dari kecil dulu!"
"Iya, iya. Gitu aja galak banget! Ketularan gue?"
Kali ini Erosh tertawa.
"Yaudah gue matiin ya telponnya, kalo lo mau ke rumah, Bunda pasti seneng banget."
"Iya, terpaksa deh hari ini gue nge-date sama Bunda. Um, nanti gue jemput di rumah Mira ya."
Alya nampak berpikir sebentar.
"Oke kan? Yaudah hati-hati Al."
"Eh!" Alya belum sempat menjawab namun Erosh sudah memutus telponnya dan memaksa Alya harus mengiyakan tawarannya tadi. Dasar Erosh!
Setelah panggilan tadi selesai, Alya masih berkutat dengan HPnya. Dia ingin memberi tahu Mira agar sesegera mungkin pergi ke tempat janjian jika dia sudah pulang dari sekolahnya. Alya malas harus menunggunya lebih lama lagi.
"Hai, ketemu lagi?!"
Alya mendongak, dia tidak tahu dari mana datangnya dua orang laki-laki yang kini sudah ada di hadapannya dengan tatapan intim. Alya meremas HPnya erat dan mundur perlahan. Samar-samar dia ingat seperti pernah bertemu dengan salah satunya.
"Nggak nyangka ya bakal ketemu lo lagi di sini?" Ucap salah satunya sambil memperhatikan Alya dari atas hingga bawah. "Hm, jadi lo masih SMA? Wow, pantes aja Erosh mati-matian belain lo! Ternyata lo gadis SMA!"
Alya bergidik mendapat tatapan darinya. "Apa mau lo? Jangan macem-macem!" Ancam Alya. Dia benar tentang wajah cowok yang tak asing ini. Sekarang dia ingat jika dia adalah Alex, cowok yang menggodanya di bar. Alya semakin ketakutan, ternyata dia masih mengenalinya.
Cowok itu berdecak meremehkan. "Galak juga lo! Tenang aja, gue nggak bakal macem-macem kok."
"Awas ya, gue bisa teriak sekarang juga!"
Dua orang laki-laki tadi serempak menertawai Alya. "Lo teriak aja sekencang-kencangnya. Sebelum lo teriak, mungkin gue udah bungkam mulut lo duluan!"
Detik itu juga Alya langsung berteriak dan berusaha kabur, namun sayangnya sebelum Alya berhasil berteriak, Alex sudah membekap mulut Alya dibantu oleh temannya.
"Diem lo!"
Alya meronta ingin melepaskan diri, namun apalah daya kekuatannya sebagai seorang wanita kalah telak dari dua orang laki-laki yang kini membekap dan berusaha ingin membawanya kabur.
"Gue bilang diem!" Bentak Alex. "Gue pengen tahu, apa reaksi Erosh kalo dia tahu gadis SMAnya gue curi!"
Alya semakin ketakutan, air matanya sudah menggenang di kedua sudut matanya. Kedua laki-laki ini kini sudah menguasai Alya dan dia tidak bisa melakukan perlawanan apapun.
Bukkk!!!
Entah dari arah mana tiba-tiba laki-laki yang bersama Alex mendapat pukulan dari seseorang yang cukup keras. Dia jatuh tersungkur di atas jalanan berpaving ini.
"Sialan!" Umpat Alex. "Eh, jangan ikut campur urusan gue!" Dia masih membekap Alya dan menatap laki-laki paruh baya di depannya dengan sengit.
Alya yang meronta dalam bekapan Alex terkejut mendapati Alfian kini ada di depannya. Bagaimana bisa Papanya ada di sini?
"Lepasin Alya!"
Alex nampak terkejut, lalu tersenyum menyeringai. "Wow, ternyata lo juga terkenal di kalangan om-om ya?"
"Apa maksud Anda! Lepaskan Alya sekarang juga!" Bentak Alfian, dia jelas tidak terima melihat putrinya kini berada pada genggaman orang jahat yang tak dikenal.
