I WANT TO BE WITH YOU

I WANT TO BE WITH YOU
CH 39 - KENYATAAN



HAPPY READING


AUTHOR BY AXRANS


*******************


Alfian menatap istrinya yang tengah memanjakan kedua anak kembarnya, walaupun kondisinya saat ini masih berbaring di tempat tidurnya. Dia sangat bersyukur atas segala hal yang dimilikinya saat ini. Meskipun berbagai masalah menghampirinya bahkan berusaha menghancurkan apa yang dia miliki terutama keluarganya, dia masih bisa bertahan. Semua itu tak lepas juga dari peran istrinya yang selalu mendukungnya. Bahkan melihat kondisi Nia saat ini sudah cukup membuktikan betapa dia sangat menyayangi keluarganya, terutama anak-anak Alfian.


Di sela-sela kebersamaan mereka, suara dering telpon dari ponsel Alfian menyela. Segera dia melihat sebuah nama yang tertera di layar dan mengangkatnya. "Ada apa Rosh?"


Nia segera menginstruksikan kedua anak kembarnya untuk hening sejenak begitu melihat raut wajah agak serius suaminya.


"Bunda, Papa angkat telpon dari Erosh dulu ya?" Ucap Alfian.


Nia tersenyum dan mengangguk paham.


"Kalian jagain Bunda dulu sebentar."


"Siap Papa!" Seru Angga dan Anggi bersamaan kemudian Alfian sendiri beranjak keluar dari ruangan.


Belum lama setelah Alfian meninggalkan ruangan, pintu kamar inap Nia terbuka kembali. Alya muncul dari baliknya.


"Lho Al, kamu udah sampe?"


Alya hanya membalasnya dengan senyuman kecil.


Nia mengerutkan dahinya melihat ekspresi wajah Alya yang tampak aneh. "Kamu kenapa?"


"Nggak apa-apa Bunda." Jawab Alya kemudian menghela nafas panjang. Dia berjalan mendekat lalu mengusap lembut puncak kepala Angga dan Anggi yang berdiri di samping ranjang tidur Bundanya.


"Nggak mungkin kalo nggak ada apa-apa."


Alya beralih menatap Nia dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Alya?" Nia meraih tangan Alya dan menggenggamnya.


"Kak Alya kenapa?" Tanya Anggi.


"Kak Alya nggak apa-apa." Dia menyunggingkan senyumnya. "Bunda, ada yang mau ketemu sama Bunda." Ucapnya kemudian.


"Siapa?"


Seseorang masuk ke dalam ruangan tepat setelah Alya memberitahukan kedatangannya pada Nia.


"Selamat siang." Ucapnya sembari tersenyum hangat.


Baik Nia maupun kedua anak kembarnya menatap seorang wanita paruh baya dengan wajah terlihat sedikit sembab yang baru saja tiba itu.


"Bu Yessi?" Nia sangat terkejut.


Yessi mengangguk pelan kemudian kedua matanya beralih menatap si kembar Angga dan Anggi. Dia melangkah mendekat lalu membelai lembut wajah keduanya.


"Tante siapa?" Angga berganti menatap Yessi dengan seksama.


"Emm..." Yessi tampak menghela nafas berat.


"Angga, ini..."


"Tante Yessi, teman Bunda kamu." jawab Yessi sebelum Nia menyelesaikan jawabannya pada Angga.


Nia memandang tak percaya ke arah Yessi. "Bu Yessi..." Bagaimana bisa Yessi mengatakan hal diluar dugaan, bahkan membuat Alya melongo tak percaya.


"Tante boleh peluk kalian sebentar?"


Angga dan Anggi saling berpandangan, sementara kedua mata Alya tak sanggup lagi menahan air matanya yang mendesak keluar.


"Kalian mengingatkan tante dengan anak tante." Lanjut Yessi.


"Memangnya anak tante kemana?" tanya Anggi dengan polosnya.


Yessi terdiam menunduk, saat ini penyesalan yang begitu besar sedang menyerangnya. Tanpa menunggu, dia langsung menghambur memeluk keduanya erat. Ma'afin mama sayang, ma'afin mama, ujar Yessi pilu dalam hatinya. Hanya kata itu yang mampu terucap.


Melihat pemandangan yang begitu mengharukan membuat Alya dan Nia hanya bisa menangisinya. Setelah sekian tahun lamanya, dua anak kembar yang malang itu akhirnya bisa memeluk Ibu kandungnya. Memeluk seseorang yang dulu mereka tangisi kepergiannya.


