
Alya duduk termenung di sela-sela pelajaran Sejarah. Sejak dua jam yang lalu isinya hanya ceramah dan dongeng panjang yang tidak ada habisnya. Murid-murid yang lain juga terlihat tidak antusias, ada yang mendongeng sendiri dengan teman sebangkunya bahkan tertidur pulas. Pak Cipto, guru berkumis tipis dengan tubuh pendek dan berkacamata tebal itu hanya membiarkan muridnya begitu saja. Dia memang tipikal guru yang terkenal acuh.
Hari ini Alya bertingkah tidak biasanya lagi, sejak berangkat sekolah tadi mukanya terlihat kusut dengan garis bibir datar bahkan kadang ditekuk ke bawah. Dia memang belum memejamkan matanya sama sekali semenjak pulang kerja dini hari tadi karena masih syok dengan kejadian yang menimpanya ditambah lagi pertemuan dengan cowok yang ingin dihindarinya itu. Hingga di akhir jam pelajaran inipun, dia nampak tidak bersemangat. Mira yang selalu ada di dekatnya terheran dan penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya. Namun seperti biasanya, Alya selalu mengatakan kalau dirinya baik-baik saja sekalipun sudah puluhan kali hari ini Mira menanyakan keadaannya.
Selang beberapa menit, bel tanda pulang sekolah berbunyi dan pelajaraan diakhiri. Semua murid membereskan bukunya dan satu persatu keluar dari kelas masing-masing.
"Al, lo jadi balik ke rumah gue kan?" Tanya Mira sambil mengemasi bukunya.
Alya terdiam, dia masih belum sepenuhnya sadar dari lamunannya.
"Alya Alfissa!" Seru Mira memanggil nama lengkap Alya dengan sedikit lebih keras.
Alya terperanjat. "Emm.. Ya, ada apa Mir?" Tanya Alya nampak kebingungan.
Mira memasang muka kesal. "Sekarang lo punya kebiasaan baru ya, melamun di sepanjang pelajaran!"
"Siapa yang nglamun? Gue nggak kok." Elaknya.
"Sebenernya lo kenapa sih? Ada masalah?" Tanya Mira.
"Gue kan udah bilang nggak ada apa-apa."
"Bohong! Pasti lo bohong sama gue kan?"
Alya menatap Mira jengah. "Lo nggak percaya sama gue?"
"Enggak!" Jawab Mira tegas. "Terakhir kali lo bilang nggak apa-apa, lo ada masalah keluarga dan nginep di rumah gue dua hari."
"Itu kan udah berlalu Mir. Lagian akhirnya gue bilang sama lo kan kalo gue lagi ada masalah?"
"Makanya sekarang lo bilang sama gue lo ada masalah apa?"
"Nggak ada apa-apa, lo tenang aja Mir."
Mira bersungut kesal.
"Lo tau kan, masalah terbesar gue adalah ngantuk dan gue ngantuk berat hari ini. Sekarang gue bener-bener pengen tidur."
"Tapi lo beneran nggak ada masalah kan?" Tanya Mira memastikan sekali lagi.
"Nggak ada Mir. Udah yuk kita balik ke rumah lo." Alya memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas dan bersiap untuk pulang.
Mira menghela nafas. "Tapi belakangan ini lo keliatan beda. Kayak ada yang lo sembunyiin dari gue." Dia masih belum percaya sepenuhnya dengan jawaban Alya.
"Nyembunyiin apa?" Alya menautkan kedua alisnya dan menatap Mira yang berjalan beriringan dengannya. Mereka melangkah keluar kelas dan menyusuri koridor.
"Yaa mana gue tahu. Lo kan yang nyembunyiin dari gue."
"Nggak ada yang gue sembunyiin Mir." Tandas Alya. "Gila ya, kalo gue punya pacar posesif gini, gue nggak bisa berkutik." Bukannya menanggapi kata-kata Mira, Alya justru menimpalinya dengan guyonan.
Mira melirik kesal. "Pokoknya kalo sampe lo nggak mau cerita masalah lo ke gue, lo tau akibatnya. Gue marah besar!" Ancamnya. "Lo tahu kan, gue itu sahabat lo. Dan gue ngrasa nggak berguna kalo lo punya masalah dan gue cuma diem aja nggak tau apa-apa." Imbuhnya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Alya.
