
“Ya salam, kenapa mesti ada sendok di situ?” ujar Ira, lirih.
“Itu ular, Ra. Bukan sendok,” sahut Rumia.
“I-iya, ular sendok maksudku!” balas Ira.
“Kita mesti gimana?” bisik Rumia.
“Pur, gimana nih, apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.
“Ada dua pilihan. Pertama, biarkan ular itu hidup lalu pada akhirnya bisa saja nyerang kita, atau bunuh ular itu dan kita aman,” balas Purnama.
“Kalau dibunuh kasihan, tapi takut juga,” gumam Ira.
“Kasihan? Iya, sekarang itu ular masih anteng, entar kalau dia merasa terancam bisa saja jadi liar tauk!” timpal Rumia.
“Aaak!” jerit kami berempat kompak saat tiba-tiba ular sendok sebesar lengan bayi dengan panjang kisaran satu meter lebih itu melata dengan cepat ke arah kami berada. Kami pun bergeser menghindar ke arah lain.
“Tenang-tenang!” pekik Purnama.
Mulutnya bilang tenang, tapi dia sendiri panik. Gimana sih, si Purnama.
“Itu di pojok sana ada balok kayu, ambil Yan!” titah Purnama.
“Whaaat?!” pekikku tak percaya. Gila! Mereka sengaja nih, kayaknya mau ngumpanin aku. Etdah!
“Udah, buruan!” Purnama mendorong tubuhku. Hampir saja aku terjatuh ke arah ular sendok berada. Dengan perasaan agak ngeri kuberanikan diri mengambil balok yang terletak di pojokan sisi berlawanan tempat ular kobra berada.
Setelah berhasil kuambil, balok ukuran 4X4cm dengan panjang kisaran 2 meter tersebut kulemparkan ke arah temanku berada. Ketiga temanku histeris, membuat ular itu tidak nyaman merasa terancam. Sehingga melata ke arah ketiga temanku.
Purnama, Ira, dan Rumia berlari menghindar ke tempatku berada.
“Ya elah, kenapa baloknya ditinggal!” teriakku, geram.
“Namanya juga orang panik,” sergah Rumia.
Ular kobra melata seperti hendak menaiki tembok di sudut yang berlawanan dari tempat kami berempat berdiri, tapi tak berhasil selalu jatuh lagi. Tampaknya ular itu hendak mencari jalan keluar.
“Geser ke sana!” bisik Purnama. Saat ular itu melata kembali ke tempat kami berada. Kami terus bergeser menghindari king kobra itu hingga sampai di dekat balok yang tergeletak.
Purnama mengambil balok itu lantas melangkah perlahan mendekati ular kobra yang tengah melata kebingungan mencari jalan keluar.
“Pur, apa yang kamu lakukan?” tanya Ira, lirih. Purnama menempelkan telunjuk di bibir lantas berdesis memberi isyarat agar kami diam. Sedang tangan satunya masih memegang balok yang dipikul di pundaknya.
“Bismillah! Allah hu’akbar!” seru Purnama. Detik berikutnya ia ayunkan balok itu, dan tepat mengenai leher ular. Namun, belum mati, dan masih terus mendesis. Purnama terus memukul ular itu hingga mati. Kepalanya hancur. Tak lagi bergerak.
Kami berempat menunduk lemas. Badan masih gemetar bukan main. Lantas duduk di pojok ruang yang agak bersih. Kami menangis berjamaah. Syok.
“Ini kali pertama aku bunuh makhluk hidup,” ucap Purnama di sela isak tangisnya. Tangannya masih gemetar. “Kasihan juga ular itu,” imbuhnya sambil memandang ular yang sudah tergeletak tak bernyawa.
Sudah terlalu lama kami duduk meratapi kematian ular sendok yang malang, dan juga nasib kami sendiri. Aku juga kepikiran akan bagaimana kondisi teman-teman yang masih ada di TKP.
“Jam berapa ini?” tanya Purnama memecah keheningan. Lantas kutunjukkan jam yang tertera di layar ponsel. Menunjukkan pukul 04:10 sore.
“Kita harus berusaha membuka pintu ini ....”
“Gimana caranya?” Rumia menyela ucapan Purnama.
“Makanya kalau ada orang ngomong jangan disela!” sergah Purnama. Rumia cengengesan, lalu meminta maaf. Purnama lalu melanjutkan ucapannya. “Kita buka pintu pakai balok ini.”
“Caranya?” tanya Ira.
“Baloknya kita pegang berempat terus kita gunakan untuk mendobrak pintu itu. Kayak di film-film itu, kan, kalau mau dobrak pintu gerbang sebuah kerajaan yang akan diserang kek gitu juga caranya,” jelas Purnama panjang lebar.
“Iya, iya, aku paham kok,” sahut Ira.
“Ya sudah, tunggu apa lagi? Ayo, kita coba!” ajakku.
Kami pun beranjak dari duduk, dan bersiap mendobrak pintu yang lebarnya kisaran dua meter terbuat dari papan kayu usang. Berbentuk seperti pintu gerbang berdaun dua.
“Dalam hitungan ketiga semua kompak ya, maju ke depan. Kita arahkan balok ke tengah pintu!” Purnama memberi aba-aba.
