
Tak lama kemudian Pak Bayu menyembul keluar, berjalan terhuyung ke arah kami. Terdapat luka di lengan dan wajahnya.
“Pak Bayu nggak apa-apa?” tanyaku memastikan.
Dia mengangkat satu tangannya memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja. “Aman.”
Tak berapa lama datang serombongan orang mengarah ke tempat kami berada. Semula kami sudah siap menyerang, tapi urung saat tahu siapa yang datang. Ternyata rombongan Riani dan lainnya yang sudah berhasil dibebaskan.
Kondisi pun semakin kacau pertempuran tidak terelakkan. Baku tembak antara kelima polisi dan para mafia itu berlangsung cukup lama dan dramatis. Beberapa pihak mafia sudah banyak yang tergeletak tak berdaya.
Para warga akhirnya berhasil dibebaskan. Namun, tidak sedikit yang terkena tembakan. Bahkan ada pula yang gugur.
Suara tembakan riuh masih terdengar memecah keheningan malam. Pun suara jeritan orang-orang yang terkena tembakan. Sangat mencekam. Sebagian warga turut membantu polisi menembaki para mafia itu menggunakan senjata yang semula kami sembunyikan di semak. Ada juga yang membantu dengan melempari para antek mafia itu menggunakan batu. Lalu sebagian lagi ditugaskan untuk mencari tambahan bantuan sambil membawa bukti berupa rekaman video yang ada di telepon Pak Duha. Agar para aparat yang ada di markas percaya akan adanya tambang ilegal di sini.
Menjelang subuh bantuan baru tiba di lokasi. Mafia itu pun terkepung dan akhirnya berhasil dilumpuhkan. Pak Fajar salah satu dari kelima polisi ganteng tertembak sangat parah. Banyak warga juga bagian dari mafia itu yang kondisinya kritis dan akhirnya meninggal saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Pun termasuk Pak Fajar, ia gugur dalam tempur. Tangis kehilangan tak bisa kami bendung.
Warga yang masih bisa diselamatkan telah mendapat perawatan. Pun aku dan ketigabelas sahabatku. Juga keempat polisi ganteng itu. Kami dirawat di rumah sakit berbeda, karena satu rumah sakit tidak dapat menampung semua korban luka. Kapasitasnya minim sekali maklum hanya rumah sakit kecil.
***
Setelah beberapa hari di rumah sakit, akhirnya aku dan semua sahabatku juga nenek dan kakeknya Purnama sudah diperbolehkan pulang. Kondisi kami sudah membaik. Semua biaya pengobatan warga termasuk aku dan sahabatku ditanggung oleh pemerintah setempat. Jadi, gratis tanpa keluar biaya sendiri, sepeser pun.
Sesampainya di rumah, warga pada kebingungan mencari ternaknya. Aku pikir setelah mengaku bahwa kami lah yang melepaskan ternak mereka agar bisa makan, maka mereka akan mengerti. Namun, nyatanya tidak. Kami berempatbelas mendapat hukuman, yaitu disuruh ikut serta menangkap ternak warga yang jumlahnya tidak sedikit itu.
“Kamu sih, kalau punya ide nggak pernah bener!” omel Rita.
“Yee, kok aku? Ini kan kesepakatan bersama,” kilahku tak mau disalahkan.
Kami istirahat sejenak, duduk di pematang sawah melihat pemandangan sekeliling. Menikmati semilir angin.
“Woi! Ternak saya belum ketemu, kok malah duduk!” teriak salah satu bapak-bapak. Kami pun otomatis menoleh ke arah bapak berwajah sangar itu. Lalu lanjut mencari ternaknya.
***
“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga tugas kita. Sekarang saatnya rebahan. Lelah,” ucap Lynna saat sampai di pelataran rumah neneknya Purnama.
“Enak saja rebahan! Ternak nenek sama kakek, kan, belum kalian cari!” ketus neneknya Purnama.
“Yaaaah,” kompak kami. Lalu menunduk lesu. Tak lama kakek dan neneknya Purnama kompak terkekeh. Kami pun saling pandang satu sama lain keheranan dengan sikap kedua sejoli berumur senja itu.
“Sudah, tenang saja. Kambing kakek sudah ada di kandangnya, kok. Kalian bersih-bersih terus makan, ya. Nenek kalian sudah masak soto bajar, tuh!”
Mendengar Kakek menyebut soto banjar, mata Lynna membulat sempurna. Dasar!
“Kakekmu kekinian juga, ya?” celetuk Hanin.
