Horror Adventures

Horror Adventures
MISTERI HILANGNYA WARGA KAMPUNG BUTHON 5



*


*


“Pur, perasaanku, kok, gak enak, ya?”


“Gak enak kenapa?” Purnama tanya balik.


Belum sempat aku jelaskan perihal rasa raguku terhadap mobil jip yang melaju ke arah kami. Ira dan Rumia kompak melambai menyetop jip tersebut.


Tepat di hadapan kami mobil jip itu berhenti dan dibuka kacanya perlahan menampakkan penumpangnya. Di dalam ada 3 orang lelaki berbadan kekar serta mengenakan pakaian serba hitam. Perasaanku semakin tak karuan.


Aku dan Purnama saling pandang, kurasa dia pun memikirkan hal yang sama denganku. Sedang Ira dan Rumia sibuk menjelaskan apa yang kami alami.


“Oh, benarkah di balik bukit sana ada mafia yang sedang memaksa warga untuk bekerja?” cecar salah satu dari pria di dalam jip itu. Ira dan Rumia mengangguk meyakinkan.


“Ya sudah, sebentar.” Usai menyuruh kami menunggu, ketiga pria di dalam mobil jip itu berbisik entah apa. Detik berikutnya putar balik dan menyuruh kami naik. Ujar mereka kita akan dibawa ke kantor polisi untuk minta bantuan. Meski sebenarnya ragu, aku dan ketiga temanku nurut saja.


Setelah melewati jalanan berbatu nan berkelok, menanjak dan menurun.


Sopir menghentikan mobilnya di pelataran sebuah bangunan yang berdinding bata merah beratapkan genting hitam kusam tampak terbengkalai dan terpencil. Di sekeliling hanya ada kebun tak terurus ditumbuhi kayu-kayu nan menjulang tinggi-tinggi dan semak belukar. Suasananya terasa mistis, sungguh menyeramkan.


“Eum, Pak, kenapa kita berhenti di sini?”


Ketiga pria kekar tak menjawab tanyaku. Mereka langsung membuka pintu mobil jip lantas menyeret kami berempat keluar secara kasar. Kami menang jumlah, tapi tetap kalah kuat. Belum lagi kita diancam akan ditembak jika melawan.


Akhirnya hanya pasrah saat dimasukkan ke dalam bangunan terbengkalai, yang ternyata sebuah lumbung penyimpanan hasil panen. Namun, sepertinya sudah lama tak terpakai. Terlihat dari banyaknya sarang laba-laba di dalam. Serta sangat kotor sekali lantai tanahnya. Bahkan ada rumput liar merambat di sebagian sisi tembok. Menambah kesan angker saja.


Ah, seharusnya tadi aku ikuti kata hatiku. Sial! “Kita meminta tolong pada orang yang salah,” gumamku. Ketiga temanku menunduk lesu.


“Terus sekarang kita mesti gimana?” tanya Ira. Suaranya terdengar parau menahan tangis.


“Entahlah,” balasku seraya mengamati seluruh penjuru ruang yang gelap, pengap, dan tanpa sekat ini. Jalan keluar satu-satunya hanya lewat pintu yang kini sudah dikunci dari luar oleh antek-antek mafia itu. Terdapat ventilasi kotak-kotak kecil, tapi sangat sempit hanya muat tangan saja. Pupus sudah harapan untuk bisa keluar dari sini.


“Kunci yang benar!” Suara salah satu pria di luar pintu sana.


“Woi! Berisik!” sentak pria di luar yang masih mengunci pintu. “Percuma kalian teriak sampai suara kalian habis juga. Gak bakal ada yang denger!” imbuhnya. Mereka bertiga lanjut terbahak penuh kemenangan. Detik kemudian senyap.


Kudengar mobil jip kembali melaju, meninggalkan kami berempat terkurung di dalam lumbung berukuran kisaran 9x6 meter ini tanpa penerangan dan makanan serta air minum.


Aku memeriksa saku celana, lantas bernapas lega saat ponselku masih ada. Lumayan bisa buat penerangan. “Gaes, ponsel kalian masih ada gak?”


Purnama, Ira dan Rumia serempak memeriksa saku celana masing-masing.


“Alhamdulillah! Masih ada!” pekik Ira girang. Detik berikutnya ponsel Rumia juga ketemu.


“Pur, punyamu ada gak?” tanya Ira. Purnama menggeleng lesu.


“Kayaknya Hpku jatuh pas tadi aku menyelinap cari informasi, deh,” jelas Purnama. 


“Percuma juga ada HP, tapi gak ada sinyal gini. Buat apa?” gumam Rumia.


“Buat penerangan, Rum,” jawabku. Ira dan Rumia kompak ber-oh ria.


“Gantian, sekarang punyaku dulu. Nanti kalau batrei Hpku dah habis, gantian punya kalian.”


“Oke,” jawab Ira dan Rumia kompak.


“Suara apa itu?” tanya Purnama. Kami pun menajamkan pendengaran. Suara  desis  kembali terdengar. Kusorotkan senter HP ke seluruh penjuru ruang, dan terakhir kuarahkan ke pojokan di bawah rumput yang merambat di tembok.


“Ya Tuhan, tamatlah riwayat kita,” gumam Rumia. Kami berempat pun mematung melihat ke objek yang sama.


___________


Hmmm, kira-kira apa ya, yang dilihat oleh Yanti, Rumia, Ira dan Purnama di pojokan ruangan itu?


Temukan jawabannya di next part.


______________