"Santai dulu, santai dong. Lo mau Alya gue lepasin?" Alex menanggapi perkatan Alfian bahkan tanpa sopan santun. "Tangkap dia!" Alex memerintahkan temannya yang sudah berdiri tegak untuk membekap tangan Alfian.
Alfian pasrah, sekalipun dia bisa melawannya, Alfian mungkin bisa berakhir babak belur dan mungkin Alya akan celaka. Alfian tidak ingin hal itu terjadi pada putrinya. "Kalian boleh tangkap saya, tapi lepasin Alya!"
"Nangkep lo? Buat apa? Nggak ada gunanya! Lagipula dia nggak akan milih lo buat jadi pacarnya." Tandas Alex pada Alfian yang kini ada di bawah kendali temannya. "Gadis SMA seperti dia pasti lebih milih yang muda, dia itu cuma manfatin duit lo doang!"
"Jaga mulut Anda!" Bentak Alfian, sementara Alya hanya bisa diam dalam bekapan Alex dengan air mata yang terus mengalir.
"Kenapa? Lo nggak percaya kalo dia cuma manfaatin duit lo doang? Lo belum tahu kan kalo simpenan lo ini pacar Erosh?" Alex terus bercuap tanpa mengetahui fakta apapun tentang Alya sebagai anak dari Alfian. "Gue yakin, duit dia dari kerja di klub pasti masih kurang! Ternyata Erosh yang kaya raya itu pelit juga sama pacarnya."
Alya tersentak kaget, bahkan situasi ini lebih genting dibandingkan keadaannya sekarang. Tanpa Alya sangka Alex membongkar rahasianya di depan Alfian.
"Jangan bicara sembarangan! Anda sudah menghina Alya!"
"Menghina? Lo pikir gue menghina? Hei bung, gadis seperti dia ini memang pantas dihina? Lo pikir untuk apa setiap malam dia berkeliaran di bar kalo tidak untuk menghina dirinya sendiri?"
"Cukup!" Alfian tidak bisa mentolerir perkataan Alex lagi. "Apa mau Anda sebenarnya, berhenti memfitnah Alya! Dan asal Anda tahu dia itu putri saya!"
Alex nampak terkejut, dia tidak menyangka jika sedang berhadapan dengan pasangan Bapak dan anak sekaligus. Namun beberapa saat kemudian dia tertawa penuh kemenangan. "Ini benar-benar sempurna!"
"Siapa Anda sebenarnya dan apa masalahnya sampai Anda berbuat jahat terhadap putri saya?"
"Lo akan segera tahu!" Jawab Alex. "Hm, sepertinya ini akan menarik!"
"Apa Anda punya masalah dengan Erosh?" Tanya Alfian.
"Gimana ya? Erosh itu suka ikut campur urusan gue. Terutama suka menganggu kesenangan gue di bar sama cewek-cewek. Dan lo sepertinya belum kalo putri lo ini bekerja di bar kan?"
"Apa maksud Anda?" Alfian benar-benar dibuat geram. Dia sama sekali tidak mengerti dengan perkataan laki-laki yang kini membekapnya dengan Alya.
"Lo nggak ngerti maksud gue juga? Lo nggak tahu bar? Tempat buat dugem?"
"Alya tidak bekerja di tempat semacam itu!"
"Itu karena lo belum tahu faktanya! Lo tanya aja sama putri lo ini, ya kan?" Alex melepaskan bekapan pada mulut Alya.
"Papa jangan percaya!" Teriak Alya begitu dia bisa mengeluarkan kata-kata dari mulutnya dengan nafas terengah.
"Bulshit!" Sentak Erosh. "Lo nuduh gue yang bo'ong? Ngaku lo!" Alex meremas bahu Alya kasar.
Alya merintih kesakitan. "Jangan percaya Pa!"
"Jangan sakiti Alya!" Alfian tak terima melihat putrinya mendapat perlakuan kasar. "Kamu nggak mungkin seperti itu kan Al?"
Alya terdiam, tangisnya kini meledak.
