
🌹🌹🌹
“Sekarang bagaimana?” tanya Anna dengan nada berbisik, raut wajahnya menyiratkan kecemasan dan ketakutan. Aku dan yang lainnya ada yang mengedikkan bahu, dan ada juga yang menggeleng lesu. Kami semua tidak tahu mesti bagaimana.
Mau kembali ke tempat mobil kami terparkir, dapat dipastikan di sana ada beberapa penjahat yang sedang berjaga.
“Kalau kita tetap di sini lama-lama bisa ketahuan,” bisik Midah.
“Ya sudah, kita menjauh dari tempat ini. Kita cari tempat yang aman untuk bersembunyi.” Hanin mengkoordinir semuanya.
Kami pun berjalan perlahan menjauhi tempat penyekapan sambil mengendap-endap supaya tidak ketahuan. Sesekali menyelinap ke balik semak dan pohon saat penjahat itu patroli mengamati sekeliling rumah kosong itu.
Temanku yang lain sudah berhasil menjauh. Sialnya aku tertinggal di barisan paling belakang gara-gara kakiku terbelit rumput yang merambat. Dan lebih sialnya lagi aku menginjak kaleng bekas minuman beralkohol, yang kuyakini bekas minuman para penjahat itu. Sehingga menimbulkan bunyi khas kaleng terinjak.
“Woy! Siapa di sana!” pekik penjahat yang ada di depan rumah tempat penyekapan.
Cepat, aku langsung tengkurap di atas rumput yang lumayan tebal dan setinggi lutut. Kudengar penjahat itu bergerak ke arahku. Aku membungkam mulutku kuat-kuat. Menahan gatal yang teramat sangat akibat terkena bulu-bulu rumput liar.
Jantungku berdetak tak menentu saat kudengar langkah penjahat itu semakin dekat lagi.
“Ada apaan?” tanya penjahat satunya.
“Enggak ada apa-apa,” jawab satunya.
“Sudahlah, palingan hewan tadi yang injek kaleng. Kalau nggak kucing, anjing atau **** mungkin,” jelas satunya, dan untungnya satunya sependapat. Lantas dua penjahat itu pun kembali ke rumah tempat penyekapan.
Aku menghela napas, lega. Tak lupa kuucapkan hamdalah dalam hati berulang kali. Setelah keadaan kupastikan aman, aku segera menyusul yang lain.
Saat sampai di dalam rumah kosong tempat persembunyian yang lain, aku langsung disambut dengan pelukan hangat oleh semuanya.
“Alhamdulillah, kamu akhirnya selamat, Yan. Kita udah was-was tahu nggak, tadi,” ucap Sundari.
“Iya, alhamdulillah, masih diberi keselamatan,” sahutku.
Rafunsel masih memelukku dengan begitu eratnya. Ia seolah takut aku kenapa-kenapa. Dasar sok care. Biasanya juga kita selalu berebut target bucinan.
“Fu, bisa nggak kalau adegan berpelukannya kita sudahi. Aku sesak, terus mau garuk badan. Gatal semua ini badanku,” ucapku, sedikit tertahan. Efek pelukannya yang terlalu erat.
Rafunsel pun langsung melepaskan pelukannya. “Jadi maksudmu aku kuman penyebab gatal-gatal, gitu?” sungutnya.
“Bukan gitu, Fu. Gatal tadi efek kena rumput liar pas aku tengkurep ngumpet di dalam semak-semak tadi. Ih, bapernya kumat dah!” ejekku.
“Oh,” ketus Rafunsel. Masih sambil bersungut sebal.
“Pertama-tama kita mesti bebasin entu tawanan. Habis itu baru dah, kita mikirin gimana caranya bisa keluar dari desa mati ini,” terang Riani.
“Ya elah, sempat-sempatnya mikirin orang asing. Ngapain pake acara sok-sokan mau jadi superhero segala. Udahlah, yang penting itu gimana caranya kita bisa keluar dari sini. Setelah berhasil keluar, baru dah, kita serahkan masalah yang ada di sini pada polisi.”
Seperti biasa geng kami pun terpecah menjadi dua kubu. Sebagaian ada yang setuju dengan saran Riani, dan sebagian lagi setuju dengan saranku. Adu mulut antar dua kubu pun tak terelakkan. Hingga akhirnya kami semua terdiam karena ada yang berjalan mengarah ke tempat kami berada.
Kami pun segera berjongkok bersembunyi di bawah daun jendela sambil membekap mulut masing-masing supaya tidak pecah teriakan ketakutan kami.
“Ini pistol udah lama kagak gua panasin,” ucap penjahat di luar. Lebih tepatnya di balik dinding tempat kami bersembunyi. Sejurus kemudian terdengar suara tembakan mengarah ke udara. Bersamaan dengan suara letupan, teriakan Ira pun pecah. Untunglah tersamarkan oleh suara tembak. Sehingga penjahat di luar tidak dengar.
Lynna, yang kebetulan duduk di samping Ira langsung membekap mulut Ira kuat-kuat agar teriakannya tidak pecah lagi.
Kelakuan penjahat di luar mengundang perhatian penjahat yang lain. Sehingga beberapa berdatangan memastikan di sini ada apa?
“Ada apa?”
Terdengar suara orang bertanya dari kejauhan. Terdengar juga suara derap kaki orang berlari mendekat ke sini.
Jantungku pun berdetak tak menentu. Kurasa yang lain pun sama tegangnya denganku. Terlihat dari raut wajah semuanya yang diliputi ketakutan luar biasa.
“Kok bau parfum cewek, ya. Elu bau kagak?” tanya salah satu penjahat.
“Mana?” sahut lainnya. Aku yakin mereka sambil mengendus menajamkan indra penciuman.
“Kayaknya aromanya berasal dari dalam,” ucap satunya lagi.
Kami ber-14 pun melotot ketakutan, saling pandang satu sama lain, masih sambil membungkam mulut masing-masing.
“Ayo, kita periksa ke dalam!” ajak salah seorang penjahat, dan kudengar yang lainnya sependapat.
Ya Tuhan, bagaimana nasib kami? Akankah hidup kami ber-14 berakhir di sini?
N
E
X
T
👇