Horror Adventures

Horror Adventures
Mengungkap Misteri Di Desa Mati 7



🌺🌺🌺


“Rindu, kamu kenapa? Bangun, Rin!” ucap kami nyaris bersamaan sambil menepuk-nepuk perlahan pipi Rindu. Namun, hingga hitungan menit Rindu tak jua sadarkan diri. Sehingga kami semua dilanda kepanikan.


“Kita bawa Rindu pindah ke tempat yang semaknya agak rendah. Yuk!” ajak Kelana, dan langsung memboyong Rindu keluar dari persembunyian. Mencari tempat yang agak bersih. Aku dipapah oleh Bani. Sementara Rafunsel dipapah oleh Bara.


Ah, kami bertiga sudah merepotkan ketiga cowok ini. Kasihan mereka.


“Aaak!”


Langkah kami semua terhenti akibat teriakan Lynna yang berada di barisan paling belakang. Semua pun menoleh ke belakang. Namun, Lynna tak terlihat.


“Lynna kenapa?” teriakku. Panik.


Semua lalu berlari kembali ke belakang memastikan Lynna kenapa. Kecuali aku, Rafunsel dan Kelana yang membopong Rindu. Kami berempat berdiam di tempat.


Ternyata kaki Lynna terjerat semak sehingga tubuhnya terjerembab.


“Tapi kamu baik-baik saja ‘kan?” tanyaku setelah Lynna kembali  tergabung dalam barisan. Dia mengangguk, tapi sorot matanya seperti kosong. Ah, mungkin ini cuma perasaanku saja.


“Ayo kita lanjutkan perjalanan. Kita cari tempat yang agak bersih.”


Kami mengangguki ucapan Kelana. Lalu mengekor di belakangnya membentuk barisan.


Setelah menemukan tempat yang agak bersih. Lebih tepatnya di bawah pohon besar nan rindang. Auranya seram, tapi tidak ada pilihan lain. Terpaksa kami pun istirahat di bawahnya.


Setelah Rindu disandarkan pada pohon, kami kembali berusaha menyadarkannya. Namun, hingga beberapa saat Rindu tak kunjung sadarkan diri. Sehingga membuat kami semua dilanda kepanikan.


Di tengah kebingungan yang mendera, Lynna tiba-tiba terkikik tak terkendali. Seperti bukan dirinya. Perhatian kami pun teralih padanya. Semua menatap Lynna dengan tatapan bingung.


“Lynna, are you okay?” cecar Purnama, sembari memegang bahu Lynna. Namun ditepis dengan kasar oleh Lynna. Sehingga Purnama mendesis kesakitan.


Lynna menatap kami semua satu persatu dengan tatapan tajam.


“Lyn, kamu kenapa?” tanya Ira.


Lynna malah terbahak, suara tawanya terdengar asing. Seperti bukan suara Lynna.


Kami saling pandang satu sama lain. Bingung dengan tingkah aneh Lynna.


Mataku mengabsen satu persatu temanku. Tidak kutemukan Riani di sini.


“Riani di mana?” tanyaku, dan semua pun memonitor sekeliling.


“Iya, ya, dia di mana? Seharusnya dia yang tahu Lynna kenapa?” sahut Midah.


Saat kami fokus mencari keberadaan Riani. Lynna tiba-tiba lari dengan cepatnya ke dalam semak belukar setinggi dada orang dewasa. Bahkan sebagian lebih tinggi sehingga menenggelamkan badan Lynna.


Teriakan kami yang memanggil Lynna agar jangan pergi tak dihiraukannya. Lynna terus berlari sampai tak terlihat lagi wujud dan pergerakannya.


Rafunsel menangis tersedu. Ia terus saja merutuki kesialan ini. Semua frustrasi. Rindu belum sadarkan diri, Riani menghilang, Lynna kabur entah ke mana?


Argh! Komplit sudah penderitaan kami hari ini. Belum lagi rasa nyeri di kakiku yang kian tak tertahankan. Huf.


“Sekarang gimana? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Rita, matanya mengarah ke kami semua.


Aku menggeleng. Tidak tahu lagi harus berbuat apa? Otakku blank tidak bisa berpikir sedikit pun, yang ada hanya bingung.


“Sebagian tetap di sini jagain Rindu, dan sebagian lagi ada yang mencari Riani dan Lynna.”


Semua mengangguk setuju dengan arahan Kelana. Aku berjongkok di sisi tubuh Rindu yang masih tergolek tak sadarkan diri. Menghela napas panjang lalu menunduk pilu.


Sadar dong, Ndu! Sadar!


“Lynna kenapa?” sahut seseorang yang baru saja datang dengan napas tersengal. Suaranya terdengar tidak asing di telinga ini. Kami pun serempak menoleh ke arah suara bersumber.


“Riani, kamu dari mana saja?” cecar Purnama agak ngegas.


Riani terdiam sejenak, matanya menilik kami satu persatu. “Aku habis buang hajat. Kebelet tadi,” jawabnya santai.


“Kalau mau pergi itu bilang-bilang biar kami nggak bingung!” sentak Rumia.


“Ya, maaf, soalnya tadi kebelet banget. Jadi nggak sempat bilang,” kilah Riani.


