Horror Adventures

Horror Adventures
MISTERI HILANGNYA WARGA KAMPUNG BUTHON 8



"Ra, kamu kenapa?" tanyaku saat mendapati Ira bangun dari pingsan dan langsung menangis tersedu pasca menjerit histeris. 


"Untunglah kamu sudah sadar Ra," sahut Rumia mengusap bahu Ira.


"Ra, kamu kenapa?" cecar Purnama.


"Aku mimpi ... teman-teman kita di sana ditembaki," jelas Ira. Kami berpelukan berusaha menenangkan Ira.


"Tenang! Itu kan cuma mimpi. Kita doakan saja semoga mereka baik-baik saja di sana." Purnama berusaha menenangkan Ira yang kalut.


"Kita mesti cepat-cepat cari bantuan. Aku takut teman kita kenapa-kenapa di sana," usul Ira kami setujui. Lantas kami pun bergegas bersiap melanjutkan perjalanan tak peduli meski hari masih pagi buta.


Sudah hitungan jam kami berempat menyusuri jalanan berbatu yang berkelok menanjak dan kadang menurun. Bahkan fajar telah menyingsing. Kicau aneka burung ramai terdengar dari segala penjuru memecah keheningan pagi yang cerah. Namun, sepanjang mata memandang belum terlihat rumah atau pemukiman penduduk. Di sisi jalan hanya ada kebun singkong, pisang dan kayu serta semak belukar. Terkadang kami jumpai sungai berbatu di bawah jembatan.


"Gila! Seberapa jauh lagi ini perjalanan yang perlu kita tempuh? Aku udah gak kuat, lemes banget," rengek Rumia. Kami pun menghentikan langkah. Aku menoleh ke sana kemari, tapi belum terlihat ada rumah satu pun.


"Apa kita salah jalan, ya?" celetuk Ira. Wajahnya semakin pucat mengkhawatirkan.


"Seharusnya sih, enggak." Purnama menimpali.


"Kita coba lanjut lagi. Siapa tahu di depan sana ada rumah."


Sesuai saran Rumia, kami pun lanjutkan langkah. Terdengar suara truk melaju ke arah kami berada dari arah belakang.


"Kalian denger, gak?" tanya Purnama. Kami pun menajamkan pendengaran. Lalu mengangguk.


"Kayaknya itu suara mobil dari arah belakang sana," sahut Ira.


Medan yang berkelok naik dan turun sehingga mobil itu tidak terlihat hanya terdengar suaranya saja yang semakin jelas dan dekat.


"Ngumpet!" seru Purnama. Kami pun berlari bersembunyi di balik semak belukar yang tumbuh mengelilingi pohon besar.


Selang beberapa saat mobil truk lewat. Lalu berhenti kisaran lima puluh meter di depan dekat jembatan. Sebelum nyebrang jembatan truk itu berhenti dari tempat persembunyian sini terlihat sopirnya turun ke arah sungai.


Purnama mengajak kami melangkah setengah berlari mendekati truk tersebut. Setelah dekat dan memastikan situasi aman, Purnama menyuruh Ira naik duluan lalu Rumia, kemudian aku, dan terakhir dia sendiri.


Kami berempat masuk ke dalam truk yang ditutupi terpal dan ternyata berisi bongkahan batu. Yang kami yakini berasal dari tempat tambang ilegal itu.


"Kamu yakin, naik truk ini adalah keputusan yang tepat?" tanya Ira dengan nada berbisik. Purnama hanya menempelkan telunjuknya di bibir. Kami pun diam. Terdengar suara pintu mobil dibuka. Sepertinya sopir sudah selesai buang hajat di sungai. Detik berikutnya mobil pun mulai melaju.


***


Kami memutuskan untuk turun perlahan. Semua sudah berhasil turun dari atas truk. Aku mengendap-endap mengintai sopir sedang apa. Rupanya sedang makan. Aku hanya bisa mengulum bibir dan menelan ludah. Pingin.


