
"Riani, kamu kenapa? Ayo sini, masuk!" pekikku seraya melambai setelah dia menoleh.
"Iya," jawabnya singkat sambil mengangguk. Lalu mengayunkan langkahnya ke arahku yang tengah berdiri di ambang pintu, rumah nenek. Sesekali Riani menoleh ke belakang ke arah pohon beringin yang terletak sekitar seratus meter di depan sana. Entah ada apa di sana?
***
"Kalian kenapa datangnya terlambat? Seharusnya kemarin sore sudah datang di sini. Kami cemas sekali," tanya Nenek, saat kami tengah menyantap makan malam bersama di atas tikar yang menghampar di ruang tengah dengan menu makanan seadanya. Sayur daun singkong lauknya tempe dan tahu goreng serta ikan asin. Tapi terasa sangat nikmat karena disantap beramai-ramai dan penuh kehangatan.
"Iya, Nek, kami terlambat karena tersesat hingga sampai ke desa mati," jawab Midah. Kemudian Nenek dan Kakek saling beradu pandang sejenak. Lantas menatap ke arah kami satu persatu.
Aku menghentikan aktivitas menyuapkan makanan ke mulut. "Ada apa, Nek?" tanyaku. Dapat dipastikan dahiku berkerut. Bingung.
"Tapi, kalian semua baik-baik saja 'kan?" tanya Kakek. Kami mengangguk kompak.
"Iya, Kek, kami baik kok, aman," timbrung Ira, seraya mengacungkan jempolnya.
"Ya sudah, kita lanjut makan dulu. Nanti saja ceritanya," pungkas Nenek, dan kami mengangguk setuju.
***
Selesai makan, kami semua membantu Nenek beberes. Ada yang mencuci piring, menyapu tempat kami tadi makan, dan ada yang memanasi sisa sayur serta lauknya.
Setelah selesai beberes, kami berkumpul di ruang tengah, tempat yang tadi kami gunakan untuk makan. Menikmati teh hangat dan beberapa cemilan seperti singkong dan pisang goreng. Sembari diselingi obrolan.
"Oh, ya, Kek, Nek, ngomong-ngomong desa tempat kami tersesat itu kenapa mati, ya?" tanya Hanin.
"Iya, padahal kalau dilihat dari tempatnya bagus dan subur tanahnya," sambung Rindu.
Nenek dan Kakek kembali saling pandang. Nenek kemudian mempersilakan Kakek menjelaskan pada kami dengan anggukan pelan. Isyarat.
Menurut penuturan Kakek, desa itu awalnya sangat damai. Hingga suatu hari tercium isu bahwa salah satu warga desa itu ada yang sedang mempelajari ilmu hitam.
Sejak desas-desus isu itu semakin hari suasana semakin tidak kondusif, warga sangat khawatir bakal terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Hari berganti, kekhawatiran warga mulai terjadi dimana warga desa itu ditemukan mati satu persatu dengan kondisi jasad sangat mengenaskan. Ada yang kepalanya terpenggal, ada yang seperti terbakar, ada yang gantung diri, dan masih banyak lagi.
Warga desa itu pun kian hari semakin berkurang. Sampai akhirnya satu keluarga dicurigai sebagai penganut ilmu hitam itu, dan warga yang tengah emosi tak dapat mengendalikan luapan amarahnya. Hingga tindakan main hakim sendiri tak terelakkan.
Rumah salah seorang warga yang diduga penganut ilmu hitam itu dibakar. Hingga semua anggota keluarga penghuni rumah itu turut terbakar. Mati secara mengenaskan.
Namun, setelahnya warga masih saja mati satu persatu secara misterius. Hingga akhirnya warga memilih pergi meninggalkan desa itu. Karena mereka pikir itu semua ada kaitannya dengan kutukan si penganut ilmu hitam itu. Sampai akhirnya menjadi desa mati seperti sekarang.
"Rasanya nggak masuk akal. Kayak ada yang janggal dengan desa itu," celetuk Riani, setelah mendengar penjelasan yang Kakek jabarkan.
"Iya, aku yakin kita bisa tersesat sampai di sana pasti ada alasannya," sahut Rindu.
"Iya, sepertinya makhluk-makhluk astral di sana ingin menyampaikan sesuatu," imbuh Lynna.
