Horror Adventures

Horror Adventures
Mengungkap Misteri Di Desa Mati 5



*


Samar kudengar ada yang memanggil namaku. Ramai.


“Yan, Yanti, bangun!”


Aku mengerjap, membuka mata perlahan. Pandangan mataku buram. Lalu kembali kupejamkan lantas kubuka kembali, tapi masih buram juga. Setelah berulang kali merem melek, akhirnya penglihatanku kembali normal.


Pandangan mataku tertuju pada langit-langit rumah yang dipenuhi sarang laba-laba. Serta gentengnya yang sebagian sudah melorot hampir jatuh.


Aku lalu melihat ke sekeliling. Ada ke-13 temanku, semua matanya mengembun wajah mereka diliputi kecemasan, dan ada tiga lelaki juga di sampingku. Siapa mereka?


“Apa yang terjadi? Kenapa kalian lihatin aku begitu?”


Bukannya menjawab pertanyaanku, mereka malah menangis histeris sambil berteriak.


“Yanti masih hidup! Yanti masih hidup!”


What the?


“Aku pikir kita semua bakal kehilangan kamu hari ini, Yan,” ucap Anna bercampur tangis.


“Emangnya aku kenapa?”


“Kamu ... kamu ... kamu amnesia Yan?” tanya Midah. Ia terlihat panik.


Aku menggerakkan kakiku bermaksud hendak bangun, tapi kakiku terasa nyeri dan kaku.


Ya Tuhan, iya. Tadi kakiku tertembak, ‘kan?


“Gaes, aku tadi tertembak, ‘kan?” tanyaku, sambil memandang temanku satu persatu. Dan mereka kompak mengangguk pelan sambil mencebik menahan tangis.


“Eum, aku masih hidup, ‘kan?”


“Alhamdulillah,” ucapku lega, setelah semua sahabatku mengangguk pertanda bahwa aku masih hidup.


Purnama lalu menjelaskan bahwa luka tembak pada kakiku tidak parah, dan tidak ada peluru yang bersarang di dalam betisku. Meski sempat mengeluarkan banyak darah dan membuatku pingsan. Maklum, aku phobia darah. Makanya saat melihat darah mengucur di betisku langsung pingsan tadi.


Kemungkinan betisku hanya terserempet peluru saja. Tapi, jika nanti sudah berhasil keluar dari desa mati ini harus dilakukan pemeriksaan ulang untuk lebih jelasnya. Untuk sekarang luka bolong di betisku sudah diikat dengan kain. Entah kain apa? Dan sudah dibalur dengan dedaunan yang ditumbuk dengan batu dan alat seadanya oleh ketiga pria ganteng itu.


“Mereka siapa?” Aku menunjuk ketiga pria dengan gerakan mata.


“Mereka ketiga pria yang tadi kita selamatkan, Yan.” Rita menyahut cepat.


“Mereka youtuber, yang tadi nyelametin kamu, Yan,” imbuh Ira.


Aku mengangguk paham. Lalu ketiga pria itu menyebutkan nama masing-masing. Yang kuketahui bernama Kelana, Bara, dan Bani. Ketiganya sama gantengnya. Memiliki ciri khas dan kelebihan masing-masing.


“Terus, kenapa kalian bisa disekap oleh para penjahat itu?” Satu pertanyaan yang sejak tadi kupendam akhirnya meluncur bebas. Keluar dari mulut ini.


Lalu ketiga pria ganteng itu saling sahut menjelaskan kronologisnya. Mereka ke desa mati ini tujuan utamanya ingin membuktikan keangkeran di desa ini. Tujuan mereka hendak membuat konten youtube, tapi malah tanpa sengaja bertemu dan merekam para penjahat yang sedang bertransaksi obat terlarang.


Rupanya para penjahat itu sengaja memilih tempat angker ini untuk melakukan transaksi, bahkan dari hasil rekaman video kamera milik Bara, para penjahat itu berniat akan membangun pabrik narkoba di sini.


Para mafia itu sengaja memilih bertransaksi dan membangun pabrik di sini supaya aksi mereka tidak terendus oleh pihak lain. Karena memang tidak banyak yang berani memasuki desa ini sejak santer terdengar keangkerannya.


“Mafia itu tidak segan membunuh orang yang masuk ke desa ini. Lalu menyebar isu bahwa orang-orang yang masuk ke desa ini mati dan dibawa oleh makhluk astral ke alamnya. Padahal sejatinya mereka dibunuh dan jasadnya  dikubur secara berpencar di desa ini.”


“Iya, bahkan kami sempat merekam bagaimana para penjahat itu membantai seseorang. Entah siapa? Kami tidak tahu. Kami terlambat menyelamatkan orang tersebut.” Setelah berucap demikian, Kelana menunduk pilu. Penyesalan tersirat jelas di wajah mereka.


Kami ber-14 saling pandang satu sama lain merasa ngeri setelah mendengar Kelana bercerita. Kecil kemungkinannya kami bisa selamat dan keluar dari sini kalau begitu ceritanya.