Lantas kami berhitung bersama. “Satu ... dua ... tiga!” Lantas maju serempak dan sekuat tenaga mengarahkan balok ke daun pintu berulang kali. Namun, sampai hitungan jam belum juga berhasil terbuka pintunya. Istirahat sejenak, lantas memulai lagi mendobrak pintu dengan sisa tenaga yang ada. Begitu terus.
“Istirahat lagi, yuk!” ajak Ira. Ia tampak terlihat lemas kehabisan tenaga. Kami pun memutuskan untuk istirahat.
“Haus,” rengek Ira.
“Sama, Ra.” Purnama menyahuti.
“Aku lapar juga,” timpal Rumia.
“Udahan yuk, istirahatnya. Kita coba buka pintunya lagi!” ajak Rumia. Kami pun mengangguk setuju. Lantas kembali berusaha membuka pintu dengan cara yang sama. Hingga terdengar seperti suara kayu retak.
“Kalian denger, nggak?” seru Rumia.
“Denger,” sahut Ira, lemas.
“Bentar berhasil. Yuk, coba lagi!” ujar Rumia antusias.
Lima kali dobrakan, akhirnya pintu terbuka juga. Kayu pengaitnya atau kuncinya patah. Pintu lumbung ini hanya dikunci menggunakan kayu berbentuk memanjang. Persis seperti pintu-pintu jaman kerajaan dulu.
“Akhirnyaaa!” pekik Purnama. Kami terduduk lemas. Tenaga seolah terkuras. Capek, lapar dan haus mendominasi.
“Jam berapa nih, kok, kayak udah petang gini?” tanya Ira.
Aku melihat jam yang ada di layar HP. “Jam setengah enam,” jawabku kemudian.
“Hah?! Bentar lagi gelap, dong?” seru Rumia mendelik ke arahku. Aku mengangguk membenarkan.
“Kita gak mungkin pergi dari sini,” ucap Purnama.
“Kenapa?” sahut Ira.
“Nih, ya, kalau maksa pergi dari sini, kita nggak tahu sejauh mana lagi perjalanan yang mesti kita tempuh untuk sampai ke pemukiman warga yang bisa kita mintai pertolongan. Sebentar lagi malam, belum lagi tuh, mendungnya hitam. Mau hujan.”
Kami bertiga mendongak melihat ke langit yang ditunjuk oleh Purnama.
“Lagian kalau kita maksa tetap melanjutkan perjalanan, kita nggak bawa senter. Gelap. Cuma senter di HP mah, nggak cukup membantu. Ntar yang ada kita malah tersesat lagi,” lanjut Purnama.
“Iya juga, ya,” gumam Ira. Ia menunduk lesu.
“Nggak ada pilihan lain, kita harus bermalam di sini. Besok pagi buta baru kita lanjutkan perjalanan,” saranku. Semua setuju. Lantas kami membersihkan dalam lumbung termasuk membuang bangkai ular tadi menggunakan ranting kayu. Supaya nyaman kita tempati.
Saat usai membuang bangkai ular, kurasakan kakiku menginjak sesuatu. Ternyata sebuah korek api. Sepertinya milik antek-antek mafia tadi terjatuh. “Gaes!” pekikku sambil memperlihatkan korek yang sudah di tangan pada ketiga temanku.
“Nemu korek aja girang amat, sih, Yan. Kalau nemu makanan, nah, iya,” ketus Ira.
“Auk!” sahut Rumia dan Purnama. Kesal.
“Hei, korek ini mayan berguna tauk!” sergahku.
“Untuk apa?” tanya Rumia.
“Bisa buat api unggun. Untuk penerangan malam nanti,” jelasku. Seketika wajah ketiga sahabatku itu berubah sumringah.
“Encer juga otakmu, Yan,” ucap Purnama.
Aku mengedikkan alis. “Gue gitu, loh.”
Ketiga temanku mencebik, dan ada juga yang memutar bola matanya. Jengah.
“Ya sudah, kalau gitu ... sekarang kita ngumpulin kayu, daun kering dan ranting untuk api unggun!” ajak Purnama. Semua mengangguk setuju. Lantas berpencar mencari kayu, berpacu dengan waktu sebelum benar-benar gelap dan hujan turun.
Tepat saat kami usai mencari kayu, hujan pun turun dengan begitu lebatnya diiringi petir dan kilat. Suasana pun jadi mencekam. Mungkin akan lebih mencekam dari ini kalau tadi kita belum berhasil buka pintu, dan nemu korek api.
🌺🌺🌺
Malam kian larut, hujan masih mengguyur. Reda sebentar lalu deras lagi begitu terus.
“Jangan besar-besar itu api unggunnya. Diirit-irit dong kayunya. Usahakan cukup sampai besok menjelang pagi. Ini masih panjang loh, malamnya.”
“Kalau nggak besar, nggak anget.” Ira menimpali ucapan Purnama.
“Bukan untuk menghangatkan tubuh, yang penting dalam sini nggak gelap banget,” balas Purnama. Ira cemberut kesal.
Aku dan ketiga temanku terdiam saling pandang satu sama lain, saat pintu lumbung yang kami tutup alakadarnya diketuk dari arah luar. Jantungku berdetak tak karuan. Saat pintu diketuk semakin brutal.