Horror Adventures

Horror Adventures
Mengungkap Misteri Di Desa Mati 4



“Ada apa, Ndu?” tanya Purnama, gusar.


Saat sudah berada di dekat kami, Rindu nungging tangannya bertumpu pada lutut layaknya orang sedang rukuk. Ia berusaha menstabilkan napasnya yang terengah.


Setelah sedikit tenang, Rindu kembali berdiri tegak. Kemudian menghela napas pajang lalu dihembuskan perlahan.


“Raf-Rafunsel ... Rafunsel ....”


“Jangan bilang Rafunsel tertangkap,” sela Lynna secepat kilat. Rindu mengangguk lemah. Lalu menunduk pilu.


“Innalillahi.”


“Astaghfirullah hal’adzim,” ucapku dan yang lainnya nyaris bersamaan.


Aku menghela napas panjang. Frustasi. Enggak tahu lagi harus bagaimana.


“Ya Tuhan, bagaimana nasib Rafunsel,” ucap Rita lirih, lalu dirinya lanjut terisak. Diikuti Ira, Rumia, Midah dan Sundari. Kami semua lalu saling rangkul berusaha menguatkan satu sama lain.


“Udah nggak usah nangis! Nangis nggak akan menyelesaikan masalah. Kita harus segera bergerak menyelamatkan Fu. Secepatnya,” ucap Hanin tegas.


Kami lalu menyeka air mata, dan mengangguki ucapan Hanin.


“Lebih baik kita doakan supaya Rafunsel baik-baik saja di sana. Sebelum kita laksanakan rencana yang sudah kita susun,” ucap Riani. Lagi, kami hanya mengangguki ucapan Riani.


Sesuai rencana awal, kami pun bergerak menuju ke tempat penyekapan. Sesampainya di TKP kami langsung mengintip ke dalam memastikan apakah Rafunsel ada di sana bersama sandra yang lain. Dan ternyata benar, gadis labil itu ada di dalam dengan kondisi kaki dan tangannya diikat.


Selepas memastikan situasi dan kondisi di lapangan. Semua langsung membentuk formasi lingkarang dengan tangan terkait di pundak satu sama lain.


Mendengarkan Purnama yang memberi kami semua instruksi soal apa saja yang harus kami lakukan. Ia begitu piawai perihal mengatur strategi penyelamatan sandra kali ini. Layaknya komando perang saja.


“Bagaimana, semua sudah ready?” tanya Purnama dengan nada berbisik. Kami semua mengangguk pertanda bahwa kami sudah siap bertempur. Tak peduli jika nanti nyawalah menjadi taruhannya, yang terpenting sekarang usaha  melakukan yang terbaik terlebih dahulu.


Kami paham betul yang namanya usaha hasilnya pasti ada dua kemungkinan kalau nggak berhasil, ya, gagal. Dan kami sudah sepakat, juga sudah siap akan apapun hasil dan konsekuensinya nanti.


“Mari kita berdoa terlebih dahulu sebelum melancarkan aksi ini!” ajak Hanin, dan langsung memimpin doa. Kami cukup mengamini saja dengan nada sepelan mungkin.


Seusai berdoa Lynna dan Rumia  langsung bergerak melakukan tugasnya. Yakni mengalihkan perhatian para penjahat dari sisi kiri.  Lalu Rita dan Sundari mengalihkan perhatian para penjahat dari sisi kanan.


Setelah para penjahat perhatiannya mulai teralihkan, aku, Rindu, Hanin, dan Riani masuk menyelamatkan sandra. Sementara Ira, Anna, Midah, Tika, dan Purnama tetap stay di tempat semula untuk menjalankan rencana B jika rencana yang sekarang kita jalankan gagal.


Rindu, Hanin, dan Riani kupersilakan masuk melepaskan tali para tawanan. Sementara aku berdiri di ambang pintu mengamati situasi.


“Kalian siapa?” tanya para tawanan pria pada kami.


