Horror Adventures

Horror Adventures
Tersesat Di Desa Mati 6



***


Membaca do'a yang kami bisa, sebagian memegangi kaki dan tangan Agatha yang terus berontak dan meraung. Aku, Rindu, Lynna dan Tika sempat terlempar hingga membentur tembok karena tak kuasa menahan kekuatan yang entah dari mana ia dapatkan.


Kekuatan do'a berhasil mengusir entah makhluk apa yang tadi berusaha menguasai tubuh Agatha. Kini ia pingsan. Kami sempat panik saat berusaha menyadarkannya, tapi Agatha tak kunjung bangun. Dan akhirnya kami hanya bisa bersabar menunggu ia sadar dengan sendirinya.


"Alhamdulillah," ucap kami serempak saat Agatha melenguh mulai sadar. Mengerjap lalu bangun dan langsung dalam posisi duduk. Agatha terus meracau ketakutan. Katanya tadi dia melihat makhluk hitam tinggi besar bermata merah menyala menarik kaki dan tangannya. Menyuruh semua pergi dari tempat ini. Juga banyak makhluk dengan bebagai macam wujud di tempat ini. Ia bercerita di sela isak tangisnya. Tubuhnya gemetar ketakutan.


Meski kami semua sudah berusaha menenangkan dirinya, Agatha tetap ngotot mengajak pergi dari tempat kami berada sekarang.


Saat kami bersiap hendak pergi tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dengan brutal.


Kami saling tatap satu sama lain.


"Jangan-jangan itu Anna," ucap Riani. Lantas ia bergegas membuka pintunya. Tapi tidak ada siapa-siapa di luar sana.


Blaaar!


"Aaaak!" pekik Riani nyaris bersamaan dengan kami semua yang kaget akibat suara petir.


Gemerisik, riuh, suara dedaunan yang bergesekan akibat angin kencang. Dinginnya menusuk pori-pori hingga ke ulu hati.


Braaaak!


Lagi, kami histeris. Kaget. Saat pintu tertutup dengan sendirinya akibat ulah sang bayu.


"Kita tidak mungkin pergi dari sini jika cuacanya seperti ini," ucap Purnama.


"Iya, benar. Mau tak mau kita harus tetap di sini sampai hujannya reda." Ira menimpali.


Lantas kami semua duduk terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Hujan menderas diiringi gelegar petir dan kilapan kilat. Angin bertiup kencang. Kami terisak memikirkan bagaimana nasib Anna di luar sana.


"Kita berdo'a semoga Anna baik-baik saja di luar sana," ujar Rindu memecah keheningan seolah ia memahami pikiran kami semua.


Lantas kami semua memanjatkan do'a untuk kebaikan Anna di luar sana.


Lagi, pintu diketuk saat kami baru saja menyelesaikan do'a.


"Jangan-jangan sama kayak tadi. Cuma hantu iseng," bisik Rumia.


Riani kembali bangkit berdiri mengayunkan langkah ke arah pintu meski sudah kami larang.


Pintu selalu menimbulkan deritan mengerikan saat dibuka. Terpampang wujud seorang cowok ganteng di depan pintu sana. Badan kuyup akibat terguyur derasnya hujan. Menggigil kedinginan.


"Boleh ikut numpang berteduh?" tanyanya di sela desisan kedinginan. Bibirnya pucat bergetar. Kasihan.


Riani menoleh ke arah kami semua seolah dia bertanya bangaimana? Kami saling tatap satu sama lain sebelum akhirnya mengangguk nyaris bersamaan. Setuju jika cowok itu ikut berteduh di sini.


"Terima kasih," ucapnya seraya melangkah masuk melewati tubuh Riani yang masih berdiri di ambang pintu. Sementara kami masih bergeming. Kurasa semua sama bingungnya sepertiku, dan bertanya-tanya dalam hati cowok ganteng itu benar manusia atau bukan.


"A', ini pakai aja jaket Eneng kalau dingin," titah Agatha sembari melepas jaketnya. Lalu menyodorkan jaket pinknya pada si cowok.


"Eum, enggak usah. Terima kasih, aku nggak apa-apa kok. Beneran. Kamu pakai saja. Nanti kamu malah kedinginan," tolak cowok itu.


Aku menaikkan sebelah alis lalu memutar bola mata jengah. "Tadi aja takut minta pergi dari sini giliran ada cowok aja caper sama bucinnya kumat," gumamku.


"Sirik aja!" sentak Agatha, seraya menyikut lenganku.


"Dih!"


Sementara yang lain sebagian ada yang mengusap wajah, tepok jidat, menggeleng, dan ada juga yang mendengkus kesal.


Si cowok terkekeh. OMG! Manis banget semyumnya. Bikin hati ini meleleh.


"Oh, ya, namamu siapa, dan bagaimana bisa ada di desa ini juga?" cecar Hanin.


"Nama saya Arifin. Ceritanya panjang sampai saya berada di sini," jawabnya singkat.


"Nyasar juga?" celetuk Tika. Arifin tersenyum ke arah Tika.


Kemudian Arifin menjelaskan bahwa dirinya tinggal di ujung desa sana, dan kenapa bisa sampai di sini, karena mendengar jeritan kami. Agak aneh sih, tapi mungkin benar memang di ujung sana masih ada yang tinggal di sini. Aku memilih positif thingking saja.


Lantas Arifin balik bertanya pada kami semua, kenapa bisa ada di desa ini. Agatha antusias menjelaskan dengan detail. Diselingi gombalan recehan. Dasar bucin!


"Jadi satu teman kalian belum ketemu?" tanya Arifin.


"Iya, belum ketemu. Kira-kira kamu bisa bantu cari nggak, ya?" tanya Riani to the point.