"Jangan sakitin Papa gue!" Cegah Alya. "Sebenarnya apa niat lo nglakuin ini? Apa untungnya buat lo?"
"Apa untungnya? Jelas gue beruntung banget, bisa ngeliat gadis SMAnya Erosh menderita!" Alex menekankan kata-kata terakhirnya dengan senyuman seringaiannya.
"Alya, bilang sama Papa semua itu nggak bener kan? Anak Papa nggak seperti itu!"
Alya terdiam lagi, dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya saat situasi sudah terlanjur memburuk seperti ini. "Maaf Pa." Hanya itu yang keluar dari mulutnya dengan wajah tertunduk.
Alfian menelan salivanya berat. Dia berharap permintaan Alya sesungguhnya untuk situasi buruk ini, bukan untuk membenarkan perkataan laki-laki ini.
"Bos, ada orang!" Lapor teman Alex melihat seseorang hendak melintas dari jarak beberapa meter.
Tidak menunggu lama lagi Alya dengan pikiran kalutnya memanfatkan kesempatan ini untuk kabur. Dia menyikut perut Alex lalu menginjak kakinya dan berteriak meminta tolong sekencang mungkin. Dan dengan sekuat tenaga dia berusaha mendorong teman Alex yang tengah menyekap Alfian.
"Tolong! Tolong!" Teriak Alya berulang kali.
Kali ini Alex kecolongan, dia melihat seseorang mendatangi tempat mereka yang memang sejak tadi sepi tak ada orang. Alex tidak ingin mengambil resiko berlebih, teriakan Alya akan menarik perhatian dan bisa membahayakannya.
"Cabut! Buruan!" Alex buru-buru melarikan diri bersama temannya yang mengikutinya dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa dek?" Seseorang muncul karena teriakan Alya tadi. Dia terlihat panik mendapati Alya dengan wajah sembab serta Alfian yang kini sedikit merintih kesakitan akibat bekapan tadi.
"Tadi ada orang yang mau jahatin saya sama Papa saya Mas, tapi mereka udah kabur."
"Adek nggak apa-apa?"
Alya menggeleng.
"Bapak tidak apa-apa?" Kali ini orang itu bertanya pada Alfian.
Alfian menggelengkan kepalanya juga, "Makasih mas, kami tidak apa-apa."
"Syukurlah kalo gitu, lain kali hati-hati ya pak, di sini tempatnya memang agak sepi. Saya permisi."
Alfian mengangguk, sepeninggal orang itu baik dirinya maupun Alya saling terdiam. Bahkan Alya terus menundukkan kepalanya.
"Kita pulang!" Ujar Alfian kemudian sambil memberi tatapan dingin pada Alya.
ㅡBWY ㅡ
"Pa..." Nia menatap suaminya sembari mengusap lembut bahunya.
"Papa butuh penjelasan Alya, jadi Bunda tidak perlu ikut bicara."
Alya masih terdiam sejak kejadian setengah jam yang lalu hingga dia dan Papanya tiba di rumahnya ini. Dia tidak bisa mengatakan apapun, mulutnya seperti terkunci rapat. Inilah hal terbesar yang selama ini Alya takutkan, semuanya justru harus terbongkar di saar Alya merasa jika hidupnya sudah aman dan baik-baik saja.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan Alya?"
Alya tak menjawab, kali ini dia mengeratkan kedua jari tangannya yang sejak tadi berpangku di depannya.
"Jawab Papa Alya!"
"Pa..." Nia berusaha untuk meredam emosi suaminya. Dia benar-benar khawatir saat ini, hubungan diantaranya dengan Alya baru saja membaik, jangan sampai kali ini hubungan Alya dengan Papanya justru berubah memburuk.
"Sudah berapa banyak kebohongan yang kamu lakukan? Apa selama ini kamu rajin ke sekolah itu juga hanya kebohongan belaka?"
"Pa, Alya nggak bermaksud,"
"Papa kecewa sama kamu!" Potong Alfian.
"Pa, tolong dengarkan penjelasan Alya dulu." Tutur Nia.
