
***
"Aaaaaaak!" Kami kompak menjerit histeris saat mobil yang jaraknya beberapa meter di depan kami itu melaju perlahan ke arah kami.
Lantas kami lari terbirit-birit menjauh. Saat aku menoleh ke belakang mobil itu melaju semakin cepat mengejar kami, dan kami pun semakin panik. Kembali ke tengah desa mati. Hingga sampai di sebuah rumah yang sepertinya dulunya habis terbakar. Menyisakan puing bangunan yang gosong. Entah apa penyebabnya.
Lantas kami pun berhenti mengatur napas yang terengah. Mobil tadi sudah tidak ada suaranya lagi. Mungkin sudah berhenti. Entahlah.
Tenggorokan semakin kering kurasa, gagal minum padahal haus banget.
"Hiks ... hiks ...." Tiba-tiba Agatha tersedu. "Tau bakal ngalamin kejadian horor gini aku ogah ikut liburan ke rumah neneknya Yanti," dumel Agatha di sela tangisnya.
"Ya kita mana tahu bakal ngalamin hal serem kayak gini, Tha," sahut Purnama ketus. "Cengeng banget sih, jadi orang! Dikit-dikit nangis," gumam Purnama.
"Lagian kamu juga gimana sih, Yan, jadi penunjuk jalan kok nggak bener!" omel Agatha.
"Ya ma'af, udah lama nggak pulang kampung jadi lupa-lupa ingat," kilahku.
"Kek judul lagu, tapi lagu siapa ya?" celetuk Ira.
"Yaelah, lagi genting gini sempet-sempetnya mikirin lagu. Pikirin nih, gimana nasib kita!" bentak Sundari.
Lantas semua terdiam sejenak, larut dalam pikiran masing-masing. Sementara otakku me-review kejadian saat sepenggal kepala tadi menggelinding mendekat ke arahku. Lalu saat teman-temanku berhasil masuk, kepala itu menghilang entah ke mana? Semoga tidak menampakkan diri lagi. Aamiin.
"Sudah-sudah, nggak usah saling menyalahkan. Lebih baik kita lanjutkan mencari Anna. Setelah itu kita pikirkan bagaimana caranya kita bisa keluar dari desa horor ini," sela Hanin.
Kami pun lanjut keliling desa mencari Anna. Spontan menghentikan langkah saat netra ini melihat kelip lentera yang berjarak cukup jauh dari sini, tempat aku berdiri.
"Gaes, lihat deh!" ucapku sambil menunjuk arah lentera berada. Lantas semua temanku menoleh ke arah yang kutunjuk.
"Kalian lihat juga 'kan lentera itu?" tanyaku, dan semua mengiyakan. Mereka juga melihat hal yang sama seperti yang kulihat.
"Kayaknya masih ada salah satu warga yang bertahan di desa ini deh, gimana kalau kita ke sana dan meminta bantuannya untuk mencari Anna."
Sebagian setuju dengan saranku, dan sebagian lagi nggak yakin itu benar-benar rumah warga.
"Apa kalian yakin itu rumah warga? Kalau ternyata itu hanya tipuan jin semata gimana?" celetuk Kartika. Lantas membuat kami semua kembali menghentikan langkah. Bimbang.
"Sebaiknya kita pastikan dulu ke sana. Kalau cuma mengira-ngira dari jarak sejauh ini ya, mana kita tahu. Yakan?" sahut Rita.
"Benar, aku setuju sama Rita," imbuh Hanin.
Lantas kami pun mengayunkan langkah mendekat ke arah lentera berpijar. Yang kami yakini itu rumah salah satu warga desa yang masih bertahan di sini. Semoga saja benar demikian.
Sepanjang perjalanan tak ada yang berbicara hanya deru napas dan derap langkah kami yang terdengar. Sesekali salah satu di antara kita ada yang menginjak sesuatu entah kaleng bekas minuman atau kayu lapuk puing bangunan yang sebagian berserakan di sana sini. Sehingga suasana menjadi riuh oleh teriakan kami karena terkejut. Selepas itu hening lagi.
Namun, langkah sudah lelah, tenggorokan kering haus semakin melanda. Kita tak jua sampai pada titik cahaya yang berpijar kemerahan bak api kecil atau lentera itu. Seolah lentera itu malah semakin menjauh saat kami dekati.
"Kok dari tadi nggak sampai-sampai ya? Padahal kan kelihatannya nggak jauh," ucap Rumia memecah keheningan.
Kompak, kami menghentikan langkah. Mata kami tertuju pada satu objek yakni lampu lentera yang sampai sekarang masih berpijar.
"Iya juga ya, dari tadi nggak nyampe-nyampe. Padahal kita berjalan sudah hampir seperempat jam loh," sambung Riani.
Kami kembali diam larut dalam pikiran masing-masing. Bingung.
"Duh, gimana nih? Mana senter udah semakin redup lagi," ucap Rindu, sambil memukul-mukulkan senter ke telapak tangan satunya. Mungkin dia berharap bisa sedikit lebih terang cahayanya.
"Percuma digetokin juga, itu mah kudu dicas kale. Entar yang ada malah tambah mati berabe kalau kamu gituin," omel Midah. Namun, Rindu tak menghiraukannya.
