Horror Adventures

Horror Adventures
Mengungkap Misteri Di Desa Mati 10



Selama anak buahnya menyebar mencari keberadaan Bara. Sang bos mafia yang stay di sini bersama kami terus saja menginterogasi kami soal apa saja yang sudah kami ketahui tentang bisnis gelapnya dan lain sebagainya. Tak jarang kami diancam akan ditembak jika berbohong.


Kami laksanakan ikan asin yang dijemur. Di dudukkan di ubin yang terbuat dari semen usang sudah banyak yang bolong. Disandarkan pada satu sisi tembok berderet dengan tangan diikat ke belakang, kaki berselonjor dan diikat juga.


Aku sedari tadi berusaha membuka tali pengikat di tangan, tapi sulit.


***


Sudah hampir 3 jam anak buah mafia itu mencari keberadaan Bara, tapi belum ada satu pun yang kembali.


Sekitar jam 10 siang barulah salah satu anak buahnya kembali melapor bahwa Bara tidak berhasil ditemukan. Detik kemudian disusul anak buahnya yang lain pada berdatangan memberikan laporan yang sama. Mereka semua tidak berhasil menemukan Bara.


Melihat anak buah mafia itu dimarahi karena dianggap tidak becus dalam bekerja, aku dan temanku saling lirik. Senyum kecil tersungging di bibir kami. Ada secercah harapan untuk bisa selamat dari sini.


Semoga Bara berhasil keluar dari desa ini, dan berhasil mencari bantuan.


Usai memarahi dan menghukum anak buahnya, bos mafia itu mengarahkan tatapan elangnya ke tempat kami berada. Lalu mendekat dan menodongkan pistol ke kepala temanku satu persatu sambil melontarkan pertanyaan akan di mana Bara berada.


Terakhir bos mafia itu menodongkan pistol ke keningku sambil melontarkan pertanyaan yang sama.


“Saya tidak tahu,” jawabku, sambil terus berusaha membuka ikatan di tangan. Setelah tali di tangan berhasil lepas, aku berusaha berdiri dengan keadaan kaki masih terikat lalu merebut pistol dari tangan mafia itu. Namun, sialnya tenagaku kalah kuat. Bos mafia itu berhasil mempertahankan pistolnya. Kemudian aku didorongnya hingga tersungkur ke ubin. Semua temanku hanya berteriak histeris. Ada juga yang menyayangkan kecerobohanku.


Kini bos mafia itu sangat murka padaku. “Ikat dia di tiang itu!” Ia memberi perintah pada algojonya. Kemudian aku diseret lalu diikat di sebuah tiang kayu yang berada di tengah rumah ini. Persis seperti napi yang akan mendapat hukuman mati. Temanku hanya bisa menyaksikan. Mereka tak bisa berbuat banyak. Sementara aku kini hanya bisa pasrah.


“Kau sudah melewati batasan, Nona!” ucap bos mafia itu seraya menjambak rambutku yang terbungkus hijab sehingga wajahku menengadah ke atas. “Kita lihat, setelah peluru ini menembus kepalamu apa kau masih bisa jadi sok jagoan,” lanjutnya. Lalu mundur beberapa langkah dan mengarahkan pistol tepat ke arah keningku.


Semua temanku menangis histeris memohon agar aku jangan ditembak. Namun, bos mafia itu sepertinya sudah terlanjur murka sehingga teriakan teman-temanku tak dihiraukannya. Telunjuk bos mafia itu mulai menyentuh pelatuk pistol dan digerakkan perlahan ke belakang.


Mungkin ini memang takdirku. Jika memang aku harus mati di tangan mafia kejam ini, semoga Engkau ampuni segala dosaku, Tuhan. Aku memejamkan mata bersiap menerima tembakan. Tak lupa kuucapkan kalimat syahadat dan tahlil dalam hati.


“Jangan bergerak!” pekik seseorang dari luar markas ini, sehingga membuat tembakan bos mafia itu melesat mengenai tembok, mungkin efek terkejut. Detik kemudian para polisi merangsek masuk dan berhasil meringkus anak buah sang mafia. Namun, bos mafia berhasil melarikan diri lewat jendela dan melakukan perlawanan terhadap polisi saat dalam pengejaran. Terdengar dari riuhnya suara tembakan.


Bara melepaskan ikatanku, kemudian kami berdua melepaskan ikatan teman-teman yang lain dibantu oleh polwan dan polisi.


“Kamu berhasil Bar,” ucap Bani, lalu keduanya saling berpelukan.