"Bunda tidak perlu ikut bicara." Alfian menatap Nia sejenak.
"Alya nglakuin itu semua untuk bantu Papa."
"Dengan uang kotor itu?"
"Pa, pekerjaan Alya halal!"
"Papa suruh kamu sekolah yang bener, apa susahnya Al?"
"Alya cuma pengen ngringanin beban Papa."
"Papa nggak perlu bantuan kamu, ini tugas Papa sebagai kepala keluarga."
"Alya tahu Pa,"
"Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu lakukan semua itu? Apa kamu tahu tempat apa yang kamu datangi itu?"
Alya tahu dengan jelas betapa mengerikannya tempat itu. "Tapi Alya bisa membedakan mana yang baik dan nggak."
Alfian mengusap wajahnya frustasi. "Kalo kamu bisa membedakan kenapa kamu pergi ke tempat itu? Apa alasan kamu ini hanya kebohongan juga?"
"Alya nggak bohong Pa, kenapa Papa menuduh Alya seperti itu?"
"Kamu dengar kan perkataan laki-laki tadi, dia bahkan menghina kamu dengan begitu rendahnya."
"Papa nggak perlu dengerin dia, dia cuma..."
"Apa kamu mau direndahkan seperti itu? Apa kata orang nanti jika anak Papa ternyata bekerja di bar?"
"Alya bekerja sebagai waiters Pa, dan pekerjaan Alya halal. Apa salahnya?"
"Papa ini dulu pemilik perusahaan terkenal Alya, tolong jaga nama Papa dengan baik."
"Jadi Papa pikir selama ini Alya nggak bisa menjaga nama baik Papa?" Alya menatap sengit Alfian. Dia sudah berusaha menjelaskan apapun padanya tapi percuma.
"Apa selama ini sikapmu sudah menunjukkan hal baik? Bahkan kamu tidak bisa bersikap sopan terhadap Bunda kamu sendiri! Apa itu yang kamu pelajari selama ini? Kamu memang tidak tumbuh besar dengan Mama kamu, tapi bukan berarti kamu harus bersikap seperti ini!"
"Cukup Pa!" Alya sudah tidak tahan lagi. "Alya sudah berusaha untuk baik tapi selalu tidak pernah cukup di mata Papa. Sekarang Alya tahu kenapa Mama ninggalin Papa? Itu karena Papa nggak pernah bisa menghargai usaha Mama kan? Bahkan Papa dengan mudahnya menikah lagi, karena begitu mudahnya Papa melupakan Mama kan? Semuanya karena keegoisan Papa kan?"
Plak!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Alya, membuat Nia maupun Alya sendiri terpaku tak percaya.
Alfian mengulum bibirnya, menunduk dengan wajah menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya.
"Alya," Nia beranjak menghampiri Alya hendak menyentuh pundaknya tapi ditepis.
"Kalo cara Papa seperti ini, satu persatu anggota keluarga Papa akan pergi ninggalin Papa!" Alya memilih melangkah mundur kemudian melangkah pergi.
"Alya tunggu!" Cegah Nia. "Kenapa Papa keterlaluan sekali? Jangan biarin Alya pergi!"
Alfian masih diam tak bergeming, sedangkan Nia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia menyusul Alya yang sudah melangkah meninggalkan rumah.
"Alya tunggu, jangan pergi Al!"
Alya diam tak mempedulikan panggilan Nia.
"Bunda mohon jangan pergi Al, Bunda mohon!"
Alya masih diam dengan langkahnya yang penuh emosi, hatinya sakit, bahkan tamparan dari Alfian tadi tidak lebih sakit dari perasaannya saat ini. Dia tahu apa yang dilakukannya adalah kesalahan, tapi Alfian sama sekali tidak bisa melihat kebaikan dalam dirinya dan membuatnya benar-benar kecewa.
"Alya behenti, Bunda mohon." Nia meraih tangan Alya dan membuat langkahnya terhenti.
