Horror Adventures

Horror Adventures
MISTERI HILANGNYA WARGA KAMPUNG BUTHON 9



“Lakukan sesuatu, Pak! Aku takut teman kami di sana kenapa-kenapa.” Aku mulai panik tidak bisa berpikir jernih. Rasa khawatir mendominasi hati dan pikiran. Pun dengan Purnama, Ira dan Rumia. Mereka bertiga juga sama paniknya sepertiku. Meminta para polisi ganteng itu sesegera mungkin melakukan tindakan.


“Ssssth!” desis Pak Duha sambil menempelkan telunjuk pada bibirnya. “Pelankan suara kalian!” titahnya kemudian. “Kalau kalian panik begini, nanti yang ada kita juga malah akan tertangkap. Jadi, saya mohon tenangkan hati kalian. Perbanyak berdoa. Saya dan teman-teman pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk membebaskan teman kalian dan juga para tawanan. Tapi semua itu perlu kerja sama yang baik. Oke!”


Aku dan ketiga temanku mengangguk saja. Lalu berusaha menenangkan hati masing-masing yang kalut. Memperbanyak beristigfar dan berdoa.


Lalu Pak Duha mulai bertanya tentang bagaimana situasi lokasi pada Purnama.


“Iya Pak, jadi kalau malam para mafia itu sebagian besarnya akan istirahat di dalam tenda besar di sana itu,” jelas Purnama sambil menunjuk tenda beratapkan terpal warna biru gelap. “Lalu sebagian lagi ada yang berjaga di sekitar tenda, dan sebagian lagi patroli. Mereka keliling mengawasi para tawanan,” lanjutnya.


“Bagaimana caranya kamu bisa tahu sedetail itu?” tanya Pak Bilal—polisi ganteng satunya pada Purnama.


“Jadi waktu itu Purnama pernah masuk ke kerumunan tawanan untuk mencari tahu, Pak.” Ira menyerobot sehingga Purnama urung menjelaskan.


“Keren juga kalian. Tapi itu sangat disayangkan mengingat para mafia itu bersenjata lengkap. Itu sangat berbahaya,” tegas Pak Fajar, polisi satunya lagi.


“Kami terpaksa melakukan itu, Pak. Pada saat itu kami berniat akan membebaskan para tawanan itu sendiri. Sebelum akhirnya kepikiran untuk mencari bantuan,” jelas Rumia. Para polisi ganteng itu mengangguk-angguk mencoba memahami kondisi kami saat itu.


Lalu setelahnya Pak Duha mengatur rencana pembebasan para tawanan, dan melumpuhkan kekuatan para mafia itu. Purnama turut andil mengatur rencana, secara dia lumayan tahu situasi lokasi ini berkat keterangan dari neneknya kala itu. Sedang aku, Rumia dan Ira diam menyimak secara saksama.


“Tidak lama lagi gelap. Sebaiknya kita lakukan rencana ini ketika sudah malam nanti. Sekarang kita awasi pergerakan para mafia itu. Setuju, ya?”


Purnama mengangguk setuju, detik berikutnya aku, Ira dan Rumia ikut mengangguk saja. Nggak ada pilihan lain selain patuh sama orang yang sudah berpengalaman dalam bidangnya, bukan?


Sore terus merangkak berganti gelap. Malam panjang telah bermula. Saatnya bertempur layaknya film di tv. Ini kali pertama aku melakukan aksi yang mendebarkan. Bertaruh antara hidup dan mati. Sungguh laksana kembali ke zaman penjajahan. Aku tidak menyangka akan diberi kesempatan merasakan sensasi seperti ini.


“Ini buat pelindung diri kalian. Gunakan jika perlu,” ujar Pak Duha seraya menyodorkan pistol satu persatu kepada kami berempat. Aku gemetar bukan main. Ini juga kali pertama aku memegang pistol. Kulihat ketiga temanku juga sama gugupnya denganku.


