Horror Adventures

Horror Adventures
MISTERI HILANGNYA WARGA KAMPUNG BUTHON 4



***


“I-itu ta-tadi yang ditembak kakekku, bukan, ya?” tanya Purnama suaranya parau. Tubuhnya lemas. Nyaris pingsan.


“Bukan Pur, kakekmu masih di sana itu.” Lina menunjuk keberadaan kakeknya Purnama. Purnama mengelus dada lega. Tangisnya pecah, terisak lirih.


Kami berusaha melawan rasa takut dan syok yang masih menguasai diri masing-masing. Setelah batin kami sedikit tenang. Semua duduk di balik semak belukar membentuk lingkaran. Berunding, mengatur siasat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di perkemahan itu.


Mufakat telah mencapai sepakat. Purnama bersiap akan menyusup ke dalam kerumunan warga yang tengah memecah batu. Untuk mencari informasi. Sebagian mengawasi situasi sekitar. Sedang sebagian lainnya mendapat tugas mengalihkan perhatian para penjahat bersenjata itu jika nanti Purnama terancam bahaya.


Aku salah satu yang mendapat tugas sebagai pengalih perhatian. Kalau mengalihkan perhatian cowok ganteng sensasinya pasti syahdu. Lah, ini mengalihkan perhatian penjahat bersenjata. Beuh, sensasinya luar biasa mendebarkan. Nyawa taruhannya. Apa pun risikonya kami sepakat akan tetap dan selalu solid.


Purnama mulai bergerak mendekat ke kerumunan dengan cara menyelinap dari balik semak, pohon satu ke pohon lain. Serta dari balik batu berukuran besar. Kami di sini mengamati sambil menikmati jantung yang berdebar luar biasa.


Aku bernapas lega, saat akhirnya Purnama berhasil sampai di dekat neneknya yang tengah memecah batu. Mereka terlihat mengobrol dramatis. Sepertinya Purnama terbawa perasaan. Pakai acara berpelukan dan nangis segala lagi. Padahal sudah dikasih tahu agar jangan berlama-lama di sana.


“Ya Tuhan, ada penjahat mengarah ke tempat Purnama. Gimana , nih?” bisik Rita. Kami pun panik.


“Jangan panik! Jangan panik! Kita harus tetap tenang supaya bisa berpikir secara jernih. Oke!” tutur Sundari.


“Biar aku yang mengalihkan perhatian penjahat itu,” sahut Rindu mantap.


Riani mencekal pundak Rindu. “Kamu yakin?” Rindu mengangguk mantap.


“Hati-hati, Rin!” ucapku dan yang lainnya nyaris kompak. Rindu membalas dengan anggukan.


Gadis suku sunda itu pun mulai menjalankan aksinya. Rindu merunduk menelusup ke dalam semak belukar di sisi berlawanan dari keberadaan Purnama. Ia mulai menggoyangkan pepohonan saat salah satu penjahat nyaris memergoki Purnama yang sedang bersembunyi di balik batu besar. Sontak perhatian penjahat itu kini terarah pada pohon yang digoyang-goyangkan oleh Rindu.


Purnama telah sampai dan kembali berkumpul dengan kami. Kini kami mencemaskan Rindu yang jadi incaran para penjahat.


“Gimana ini, Rindu nggak lihat isyarat yang aku berikan,” ucap Rumia. Kami pun panik. Seharusnya Rindu sudah pergi dari tempat persembunyiannya, tapi malah masih terus menggoyangkan pohon. Empat orang bersenjata semakin dekat dengan tempat persembunyian Rindu.


Tanpa pikir panjang, Riani berlari mengalihkan perhatian para pria bersenjata itu dari sisi lain. Dengan harapan para penjahat pergi ke arahnya. Namun, sialnya penjahat itu tidak sebodoh yang kami kira. Mereka berpencar menjadi 2 kelompok. Satunya ke arah Riani. Sedang kelompok satunya tetap ke arah Rindu berada.


“Aaak! Lepaskan saya!” pekik Rindu, yang kini sudah tertangkap sedang meronta berusaha melepaskan diri.


“Siapa kamu?” tanya salah satu pria bersenjata pada Rindu. Namun, Rindu hanya bungkam.


Kami panik. Badan gemetar bukan main. Bingung nggak tahu harus berbuat apa. Aku dan lainnya yang masih stay di balik persembunyian pun terpecah menjadi dua kubu. Perdebatan sengit tak terelakan.


Aku, Purnama, Ira, dan Midah, bersikukuh hendak menolong Rindu. Namun, dicekal oleh Hanin. Sedang temanku yang lain menangis tersedu. Ketakutan.


“Sabar, Yan! Sabar! Kita nggak boleh gegabah. Kalau kita gegabah yang ada bakal tertangkap juga dan nanti siapa yang akan menyelamatkan mereka semua?” ujar Rita.


“Gila! Yang bener aja dong! Masa lihat temen ditangkap penjahat bersenjata gitu suruh diem aja. Gila kalian!” sergahku.


“Bukan diem, tapi kita mesti pikirin caranya mateng-mateng supaya nggak salah langkah,” kata Hanin seraya mencengkeram kedua sisi bahuku kuat-kuat.