“Maksudnya?” sahut Purnama.
“Doyan ngeprank,” jawab Hanin. Kami pun tertawa riuh. Sedangkan Purnama membusungkan dada bangga dengan Kakek dan Neneknya yang milenial itu. Kami lalu membersihkan diri dan makan bersama diselingi obrolan. Nenek dan Kakek bergantian menceritakan awal mula terjadinya kerja rodi itu.
Kata Nenek, mulanya warga diiming-imingi gaji yang menggiurkan. Lalu semua pun tertarik untuk bekerja di sana. Namun, lambat laun bos mafia itu mengeluarkan kebijakan baru dan nyeleneh. Di mana semua warga yang bekerja di sana diharuskan membawa semua keluarganya untuk ikut serta bekerja, dan kalau tidak nurut maka mafia itu tidak segan menembak. Gaji yang dijanjikan pun hanya sekadar janji busuk semata.
***
Aku dan ketigabelas sahabtku juga mendapat piagam penghargaan karena sudah dengan berani mengungkap kejahatan di penambangan ilegal tersebut.
Air mata haru mengalir di pipiku juga ketigabelas sahabatku. Gemuruh tepuk tangan para hadirin mengakhiri acara. Aku dan ketigabelas temanku menyalami serta mengucapkan selamat kepada keempat polisi ganteng yang mendapat penghargaan. Pun sebaliknya, para Bapak polisi itu juga mengucapkan selamat untuk kami.
Sedangkan polisi yang semula meremehkan dan tidak percaya serta menertawakan laporan kami, mereka meminta maaf.
“Lain kali pastikan dulu, ya, Pak. Jangan meremehkan laporan warga,” ucapku sok berani dan bijak.
“Siap!” pungkas Pak polisi gagah itu.
“Sekarang apa rencana kalian?” tanya Pak Duha. Saat kami berada di luar gedung usai acara.
Aku dan ketigabelas sahabatku saling pandang satu sama lain.
“Kami ingin menyudahi liburan lalu kembali ke kota, Pak,” jawab Rindu.
Para polisi ganteng itu mengangguk-angguk. “Apa perlu kami kawal?” tawar Pak Candra.
Mataku otomatis membulat, pun dengan ketigabelas sahabatku. Detik berikutnya kami saling pandang seolah meminta pendapat satu dengan yang lain.
“Enggak perlu, Pak. Terima kasih banyak tawarannya. Kami bisa pulang sendiri, kok,” jawab Hanin. Semua pun auto melirik kesal ke arah Hanin. Sementara para polisi ganteng itu terkekeh melihat kekonyolan kami yang saling kedip dan berharap agar Hanin merubah keputusannya dan menerima tawaran pengawalan itu.
“Keputusanku tidak bisa diganggu gugat!” tegas Hanin lirih. Kami cuma bisa menelan kekecewaan dan kepasrahan. Kami harus patuh pada ketua geng itulah kesepakatan awalnya.
***
Setelah menginap satu malam lagi di rumah neneknya Purnama. Kami pun memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan keluar Kampung Buthon rasanya senang dan lega melihat Kampung ini sudah ramai kembali. Warga juga sudah beraktivitas seperti biasa. Meski aku tahu, rasa trauma masih bersemayam di hati mereka. Itu pasti.
Air mataku berlinang saat banyak warga yang menyetop mobil kami sekadar mengucapkan terima kasih juga memberi kami oleh-oleh.
“Jangan lupakan kami. Jangan kapok, ya. Kami tunggu kedatangan kalian di Kampung ini lagi,” ujar Pak Lurah yang mengantarkan kepergian kami sampai di perbatasan desa bersama nenek dan kakeknya Purnama.
“Pasti Pak. Kami tidak akan lupa dan tidak kapok. Suatu saat nanti Insya Allah, kami akan bertandang kemari lagi,” ucap Hanin mewakili menjawab.
“Pokoknya terpenting nanti siapin soto banjar, ya, Nek,” ucap Lynna usai memeluk neneknya Purnama. Nenek terkekeh, kemudian mengangguk, lalu memeluk Lynna sekali lagi.
Air mata haru mengiringi perpisahan kami. Pak lurah bersama nenek dan kakeknya Purnama masih berdiri di sisi tugu perbatasan desa menyaksikan kepergian kami. Sampai akhirnya tak terlihat lagi.
S E L E S A I
__________
Sampai bertemu di lain judul. Tunggu petualangan kami selanjutnya. 😊
__________