
***
"Aaaaak! Tolooong, gaes! Tolongin akuuu!"
Memekik histeris sambil menggedor daun pintu yang sudah tampak usang dan sarang laba-laba banyak menempel di sana. Tidak terlihat secara jelas, tapi jika dirasa dari sebagian yang menempel di telapak tanganku. Benar ini sarang laba-laba.
Menghentak-hentakkan kaki merasa ngeri saat darah kental kehitaman semakin mengalir mendekat. Terlihat samar memang, tapi jika dilihat dari aromanya benar itu pasti darah.
Aku semakin yakin jika itu darah terlihat saat bias sorot bulan sabit yang menerobos masuk ke ruangan ini melalui celah genteng yang sebagian melorot. Saat itulah penampakan sesuatu yang mengalir perlahan di lantai tertangkap jelas oleh netra ini. Dan kini tinggal berjarak beberapa senti saja dari kakiku.
Berasa ingin muntah saat aroma anyir berpadu busuk menyengat, menyeruak memenuhi ruangan. Ditambah belatung sebesar ibu jari yang entah dari mana asalnya semakin banyak jumlahnya.
Kuangkat kaki secara bergantian kiri dan kanan untuk menghindari belatung yang melompat-lompat liar ke sana kemari.
Menengok ke belakang, dan kini darah tadi tinggal berjarak sekitar 2 senti dari kaki.
"Aaaaaaak!"
Sungguh mengerikan. Apa yang akan terjadi padaku jika darah berbau busuk itu menempel di kakiku?
"Gaes! Kartika! Iraaaa! Lynna! Rita!" Kuabsen temanku satu persatu, tapi tak ada yang menyahut.
Apa mereka benar-benar sudah pergi jauh?
Merosot berjongkok ke lantai, menempelkan kening di daun pintu. Membelakangi dedemit yang entah sekarang masih di tempat semula atau sudah lenyap.
Lemas. Aku tak lagi punya daya. Rasanya tenagaku sudah terkuras habis. Kini aku hanya bisa pasrah. Mencoba melantunkan do'a, tapi yang terapal malah do'a hendak tidur. Argh! Yang benar saja masa iya aku harus tidur dengan dedemit itu.
Lagi, mencoba membaca ayat kursi, tapi yang terbaca malah do'a hendak makan. Benar-benar kacau hati, lisan, dan pikiran tak sejalan.
Terisak, ya, aku hanya bisa terisak menikmati getaran yang mengguncang tubuh. Takut? Jangan ditanya. Sangat. Sangat takut.
Seharusnya tidak boleh takut.
Tapi ... mau bagaimana lagi. Aku hanya manusia biasa. Dan kini aku menyadari betapa lemahnya imanku. Terhadap makhluk sesama ciptaan Tuhan, saja, aku setakut ini.
Berusaha menepis rasa takut dalam diri. Tapi sulit, dan malah semakin mendominasi jiwa.
"Hihihihihihi!"
Melihatku ketakutan tingkat dewa, hantu itu malah tertawa cekikikan. Entah merasa terhibur entah merasa puas karena telah berhasil menakutiku.
Aku mematung saat ekor mataku menangkap sebentuk tangan pucat pasi merayap perlahan di pundak ini. Merayap semakin melingkar di leherku. Rasanya dingin sekali. Perlahan kuangkat kening yang semula tertempel di daun pintu. Memberanikan diri untuk menoleh ke belakang secara perlahan. Memastikan siapa pemilik tangan ini.
Getaran semakin kuat mengguncang badan. Napas seolah tertahan. Tenggorokan terasa kering, tapi saat akan menelan ludah untuk membasahi kerongkongan terasa payah. Jantung bertalu cepat seolah akan terlontar keluar dari tempatnya.
Saat berhasil menengok ke belakang aku terdiam sejenak. Kurasakan tangan yang tadi seolah hendak mencekik leherku sudah tidak ada. Tangan gemetar bukan main saat kugunakan untuk mengusap leher hingga tengkuk, memastikan leherku aman dan tangan itu benar sudah hilang atau belum.
Benar, sudah hilang.
Kembali menghadap ke pintu lalu menoleh ke belakang lagi. Tidak ada siapa-siapa di belakang sana.
Bangkit dari jongkok, berdiri perlahan. Lalu membalikkan badan, dan kini posisiku membelakangi daun pintu. Netraku memonitor setiap penjuru ruang yang tampak temaram berkat bantuan bias bulan sabit yang menerobos masuk melalui celah jendela kayu juga dari celah genteng tadi.
Hening dan pengap. Aroma anyir berpadu dengan busuk tadi sudah tidak tercium. Pun penampakkannya, lenyap entah ke mana. Mendongak ke atas, takut kalau ternyata hantu tadi bergelantungan di sana. Bernapas lega saat mata ini tidak melihat sesuatu yang mengerikan.
Menunduk, dalam hati tak henti mengucap syukur.
Selamat.
Berdiri, bersandar pada daun pintu. Menstabilkan napas yang terengah juga jantung yang masih deg-degan bukan main.
Getaran yang tadi mengguncang tubuh perlahan mereda. Mengusap keringat dingin yang membanjiri kening. Balik badan berniat hendak membuka pintu. Kali saja sudah bisa dibuka sekarang.
Tangan mengulur hendak meraih knop pintu yang sudah rusak. Belum juga tersentuh knopnya. Terdengar ketukan dari arah luar.
"Siapa di sana?" pekikku, berharap yang mengetuk pintu adalah teman-temanku. Tapi, tidak ada yang menyahut.