“Terus kenapa sampai sekarang kalian belum dihabisi?” celetuk Sundari. Rafunsel yang kebetulan duduk di sampingya menyikut kasar lengan Sundari.


“Apaan sih, kalau bertanya itu yang bener,” sentak Rafunsel. Kemudian keduanya terlibat adu mulut.


“Suuuth!” desis Rindu, sambil menempelkan telunjuk di bibirnya. Menenangkan Rafunsel dan Sundari.


Bara lalu menceritakan kenapa para penjahat itu sampai sekarang belum menghabisi mereka bertiga. Karena para mafia itu masih mau mengorek informasi di mana kartu memori hasil rekaman bukti kejahatan mereka disimpan.


“Jadi, bukti rekamannya kalian simpan di mana?” tanya Lynna, gusar.


“Itulah, kami lupa pastinya di mana? Tapi seingatku ... aku membuangnya di dekat pohon beringin besar. Saat itu kami panik, karena aksi kami ketahuan. Sambil berlari menghindari tembakan dari para penjahat itu, aku melemparnya begitu saja memorinya,” jelas Bani panjang lebar.


“Iya, bahkan kami sempat terpisah satu dengan yang lain sebelum akhirnya kami tertangkap. Kondisi saat itu lewat tengah malam,” imbuh Bara.


Kelana juga menjelaskan bahwa mereka nyaris dihabisi malam itu, tapi urung karena ketahuan membawa kamera dan kartu memorinya tidak ditemukan di sana. Mereka bertiga lalu diinterogasi di mana memorinya disembunyikan. Dari sinilah ketiga pria ganteng ini memiliki cara untuk bertahan hidup.


Mereka bertiga  memiliki keyakinan jika tidak segera mengaku di mana letak kartu memorinya, maka dapat dipastikan mereka tidak segera dihabisi. Dan ternyata benar.  Meski mereka disiksa dan  dipukuli habis-habisan oleh para mafia itu hingga terdapat banyak luka lebam di sekujur tubuhnya. Mereka masih diberi kehidupan sampai sekarang.


Meski banyak luka lebam di wajah dan tubuh mereka, tapi kegantengan mereka bertiga masih tetap 'tak tersamarkan.


“Berarti kita punya satu misi lagi sebelum keluar dari sini. Yaitu mencari kartu memori bukti rekaman kejahatan itu?” tanya Riani.


“Iya, tanpa bukti itu polisi tidak mungkin percaya dengan laporan kita nanti. Pasti kita dianggap halusinasi semata,” balas Bani.


Semua pun lalu menunduk lesu. Suasana mendadak hening seketika.


Aku memperhatikan setiap lekuk tubuh ketiga pria ganteng itu. Oh, betapa indahnya makhluk ciptaan-Mu.


Kelana, postur badannya tidak jauh beda dengan artis Adipati Dolken. Sementara Bara tidak jauh beda dengan artis Amar Zoni, dan Bani postur badannya mirip artis Rizky Billar. Pun kegantengan mereka sebelas duabelas dengan ketiga artis yang kusebutkan.


Aku terkesima akan kegantengan mereka. Hingga tanpa sadar, aku menatap mereka sedemikian rupa. Membayangkan jika ketiganya menjadi ....


“Woy! Sadar, woy!”


Teriakan dan jentikan jari Rafunsel tepat di depan wajahku, memecah keheningan, pun membuyarkan lamunanku. Argh!


“Aku pengen duduk, Gaes. Capek dari tadi nyimak cerita kalian sambil baring gini.”


“Ya duduk aja!” ketus Rafunsel.


“Susah, kalian apit aku gini. Selain itu juga kakiku nyeri,” rengekku.


“Dasar manja!” ketus Riani.


Mereka lalu sedikit bergeser mundur memberiku ruang supaya bisa gerak. Tadi cuma mata dan kepala doang yang gerak ke kiri, kanan, atas, bawah.


“Sini aku bantu,” ucap Rindu, sambil memegang bahuku hendak membantuku duduk.


“Enggak mau. Maunya dibantu mereka.” Aku menunjuk ketiga pria yang duduk agak jauh di samping kiriku menggunakan gerakan mata.


“Yaelah, lagi begini masih aja cari kesempatan. Perbanyak istighfar. Bukannya perbanyak bucinan!” sentak Hanin. Sementara Rafunsel terkikik penuh kemenangan.


“Sokor,” desis Rafunsel, kemudian.


“Sirik aja lu,” balasku ketus.


Baru saja sejenak ketegangan kami terjeda. Kelana menempelkan telunjuk di bibirnya sambil berdesis memberi isyarat agar kami menyudahi kegaduhan yang kami ciptakan.


Terdengar derap kaki sedang berlarian di dekat rumah tempat kami bersembunyi sekarang.


Suaranya semakin mendekat kemari.  Lagi-lagi kami semua diliputi ketegangan.


N


E


X


T


👇