Horror Adventures

Horror Adventures
Mengungkap Misteri Di Desa Mati 1



***


"Takdir macam apa ini? Kenapa kita bisa nyasar ke sini lagi?" ucapku setengah memekik. Sebagian merespon dengan gelengan kepala, dan sebagian ada yang mengedikkan bahu.


Rindu sudah berusaha menyalakan kembali mesin mobilnya, tapi nggak nyala juga. Pun mobil belakang. Mendadak mogok seperti saat itu.


Semua pun turun karena di dalam mobil terasa panas.


"Pokoknya kita harus berusaha sesegera mungkin pergi dari desa mati ini, gimana pun caranya. Aku nggak mau kalau harus bermalam di sini lagi kayak waktu itu!" tegas Rafunsel. Sebagian dari kami ada yang mengangguk setuju dengan pernyataan Rafunsel. Sebagian lagi diam dalam kepasrahan.


"Ya, gimana mau pergi kalau mesin mobilnya aja nggak nyala. Mogok gini. Situ mau dorong mobilnya?" ketus Riani. Rafunsel pun menunduk sedih. Aku mendekat ke sampingnya berdiri lalu mengusap bahunya.


"Cari bantuan kan bisa," lirih Rafunsel. Bibirnya manyun kesal.


"Cari bantuan ke mana? Ini desa mati, dan letaknya terpencil. Sebelah-sebelahnya nggak ada perkampungan. Adanya hutan kayu dan perkebunan serta persawahan," jelasku.


"Aku coba sekali lagi ya, stater mobilnya," ucap Rindu. Lalu bergegas masuk ke dalam mobil. Namun, jangankan menyala, bergetar saja tidak. Pun dengan Hanin yang berusaha menghidupkan mesin mobil satunya. Tidak berhasil.


Hanin dan Rindu pun keluar dari dalam mobil. Lalu menggeleng lesu ke arah kami.


"Tetep nggak bisa nyala mesin mobilnya," ucap Hanin.


"Yah, terus gimana dong?" sahut Rumia lesu. Rindu dan Hanin kompak mengedikkan bahu. Tidak tahu mesti gimana lagi. Kami juga tidak ada yang tahu soal mesin. Huf.


"Gini nih, kalau kita sok-sokan berani jalan sendiri. Repot kan, kalau salah satu di antara kita nggak ada yang ngerti mesin. Coba waktu itu ikutin saranku ajak Calvin juga Abdu dan Arul. Paling nggak enak kalau ada lakinya di antara kita," gerutu Purnama.


"Kan udah dibilang Calvin nggak bisa ikut lagi wisuda. Sementara Abdu lagi touring sama gengnya, dan Arul lagi sibuk-sibuknya di kantornya," jelas Rita.


"Sekarang gimana?" tanya Ira.


"Enggak ada pilihan lain selain menunggu orang lewat. Lalu kita minta bantuan sama yang lewat nanti," balas Midah, dan semua mengangguk setuju dengan ucapan Midah.


Lantas, kami pun duduk di pinggir jalan, samping mobil kami terparkir sambil berusaha mencari signal. Sebagian ada yang tiduran di dalam mobil dengan pintu mobil dibiarkan terbuka biar nggak gerah katanya.


"Aduh, aku kebelet pipis, gaes. Gimana dong?" ucap Tika.


"Ya udah sana pipis!" titah Sundari.


"Auk, pipis tinggal pipis," sahutku.


"Di mana?" tanya Tika.


"Ya terserah kamu, mau pipis di mana?" balasku.


"Temenin!" pinta Tika, sambil memasang raut wajah melas.


"Ya sudah, ayo!" jawabku.


Lantas aku dan Tika pun menjauh dari teman-teman yang lain. Mencari tempat aman untuk buang hajat, juga mencari sumur yang masih ada airnya.


Berjalan dari satu rumah kosong ke rumah kosong yang lainnya. Saat nemu sumur yang masih ada airnya, timbanya nggak ada. Pun sebaliknya. Ketika ada timbanya, airnya yang nggak ada.


"Alhamdulillah," ucap kami berdua kompak. Saat nemu sumur yang masih lengkap ada airnya juga timbanya.


"Ya sudah, cepetan pipisnya!" titahku pada Tika.


"Aku tunggu di sana, ya," ucapku, sambil menunjuk ke arah samping rumah kosong depan sumur ini. Setelah Tika mengangguk, aku pun berjalan menajuh dari sumur.


"Sudah. Yuk, balik ke tempat temen-temen tadi!" ajak Tika, setelah selesai buang hajat. Aku mengangguk lalu mengayunkan langkah hendak kembali.


"Kamu denger suara itu, nggak, Tik?" tanyaku, memastikan. Tika mengangguk. Lantas kami sama-sama menajamkan pendengaran.