“Kamu datang di saat yang tepat. Kalau tidak, entah apa yang bakal terjadi pada Yanti, Bar,” sambung Kelana, kemudian keduanya berpelukan. Air mata haru kami luruh. Aku dan semua teman wanitaku berpelukan membentuk lingkaran diiringi isak tangis haru.


“Kita selamat,” lirih Rafunselia, yang lain mengangguki. Masih sambil terisak.


“Iya kepalaku nggak jadi bolong, Alhamdulillah. ‘Kan repot kalok bocor, secara di sini kagak ada Kang tambal kepala,” ucapku, dan dibalas kekehan oleh yang lain.


Rindu menoyor kepala ini. “Dasar! Lagi kayak gini masih aja becanda,” ucapnya kemudian, sambil mencebik menahan tangis. Detik kemudian kami menyudahi ritual berpelukan.


Bu polwan menyarankan agar kami segera pergi ke rumah sakit terdekat naik mobil polisi supaya luka di kakiku segera dapat penanganan medis. Pun dengan kaki Rafunselia yang semakin bengkak akibat kesleo kala itu.


“Terus mobil kami bagaimana, Bu?” tanya Purnama.


“Tenang, mobil kalian biar kami yang urus,” sahut Kelana, dan diangguki oleh Bara juga Bani.


“Iya, biar mobil kalian diurus oleh teman pria kalian. Nanti dibantu anggota kami,” timpal salah satu polisi.


“Baik terima kasih, Pak,” ucap Hanin, sambil mengangguk hormat.


Polisi membalas anggukan Hanin. “Sama-sama. Itu sudah tugas kami,” balasnya sambil menyunggingkan senyum santun.


Kemudian aku dipapah oleh Sundari untuk pergi ke tempat mobil polisi terparkir.


“Berhenti sebentar,” pintaku saat sampai di teras markas.


“Kenapa Yan?” tanya Rita, yang lain antusias menunggu aku bicara.


“Ada hal yang mesti aku sampaikan ke Pak Polisi,” jawabku. Lalu Sundari memapah aku mendekat ke kerumunan polisi yang masih melakukan penyelidikan di markas.


Setelah berhadapan dengan Komandan polisi, aku menyampaikan apa yang aku lihat di alam bawah sadar semalam.


“Baik, Mbak, kami akan dalami dan usut tuntas kasus ini,” jawab sang Komandan. Lalu memanggil satu polisi serta meminta agar satu centeng mafia dibawa ke hadapannya.


“Apa benar, kamu dan bosmu pernah mengubur sesuatu di bawah pohon itu?” tanya sang Komandan kepada salah satu anak buah mafia yang kulihat di alam bawah sadar turut mengubur sesuatu.


Anak buah mafia itu pun menoleh mengikuti arah yang ditunjuk Komandan. Kemudian menunduk terdiam.


“Jawab!” sentak Komandan. Reflek sang centeng mengangguk.


“Apa yang kamu kubur di sana?” tanya Komandan.


Aku dan yang lain ternganga setelah mendengar jawaban centeng itu.


“Sekarang sudah jelas bahwa benar ada yang dikubur di sana.” Komandan menunjuk tempat orang yang dikubur. “Kami akan urus kasus ini sampai tuntas. Kalian pergilah ke rumah sakit untuk mengobatkan yang sakit. Nanti kalian datang ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian dan keterangan setelah berobat,” sambung Komandan. Kami mengangguk, lalu pergi.


Sebagian polisi masih sibuk di TKP, dan sebagian lagi masih melakukan pengejaran terhadap bos mafia yang melarikan diri tadi. Sementara Bu polwan dan beberapa polisi lainnya mengawal kami ke rumah sakit.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku diinterogasi oleh teman-temanku.


“Yan, kok kamu bisa tahu di sana ada orang yang dikubur? Gimana ceritanya?” cecar Midah. Pun dengan yang lain melontarkan pertanyaan yang sama. Mau tak mau aku menceritakan semuanya.


“Biasanya aku yang dapat penglihatan semacam itu. Kenapa sekarang jadi kamu, ya, Yan?” ucap Riani. Aku mengedikkan bahu, tak tahu.


“Mungkin kekuatannya pindah ke Yanti, secara gak betah ikut kamu, Ni, kamu ‘kan jutek,” celetuk Rindu diiringi kekehan oleh yang lain. Sementara Riani cemberut.


“Bercanda, biarpun kamu jutek, tapi kita tetep sayang kok ama kamu,” ucap Rindu kemudian, sambil merangkul bahu Riani. Kebetulan mereka duduk bersebelahan.


