
#Mengungkap_Misteri_Di_Desa_Mati_8
______
“Aaak!”
Kami kompak berteriak histeris saat sesosok makhluk menyembul keluar dari dalam semak belukar yang bergerak begitu hebatnya.
Makhluk itu berlari nyaris menabrak kami yang berkerumun. Sambil mengeluarkan suara khasnya seperti orang mengorok. Apalagi kalau bukan **** hutan.
Aku memegangi dada di mana di dalamnya jantungku serasa mau terlontar keluar. Berdetak bukan main. Bagaimana tidak? **** itu berlari secepat kilat hanya hitungan Senti dari sisiku berdiri. Nyaris saja aku terseruduk.
“Yan, kamu nggak kena kan tadi?” tanya Rindu, sambil melihatku dengan tatapan cemas. Aku menggeleng, lalu mengacungkan jempol memberi isyarat bahwa aku baik-baik saja.
“Syukurlah,” ucap mereka nyaris bersamaan.
Suasana pun menjadi hening. Semua sibuk menstabilkan detak jantung masing-masing. Menunggu mereka yang mencari Lynna dengan cemas diiringi kilatan cahaya dan gelegar petir. Mendung di atas sana terlihat pekat dan menyeramkan. Angin yang bertiup kencang menambah kesan mencekam.
Lagi, semak yang tadi dilalui **** hutan bergerak begitu hebatnya. Seperti ada yang lewat sana lagi menuju kemari.
“Jangan bilang itu **** hutan lagi,” ucap Rindu, cemas. Pun dengan yang lain. Termasuk aku.
Kami pun bersiap untuk berlari menghindar. Namun, urung saat seseorang berteriak meminta bantuan.
“Itu suara Rita!” ucapku setengah memekik girang.
Rindu dan Midah membenarkan, lalu mereka mendekat memastikan Rita butuh bantuan apa?
Selang beberapa saat mereka keluar dari semak belukar. Berkali-kali aku mengucap syukur, akhirnya mereka semua berhasil menemukan Lynna.
Lynna didudukkan dan disandarkan pada pohon tadi. Menunggu kesadarannya kembali seutuhnya. Juga energinya kembali fit. Kami terus berusaha mengajak Lynna berbicara supaya pikirannya tidak kosong lagi.
“Lyn, gimana kondisimu? Sudah kuat berjalan?” tanya Hanin. Lynna mengangguk lemah.
“Kalau Lynna sudah kuat berjalan sebaiknya kita pergi menjauh dari tempat ini. Mencari tempat yang lebih aman. Setidaknya bisa untuk kita berteduh. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.” Selepas bicara Hanin menatap langit. Kami pun turut mendongak melihat ke angkasa yang sudah gulita.
“Ya sudah, ayo kita bergegas tinggalkan tempat ini!” ajak Bani.
Lantas kami beranjak mengayunkan langkah meninggalkan pohon rimbun yang terlihat semakin angker saat menjelang magrib.
Kami kembali menerobos membelah semak belukar berusaha mencari tempat layak untuk berteduh dari derasnya air hujan yang mungkin nanti akan luruh mengguyur bumi, dan berlindung dari dinginnya hembusan angin kencang.
Aku meringis menahan sakit, berusaha kuat dan terus berjalan dipapah oleh Anna. Sudah cukup aku merepotkan ketiga cowok itu. Selagi aku masih kuat berjalan maka akan kugunakan kaki ini untuk berjalan.
Semakin kupaksakan untuk berjalan rasanya semakin sakit, dan pandangan mataku menjadi buram akibat sakit di kaki yang teramat sangat.
“Kalau sakit sebaiknya jangan dipaksakan untuk berjalan. Kita istirahat dulu atau kalau nggak kita minta bantuan Bani CS,” ujar Anna. Ia tampak kesulitan dan kepayahan memapah diri ini. Keringat sebesar biji kedelai membanjiri keningnya.
“Enggak usah, aku masih kuat kok,” sahutku berusaha meyakinkan mereka bahwa aku kuat dan baik-baik saja.
Rumia mengambil alih memapah diri ini. Aku terus berusaha kuat dan terus berjalan terpincang-pincang, tapi pandangan mataku semakin buram dan akhirnya menjadi gelap.
***
Aku mengerjap dan perlahan buka mata. Lalu merubah posisi yang semula berbaring menjadi duduk berselonjor kaki. Kuamati sekeliling, gelap, aku tidak bisa melihat keberadaan teman-temanku.