"Sepertinya ada kisah yang belum terungkap di sana." Aku turut menimbrung.
"Oke, fix. Sepulang dari sini kita kembali ke sana ...,"
"APA?!" pekik kami nyaris kompak menyela ucapan Riani.
"Iya, kita ungkap sesuatu yang belum terungkap. Aku yakin ada yang ganjil di sana," lanjut Riani.
"Enggak, aku nggak mau ikut balik ke sana." Agatha menolak, ia tampak masih trauma. Pun dengan Anna.
"Kita ini ke sini mau liburan, bukan mau jadi detektif. Jadi udah deh, nggak usah sok-sokan mau menyelidiki desa angker itu," sahut Tika, ia berada di pihak Agatha dan Anna.
"Aku setuju. Selepas liburan di sini, kita langsung pulang. Enggak ada lagi mampir-mampir ke desa itu." Rita turut gabung di pihak Agatha.
Kami kembali bersitegang sebagian ada yang setuju dengan rencana Riani, dan seperti biasa sebagian menolak.
"Eh, sudah-sudah. Ini sudah malam, sebaiknya kalian istirahat. Berundingnya lanjut besok, ya!" ucap Nenek, dan kami pun mengangguk setuju. Lantas pergi ke ruang tamu untuk tidur. Ya, kami semua ber-14 tidur di atas tikar yang kami gelar di ruang tamu. Sebagian menggunakan bantal yang tersedia di rumah Nenek, dan sebagian lagi menggunakan bantal yang dibawa dari rumah.
Rumah joglo ini tidak begitu besar. Hanya ada satu kamar saja yakni kamar Kakek dan Nenek. Selebihya hanya ada ruang makan dan ruang tamu ini, serta satu ruangan tempat Kakek dan Nenek menyimpan hasil panen seperti gabah, jagung, gaplek, dan lain-lain.
Depan dan belakang rumah ini memiliki teras yang langsung menyuguhkan pemandangan alam nan indah.
Jika kita duduk di teras depan, mata kita disuguhi panorama pegunungan, perkebunan, kali, dan sawah.
Sementara jika duduk di teras belakang kita disuguhi panorama perkebunan pohon pinus. Asri.
***
"Di sini dingin sekali, ya," desis Rumia.
"Ya iyalah, namanya juga daerah pegunungan," sahut Sundari.
Kami semua membaringkan badan, tapi mata masih pada melek. Tiba-tiba terdengar suara mengaum dari arah depan rumah.
"Suara apa itu? Kalian dengar nggak?" tanya Agatha dengan nada lirih, tapi kami semua masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Palingan juga suara binatang. Sudah ayo pada tidur!" balasku. Kemudian menenggelamkan diri dalam selimut.
Lagi, suara auman itu kembali terdengar.
Suara auman itu menghilang berganti suara lain. Seperti bisikan, jeritan.
Lalu ....
Samar, terdengar suara orang meminta tolong di luar sana.
"Ada yang minta tolong," desis Lynna.
"Sudahlah, abaikan saja. Takutnya itu tipu daya jin lagi," jawab Riani.
"Ck, jin melulu. Kita kan sudah sampai di rumah Neneknya, Yanti. Bukan lagi di desa mati. Kalau itu manusia beneran gimana? Kasihan," cerocos Lynna. Lantas mengajak kami semua untuk keluar memastikan. Dan kami pun setuju.
Setelah sampai di teras depan. Kami menyorotkan senter ke segala penjuru, yang sebelumnya sudah kami cas terlebih dahulu. Tapi, tak ada siapa-siapa di sini.
Seratus meter di depan sana ada pohon beringin yang besar dan rimbun. Daun dan sulurnya yang tertiup angin terlihat seolah melambai-lambai memanggil, saat senter kusorotkan ke sana. Membuat bulu kuduk meremang saja.
Sudah lama aku tak berkunjung ke desa Nenek. Dulu pohon beringin itu belum sebesar sekarang saat terakhir kali aku ke sini.
"Kalian dengar nggak?" tanya Lynna, seraya menatap kami satu persatu.
"Dengar apa?" tanya Anna.
"Di sana ada yang minta tolong," jelas Lynna, seraya menunjuk ke arah pohon beringin.
"Ah, ngaco kamu Lyn. Mana ada, kita nggak dengar apa-apa," sahut Rindu.