Pintu diketuk semakin brutal. Seolah tidak sabar ingin masuk ke sini. Mundur perlahan menjauh dari depan pintu. Menoleh ke sana kemari mencari sesuatu yang bisa kujadikan senjata untuk membela diri. Terlihat balok kayu tersandar di sudut ruangan.
Saat melangkah hendak mengambil balok, kaki ini terasa menendang sesuatu. Sehingga benda yang tak sengaja ketendang menggelinding bak bola. Dan berhenti tepat di dekat balok kayu yang akan kuambil.
"Aaaaaa!"
Seketika tubuhku terasa kaku. Kaki seolah tertanam di lantai. Getaran kembali menguat, jantung bertalu riuh. Napas seolah tertahan. Hendak kembali berteriak, tapi yang keluar hanya lenguhan tak jelas.
Lagi, aroma anyir mendominasi ruangan ini.
Suara ketukan menghilang, berganti dengan suara derap kaki. Riuh, kudengar itu suara teman-temanku.
"Yanti! Kamu masih di dalam?" Itu suara Sundari dan Rumia diikuti temanku yang lain turut memanggilku, seraya menggedor-gedor pintu. Ya, itu suara mereka. Aku hafal betul suara mereka.
"Yanti! Kalau kamu masih di dalam, tolong jawab kami!" pekik Riani. Ingin sekali aku berteriak memberitahukan keberadaanku di sini, tapi mulut serasa terkunci.
Kudengar mereka kasak-kusuk kesulitan membuka pintu.
"Yanti! Yan, Yanti!" Ingin sekali aku menjawab panggilan dari Rindu, tapi apalah daya mulut serasa kaku, lidah kelu.
"Kayaknya Yanti sudah keluar dari sini deh, dan lari entah ke mana?" ujar Rita. Aku menggeleng sambil mangap-mangap berusaha menyampaikan kata pada mereka. Tapi payah.
"Ya sudah, kita pergi saja. Kita cari di tempat lain," ujar Midah. Dan yang lain kudengar setuju dengan saran Midah. Aku menggeleng, dalam hati berharap agar mereka jangan pergi. Tapi kudengar derap langkah kaki mereka semakin menjauh. Air mataku pun luruh. Pupus sudah harapanku.
"Kalau ternyata Yanti di dalam sana pingsan gimana?" celetuk Ira. Lantas suasana menjadi hening.
Kemudian kudengar derap langkah kaki mereka kembali mendekat ke arah pintu.
Bersamaan dengan sebentuk kepala yang menggelinding mendekatiku.
Semakin dekat, dan dekat.
"Aaaaaaak!" Akhirnya aku bisa teriak. Memejamkan mata, ngeri, tak berani melihat kepala yang kemungkinan sudah berada di depanku beberapa senti.
"Yanti, kamu masih di dalam? Yan, apa yang terjadi padamu?"
Teman-temanku riuh, memanggil. Mungkin mereka khawatir.
Kudengar mereka beramai-ramai mendobrak pintu.
Braaak!
Sejurus dengan pintu yang berhasil didobrak, aku membuka mata. Mereka menyorotkan senter ke arahku yang masih mematung dan menggigil ketakutan.
Lalu mereka menghambur ke arahku. Bersamaan memelukku.
"Kamu kenapa?" Aku masih belum mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Hanin. Masih tergagap.
"Yan, tenang ya, kita sudah di sin," ucap Rindu, seraya kembali memelukku erat. Yang lain kurasakan ada yang mengusap bahu ini, dan ada yang mengusap pucuk kepala. Kompak menyalurkan kekuatan dan ketenangan.
"Yan, gimana? Kamu sudah baikan?" tanya Ira, seraya memegang bahu ini. Dan kujawab dengan anggukan.
"Oke, kalau begitu, ayo kita pergi dari sini. Di sini auranya sangat negatif," ujar Riani.
Lantas kami pergi dari tempat mengerikan itu. Tidak ada niat untuk kembali ke sana. Bergidik ngeri saat otakku me-review kejadian tadi.
Di tengah jalan, kami sempat bersitegang. Sebagian meminta melanjutkan mencari Anna, dan sebagian lagi menyarankan untuk istirahat barang sebentar di dalam mobil.
"Mana mungkin kita bisa istirahat dengan santai sementara keberadaan Anna masih belum kita ketahui. Yang benar saja!" racau Riani. Kami pun sama khawatir luar biasa, tapi kita perlu istirahat sejenak untuk mengumpulkan kekuatan.
Lagi pula aku sangat haus, dan air minumnya ada di dalam mobil.
"Ya sudah, kita istirahat dulu sebentar di mobil, tapi benar ya, hanya sebentar!" tekan Riani. Lantas kami semua mengangguk setuju, dan mengayunkan langkah menuju tempat mobil terparkir.
Meski sempat tersasar, akhirnya ketemu juga tempat mobil kami terparkir.
Jarak kami tinggal beberapa meter dari tempat mobil kami terparkir. Masih terparkir di tempat semula. Di depan sana.
Kami kompak menutup mata dengan lengan saat lampu mobil tiba-tiba menyala. Silau. Pun dengan mesinnya, menyala. Padahal tadi seingatku mobil mogok 'kan?
Langkah kami pun terhenti.
"Apa Anna sudah di sana?" desis Rita.
"Tapi, Anna sama siapa? Kok lampu mobil dua-duanya menyala?" sahut Sundari. Kami pun saling pandang satu sama lain. Bingung.
"Iya, lagian bukannya tadi mobil kita mogok, ya?" timpal Rindu.
"Coba, sentermu yang masih terang nyalanya sorotin ke arah kemudi!" Lynna menuruti titah Hanin. Dan betapa terkejutnya kita saat mendapati tempat kemudi kosong. Tidak ada yang mengoperasikan di sana.
\=B E R S A M B U N G\=