"Tante kenapa nangis?" tanya Angga begitu Yessi melepaskan pelukannya.


"Tante seneng banget bisa ketemu kalian lagi."


"Memangnya tante pernah ketemu kita?"


"Tentu saja, sewaktu kalian masih kecil. Sekarang kalian sudah tumbuh besar."


"Tante wajahnya cantik ya, kayak kak Alya." ujar Anggi membuat hati Yessi semakin tercabik.


"Oh ya? Tapi Anggi juga cantik."


"Makasih tante."


Yessi kembali tersenyum kemudian beralih menatap Nia. "Bagaimana kondisi kamu Nia?"


"Saya... Baik bu." Jawab Nia terlihat gugup.


"Kamu tidak perlu memanggil saya Bu lagi, cukup Yessi saja."


"Ah, tapi..."


"Panggilan itu membuat saya kurang nyaman."


"Baiklah bu, emm maksud saya Yessi."


"Angga Anggi, kita main di luar yuk." Alya menggiring kedua adik kembarnya untuk memberikan waktu bagi kedua Ibunya saling bicara.


Sementara si kembar Angga Anggi bersama Alya melangkah keluar, Alfian kembali ke ruangan dengan raut wajah sedikit terkejut.


"Karena semuanya ada di sini, aku ingin menyampaikan sesuatu." Ucap Yessi membuat semuanya terdiam. "Sebelumnya aku ingin minta ma'af."


"Kamu tidak perlu minta ma'af Yes."


"Walaupun begitu aku tetap harus minta maaf Nia. Semua yang terjadi, itu karena kesalahanku. Aku yang mengawalinya."


"Itu sudah masa lalu Yes."


"Aku tahu mas Fian, tapi aku tetap harus minta maaf. Terutama kepada anak-anakku. Bahkan aku telah membuat Angga dan Anggi tidak bisa mengenaliku, ibu kandungnya sendiri."


"Harusnya kamu mengatakan yang sebenarnya."


"Aku tidak bisa Nia, bagaimana mungkin aku mengatakan hal itu. Aku tidak mau membuat mereka semakin sakit. Aku tidak akan melakukannya."


"Tapi hal itu justru akan menyakiti kamu..."


"Tidak ada seorang Ibu di dunia ini yang tidak mau berkorban demi anaknya. Begitu juga aku. Betapa sakitnya hatiku saat mengingat dulu dengan tega aku meninggalkan mereka. Setelah menyadari semuanya, sekarang aku hanya bisa menyesal. Aku telah menyakiti mereka begitu dalam, kamu pasti juga tahu setelah apa yang telah kamu lalui bersama Alya selama ini. Kamu tahu rasanya dengan pasti Nia."


"Sebenarnya selama ini aku menunggu kedatanganmu Yes," Ujar Nia menanggapi. Baik Yessi maupun Alfian serempak memandang Nia.


"Selama ini ada hal yang selalu mengganjal hatiku. Pernikahanku dengan mas Alfian, itu karena aku sangat menyayangi anak-anak. Meski pada akhirnya, aku bisa jatuh cinta dengan mas Alfian."


"Nia..."


Nia segera memotong cepat kata-kata Alfian. "Aku hanya bisa memperlakukan mas Alfian seperti dia adalah suamimu dan Papa dari anak-anaknya, tidak lebih Yes. Karena aku merasa belum mendapat ijin dari kamu untuk menjadi ibu dari mereka."


Semuanya terdiam mendengar kejujuran yang selama ini Nia pendam dengan begitu memilukan. Nia sendiri saat ini baru berani mengungkapkannya.


Yessi menggigit bibir bawahnya berusaha menahan air matanya. "Kamu tidak perlu ijin dariku Nia, selama ini kamu sudah melakukan yang terbaik untuk anak-anak."


"Tapi kamu tetap Ibu kandung mereka Yes."


"Itu tidak penting, nyatanya akulah yang meninggalkan mereka." Jawab Yessi mengakui semua kesalahannya. "Sebelum pergi, aku ingin kamu berjanji satu hal untukku Nia, aku mohon."


"Kenapa kamu harus pergi?"


"Aku harus pergi, aku harus kembali kemana aku seharusnya berada. Tempatku bukan di sini. Sekalipun mereka adalah anak-anak kandungku, tapi kamulah Ibu yang sesungguhnya untuk mereka."


Nia terdiam memandang Yessi tak kalah pilunya.