"Oh, bisa-bisa. Nanti setelah hujannya reda kita cari teman kalian itu, ya."


"Terima kasih ya, A', sebelumnya," ucap Agatha.


***


Kami mengobrol banyak dengan Arifin. Kadang dia menjawab pertanyaan kami, dan kadang hanya dijawab dengan senyuman.


"Hujannya sudah reda, bagaimana kalau kita cari teman kalian sekarang. Kasihan kan kalau dia kelamaan sendirian di luar sana," ujar Arifin, dan kami semua setuju.


Lantas bergegas meninggalkan tempat peristirahatan, dan kembali menyusuri lorong-lorong perkampungan desa mati yang sudah banyak ditumbuhi semak-semak, becek, pasca hujan.


Kulihat Riani menghentikan langkahnya beberapa meter di belakang kami. Lalu berbicara serius sekali dengan Arifin. Entah berbicara soal apa?


Kamudian keduanya kembali membaur dengan kami setelah selesai bicara empat mata.


Hingga menjelang fajar kami terus keliling desa sambil meneriakkan nama Anna. Hingga akhirnya kami berhenti di bawah pohon besar nan rimbun. Tempat di mana Anna berada. Bersandar pada batang pohon, menggigil kedinginan. Ia tampak sangat ketakutan. Entah apa yang terjadi padanya. Kami kompak melepas jaket lalu menyelimutkan pada tubuh Anna. Memeluknya menyalurkan ketenangan.


Tak lupa kami mengucap syukur ke hadirat Tuhan. Bahagia tak terkira akhirnya Anna ketemu.


"Sebentar lagi fajar menyingsing. Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini!" titah Arifin.


"Terus Aa' gimana?" Arifin tersenyum menanggapi celoteh manja Agatha.


"Ck, sudah-sudah. Ayo kita segera pergi dari sini!" ajak Riani, seraya menarik lengan Agatha.


Kami pun pergi setelah berulang kali mengucapkan terima kasih pada Arifin. Melambaikan tangan tanda perpisahan. Mengayunkan langkah, meninggalkan Arifin yang masih berdiri di tempat semula seraya menatap kami yang semakin menjauh. Senyuman tak lepas dari bibirnya.


***


Sepanjang perjalanan menuju tempat mobil kami terparkir, kami bergantian memapah Anna yang lemas.


Tepat saat pagi menjelang kami sampai di tempat mobil terparkir.


Kami semua kompak menghentikan langkah beberapa meter di depan mobil kami berada. Merasa aneh, padahal semalam mobilnya melaju mengejar kami hingga puluhan meter jauhnya. Namun, kini mobil-mobil itu sudah berjejer rapi di tempat semula. Tempat terakhir kali kami memarkirkannya.


"Kenapa berhenti?" lirih Anna. "Aku haus," ucapnya kemudian.


"E-enggak apa-apa. Ayo ke mobil!" ajak Rindu.


Kami pun melangkah perlahan ke arah mobil teronggok. Merasa ngeri, takut kalau mobilnya kembali menggila seperti semalam.


"Aman," pekik Riani yang sudah lebih dulu sampai di dekat mobil. Melambai memberi isyarat agar kami mendekat.


Setelah semua masuk ke dalam mobil. Lynna berusaha men-stater mobilnya.


"Alhamdulillah!" ucap kami kompak, saat sekali starter mobil langsung menyala.


Rindu melongokkan kepalanya keluar. "Mobil belakang gimana? Ready?" pekiknya.


"Sip! Ready!" sahut rombongan yang ada di mobil belakang.


Kami pun melanjutkan perjalanan setelah bersama-sama melantunkan do'a memohon keselamatan sampai nanti di rumah Nenek.


***


Dalam mobil kami mencecar Anna yang kebetulan kali ini satu mobil dengan kami. Tentunya setelah keadaannya membaik.


Anna pun menceritakan kenapa dia bisa terpisah dari rombongan. Bahwa ada seorang anak kecil yang melambai ke arahnya sambil minta tolong. Anna pun mengikuti bocah itu hingga ke bawah pohon besar. Sesampainya di bawah pohon, bocah yang diikuti menghilang. Selepas itu berbagai macam makhluk dengan aneka rupa wujudnya bermunculan. Bahkan ia sempat pingsan.


Ada trauma saat Anna menceritakan apa yang dilihat dan dilewati semalam.


"Btw, apa kabar ya, si Aa' Arifin," celetuk Agatha. Riani tiba-tiba terkekeh. Sontak membuat Anna, Rindu, Lynna, Agatha, Ira, dan aku melirik ke arah Riani.


"Kenapa ketawa? Emang ada yang lucu?" ketus Agatha.


"Kamu suka sama hantu ganteng itu, Tha?" tanya Riani.


"APA?!" pekikku bersamaan dengan yang lain. Kecuali Riani, ia terus terkekeh.


"Ja-jadi A' Arifin teh han-hantu?" tanya Agatha, dan diangguki oleh Riani.


Agatha pun kembali pingsan. Terbangun saat sudah sampai di depan rumah nenek.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," ucap Lynna. Dia tampak tak sabar ingin segera merehatkan badan lelahnya.


Setelah semua turun dari mobil semua masuk ke rumah nenek setelah dipersilakan. Kecuali Riani yang masih berdiri di tengah pelataran. Matanya menatap lurus ke depan. Ke arah pohon beringin besar yang terletak sekitar seratus meter di depan rumah joglo milik kakek dan nenekku ini.


Gadis yang tidak mau dirinya disebut indigo itu seolah sedang berkomunikasi entah dengan siapa?


\=\=\=\=\=\=\=


Bab Tersesat di desa mati telah usai. Bersambung ke part selanjutnya dengan judul yang berbeda yakni #Penunggu_Pohon_Beringin