
Aku beranjak dari duduk, lalu melangkah perlahan mendekat ke pintu. Setelah aku berdiri satu langkah di depan pintu tanganku mengulur perlahan meraba letak knop yang terbuat dari besi atau apa? Entahlah. Suasana gelap membuat mataku tidak bisa melihat dengan jelas. Semua terlihat remang-remang.
Saat daun pintu kutarik perlahan, timbul deritan khas pintu tua. Suasana pun kian mencekam. Sehingga membuat bulu kuduk ini berdiri. Aku termangu saat pintu berhasil kubuka lebar, dan langsung menampakkan sebuah lorong gelap yang panjang. Terdapat sebuah titik putih kecil di ujung lorong yang terbujur memanjang di depanku itu.
Sepertinya titik putih kecil itu adalah ujung lorong ini. Selepas berspekulasi, aku mulai melangkah perlahan hendak menyusuri lorong nan gulita ini. Siapa tahu teman-temanku ada di ujung lorong sana.
Saat sampai di pertengahan lorong, aku dibuat bingung dengan adanya pertigaan. Di sebelah kiriku ada lubang, pun sebelah kananku. Sama seperti di depanku, di lorong sebelah kanan dan kiriku terdapat titik putih kecil juga di ujungnya.
Sekarang bagaimana? Aku harus lewat lorong yang mana?
Aku mematung menoleh ke kiri dan kanan lalu menatap lurus ke depan. Semua terlihat sama.
Di lorong sebelah kanan terdengar suara kidung lingsir wengi. Suara penyanyinya persis seperti yang kudengar tadi sebelum memasuki lorong ini. Perlahan tapi pasti bulu kudukku kembali meremang.
Sementara di lorong sebelah kiri terdengar jeritan yang memilukan. Hatiku berkata jangan ke kiri, tapi entah mengapa kaki ini seolah ada yang menggerakkan untuk melangkah ke lorong sebelah kiri ini. Dan kini aku sudah mulai masuk semakin ke dalam.
Suara jeritan itu semakin terdengar jelas. Aku mempercepat langkah. Kemudian menghentikan kaki ini saat mendapati seorang wanita sedang disiksa habis-habisan oleh orang berperawakan tinggi besar dan mengenakan tudung berwarna hitam. Aku tidak bisa melihat rupa wajahnya seperti apa. Hanya bisa melihat punggung lebarnya.
Aku tidak tahu cahaya dari mana yang menerangi sekeliling wanita dan seseorang di depanku itu. Yang jelas sekeliling mereka terlihat terang, sehingga aku bisa melihat dengan jelas setiap adegannya. Bahkan aku bisa melihat jelas wajah wanita asing itu yang berlumuran darah.
Aku nggak bisa hanya diam saja. Aku harus menyelamatkan wanita itu.
Saat sedang memikirkan cara untuk menyelamatkan wanita yang disiksa beberapa meter di depanku itu, tiba-tiba kurasakan ada yang menepuk pundak ini. Tangannya terasa berat dan dingin. Aku pun menoleh perlahan memastikan siapa gerangan pemilik tangan yang menempel di bahu ini.
“Aneh,” gumamku, saat menoleh ke belakang dan tak kudapati seorang pun di sana kecuali lorong yang gulita. Tangan yang tadi terasa menempel di pundak juga sudah nggak ada. Pun suara jeritan wanita tadi. Suasana lorong menjadi sepi.
Perlahan aku menoleh ke depan lagi, memastikan apa wanita tadi sudah mati. Namun, tempat wanita dan seseorang yang menyiksanya tadi sepi dan berubah menjadi gelap. Tidak ada cahaya lagi di sana.
Keningku berkerut saat mendengar suara seperti letupan air mendidih. Bersamaan dengan munculnya cahaya remang dari tempat dimana wanita tadi disiksa muncul gumpalan darah dari dalam tanah. Menyembur dengan begitu derasnya hingga membentuk aliran ke arahku berdiri. Aroma anyir khas darah pun menyeruak tajam menusuk hidung. Isi perutku seolah teraduk-aduk. Mual.