“Lynna hilang. Sepertinya dia kerasukan,” papar Anna.


“Apaa?!” pekik Rindu, yang entah sejak kapan dia sadar dari pingsan.


Aku yang berjongkok tepat di sisinya terjengkang, kaget. Lalu dibantu berdiri oleh Ira. “Makasih Ra,” lirihku, sambil meringis menahan kakiku yang semakin nyeri. Ira hanya mengangguk pelan.


Sementara Rindu minta maaf karena sudah sukses mengejutkan kami semua.


“Kamu kenapa tadi pingsan? Kamu nggak habis digigit ular tadi ‘kan?” tanyaku gusar. Rindu menggeleng.


Aku mengelus dada bersyukur ternyata Rindu pingsan bukan karena gigitan ular.


Lalu Rindu menjelaskan bahwa dirinya amat sangat takut dengan ular. Lebih tepatnya phobia makanya sampai pingsan tadi.


“Terus bagaimana dengan Lynna?” lanjut Rindu, sambil menatap kami semua satu persatu. Masih posisi bersandar pada pohon. Dia masih terlihat lemas.


“Gini aja deh, kalian sebagian tetap stay di sini. Terutama yang masih pada sakit seperti Yanti, Rafunsel dan Rindu. Bara dan Midah juga Hanin, kalian bertiga tetap di sini temani yang sakit. Sisanya kita sama-sama cari Lynna ke arah dia kabur tadi.”


Semua pun nurut dengan arahan Kelana. Sesuai koordinasinya yang ditunjuk untuk tetap stay, tetap di sini bersamaku. Sisanya bergegas pergi mencari Lynna.


Kami yang stay di tempat membantu dengan doa. Semoga Lynna segera ketemu.


Siang terus merangkak berganti sore, tapi mereka yang mencari Lynna belum juga kembali. Mencoba menelepon salah satu diantara mereka, tapi tidak tersambung.


“Sebetar lagi magrib, dan mereka belum juga kembali. Alamat kita bakal nginep di sini lagi,” ucap Rafunsel diiringi tangis.


Aku tahu Rafunsel trauma setelah kejadian mencekam malam itu. Kasihan dia. Tapi kami bisa apa? Semua terjadi begitu saja.


“Tenang saja, sekarang ‘kan ada Bara, Kelana juga Bani. Ada cowok yang bisa kita andalkan. Nggak usah takut, ya!”


“Bener apa kata Yanti. Tenang saja selama ada kami, Insya Allah, kami akan berusaha menjaga kalian semampu kita,” timpal Bara.


Rafunsel sedikit tenang, tapi kecemasan tetap tersirat di wajah ovalnya. Bola matanya bergerak liar ke kiri dan kanan. Ia terlihat tidak nyaman berada di tempat ini. Sama sepertiku, aku juga sebenarnya sangat tidak nyaman di bawah pohon rimbun ini. Namun, aku berusaha terlihat tenang di depan Rafunsel supaya dia juga tenang.


Hanin dan Midah mereka hanga diam, tapi sesekali mulutnya terlihat komat-kamit. Mungkin membaca doa. Entahlah.


“Jangan ada yang bengong. Terus baca doa dalam hati!” titah Hanin. Kami menganggukinya.


Sudah menjelang magrib, tapi mereka yang pergi mencari Lynna belum juga kembali. Suasana yang semula tenang mendadak perlahan dahan di atas kami bergerak seperti melambai-lambai lalu riuh angin bertiup dengan begitu kencangnya. Sehingga menerbangkan daun-daun yang kering berputar mengelilingi kami seperti lesus.


Anehnya angin ini hanya berpusat di sekeliling kami. Lebih tepatnya hanya di sekitar pohon besar ini. Lainnya tenang tidak ada pergerakan apa pun.


“Aaaak!” pekik kami kompak saat mendengar ada dahan yang patah.


Semua lalu bergeser menjauh dari pohon. Rindu yang semula masih bersandar pun dengan cepat ia berdiri lalu lari. Sementara aku dan Rafunsel terseok mengejar mereka yang sibuk menyelamatkan diri masing-masing.


Tak lama Hanin kembali memapah Rafunsel. Kemudian Midah juga kembali memapah aku.


Setelah kami menjauh dari pohon itu, angin lesus berhenti seolah hanya mengusir kami saja. Pohon itu, lebih tepatnya penghuni pohon itu sepertinya tidak menyukai keberadaan kami di bawahnya.


“Aaaak!”


Kami kembali berteriak saat suara gelegar petir memekakkan telinga.


Awan hitam bergerak cepat di angkasa, perlahan tapi pasti mendung pekat itu kini rata menyelimuti langit. Dan suasana pun jadi gulita.


“Sebentar lagi hujan, tapi mereka yang mencari Lynna belum juga kembali. Bagaimana ini?” Hanin yang sedari terlihat tenang, kini panik. Pun dengan yang lainnya. Termasuk aku.


Kompak kami balik badan menghadap ke semak-semak yang bergerak begitu hebatnya.


Kami saling lirik satu sama lain. Jantungku berdetak hebat merasa ngeri menunggu dan memikirkan sosok apa yang akan muncul nantinya.


N


E


X


T


👇