“Dan ini senter, gunakan jika perlu!” Kini Pak Bayu—polisi lainnya lagi yang membagikan senter mini kepada kami berempat.


Pak Duha lalu menjelaskan bagaimana cara memakainya secara detail. Kami juga sangat diwanti-wanti untuk tidak menggunakan sembarangan pistol di tangan kami ini.


“Ingat ya, hanya boleh digunakan saat kepepet saja!” tegas Pak Candra—polisi satunya lagi. Aku dan ketiga temanku mengangguk mengerti.


Sesuai rencana, semua berada di posisi masing-masing. Pak Duha beserta kawannya bergerak merangsek masuk melumpuhkan pertahanan para mafia itu. Kelima polisi itu menyebar, sebagian ada yang melumpuhkan para penjaga dan mafia yang berpatroli. Sebagian lagi mencari gudang senjata untuk dipindahkan dari tempatnya.  Sedang Rumia dan Ira bertugas memadamkan obor untuk mengurangi penerangan. Aku beserta Purnama menggiring satu polisi ke tempat penyimpanan senjata. Lalu kami menyembunyikan senjata-senjata itu ke semak belukar berpacu dengan waktu. Dengan tujuan supaya tidak digunakan untuk melawan kami nantinya.


“Lempar!” teriak Pak Bayu sambil sigap menyahut granat aktif di tanganku lalu melemparnya ke sembarang arah.


Booom! Granat itu meledak, aku dan yang lain merunduk mengamankan diri masing-masing.


“Gimana? Semua aman?” tanya Pak Bayu pasca ledakan. Aku mengangguk sambil menahan getaran pada badan yang mengguncang begitu hebatnya. Syok.


Purnama merintih kesakitan, aku panik lalu mencari keberadaannya berbekal senter kecil pemberian Pak polisi tadi.


Kulihat Purnama tergeletak tak jauh dariku segera berlari ke arahnya dan memeriksa keadaannya. “Kamu kenapa, Pur?” tanyaku panik.


“Nggak apa-apa,” ucapnya lirih. “Cuma tadi aku terjengkang dan sikuku kena batu. Perih,” lanjutnya. Lantas kuperiksa sikunya. Benar, berdarah,  lecet cukup serius. Kurobek ujung jilbabku dan kugunakan untuk membalut luka di siku Purnama.


“Terima kasih, ya.” Aku mengangguki ucapan Purnama lalu kami berpelukan sejenak.


Sedang Pak Bayu memantau situasi sekeliling.


Suara ledakan yang terjadi menarik perhatian para mafia. Beberapa datang mendekat ke arah kami. Sambil berteriak. “Siapa di sana?!”


Pak Bayu menyuruhku mematikan senter, dan aku patuh. Beberapa algojo mafia mendekat memeriksa tempat kami yang remang.


“Senjatanya pada ke mana? Penjaganya juga ke mana?” seru salah satu algojo. Penjaga tempat penyimpanan senjata ini sudah dilumpuhkan oleh Pak Bayu tadi, dan sekarang sudah diikat di pohon dalam semak belukar.


“Berpencar. Periksa sekitar!” teriak salah satu algojo. Lalu mereka berpencar.


Pak Bayu berbisik menyuruhku dan Purnama agar tetap di tempat. Lagi, aku patuh. Detik berikutnya Pak Bayu bergerak perlahan mendekat ke arah satu algojo  yang mondar-mandir dalam remang malam. Lalu membekapnya dan diseret menjauh dari kawannya.


“Aaak!” jerit Pak Bayu yang sedikit ditahan. Mungkin supaya tidak menarik perhatian kawanan mafia lainnya.


Detik berikutnya terdengar suara sedikit gaduh. Tampaknya algojo yang dibekap oleh Pak Bayu tadi melakukan perlawanan. Lalu senyap. Entah apa yang terjadi pada Pak Bayu?


___