Alya terkekeh, sebenarnya ada sedikit rasa haru. Dalam hatinya, dia ingin menceritakan semua hal yang dialaminya. Tentang pertemuannya dengan cowok asing itu, tentang kejadian yang menimpanya di jalan saat pulang malam itu, juga tentang rahasianya yang sudah terbongkar oleh cowok itu pula. Tapi Alya ragu-ragu, mungkin sahabatnya tidak akan membiarkan Alya bekerja di klub lagi sedangkan dia masih membutuhkan banyak uang untuk biaya sekolahnya. Alya juga takut akan membebankan terlalu banyak masalah pada Mira.
"Ngapain ketawa, nggak lucu tau!" Mira memasang muka cemberut.
"Yaelah, segitu marahnya. Kapan sih gue nggak cerita sama lo?" Alya memonyongkan bibirnya.
"Pokoknya awas aja, gue marah!" Mira mengulang kata-kata ancamannya.
"Oke, sahabat gue yang paling baik hati, tidak sombong, rajin menabung, ya kan?" Alya sambil merangkul bahu Mira. Mereka menyusuri trotoar menuju halte bus masih dengan dua ekspresi yang berbeda, Mira dengan segala kekesalannya, dan Alya dengan tingkah konyolnya, namun siapa sangka ada kekhawatiran besar di hatinya.
Sementara itu dari kejauhan, seorang cowok nampak mengawasi langkah kedua sahabat baik itu. Dia duduk di dalam mobilnya dengan topi dan kacamata hitam. Dia nampak tampan walaupun wajahnya sedikit tersembunyi. Dia sengaja menyamar, bahkan menggunakan mobil yang berbeda dari biasanya agar tidak ada yang mengenalinya.
Cowok itu menatap Alya lekat-lekat dari kejauhan. Dia bahkan memperhatikan setiap gerak tubuh dan lekuk wajah cantik Alya. Yah, sekarang dia sangat sadar betul bahwa Alya memang cantik. Senyuman Alya membuatnya ingin selalu menatapnya dan ikut merasakan bahagianya. Ternyata Alya bukan cewek cuek yang hanya bersikap dingin seperti yang ditujukan padanya selama ini, dia juga bisa tersenyum manis bahkan tawanya begitu menyenangkan. Entah mengapa kali ini dia begitu mengagumi Alya. Dan untuk pertama kalinya pula Alya adalah satu-satunya cewek yang mampu membuat hatinya berdebar bahagia.
---- BWY ----
Sekitar setengah jam lebih kemudian, cowok itu masih mengawasi Alya bahkan hingga mereka tiba di rumah Mira. Dia memarkir mobilnya beberapa meter agak jauh dari mereka. Alya dan Mira masuk melalui pintu yang melekat pada pagar besi besar berwarna hitam dengan latar belakang rumah mewah yang lumayan luas. Di depannya juga terdapat taman kecil dan air mancur.
Cowok itu melepas kacamata hitamnya dan sekarang lebih terlihat jelas lagi wajah tampan orientalnya. Dia mengernyitkan keningnya. "Ini rumah Alya?" Tanya Erosh pada diri sendiri.
Dia heran. Jika rumah Alya sebagus ini, pasti dia anak orang kaya. Lalu untuk apa dia harus bekerja keras di klub setiap malam? Kalo dia memang membutuhkan uang, tidak mungkin harus bersusah payah bekerja apalagi di sela-sela kesibukannya sekolah. Erosh menduga bahwa rumah ini adalah rumah milik teman Alya. Tidak salah lagi.
"Dimana rumah Alya sebenernya?" Gumamnya.
Dia termangu sejenak di atas setir mobilnya, Erosh bertekat untuk mencari tahu rumahnya. Setidaknya dia harus tau dimana Alya tinggal. Dia ingin tahu tentang latar belakang cewek yang telah mencuri perhatiannya itu.
Gue bakal cari tau rumah lo Alya.. Ucap Erosh dalam hati lalu melaju kencang menjauh dari rumah Mira.
---- BWY ----
"Babe! Please gue ikut!"
