
*
*
Pagi telah tiba, seperti hari kemarin kami beberes dan bersiap. Lantas, melepaskan ternak milik warga di Kampung Puncak. Kemudian kami berangkat, turun bukit menuju ke tempat obor semalam.
“Pur, kamu tahu jalan menuju ke sana lewat mana?” tanya Riani. Purnama menggeleng lesu.
“Whaaat?! Gimana ceritanya kamu bisa nggak tahu, Pur? Terus kita mau asal jalan gitu aja. Kalau nyasar gimana coba?” cerocos Rafunselia.
“Aku belum pernah ke sana sebelumnya. Setahuku dulu di tempat obor semalam itu gak ada pemukiman,” jelas Purnama. Keraguan mulai menghampiri.
Semua pun celingukan mencari jalan pintas menuju ke bawah bukit tempat nyala obor semalam.
“Gaes!” panggil Riani, kami pun menoleh ke arahnya. “Lihat itu ada orang!” lanjutnya. Semua menoleh ke arah yang ditunjuk olehnya.
Benar, tampak di kejauhan ada seseorang tengah turun bukit melewati jalan setapak yang diapit kebun singkong dan pepohonan. Saking jauhnya orang tersebut terlihat seperti anak kecil. Detik kemudian orang berpakaian serba hitam itu menghilang ditelan rimbunnya pepohonan.Agak janggal, sih. Tapi ....
“Sepertinya jalan itu menuju ke tempat obor semalam, deh,” celetuk Rumia memecah keheningan.
“Oke, kita lewat sana!” ajak Purnama. Tak ada pilihan lain, kami pun mengekor. Menuruni jalan setapak nan curam.
Kami belum terbiasa berjalan di medan curam seperti ini. Sehingga memakan waktu cukup lama. Sebagian nyaris terperosok ke dalam jurang. Jatuh, bangun lagi, istirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan. Begitu terus.
Hingga sampai di sebuah perempatan. Kami dibuat bingung harus memilih jalan yang mana.
“Belok ke mana ini, Pur? Terus turun ke bawah atau belok ke kiri dan kanan?” tanya Hanin.
“Aku juga bingung,” gumam Purnama. Kami pun sepakat untuk istirahat sejenak di perempatan yang terletak di lereng gunung. Menikmati bekal ubi rebus sambil melihat pemandangan indah gunung-gunung dan bukit yang berjajar di sekeliling.
Namun, dari tempat kami berada kini, tempat obor semalam tidak terlihat. Terhalang oleh lereng gunung sisi kanan kami.
“Kayaknya kita harus terus turun ke bawah, deh,” ujar Rindu sambil mengunyah ubi.
“Oke, kalau gitu udahan yuk, istirahatnya. Kita lanjut turun!” sahut Lina. Kami berkemas dan lanjutkan perjalanan.
Lima belas menit berlalu, kami sudah sampai di bawah. Dari tempat kami berdiri terlihat ke mana arah jalan yang kami tapaki ini. Menuju ke sungai yang terletak di kaki gunung. Sampai bawah sana buntu. Mungkin harus menyebrangi sungai berarus deras di bawah sana itu. Lalu sampailah pada gunung seberang sungai sana.
“Jalan ini kayaknya menuju ke gunung seberang sungai, deh. Kita salah jalan,” ujar Purnama.
“Whaaat?!” pekik Rafunselia.
“Kita mesti balik lagi ke atas, ke perempatan tadi terus belok ke kanan,” lanjut Purnama. Sukses membuat kami semua mendengkus kesal.
Sudah capek-capek turun, sekarang mesti balik lagi ke atas. Gila! Bakal habis ini tenaga tercecer di jalan.
“Ya sudah, kita istirahat dulu di sini beberapa menit. Ngumpulin tenaga buat kembali menaiki lereng yang cukup terjal ini.” Sesuai saran Rita, semua pun lantas duduk beralaskan rumput di bawah pepohonan rindang. Entah pohon apa.
Setelah dirasa cukup istirahatnya, kami kembali menyusuri jalan setapak nan terjal hingga sampai di perempatan yang tadi. Dan kami pun belok ke sisi kanan.
Barusan bertemu jalanan yang agak landai, sekarang kami harus kembali menuruni jalanan yang terjal. Hingga sampai di jalan berbatu yang terletak di tepi sungai. Sepi tak ada satu pun orang yang lewat.
Lagi, kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Menikmati ubi rebus yang masih sisa sedikit. Sedang asyik duduk-duduk sambil mengobrol santai sebagian ada yang foto-foto pemandangan sekitar menggunakan kamera ponsel. Tiba-tiba terdengar gema ledakan yang sangat dahsyat. Bumi pun bergetar seperti gempa.