Ke mana mereka? Dan di mana aku kini?
Meski kucoba menajamkan penglihatan, tapi tetap saja aku tak bisa melihat apa-apa kecuali hitam pekat.
Terdengar suara guyuran hujan begitu derasnya di luar sana. Detik kemudian kilatan cahaya disusul suara gelegar petir yang cukup keras sukses membuat mataku spontan terpejam sambil teriak. Kaget.
“Yan, kamu sudah sadar?”
Aku kembali berteriak kaget oleh suara Purnama yang tiba-tiba bertanya. Sementara wujudnya tak terlihat oleh mataku.
“Kita berteduh di salah satu rumah kosong. Jangan berisik. Takutnya kita ketahuan sama para mafia itu,” ujar Purnama.
“Syukurlah kamu sudah sadar, Yan,” timpal Ira.
Meski dalam kegelapan, aku masih bisa mengenali suara teman-temanku. Tapi, ke mana para cowok itu, kok nggak ada suaranya?
Baru saja aku membuka mulut hendak bertanya pada sahabatku akan keberadaan ketiga cowok tadi, terdengar seperti suara sepatu kuda yang tengah menarik delman di luar sana.
“Kalian denger suara itu, nggak?” tanyaku, dan semua mendengar suara yang sama.
Rafunselia mulai terisak lirih, dia pasti ketakutan.
Suara sepatu kuda itu terdengar semakin menjauh lalu detik kemudian hilang.
Aku melanjutkan tanyaku yang sempat terjeda.
“Ketiga cowok itu pergi mencari kartu memori yang mereka buang,” jawab Rindu.
“Hah!” Aku terperangah kaget. “Hujan-hujan begini mereka nekat?” lanjutku setengah teriak tak percaya.
“Kata mereka tidak ada waktu lagi. Kita sudah berusaha larang tadi, tapi mereka ngotot. Bahkan tidak mengizinkan salah satu diantara kita untuk membantunya,” papar Rita.
Kali ini suara ringkik kuda terdengar samar di luar sana. Sukses membuat kami semua terdiam.
Kilat kembali muncul, cahayanya menerobos masuk melalui celah genteng dan lubang di dinding sehingga suasana di dalam rumah ini terlihat remang untuk sesaat. Aku bisa melihat teman-temanku walau hanya bentuk serupa manusia warna hitam.
Namun, bukankah temanku hanya berjumlah 13 orang? Lalu kenapa yang sekilas terlihat oleh mataku tadi begitu banyak. Bahkan nyaris memenuhi ruangan ini?
“Gaes!” panggilku pada sahabatku dengan nada pelan.
“Kenapa Yan? Kita di sini, kok. Tenang saja!” sahut Sundari.
Tidak. Aku tidak boleh mengatakan pada mereka tentang apa yang barusan kulihat. Nanti yang penakut pada histeris atau pingsan gimana? Bisa berabe. Ya, lebih baik cukup aku saja yang tahu.
Saat kilat kembali muncul suasana dalam rumah ini kembali tampak oleh mataku walau sekilas dan hanya remang saja. Namun anehnya semua temanku menghilangkan. Suasana rumah ini menjadi sangat sunyi, tinggallah aku seorang diri di dalam sini. Serupa manusia warna hitam tadi hilang semua.
“Ga-gaes!” panggilku pada semua temanku, tapi sepi tak ada sahutan. Perasaanku mulai tidak enak. Meski hujan sangat deras di luar sana dan angin berhembus kencang, tapi hawa panas menyelimuti tubuhku.
Aneh. Di mana semua temanku tadi? Apa tadi itu hanya halusinasi semata?
Tak lama kemudian terdengar suara seorang wanita yang tengah mengidung di luar sana. Suaranya parau seperti sedang menahan tangis kepiluan.
Untuk yang kedua kalinya kidung itu terdengar semakin dekat. Sepertinya di balik pintu sana.
Lingsir wengi, seliramu tumeking sirno. (Menjelang malam, bayangmu mulai sirna).
Ojo tangi nggonmu guling.
(Jangan terbangun dari tidurmu).
Aku lagi bang wingo wingo.
(Awas jangan memperlihatkan diri, aku lagi gelisah).
Jin setan kang tak utusi.
(Jin setan kuperintahkan).
Dadyo sebarang wojo lelayu sebet.
(Jadilah apapun juga. Namun, jangan membawa maut).
__N E X T__