"Setelah aku pergi, kamu harus menjadi Ibu dan istri yang baik untuk anak-anak dan mas Fian. Aku menitipkan mereka sama kamu."


"Tapi..."


"Ini permohonanku yang paling tulus. Kamu bisa kan mengabulkannya? Hanya ini yang bisa membuatku lebih tenang."


Nia terdiam kemudian berganti menatap Alfian. Dari raut wajahnya yang tampak tenang, sepertinya apapun keputusan yang akan Nia ambil dia akan menyetujuinya.


"Kamu bersedia kan Nia?" Tanya Yessi sekali lagi.


Nia mengangguk perlahan dan tanpa menunggu persetujuan Yessi menghambur memeluknya dengan berderai air  mata. Membuat Nia tak sanggup lagi membendung air matanya. "Terima kasih Nia."


Nia hanya mengangguk dengan sesekali berusaha menghapus air matanya. Tidak ada kata yang mampu terucap lagi.


"Tolong jangan beritahu Angga dan Anggi siapa aku sebenarnya. Kamu harus tetap menjadi Ibu kandungnya, aku tidak mau menyakiti mereka di saat mereka sudah bahagia memiliki kamu."


"Kamu tidak perlu melakukan itu Yes." Ujar Alfian.


"Aku mohon mas Fian, aku tidak mau merasa lebih bersalah lagi. Aku sudah cukup membuat mereka sakit."


"Kamu sendiri bagaimana?"


"Aku akan baik-baik saja, selama inipun aku baik-baik saja."


"Mama nggak bisa melakukan itu!" Sebuah suara mengejutkan mereka yang ada di dalam ruangan. Alya dengan wajah sendunya memasuki ruangan. Ternyata sedari tadi dia tidak beranjak dari luar pintu ruangan. Dia mendengar semua percakapan mereka.


"Mama harus melakukannya Al."


"Angga dan Anggi berhak tahu siapa Ibu kandungnya, apa Mama tega..."


"Mama juga nggak tega, tapi ini demi kebaikan mereka."


"Apa selamanya Mama akan membohongi mereka?"


Yessi menghela nafas sejenak, "Ini demi kebaikan mereka, selama inipun tanpa mereka tahu tentang Mama, mereka tumbuh dengan baik. Yang terpenting saat ini adalah Angga dan Anggi baik-baik saja."


"Mama kamu benar Al, biarkan sekarang seperti ini dulu."


"Pa..."


"Suatu saat nanti, jika kamu sudah menjadi seorang Ibu, kamu pasti akan melakukan hal yang sama seperti Mama."


"Tapi kenapa Ma?"


Yessi melangkah mendekat pada Alya lalu tersenyum memandang wajahnya. "Kamu sudah dewasa sekarang Al, kamu sudah cukup tangguh menghadapi berbagai persoalan, ini bukanlah apa-apa. Mama sangat percaya kamu bisa menerima ini semua."


Alya terdiam meresapi semua perkataan Yessi. Apa yang telah dilaluinya selama ini memang begitu berat. Tapi ternyata tidak ada yang lebih berat lagi dibanding dengan dia harus berpisah dengan Ibu kandungnya demi kebaikan bersama. Nia memang seorang Ibu pengganti yang begitu sempurna, tapi setelah dia dipertemukan kembali dengan Yessi, Alya tidak berpikir bahwa akhirnya dia harus berpisah lagi. Bahkan membiarkan kedua adik kembarnya tidak mengetahui kebenarannya, ini sungguh lebih memilukan.


"Kamu bisa melakukannya Al. Ini permintaan yang tulus dari Mama. Mama yakin kamu masih Alya yang dulu, yang selalu mendengarkan dengan baik setiap perkataan Mama dan Papa."


Alya tidak mampu berbicara lagi, dia hanya mengangguk dengan kedua mata berkaca-kaca. Yessi tidak sanggup melihatnya, dia segera membawa Alya ke dalam pelukannya. Mendekap anaknya begitu erat seperti tak ingin kehilangan. Yessi memang tidak akan membiarkannya kehilangan kesempatan lagi. Walaupun keadaan telah berubah, dia tetap ingin menjadi sosok Ibu yang baik untuk anak-anaknya. Dia akan melakukannya walaupun bukan dengan menjadi sosok Ibu yang akan berada di dekat mereka setiap harinya.


ㅡBWY ㅡ 


**************


JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, DAN VOTE BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BUAT UPDATE SETIAP HARI ❤️