Alya berusaha menepisnya tapi Nia menggenggamnya erat. "Dengarkan Bunda!" Kali ini suara Nia meninggi.
Alya terdiam menatap Nia, ekspresi wajahnya sudah tidak bisa ditebak lagi.
"Jangan pergi dalam keadaan seperti ini! Keluarga tetaplah keluarga Al, semua orang akan mengalami hal seperti ini tapi kamu tidak boleh pergi menghindar." Nia berusaha membujuk Alya. "Bunda tahu kamu kecewa saat ini, tapi bukan begini caranya, pergi tidak akan menyelesaikan masalah."
"Alya nggak tahu jalan pikiran Papa." Ucapnya parau. "Kenapa semua yang terjadi seolah-olah salah Alya? Apa papa nggak bisa melihat niat baik Alya?"
"Iya Bunda paham." Jawab Nia, ada satu sifat yang Nia benci dari Alfian yang diwariskan pada Alya. Ya, mereka berdua sama-sama keras kepala. "Tapi apapun yang terjadi, kamu tidak boleh pergi. Kamu masih punya Bunda. Bunda akan selalu ada disamping kamu."
Alya menghela nafasnya, "Alya butuh waktu."
"Ya, kamu memang butuh waktu. Kalau kamu ingin pergi ke rumah Mira, Bunda ijinkan. Tapi kamu tidak boleh meninggalkan rumah ini, di sini tempat kamu, keluarga kamu."
"Alya janji nggak akan pergi." Ucap Alya kemudian, hatinya sedikit tenang mendengar penuturan Nia.
Nia tersenyum lega. "Makasih Al." Setidaknya sekarang Alya sudah mau mendengarkannya. Nia sangat takut sifat Alya yang dulu muncul lagi, apalagi melihatnya tadi dengan emosi menyalahkan atas pernikahan Alfian dengannya.
Alya mengangguk pelan. "Sekarang Alya mau ketemu Mira."
"Iya, kamu boleh pergi tapi jangan lupa kabari Bunda ya, Bunda khawatir." Nia mengusap lengan Alya perlahan.
Alya tersenyum kemudian melangkah lagi, dia ingin menenangkan dirinya sejenak. Bertemu Mira mungkin pilihan yang baik saat ini, apalagi dia sudah mengiriminya pesan sejak beberapa menit yang lalu jika dia sudah berada di perjalanan pulang. Dia terpaksa membatalkan rencana pergi ke toko bukunya karena permintaan Alya.
Sementara itu dari kejauhan, seorang cewek yang tengah duduk di dalam mobilnya mengawasi langkah Alya dengan tatapan sengit. Dia merasa beruntung, akhirnya bisa menemukan Alya untuk melampiaskan semua sakit hatinya yang dipendamnya selama ini. Dia benar-benar benci melihat wajah Alya. Tanpa pikir panjang lagi, dia menginjak pedal gas mobilnya dan melajukannya dengan kecepataan tinggi menuju ke arah Alya berjalan.
Beberapa jangkauan lagi, body mobilnya hampir menyentuh tubuh Alya. Dan saat itu pula dengan tiba-tiba seorang perempuan yang sejak tadi terlihat berbincang dengan Alya mendorong tubuh Alya sekuat tenaga sehingga sasarannya melenceng.
"Alya awas!" Teriaknya kemudian tubuhnya terpental akibat benturan keras dari mobil.
Alya jatuh tersungkur di pinggir jalan akibat dorongan tubuh Nia. Kepalanya sedikit membentur bahu jalan dan dia merasa pusing. Samar-samar dia melihat tubuh Nia tergeletak bersimbah darah tak jauh darinya.
"Bunda... Bunda..." Alya berusaha bangun namun penglihatannya semakin buram. Dia hanya bisa menatap Nia yang tak berdaya. Dan sebelum kesadarannya hilang total dia masih bisa mendengar seseorang berteriak memanggil namanya dan Nia berulang kali.
ㅡBWY ㅡ
**********
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT DAN VOTE BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BUAT UPDATE SETIAP HARI ♥️