Suara manja itu masih terus mengikuti kemanapun langkah Erosh pergi. Dia benar-benar sudah bosan mendengarnya.
"Mendingan lo pulang sekarang."
"Aku tahu nanti kamu pasti akan pergi ke klub kan?"
"Itu bukan urusan lo!" Jawab Erosh kesal. Dia tak habis pikir, bahkan dia baru tiba di bengkelnya beberapa menit yang lalu dengan hati yang sumringah tapi sekarang dia harus menghadapi sikap menyebalkan dari cewek di depannya ini.
Mega merengut kesal. "Tentu saja itu jadi urusanku. Kemanapun kamu pergi aku akan ikut!"
Erosh tak peduli. Dia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, mengutak-atik sebuah mesin mobil yang sedang coba diperbaikinya. Dan kehadiran Mega yang mendadak itu sangat merusak moodnya.
"Aku akan tunggu kamu di sini sampai selesai." Merasa tak ditanggapi Mega memutuskan untuk duduk di kursi yang tersedia di dekat Erosh.
Erosh menghentikan pekerjaanya lagi. Kini dia menatap ke arah Mega dengan emosi yang tak terbendung lagi."Gue udah bilang sama lo, pulang sekarang! Masih belum jelas juga?"
"Aku bilang aku nggak akan pulang!" Mega bersikeras.
"Gue lagi sibuk! Lo nggak liat kerjaan gue banyak?"
Mega berganti menatapnya sinis. "Kamu bisa nyuruh anak buah kamu untuk nyelesaiin semua kerjaannya. Iya kan?"
"Lo nggak tau apa-apa soal kerjaan gue."
"Kamu salah Rosh. Aku tau semuanya, bahkan sejak kecil aku sudah tahu kamu!"
"Bagus! Kalo gitu harusnya lo tahu kalo sejak dulu gue nggak suka ada orang yang ganggu kerjaan gue!"
"Come on Rosh!" Mega tak terima Erosh menyindirnya. "Aku cuma mau nemenin kamu kerja."
Erosh kehabisan akal. Dia benar-benar benci Mega terus saja mengekornya. Bahkan di saat dia butuh konsentrasi ekstra karena pekerjaanya. Akhirnya Erosh memutuskan untuk tak melanjutkan lagi pekerjaanya, dia membanting obeng yang baru saja di pegangnya ke dalam kotak perkakas kemudian membersihkan kedua tangannya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Mega masih saja membuntutinya.
"Kalo lo nggak mau pergi dari sini, biar gue yang pergi!"
"Kemana?" Tanya Mega terkejut.
"Lo nggak perlu tahu!"
"Erosh please!"
Erosh tak menjawabnya.
"Erosh please! Kamu bisa kan sekali aja ngertiin aku!"
"Harusnya lo yang ngertiin gue!" Ujar Erosh kesal.
"Aku cuma pengen sama kamu Rosh! Nemenin kamu!"
"Lo tahu kan gue lagi kerja?"
"I know! I know Rosh..."
"Gue menghargai lo sebagai anaknya tante Elena, tapi gue nggak mau lo ikut campur urusan gue!" Jelas Erosh.
"I just..."
Erosh tidak menggubrisnya, dia bersiap melangkah meninggalkan Mega.
Mega menghela nafas kesal. "Oke! Fine Erosh. Gue pergi dari sini." Kata Mega akhirnya mengalah.
Erosh menghentikan langkahnya.
"Aku pulang sekarang!" Ucapnya penuh kekesalan. Dia tidak mau Erosh pergi meninggalkannya dan dia pasti tidak akan bisa menemukannya dengan mudah. Mega lebih suka Erosh ada di bengkelnya dan dia bisa memastikan kalo tidak ada satu cewekpun yang akan menggoda Erosh.
Erosh diam tak menanggapi, hanya menatap sosok Mega yang mulai melangkah meninggalkannya. Itulah yang dia harapkan, membuat gadis yang sering muncul tak diharapkannya itu segera pergi dan tak mengganggunya lagi. Erosh tak habis pikir, gadis keras kepala itu tidak pernah bosan mengikutinya walaupun Erosh sudah mengatakan berkali-kali bahwa dia tidak menyukainya.
---- BWY ----