Horror Adventures

Horror Adventures
Tersesat di Desa Mati 3



***


Riani menempelkan telunjuk pada bibirnya, memberi isyarat kepada kami semua agar jangan berisik. Lantas semua berjalan perlahan di belakangnya, mendekat ke arah pintu kamar di mana di dalamnya suara tangisan seorang wanita masih mengalun.


Tangisannya terdengar semakin memilukan juga mengerikan. Seolah tengah menahan sakit dan derita yang teramat sangat.


Bergidik ngeri, mengusap tengkuk yang semakin kuat merinding. Rumia yang semula di belakangku merangsek bergelayut di lengan ini. Berbisik, takut katanya. Aku pun sama takutnya.


Sementara Sundari sibuk merekam menggunakan kameranya. Aku memutar bola mata jengah. Sempat-sempatnya merekam dalam keadaan genting begini.


Riani membuka pintu kamar yang tidak tertutup rapat secara perlahan. Sama seperti pintu utama tadi, berderit saat dibuka. Saat pintu sudah menganga kami semua kompak mengarahkan sorot senter ke dalam kamar.


Terlihat sesosok perempuan sedang duduk memeluk lutut di sudut kamar. Wajahnya disembunyikan di dalam tangan yang terlipat di atas paha. Rambut hitam panjang tergerai hingga menyentuh lantai. Pakaiannya lusuh tidak jelas warnanya entah putih atau kuning.


Aroma seperti daging terbakar campur anyir menguar. Membuat isi perutku bergejolak. Mual. Entah yang lainnya mencium bau yang sama atau tidak?


Tapi, semua terlihat menahan mual. Ada yang menutupi bagian mulut hingga hidung dengan telapak tangan, dan ada yang hanya sekedar mengibaskan tangan di depan hidung mengusir bau yang menyengat ini, mungkin. Aku yakin semua mencium aroma yang sama jika dilihat dari gelagatnya.


Kami semua masih tertegun di ambang pintu menikmati gejolak perut akibat entah aroma apa? Masih sambil menyorotkan senter ke arah sosok tersebut. Tubuh kami gemetar ketakutan. Saling bergandengan satu dengan yang lain. Tidak ada yang berani mendekati sosok wanita itu.


Aku mendorong Riani, memberinya isyarat agar mendekat memastikan itu siapa dan kenapa? Riani menolak dengan gelengan.


"Kita mendekat sama-sama," bisik Rindu, mengkoordinir kami semua.


Ada yang mengangguk setuju, ada juga yang menggeleng menolak.


"Aku tunggu di sini saja, ya?" desis Midah.


"Nggak boleh. Semua harus ikut memastikan ke dalam!" ajak Hanin, seraya menarik lengan Midah secara paksa.


Mau tak mau kami semua masuk ke dalam kamar. Melangkah perlahan mendekati sosok wanita yang masih terisak menangis.


Kami kompak menghentikan langkah saat jarak kami perkiraan tinggal tiga langkah dari tempat wanita itu berada.


"M-mbak!" panggil Rindu. Namun, wanita itu tetap pada posisi semula. Masih sambil terisak.


Kami semua saling pandang satu sama lain. Kemudian memberi kode pada Riani agar menyentuh bahu wanita itu. Sempat menolak, tapi akhirnya dia bersedia memberitahukan keberadaan kami di sini pada wanita itu.


Perlahan tangan Riani mengulur diiringi getaran, semakin dekat dengan bahu sosok wanita itu. Saat berjarak tinggal beberapa senti, gadis berdarah campuran Aceh, Jawa, Pakistan itu menarik tangannya kembali. Kemudian menoleh ke arah kami sambil menggeleng. Menolak.


Kembali saling dorong satu sama lain. Terakhir mereka kompak menatap ke arahku. Memberiku kode agar menyentuh wanita yang entah manusia asli atau makhluk jadi-jadian.


Rumia mendorong tubuhku hingga kini aku berada selangkah di samping wanita yang masih menenggelamkan wajahnya di sela paha. Tangisnya masih mengalun memecah keheningan. Memilukan.


Getaran mengguncang tubuhku tak dapat kutolak. Memberanikan diri menyentuh bahu wanita itu.


"Em-mba-mbak!" panggilku terbata. Lidah terasa kelu sulit berucap.


Wanita itu mengangkat kepalanya, lalu menoleh secara perlahan ke arah kami. Jantungku berdetak hebat seiring dengan getaran yang semakin kuat mengguncang tubuh.


"Aaaaaak!"


Kami menjerit histeris saat wanita itu memperlihatkan bagian wajahnya yang gosong, rusak parah. Seperti habis terbakar. Dua bola matanya pecah, darah merah kehitaman mengalir membanjiri pipinya yang dagingnya terkelupas. Tulang pipi yang seharusnya terbungkus daging pun terpampang jelas.


Lantai kamar yang lembab dan kotor ini mendadak dipenuhi belatung. Kami semakin histeris. Semua berlari keluar meninggalkan aku sendirian. Kakiku seolah tertanam di lantai, tak bisa digerakkan.


Hanya lenguhan tak jelas yang keluar saat aku berusaha memanggil teman-temanku. Andai bisa ingin aku pingsan saja saat ini.


Berusaha merapal do'a, tapi semua mendadak hilang dari ingatan. Tak ada yang nyangkut di ingatan barang satu ayat, apalagi satu surat.


"Haaaa!" Akhirnya aku berhasil memekik dan berlari menuju pintu.


Tinggal dua langkah lagi aku berhasil keluar.


Krieeet .... Braaak!


Pintu mendadak tertutup dengan sendirinya. Sulit dibuka. Padahal knop pintu ini sudah rusak, seharusnya tidak mungkin bisa terkunci.


Berbalik ke arah sosok wanita yang masih di tempat semula. Sosok itu bangkit dari duduk. Memutar badannya menghadap ke arahku berdiri. Aku bersandar pada daun pintu menggeleng memberi isyarat agar makhluk itu jangan mendekat.


Makhluk itu berdiri di tempat semula, tapi darah berwarna kehitaman dan berbau anyir campur busuk itu terus keluar dari dua bola matanya yang pecah. Menetes jatuh ke lantai, dan mengalir ke arah kakiku berpijak.


Aku berbalik membelakangi hantu itu, kembali berusaha membuka pintu. Namun, payah. Memekik memanggil teman-teman yang lain, tapi tak ada yang menyahut.


Ya Tuhan, apa semua temanku sudah pergi jauh?


Aku menoleh ke belakang, ke arah sosok wanita tadi, ia masih berdiri di pojok kamar. Tapi darah yang mengalir di lantai tadi semakin mendekat ke arahku berdiri.


"Tolooong sayaaa!"


Sekali lagi berusaha memekik sambil menggedor-gedor pintu, berharap temanku ada yang mendengar.


"Tolooooong!"


\=B E R S A M B U N G\=


🌺🌺🌺


Jangan lupa ninggalin jejak gaes! 😘