“Sudah, tidak usah banyak tanya. Sekarang, ayo kita segera pergi dulu dari sini. Ceritanya nanti saja. Oke!” tegas Riani.


Sementara Rafunsel setelah tali yang mengikat tangan dan kakinya dilepaskan oleh Rindu, ia dramatis. Memeluk Rindu sambil terisak dan meracau tak jelas.


“Sudah dramanya? Kalau sudah ayo buruan kita pergi dari sini!” pekik Riani.


Lalu semua pun keluar dari dalam rumah kosong tempat penyekapan.


Aku mencoba mencegah lelaki itu kembali ke dalam karena di kejauhan terlihat para penjahat menuju ke arah kami berada.


Aku dan yang lain semakin panik saat kawanan penjahat semakin mendekat sementara satu pria tadi belum juga keluar. Argh! Entah apa yang dicari di dalam sana. Dasar payah! Kenapa lama sekali.


Sementara Rafunsel ia sangat ketakutan, dan lagi-lagi bersikap dramatis.


“Cepatlah keluar, Lan!” pekik salah satu pria yang ada bersama kami memanggil temannya yang masih ada di dalam mencari barangnya. Entah Lan siapa?


“Ayo, kita pergi!” pekik pria yang habis mencari barangnya saat sampai di teras rumah. Lalu semua pun berlari meninggalkan TKP.


“Woy! Jangan kabur kalian!” pakik salah satu penjahat, dan saat aku menoleh ke belakang para penjahat itu berlari mengejar kami.


Suara pistol ditembakkan ke udara menggelegar. Kami tidak memperdulikan gertakan para penjahat itu, dan tetap terus berlari membelah kebun yang ditumbuhi banyak pepohonan serta semak belukar.


“Woy, berhenti! Atau kalian aku tembak!” pekik salah satu penjahat, sambil mengarahkan pistolnya ke arah kami. Lebih tepatnya ke arahku karena aku berada di posisi paling belakang. Aku panik, meski tetap terus berlari tapi tidak fokus pada jalanku sebentar-sebentar menoleh ke belakang.


“Aww!” rintihku. Aku terjatuh. Kakiku tersandung akar pohon.


Hendak bangun tapi payah. Kaki ini terasa ngilu teramat sangat. Tampaknya terkilir. Aku berusaha bangkit, sementara teman-teman yang lain sudah meninggalkan aku jauh di depan sana.


Para penjahat di belakang sana semakin mendekat ke arahku.


“Aargh!” erangku, saat berusaha berdiri sambil menahan sakit di kaki. Dengan langkah terseok aku berlari menyusul yang lain. Namun, semua temanku sudah jauh di depan. Bahkan sudah tak terlihat lagi oleh mata ini.


“Mereka lari ke mana?” gumamku. Aku kini benar-benar kehilangan jejak mereka.


“Woy! Berhenti!” pekik penjahat di belakangku.


BLAAAM!


Suara pistol lagi-lagi terdengar menggema di telinga ini. Sejurus kemudian kurasakan ada sesuatu yang menembus betis ini, dan semakin lama kakiku terasa perih. Saat kulihat darah segar telah mengucur dengan begitu derasnya.


Kucoba menahan sakit dan perihnya, tetap berlari dengan langkah gontai. Mengerahkan segenap sisa tenaga yang ada. Pokoknya sebelum nyawa terlepas dari raga aku harus berusaha menyelamatkan diri.


Namun, pasokan tenagaku tampaknya semakin menipis. Pandangan mataku pun semakin lama memburam. Badanku limbung. Rasa-rasanya aku tak sanggup lagi berlari. Kurasakan badanku oleng ke kiri dan kanan. Lalu terasa melayang. Nyaris ambruk, tapi kurasakan ada yang menangkap tubuhku sehingga urung ambruk ke semak belukar.


Aku memelototkan mata bermaksud melihat siapa gerangan yang menangkap tubuhku, tapi buram. Aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa dia. Semakin kupaksakan mataku terbuka semakin terasa lengket dan berat. Pandangan mataku pun semakin tidak jelas.


N


E


X


T


👇