
Purnama menatap ke arahku, Ira, dan Rumia. “Gimana? Buka atau tidak?” ucapnya lirih. Aku mengedikkan bahu tanda tak tahu. Sedang Ira dan Rumia kompak menggeleng.
“Kita buka saja. Cari senjata untuk pelindung diri.” Sesuai titah Purnama, semua pun mencari senjata. Adanya hanya ranting kayu sebesar tangan bayi, tapi tak apa daripada tidak sama sekali.
Setelah memegang kayu, kami berempat berjalan perlahan menuju ke pintu. Pintu telah terbuka, dan kami siap memukul. Namun, tidak ada siapa pun di luar. Kecuali pepohonan yang bergoyang seolah melambai akibat tertiup angin kencang. Juga rintik hujan dan sesekali kilatan cahaya membelah pekatnya malam.
Kami berempat saling pandang satu sama lain. Lalu secepat kilat kembali menutup pintu. Kemudian berlari mendekat ke perapian yang mulai meredup.
“Kok jadi horor begini, ya?” bisik Ira. Ia terlihat ketakutan. Matanya mengedar ke sekeliling, dan bergelayut di lengan Rumia.
Aku menambahkan kayu pada nyala api agar sedikit lebih terang, dan kesan horor ini berlalu.
“Kok aneh, ya?” celetuk Rumia.
“Apanya yang aneh, Rum?” tanyaku.
“Ini kan, jauh dari pemukiman penduduk, tapi kok ada lumbung di sini?” lanjut Rumia.
“Oh, itu, jadi gini gaes ... justru karena di sini jauh dari pemukiman warga, itulah kenapa didirikan lumbung. Tujuannya untuk mengumpulkan dan menyimpan hasil panen sebelum dibawa pulang ke rumah masing-masing.” Purnama menjelaskan. Aku mengangguk mengerti, pun dengan Ira dan Rumia.
“Di sini itu sudah cari mobil truk atau semacamnya untuk mengangkut hasil panen pulang. Jadi, biasanya sambil sebagian orang mencari transportasi untuk mengangkut hasil panen, ya, ditaruh di sini dulu. Dan biasanya juga selama musim panen lumbung seperti ini akan ada yang berjaga,” lanjut Purnama.
“Oh, gitu. Berarti gotong royong masih kental ya, di desa sini, Pur?” tanya Rumia.
“Masih sangat kental dengan budaya gotong royong. Bukan hanya itu di sini juga masih kental hal mistisnya,” ujar Purnama dengan nada menakutkan. Ira semakin nempel ke sisi Rumia. Sedang Purnama diam menahan tawa. Detik berikutnya tawanya pecah. Dan sukses mendapat amukan dari Ira juga Rumia. Aku tertawa melihat kelakuan mereka. Kami jadi sedikit lupa dengan masalah yang mendera serta lupa akan rasa perih di perut, akibat kelaparan.
Candaan kami terhenti semua mematung hanya bola mata kita yang bergerak ke kiri dan kanan saat tiba-tiba bau aroma melati sangat menyengat hidung. Kami kompak mengendus menajamkan indra penciuman. Seketika bulu kuduk ini merinding.
“Kalian bau bunga melati juga?” tanya Rumia, dan yang lain termasuk aku mengangguk kompak.
“Gaes, kalau di film-film itu kan, kalau ada bau kayak gini berarti ada ....” Belum sempat Ira melanjutkan kalimatnya, di luar lumbung terdengar suara tawa terkikik. Mengerikan. Khas tawanya mbak Kunti. Bulu kuduk ini semakin kuat merinding.
Ira badannya gemetar bukan main saat suara cekikik itu semakin tajam dan semakin dekat. Kami bergandengan satu sama lain menyatukan kekuatan dan keberanian. Angin bertiup kencang sehingga pintu lumbung terbuka sendiri. Dalam lumbung pun jadi sangat dingin. Ira pun pingsan.
Sementara Rumia dan Purnama berusaha menyadarkan Ira, aku menutup kembali pintunya. Sebelum pintu benar-benar kututup, aku mengedarkan pandangan melihat ke sekeliling memastikan ada apa di luar. Tidak ada apa-apa, bahkan suara cekikik tadi sudah tidak terdengar lagi.
***
Menit berlalu berganti jam, Ira belum juga sadar dari pingsan. Rasa khawatir menyergap. Kami bertiga pun kebingungan. Malam ini terasa sangat lambat dan panjang. Melelahkan.
Hujan sudah reda, menyisakan hawa dingin yang amat sangat. Kami menggigil dibuatnya. Api di depan kami tidak cukup hangat di tubuh kami.
“Kalian tidur saja kalau sudah ngantuk. Biar aku yang jaga. Nanti gantian aku yang tidur dan kalian yang jaga,” ucap Purnama.
“Iya deh, aku udah ngantuk berat ini. Nanti kalau Ira sadar, bangunin kita, ya, Pur!” sahut Rumia. Purnama mengangguk.
Tidak butuh waktu lama, Rumia langsung terlelap. Sepertinya dia sangat kelelahan. Wajarlah, hari dan malam yang melelahkan memang. Kini tinggallah aku dan Purnama yang masih terjaga.
“Yan, kamu gak tidur juga?”
Aku menoleh ke arah Purnama di sisi kananku. Lalu menggeleng. “Entahlah, Pur. Kayaknya insomniaku kambuh. Gak ngantuk sama sekali. Hanya capek dan lapar. Dingin-dingin gini enaknya ngopi, nih.” Kopi dengan uap mengepul ke udara tercetak jelas dalam bayangan. Tanpa sadar aku menelan ludah.
“Kamu pikir, kamu aja yang laper. Aku juga kali. Tadi siang kan kita cuma makan ubi rebus sedikit.” Purnama bersandar pada dinding dan mengusap-usap perutnya.
“Perih, ya?” tanyaku.
“Banget,” jawabnya.
Aku dan Purnama sama-sama bersandar di dinding, larut dalam hayalan masing-masing. Menghayalkan makanan dan minuman.
“Aaak!” jerit Ira. Sukses membangunkan aku yang entah sejak kapan tertidur. Pun dengan Rumia dan Purnama. Semua pun lantas bangun dan memastikan Ira kenapa.