Aktivitas kami pun otomatis terhenti. Syok. Aku menajamkan pendengaran, tapi ledakan itu tidak terdengar lagi.
“Suara apaan, ya, tadi itu? Bom apa gunung meletus?” tanya Rumia. Semua menggeleng tak tahu.
“Dari mana, ya, arah suara ledakan tadi?” tanya Tika.
“Benar, sepertinya ledakan tadi berasal dari balik lereng sana,” timpal Anna.
“Ayo, kita lihat apa yang terjadi di sana!” ajak Midah.
“Tunggu!” pekik Sundari.
“Kenapa lagi?” tanya Lina.
“Kalau ternyata itu gunung meletus, kan, bahaya. Masa kita mau nyamperin bahaya, sih?” lanjut Sundari.
“Ck, kalau gunung meletus pasti sekarang udah hujan abu atau pasir kali,” ketus Riani.
“Iya, juga ya,” gumam yang lain, termasuk aku.
“Ya sudah, ayo kita pastikan tadi itu suara apa? Bismillah!” seru Sundari. Semua pun kompak mengucap basmalah. Lalu menyusuri jalanan berbatu yang mengarah ke sumber ledakan.
Setelah menapaki jalanan yang menanjak, menurun, dan berkelok, akhirnya kami sampai pada sebuah tempat seperti tempat perkemahan. Di kejauhan sana terlihat ada tenda-tenda yang terbuat dari terpal. Serta ada suara seperti orang memecah batu atau semacamnya. Riuh sekali.
“Coba kita lebih mendekat lagi, yuk!” bisik Purnama.
Semua mengangguk setuju, dan melangkah perlahan mendekat ke TKP. Kami mengintai dari balik pepohonan dan semak belukar. Kini jarak kami tinggallah sekitar 30 meter dengan TKP.
Dari tempat kami mengintai, terlihat jelas aktivitas orang-orang di dekat perkemahan itu. Suara seperti batu dipecah tadi benar adanya. Ya, sebagian memecah batu, sedang sebagian lainnya mengangkut dan ada juga yang keluar masuk dari sebuah gua di kaki bukit.
“Itu nenekku!” seru Purnama sambil menunjuk ke arah orang yang berkerumun memecah batu. Aku kesulitan mendeteksi sosok yang ditunjuknya. Di sana banyak manusia dari mulai anak-anak, lelaki, perempuan, sampai yang dewasa. Bahkan yang jompo pun ada.
“Kita ke sana, yuk!” ajak Purnama, dia langsung mengayunkan langkah.
“Tunggu!” ujar Hanin seraya mencekal lengan Purnama. Lalu ditarik kembali ke dalam persembunyian.
“Ada apa? Itu nenekku. Aku harus ke sana mastiin kenapa dia berada di sini.” Purnama ngotot.
“Coba lihat itu!” ujar Hanin sambil menunjuk ke arah lelaki tua yang kepalanya ditodong senjata api.
Purnama membungkam mulutnya yang menganga. “Itu kakekku,” desisnya. Matanya berkaca-kaca. “Aku harus ke sana menolong kakekku!” tegas Purnama.
“Jangan gegabah! Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana, Pur!” bentak Lina.
“Benar apa kata Lina, Pur. Sebaiknya kita pahami dulu situasi yang terjadi di sana,” sahut Tika.
“Setuju!” celetuk Ira, Midah, Anna, Rumia, kompak. Detik kemudian mereka saling pandang satu sama lain.
“Tapi, masa aku diam saja melihat kakekku disiksa dan diintimidasi begitu,” sergah Purnama.
Kami berusaha menenangkan Purnama yang terbakar api amarah setelah melihat kakeknya ditendang dan dipukul serta ditodong senjata api kepalanya.
“Jangan malas-malasan! Kerja yang benar!” teriak salah satu pria bersenjata sambil mengudarakan satu tembakan sebagai peringatan.
Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Dan siapa pasukan bersenjata itu?
Aku tersentak dari lamunan manakala suara tembakan kembali menggelegar. Mataku mengarah ke sumber suara. Kubungkam mulutku yang menganga. Seseorang yang dianggap membangkang ditembak. Darah segar merembes keluar dari lubang bekas peluru yang menembus dada seorang lelaki paruh baya. Detik kemudian tubuh renta dan lusuh itu tumbang. Meregang nyawa.
“Hanyutkan jasadnya di sungai yang terletak di kaki bukit sana!” titah seorang pria bersenjata pada rekannya. Detik berikutnya lelaki yang masih keadaan sekarat itu diseret. Seolah menyeret barang bekas saja. Sungguh tidak manusiawi.
Aku dan semua teman-temanku terduduk. Syok.
____