Namun, Lynna ngeyel ingin memastikan suara siapa di balik pohon beringin sana. Riani bersikukuh meyakinkan Lynna agar jangan termakan oleh tipuan jin.
"Kalau itu benar manusia bagaimana? Hah?!" ketus Lynna.
Kami semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Setelah sebelumnya saling pandang satu sama lain.
"Percaya sama aku, itu bukan manusia." Lagi, Riani mencoba meyakinkan.
Lantas kami semua masuk ke dalam. Saat sampai di ambang pintu Lynna menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah pohon beringin itu lagi.
"Lynna, masuk dan segera tutup pintunya!" Namun, Lynna bergeming tidak menghiraukan teriakan Riani.
"Lynna, masuk!" pekikku.
Saat Lynna menoleh ke arah kami dan akan melangkah masuk tiba-tiba tubuhnya seolah ditarik oleh sesuatu, melayang di udara ke arah pohon beringin berada.
"LYNNAAAAA!" panggil kami kompak, sembari mengulurkan tangan ke arah tubuh Lynna yang melayang di udara. Semakin menjauh dari jangkauan mata kami lalu menghilang tepat ke arah pohon beringin.
Kakek dan Nenek pun terbangun mendengar kebisingan yang kami ciptakan. Mereka kompak menutup mulutnya yang menganga saat kuberi tahu bahwa salah satu teman kami ditarik oleh makhluk tak kasat mata lalu menghilang ke arah pohon beringin.
*
Kakek lantas meminta bantuan warga untuk mencari Lynna. Namun, hingga malam berlalu berganti pagi, Lynna belum juga diketahui keberadaannya. Kami sangat khawatir dan bersedih.
Duduk lesehan di atas tikar yang memghampar di ruang tamu rumah kakek. Bersandar di dinding sambil memeluk bantal. Air mata tak mau berhenti menetes. Pipi kami ber-13 selalu basah sejak semalam. Mata sembab akibat banyak menangis sejak hilangnya Lynna.
Peristiwa yang pernah terjadi di desa mati kini terulang kembali. Namun, beda korban.
"Lynna, kamu di mana?" gumam Agatha, di sela isak tangisnya.
"Riani, apa kamu nggak bisa menerawang di mana Lynna?" Riani menjawab pertanyaan Rita dengan gelengan.
"Iya, kamu kan bisa lihat sesuatu yang kita-kita nggak bisa lihat," sambar Ira.
"Enggak semua bisa dilihat. Sebagian hanya bisa dirasakan energinya saja." Kami semua terdiam saling pandang satu sama lain setelah mendengar penjelasan Riani.
"Kalau soal terawang, aku nggak berani. Kondisi badanku lagi nggak fit. Kalau dipaksakan yang ada kondisiku bisa drop. Entar malah tambah merepotkan kalian lagi," terang Riani, dan kami mengerti itu.
Mata batin Riani tidak terbuka sepenuhnya hanya separuh saja. Itulah kenapa terkadang ia hanya dapat merasakan energinya saja. Dan jika kondisi badannya fit maka ia akan bisa melihat kadang samar saja terkadang terpampang jelas.
Pernah mata batin Riani akan dibuka sepenuhnya oleh ahlinya, tapi karena kondisi badannya yang tidak memungkinkan akhirnya rencana itu diurungkan. Sehingga hanya separuh saja yang terbuka secara alami. Bawaan bayi.
***
Berbagai macam cara telah kami lakukan dari mulai berdo'a, meminta bantuan orang pintar, melakukan ritual khusus. Namun, Lynna belum juga ketemu.
Hari menjelang magrib, semua sepakat untuk menghentikan pencarian sejenak. Dan akan lanjut setelah magrib nanti.
Saat kami ber-13 bersama beberapa warga lain melintas di samping pohon beringin hendak kembali ke rumah kakek. Tiba-tiba terdengar seperti orang terjatuh dari balik pohon beringin.
Lantas kami memastikan itu suara apa.
"Lynnaaa!" pekik Rumia, saat ia sampai duluan di balik pohon. Kami pun merangsek mendekat turut memastikan, dan itu benar Lynna, tergeletak tak sadarkan diri.
Selanjutnya kami dibantu warga menggotong tubuh Lynna ke rumah kakek.