"Pssst!" Aku tersentak dari lamunan oleh desisan Purnama yang memberiku kode agar cepat sembunyi. Kami pun bersembunyi di samping warung yang dindingnya terbuat dari papan dan tidak buka alias tutup. Setelah sopir truk kembali melajukan mobilnya. Kami mulai bergerak bertanya pada warga akan di mana letak kantor polisi. Setelah mendapat petunjuk, kami pun bergegas ke kantor polisi. Tidak ada waktu lagi. Pasti teman-teman di TKP butuh bantuan dari kami secepatnya, bukan?


Sesampainya di kantor polisi, Purnama berusaha memberikan keterangan dan kesaksian. Namun, kami malah ditertawakan oleh jajaran pengayom masyarakat berseragam cokelat susu itu.


"Kalian ini termakan film, ya?" ujar salah satu anggota polisi lalu lanjut menertawakan kami. "Jaman sudah modern begini mana ada kerja rodi begitu. Kalian ini ada-ada saja," lanjut polisi yang duduk di kursi berseberangan meja dengan kami.


"Sudahlah, sebaiknya adek-adek sekalian pergi saja. Pulang ke rumah masing-masing. Jangan ganggu kami. Kami ini banyak pekerjaan. Tidak ada waktu untuk mengurusi laporan tidak penting seperti itu," pungkas salah satu komandan yang duduk di kursi kebesarannya.


Kami diusir keluar secara paksa setelah bersikukuh menjelaskan apa yang kami lihat. Aku dan ketiga temanku malah dituduh iseng. Padahal kami melaporkan fakta.


Sampai akhirnya ada seorang polisi ganteng maksimal yang datang mendekati kami yang masih berdiri bingung di pelataran kantor polisi. Bingung mau lapor ke mana lagi? Sedang aku yakin sangat, semua teman di TKP butuh bantuan secepatnya.


"Ada apa, Dek?" tanya polisi ganteng. Duha, nama yang tercantum di baju dinasnya. Aku dan ketiga temanku terbengong sejenak. Kami terhipnotis oleh ketampanannya.


"Kok malah bengong. Saya bertanya loh, ini." Aku tersadar dari lamunan lalu salah tingkah. Pun dengan ketiga temanku.


"Biar aku aja yang jelasin," pinta Ira mendadak semangat. Ira pun menjelaskan pada Pak Duha.


"Oke, saya akan bantu kalian. Tunggu, ya!" ujar Pak Duha. Beliau lalu masuk ke markas meminta izin pada komandannya untuk membantu kami. Namun, dilarang karena laporan kami dipertanyakan kebenarannya. Sempat adu argumen beberapa saat. Pak Duha kekeh ingin memastikan kondisi di TKP membantu kami meski dilarang. Sampai akhirnya komandannya memberikan izin walau terlihat sekali terpaksa.


Saat aku dan teman-temanku bersama Pak Duha hendak berangkat ke TKP, datang empat sahabat Pak polisi ganteng menawarkan bantuan. Jadilah kami kini sembilan orang. Teman Pak Duha lumayan ganteng-ganteng semua. Membuat kami tersihir saja.


***


"Pak, sebaiknya mobilnya ditaruh di sini saja. Kalau dibawa lebih dekat lagi takut menarik perhatian." Sesuai saranku, mobil pun dihentikan dan ditepikan ke kebun. Lalu kami berjalan mengendap-endap ke TKP.


Lyna dan beberapa teman kami yang lain tidak ada di tempat persembunyiannya.


"Pak, kita harus bergerak cepat. Sepertinya teman kami sudah tertangkap semua." Purnama mulai panik. Pun denganku juga Ira dan Rumia. Para polisi ganteng menangkan kami agar jangan panik. Lalu mulai bergerak lebih mendekat lagi memastikan keadaan.


"Aaak!"


Terdengar jerit yang menyayat hati dari dalam sebuah perkemahan diiringi suara gelegar tembakan yang mengudara. Aku dan yang lain terdiam. Syok.


***


💕Maaf selow next.💕