Aku dan yang lain mengangguki ucapan Rindu. Sepakat, meski Riani jutek, tapi kami sayang padanya. Akhirnya Riani tersenyum, matanya berkaca-kaca. Aku tahu meski Riani terkesan jutek, tapi dia juga sayang kepada kami. Sama seperti sayang kami padanya.


***


Setelah mendapat pengobatan, kami pergi ke kantor polisi sesuai titah Komandan. Untuk memberikan kesaksian dan keterangan.


Sesampainya di kantor polisi, Bara CS sudah di sana. Pun para polisi yang tadi ke TKP semua sudah kembali ke kantor. Mobil kami juga sudah terparkir di area parkir. Itu artinya sudah tidak mogok lagi.


Kami juga diberi diberi kesempatan untuk melihat proses interogasi. Sehingga kami bisa mendengar pengakuan anak buah mafia itu.


Menurut penuturannya, dia dan bosnya sudah beberapa bulan terakhir mendirikan markas untuk menjalankan bisnis gelapnya di Desa Mati. Dan siapa pun yang masuk ke sana akan dibunuh secara sadis lalu dikubur secara asal. Tujuannya untuk memperkuat isu yang mereka buat yakni bahwa Desa Mati itu angker dan siapa pun yang memasuki Desa tersebut akan menghilang secara misterius. Padahal itu hanya alibinya saja supaya orang-orang takut dan tidak datang ke sana. Sehingga bisnis gelapnya aman.


Menurut pengakuan anak buah mafia itu, sudah ada beberapa orang yang mereka bunuh. Polisi masih akan terus mendalami kasus ini. Sementara bos mafia sudah mati tertembak saat dilakukan pengejaran tadi, karena terus melakukan perlawanan.


Tugas kami selesai, kami pun diizinkan untuk pulang. Begitu pula Bara CS, mereka sudah diizinkan pulang ke kotanya.


Sebelum berpisah kami berbincang sejenak di rumah makan yang terletak tak jauh dari kantor polisi, tak lupa kami bertukar nomor ponsel dengan Kelana CS. Kali aja ‘kan salah satu dari mereka adalah jodohku. Pletak!


“Lain kali kalau mau buat konten YouTube jangan membahayakan keselamatan,” ucap Rindu, sok care dengan Kelana. Kelana hanya menanggapi dengan kekehan.


“Habis kami penasaran sama desa itu. Kan sekarang lagi viral buat konten YouTube di tempat-tempat angker kek gitu,” sahut Bani.


“Masih mending ketemu hantu, daripada ketemu mafia kek tadi. Ribet,” timpal Riani.


“Ketemu hantu atau mafia nggak ada yang mending. Mending sekarang kita OTW pulang. Emakku dah SMS muluk nih, kapan pulang?” sahut Rafunselia. Tawa kami pun pecah.


“Dasar anak mama,” ejek Riani.


“Biarin 'kan aku emang dilahirkan sama Mama. Wleew,” balas Rafunselia, lanjut melet ke arah Riani.


“Emang iya? Bukannya kamu lahirnya muncul dari air, ya?” timbrung Ira.


“Iya, air ketuban!” ketus Rafunselia mulai kesal terus digoda. Tawa kami pecah.


Lalu mengakhiri perbincangan, dan kami mengucapkan salam perpisahan dengan Bara CS. Kemudian OTW pulang ke rumah masing-masing.


Di dalam mobil yang dikemudikan oleh Lynna, aku terus mengucap syukur dalam hati. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk hidup sekali lagi.


Aku tidak terlalu mau tahu apa penyebab Desa Bondali itu mati. Sehingga sekarang desa tersebut dijuluki Desa Mati. Yang terpenting misteri di dalamnya kini sudah terpecahkan. Semoga setelah ini, tidak ada lagi orang-orang yang menyalah gunakan desa itu.


***


Enam bulan sejak terungkapnya misteri di Desa Mati, aku mendapat kabar dari Nenek kalau sekarang Desa Bondali sudah dialih fungsikan menjadi perkebunan. Rumah-rumah kosong di sana sudah dihancurkan. Diganti dengan tanaman palawija serta tanaman lainnya.


Alhamdulillah, kesan angker sudah tidak terlihat lagi di sana. Sekarang berubah menjadi asri dan hijau.


#SELESAI


💕💕💕💕💕


NB:


Tunggu petualangan 14 bidadari perusuh selanjutnya di lain waktu dan di lain judul, ya, Gaes.


Salam manis dari saya selaku author retjeh.


💕💕💕💕💕