“Kalau sampai mereka kenapa-kenapa gimana? Hah?! Siapa yang mau tanggung jawab?” sahut Midah. Dia berada di pihakku.


“Kita harus tolong Rindu, sekarang juga. Aku nggak mau sampai terjadi sesuatu sama dia,” timpal Ira.


“Iya, aku tahu, Ira. Tapi ....” Ucapan Hanin terjeda saat terdengar lengkingan suara Riani meminta tolong.


“Tamatlah riwayat kita. Tadi Rindu, sekarang Riani juga tertangkap. Terus kalian masih mau diem aja di sini? Ayo kita lakukan sesup ....” Volume suaraku meninggi tanpa kusadari. Tak ingin para penjahat itu mendengar teriakanku, Anna sigap membungkam mulutku. Sehingga ucapanku terpotong.


Kami di sini terduduk dan menangis pilu. Bingung. Nggak tahu lagi mesti berbuat apa. Khawatir dengan keadaan Rindu dan Riani yang disekap di salah satu tenda.


Dalam hitungan menit kami terbengong. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Sebenarnya apa yang terjadi di sana, Pur?” tanya Lina pada Purnama, memecah keheningan.


Purnama mengatur napasnya yang tersengal. Lalu mengusap air matanya yang membanjiri pipi. “Di sana itu ada tambang emas ilegal yang dikuasai mafia kejam. Jadi, warga Kampung Buthon digiring ke sini dan dipaksa bekerja untuk mafia tersebut.”


Kami membungkam mulut masing-masing yang menganga tak percaya.


“Jadi, maksudmu mereka disuruh kerja paksa gitu. Kayak jaman penjajahan?” cecar Sundari. Purnama mengangguk.


“Para mafia itu tidak hanya menambang emas, tapi juga menyuruh sebagian warga memecah batu seperti yang terlihat. Batu-batu itu dijual ke pengepul,” imbuh Purnama.


“Gila! Jaman sudah maju gini masih ada aja kerja rodi. Nggak habis pikir aku!” sungut Rafunselia di sela isak tangisnya.


“Mereka bukan orang sembarangan. Kata nenekku, selain punya tembak dan senjata tajam lainnya. Mereka juga punya bahan peledak,” imbuh Purnama.


“Peledak? Untuk apa?” tanya Tika.


“Kata nenek untuk menghancurkan batu atau penghalang lainnya saat mereka menggali gua tambang emas itu,” jawab Purnama.


Nyali kami ciut seketika. Rasa khawatir pada dua teman kami yang menjadi sandera menyeruak dalam hati. Aku menenggelamkan wajah di sela tangan terlipat di atas paha. Kembali terisak.


“Kalian sih, pake acara liburan ke tempat kek gini. Jadi ribet ‘kan?” rutuk Rafunselia.


“Kek gini gimana maksudmu? Hah?!” Purnama tak terima tanah kelahirannya disinggung oleh Rafunselia. Keduanya pun adu mulut, dan dipisahkan oleh teman-teman yang lain. Sedang aku tetap pada posisi semula.


“Sekarang bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Anna. Semua hanya diam.


“Kita harus selamatkan Riani, Rindu, dan warga semuanya tak peduli bagaimanapun caranya,” ucapku seraya menghapus sisa air mata di pipi.


“Kita pergi aja dari sini,” rengek Rafunselia.


“Gila lu! Kita ke sini bareng-bareng ... maka sudah seharusnya kita keluar dari sini juga bareng-bareng,” sahut Rita.


“Setuju!” seru Ira, Tika dan Sundari kompak.


“Yang kita hadapi ini bukan orang biasa. Mereka penjahat bersenjata. Kita hanya perempuan gak bawa senjata apa-apa. Nggak bisa bela diri. Kalian sudah nggak waras, ya, mau belagak melawan para penjahat itu? Hah?!”  Rafunselia terlihat frustrasi.


“Ya, lebih gila lagi, kalau kita egois ninggalin Riani dan Rindu di sarang mafia kejam itu, Fu!” sergah Purnama.


Lagi, suasana memanas. Kami terlibat perseteruan, geng pun  terpecah menjadi dua kubu. Sebagian sepakat dengan Rafunselia untuk pergi saja dari sini. Sedang sebagian lagi sepakat akan menyelamatkan semua tawanan.


Hanin, berusaha mengembalikan kekompakan di antara kami. Dan dia selalu berhasil melakukan itu. Tak butuh waktu lama, kami kembali solid. Setelah situasi yang semula memanas reda. Hanin, kembali mengkoordinir anggota yang tersisa.


Semua pun sepakat dengan saran Hanin.  Delapan orang tetap stay dan terus berusaha membebaskan tawanan. Sedang empat sisanya termasuk aku kebagian tugas untuk pergi mencari bantuan.


Aku, Ira, Rumia, dan Purnama yang sudah lumayan hafal seluk beluk Kampung ini bergegas pergi mencari bantuan.


Sampai di jalanan berbatu yang tadi kami lewati. Aku dan ketiga sahabatku saling pandang. Lantas tersenyum lega, saat di kejauhan 100 meter di bawah sana ada mobil jip tengah menanjak ke tempat kami berada. 


_____