Darah kental yang mengalir kian mendekat ke kaki ini, tapi saat aku akan berlari menghindar kakiku seolah tertanam. Sulit kuangkat.
“Yantiii!”
Itu suara Anna, tapi dari mana suara itu bersumber? Aku hampir tak bisa menebak suara itu berasal dari lorong sebelah mana? Suaranya menggema ke seluruh penjuru lorong.
“Annaaa, aku di sini!” Aku berusaha menyahuti, suaraku pun menggema. Namun, suasana kembali sepi.
Setelah kaki berhasil kuangkat, aku berlari menjauh dari aliran darah yang seolah mengejar di belakangku itu. Lantas kembali mematung di perempatan lorong. Bingung harus lewat yang sebelah mana?
Sekelebat bayangan hitam melesat melewati lorong sebelah kiriku berdiri. Aku berniat mengikuti jejak bayangan hitam tadi. Namun, urung saat mendengar suara orang ramai melafalkan tahlil dari arah lorong sebelah kanan. Aku pun masuk ke lorong tersebut dan mengekori segerombolan orang yang tengah memikul barang mirip seperti keranda.
Hingga sampai di ujung lorong, di mana terdapat sinar putih yang sangat terang. Aku menutup mataku karena silau. Lalu membuka mata kembali perlahan. Saat mataku sudah bisa menyesuaikan dengan cahaya yang ada, segerombolan orang yang memikul keranda tadi sudah tak terlihat oleh mata ini. Entah ke arah mana perginya? Cepat sekali?
Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Hanya ada sebuah pedesaan nan asri dan sepi, tenang. Sejurus kemudian aku menoleh ke belakang tempat di mana seharusnya lorong yang kulewati tadi berada, tapi sekarang lorong itu sudah menghilang entah ke mana? Aneh.
Telingaku menangkap suara seperti cangkul beradu dengan tanah. Aku menajamkan pendengaran. Ya, benar, itu suara orang mencangkul. Segera aku cari sumber suaranya.
Aku menghentikan langkah saat mataku membentur beberapa orang yang tengah menggali sebuah lubang. Seseorang diantaranya menyuruh mempercepat penggalian. Sementara di sebelah mereka terdapat sebuah bungkusan berbentuk memanjang seperti sebujur bangkai manusia.
Dahiku berkerut saat wajah salah satu penggali tanah itu menoleh ke arahku bersembunyi. Ternyata mereka para mafia itu. Sedang apa mereka di sana?
Setelah mereka selesai menggali sekitar sedalam satu meter setengah, sesuatu yang semula digeletakkan di sebelah lubang digelindingkan hingga masuk ke dalam lubang kemudian ditimbun. Setelah usai dengan tugasnya, mereka pergi sambil celingukan seolah memastikan keadaan sekitar.
Aku mengabaikan apa yang dikubur oleh para mafia itu. Lalu membuntuti mereka. Rupanya tidak jauh jaraknya tempat penguburan tadi dari markas persembunyian mereka.
Di dalam sana kudengar para penjahat itu tengah merayakan keberhasilannya. Entah keberhasilan soal apa? Mungkin soal penguburan tadi.
Sekarang aku harus kembali ke tempat teman-temanku berada, tapi di mana mereka? Ke mana aku harus melangkah?
Mataku terbelalak saat balik badan dan mendapati seorang berdiri tepat beberapa Senti di depanku. Detik kemudian kepalanya terjatuh menggelinding ke tanah bersamaan dengan itu darah segar mengucur dari lehernya. Aku pun menjerit sejadi-jadinya. Lalu detik kemudian semua menjadi gelap.
Samar terdengar suara Rumia memanggil. Aku pun perlahan membuka mata.
“Aku di mana?” tanyaku pada sahabatku yang duduk mengelilingi dalam keremangan fajar. Ya, kurasa ini sudah fajar. Di luar sana terdengar riuh kicau burung.
“Alhamdulillah, kamu sudah sadar Yan. Lama banget pingsannya. Kita sampai khawatir tau,” cerocos Ira.