"Eumh." Akhirnya setelah berbagai macam cara kami lakukan untuk menyadarkan, Lynna melenguh, lalu mengerjap, dan mulai sadarkan diri.
Setelah matanya terbuka, Lynna langsung dalam posisi duduk. Dia tampak begitu ketakutan dan linglung.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga, Lyn. Kita khawatir tauk," ucap Tika seraya memeluk Lynna, dan diikuti yang lain. Termasuk aku. Kami semua berpelukan membentuk lingkaran menjadi satu. Lynna di tengah-tengah kami. Saling menyalurkan ketenangan dan kekuatan.
"Kamu ke mana saja? Kita cariin ke mana-mana kok nggak ada. Terus kok tiba-tiba bisa ada di samping pohon beringin depan sana? Gimana ceritanya?" cecar Rindu, setelah Lynna sudah tenang.
"Aku diikat di pohon beringin depan sana menggunakan sulurnya. Saat kalian mencari aku, aku bisa melihat kalian. Aku bahkan memanggil-manggil kalian, tapi kalian nggak ada yang nyahut," jelas Lynna, lalu lanjut terisak.
Kami pun saling pandang satu sama lain. Merasa heran.
"Tunggu-tunggu, tadi kamu bilang, kamu bisa lihat kita?" tanya Hanin, dan diangguki oleh Lynna.
"Tapi, kita nggak lihat kamu di sana, Lyn." Dan kami pun mengangguk membenarkan penjelasan Hanin.
"Masak?" sahut Lynna sembari melihat kami satu persatu.
"Serius Lyn, kita nggak lihat ada kamu di sana," imbuhku.
"Lynna disembunyikan oleh makhluk penunggu pohon beringin itu," sahut Nenek, seraya menaruh nampan berisi beberapa cangkir berisi kopi dan teh untuk kami semua termasuk untuk beberapa warga yang masih berkumpul di sini. Pasca mencari Lynna tadi.
"Memangnya apa salah kami? Kenapa penunggu pohon beringin itu mengganggu kami, Nek?" tanya Midah. Sementara yang lain antusias menanti penjelasan dari Nenek. Termasuk aku.
Beberapa hari lalu datang orang dari kota, dan kemungkinan orang tersebut mengambil benda pusaka secara paksa yang ada di sekitar pohon tersebut. Itulah kenapa penunggunya marah, dan meminta tumbal.
Setelah menjelaskan panjang lebar, nenek meminta kami agar besok segera bergegas meninggalkan desa ini karena kondisinya sedang tidak kondusif. Kalau lebih lama lagi berada di sini ditakutkan salah satu dari kami akan ada yang menjadi korban kemurkaan jin penunggu pohon beringin.
Meski sebenarnya kami masih ingin lebih lama lagi berada di sini. Bahkan kami belum keliling desa atau berkunjung ke tempat-tempat indah yang ada di desa ini, tapi kami akhirnya sepakat mengikuti saran nenek. Setelah malam berlalu, kami pun bersiap pergi. Pulang ke kota.
***
Saat sampai di tengah perjalanan nenek menelepon. Mengabarkan bahwa selepas kepergian kami ada warga desa ditemukan tewas secara misterius. Kami bersyukur telah mendengarkan dan mengikuti saran dari nenek. Kalau tidak mungkin saja salah satu dari kami yang menjadi korban. Na'udzubillah mindzalik.
"Aaaak!" Seisi mobil histeris saat Rindu menghentikan mobil secara mendadak. Pun dengan rombongan yang ada di mobil belakang. Mereka berteriak menanyakan kenapa kami berhenti.
"Gaes, lihat ke sekeliling!"
Sesuai perintah Rindu, kami pun melihat ke sekeliling.
"Ya Tuhan," ucap kami nyaris bersamaan.
"Kita nyasar lagi ke sini?!" pekik kami nyaris bersamaan lagi.
Entah apa yang mencoba ingin makhluk astral di sini sampaikan pada kami. Sehingga untuk yang ke dua kalinya kami tersesat di desa mati.
💦💦💦
Nextnya Riani dan kawan-kawan akan memecahkan misteri yang ada di desa mati ya, gaes. Tapi nextnya nunggu moodnya baek. Authornya lagi oleng.
Tunggu Riani dan kawan-kawan come back ya, gaes.
Love you all. 😘
💦💦💦