"Kayaknya dari arah sana deh, suaranya," ujar Tika. Aku mengangguk karena sepemikiran.


"Kita cek, yuk!" ajakku. Cepat, Tika menggeleng.


"Nggak mau ah, kita kasih tahu teman-teman yang lain dulu lalu kita lihat bersama-sama saja."


Sesuai saran Tika, kami berdua pun kembali ke tempat teman-teman yang lain, dan memberitahukan apa yang kita dengar. Selanjutnya kami semua ber-14 kembali ke TKP. Memastikan tadi yang aku dan Tika dengar itu suara apa?


Sesampainya di dekat rumah kosong atau lebih tepatnya ketika sampai di dekat TKP, suara tadi masih terdengar. Kami pun mengecilkan volume suara, juga memelankan langkah agar tidak menimbulkan suara serta supaya tidak ketahuan.


Setelah sampai di samping rumah yang di dalamnya terdapat suara gaduh, kami semua mengintip ke dalam secara bergatian melalui lubang kecil yang terdapat di daun jendela yang terbuat dari papan nan usang termakan lapuknya usia.


Suasana di dalam rumah sana lumayan terang karena hari masih siang. Jadi kami bisa melihat dengan jelas aktivitas di dalam.


Di dalam sana ada tiga orang pria yang tengah diikat tangan dan kakinya dengan tambang, dan dibiarkan duduk selonjoran berjejer di ubin yang kotor. Ketiga pria yang diikat itu bersandar pada sisi tembok dari bata merah nan kotor, dan terus diinterogasi serta terus dipukuli oleh empat orang pria juga, disuruh mengakui sesuatu.


Tak lama kemudian, datang lagi seorang pria menggunakan motor. Langsung mengadu pada salah satu pria yang tengah memukuli ketiga pria sekapan mereka. Mengadu bahwa di ujung desa, ia melihat dua buah mobil tanpa pengemudi dan penumpang.


Seketika kami ber-14 saling pandang satu sama lain. Yang sedang mereka bicarakan di dalam itu mobil kami. Kemudian aku kembali melanjutkan mengintip ke dalam.


Tatapan salah satu pria di dalam sana berubah berang pada ketiga pria yang disekapnya.


"Lu lapor polisi, ya?" cecarnya pada ketiga tawanannya. Cepat ketiga pria yang tengah diikat itu menggeleng. Namun, pria yang bertanya itu tidak percaya begitu saja.


"Gantian," bisik Purnama, dan langsung menarik mundur tubuh ini dari tempat pengintaian. Kemudian Purnama berdiri setengah membungkuk mengambil alih posisiku tadi. Mengintip ke dalam.


Kini aku dan yang lainnya hanya bisa mendengar suara para pria di dalam sana, dan Purnama yang melihat situasi di dalam.


Dari luar terdengar pria tawanan itu kembali dihajar karena dituduh telah lapor polisi.


"Awas ya! Kalau sampai itu benar polisi. Habis kalian bertiga," ancam sang penyekap.


"Ayo kita lihat! Itu mobil polisi atau bukan?" ajak salah seorang pria yang kuyakini dialah si pemegang kendali.


"Siap, Bos!" sahut salah satu dari mereka.


"Elu berdua tetap di sini! Buat jaga-jaga. Nanti kalau aku kasih kode lewat HT (Handy talky). Segera habisi ketiga bocah ini, dan buang mayatnya di tempat biasa," titah salah seorang pria yang kemungkinan besar dialah bosnya.


"Siap, Bos!" sahut kedua pria yang diberi amanah. Lantas sang bos dan kedua antek-anteknya pergi meninggalkan TKP. Aku yakin pasti mereka akan pergi ke tempat mobil kami terparkir.


Purnama menoleh ke arah kami semua pasca mengintip. Sejurus kemudian kami saling pandang satu sama lain.


Ya Tuhan, ternyata orang-orang di dalam itu penjahat. Lalu siapa yang disekap itu?


"Gaes, bahaya. Penjahat itu punya senjata api," bisik Purnama pada kami semua. Sontak mata kami pun membulat sempurna. Ada juga yang langsung membungkam mulut agar jeritan ketakutannya tidak meledak.


Aku menelan ludah bagai menelan batu kerikil saja. Tenggorokan ini mendadak kering. Merasa ngeri setelah diberitahu oleh Purnama bahwa penjahat di dalam bersenjata.


Beberapa saat kemudian dua penjahat di dalam mendapat perintah dari orang yang dipanggil bos tadi melalui pesan suara via HT (Handy talky atau walkie talkie). Perintah agar tetap stay di sini. Sementara mereka ada yang berjaga di dekat mobil, dan sebagian mencari pengemudi serta penumpang mobil. Yakni kami ber-14 tentunya.


Ya Tuhan, bagaimana nasib kami selanjutnya?


B E R S A M B U N G