“Pingsan?” tanyaku, mereka mengangguk kompak lalu saling pandang satu sama lain. “Memangnya sejak kapan aku pingsan?” imbuhku, masih tak percaya dengan pernyataan mereka.
“Kemarin kamu pingsan, terus semalam kamu sadar sebentar kemudian pingsan lagi,” papar Riani.
Dahiku berkerut tak percaya. Jadi, semua yang aku lihat dari mulai lorong, hingga mafia yang mengubur sesuatu, itu terjadi di alam bawah sadar? Tapi kok seperti nyata, ya?
“Yan, kamu kenapa? Jangan melamun, nanti pingsan lagi repot!” sentak Lynna. Aku mengangguk pelan, dan berusaha tetap menjaga kesadaran supaya tidak pingsan lagi.
“Kalau keadaan kamu sudah enakan. Sebaiknya kita segera pergi dari sini,” ujar Bani.
Aku mengangguk setuju. “Memangnya sudah ketemu apa yang kalian cari?” tanyaku pada Bani CS.
“Alhamdulillah, sudah. Kita juga sudah menemukan jalan keluar dari desa ini.”
Aku mengucap syukur, pun dengan yang lainnya.
“Semoga kartu memori ini belum rusak. Supaya kita bisa membongkar kejahatan para mafia itu,” sahut Bara. Aku dan yang lain mengaminkan.
Lantas kami pun bergegas menuju jalan keluar yang Bani maksud.
Sedikit lagi berhasil, tapi sialnya ada satu mafia yang sedang keliling desa memergoki kami. Pasti sedang ditugaskan untuk mencari kami.
“Woy! Mau ke mana kalian?!” pekik mafia itu. Berjarak sekitar 100 meter dari tempat kami berada. Terhalang semak belukar setinggi dada, sehingga membuat langkah mereka terhalang.
“Sekarang kamu cepetan lari dan sembunyi. Nanti setelah aman cepet cari bantuan. Lapor polisi. Ini bawa barang buktinya!” titah Bani pada Bara.
“Terus kalian gimana?” sahut Bara. Selepas mengambil alih barang bukti dari tangan Bani.
“Kita nggak mungkin bisa lari. Apalagi Rafunselia sama Yanti kakinya sakit, kecil kemungkinannya untuk kita bisa lolos dari mereka.”
Mendengar ucapan Bani, aku mengamati kaki. Ah, lagian kenapa pake acara tertembak segala sih, jadi merepotkan, 'kan. Pun Rafunselia, ia menunduk sedih.
“Harus ada satu diantara kita yang lolos dan mencari bantuan. Aku percaya kamu bisa, Bar. Sekarang pergilah! Nggak ada waktu lagi. Biar aku yang mengalihkan perhatian mereka.”
Sesuai titah Bani, Bara pergi bersembunyi. Sementara kami berpencar untuk mengecoh para mafia yang kini sudah semakin dekat dan bertambah banyak jumlahnya. Mereka kayak semut rangrang, satu teriak detik kemudian pasukannya datang.
Aku dan Rafunselia paling pertama tertangkap. Kemudian teman wanitaku yang lain. Kami pun diseret dan dikurung di dalam markas persembunyian mereka.
Beberapa saat kemudian Bani dan Kelana juga tertangkap, dan disekap di tempat yang sama dengan kami.
Kami diinterogasi tak jarang para penjahat itu menggertak dan memukul kami.
“Masih ada lagi atau tidak teman kalian yang masih berkeliaran di luar sana? Jawab!” bentak salah satu dari mafia kejam itu sambil menggebrak meja tua yang ada di ruangan ini.
Kami semua sepakat untuk diam. Sehingga membuat para mafia itu geram. Kakiku yang luka digetok oleh salah satu mafia itu menggunakan ranting kayu. Aku hanya bisa mengerang kesakitan.
“Bos, masih satu lagi yang laki-laki,” celetuk satu diantara 10 penjahat itu.
“Kalau begitu cari sampai dapat!” titah bos mereka. Detik kemudian para mafia itu berpencar untuk mencari keberadaan Bara.
Aku merapal doa dalam hati, semoga Bara sudah berhasil melarikan diri dan mencari bantuan.
N E X T\=