"Yah, yah, yaaah ... ck, beneran mati senterku," gerutu Rindu.
"Sukurin! Makanya kalau dikasih tahu jangan bandel," omel Riani.
"OMG!" Selepas memekik Agatha menunjuk. Sontak membuat kami semua melihat ke arah yang ditunjuknya.
Entah penampakan apa lagi. Lentera tadi berubah jadi banyak dan membentuk seperti barisan memanjang. Persis seperti obor orang yang tengah pawai.
Barisan obor semakin banyak jumlahnya, bergerak mendekat ke arah kami berada.
Kami semua terpaku menatap lurus ke depan ke arah obor-obor itu.
Kini obor itu berhenti di satu titik, menyatu mebentuk seperti api unggun. Nyala apinya berkobar membumbung tinggi menjilat-jilat ke udara. Beberapa detik kemudian kobaran api itu semakin mengecil. Lalu membentuk seperti bola api yang melayang-layang di udara. Dan terbang mendekat ke arah kami berada.
Sontak kami pun berlari mencari tempat berlindung sambil menjerit histeris. Sebagian merapal do'a. Entah do'a apa.
Senter milik Ira jatuh dan dibiarkan tertinggal di sana.
"Tungguin akuuuu!" pekik Ira yang tertinggal di barisan paling belakang. Dan dia akhirnya berhasil mendahuluiku. Kini posisiku yang paling belakang.
Menoleh sejenak ke belakang. Ya Tuhan, bola api itu semakin dekat.
"Aaaargh!" Sial! Aku tersungkur akibat tersandung entah apa. Tertinggal beberapa meter di belakang rombongan.
"Yantiii! Cepetan bangun! Ayo kita lariii!" pekik Lynna.
"Kakiku sakit," rengekku. Sambil berusaha bangun. Menoleh ke belakang lagi. Bola api itu tinggal berjarak puluhan meter dari tempatku berada.
"Aaaaak!" Aku berteriak sekuat tenaga sambil berlari. Akibat terdorong oleh rasa ngeri, aku berhasil menyusul rombongan.
Tanpa aba-aba Hanin berbelok memasuki sebuah rumah yang aku yakini kosong juga. Dan semua pun mengekor, turut masuk juga. Setelah semua di dalam lantas kami tutup pintunya. Karena sudah tidak ada pengaitnya atau kuncinya maka kami ganjal menggunakan balok kayu yang berserakan di dalam sini. Agar bisa menutup dengan rapat.
"Suuuth!" desis Riani, sambil menempelkan telunjuk di depan bibirnya. "Jangan ada yang bersuara," imbuhnya dengan nada berbisik. Kami pun nurut. Semua diam tanpa kata. Napas pun kami tahan agar tak terdengar embusannya.
Semua mematikan senter, dengan begini kami berharap keberadaan kami tidak diketahui oleh bola api itu. Suasana di dalam rumah ini pun gelap dan pengap.
Hingga hitungan menit kami diam tak berani berkutik apa lagi bersuara. Aku hanya mampu merapal do'a dalam hati. Kurasa yang lainnya juga tengah merapal do'a dalam hati.
"Sudah aman," desis Riani, pasca mengintip keluar melalui celah jendela kayu yang sebagian lapuk, bolong.
Lantas semua kembali menyalakan senter masing-masing. Kecuali Ira, dia senternya terjatuh tadi. Dan nggak bawa ponsel. Ponselnya tertinggal di dalam mobil.
Semua kompak menyorotkan senter ke setiap penjuru ruang yang kotor, dan banyak sarang laba-laba juga banyak puing plafon yang jatuh memenuhi lantai cor semen ini.
Kalau dilihat dari bentuknya dulunya ini bukan rumah melainkan kantor lurah atau semacamnya.
Terlihat ada beberapa meja kerjanya juga terdapat kotak berkas yang sebagian masih tertata rapi di tempatnya, dan banyak kertas-kertas berserakan di lantai. Di sudut ruangan ini terdapat rak buku, beserta buku-bukunya yang sebagian masih tertata rapi di sana. Dan sebagian lagi berjatuhan ke lantai.
Mengingat banyaknya kejadian di luar nalar yang terjadi di luar sana, juga semakin menipisnya daya baterai senter kami. Hanin mengkoordinir semuanya untuk istirahat bermalam di dalam bangunan ini. Dan melanjutkan mencari Anna besok pagi. Seperti sebelumnya sebagian ada yang pro dan ada pula yang kontra.
Suasana di antara kami kembali menegang.
"Yang bisa kita lakukan sekarang hanya berdo'a untuk keselamatan Anna di luar sana. Semoga dia baik-baik saja di mana pun dia berada," ujar Midah. Setelah sebelumnya Riani, Lynna, Agatha, bersikukuh mengajak mencari Anna sekarang juga.
"Benar apa kata Midah. Lebih baik sekarang kita berdo'a untuk Anna. Kalau kita memaksakan diri mencari Anna sekarang, yang ada kita malah tersasar semakin jauh lagi. Juga besar kemungkinan kita bertemu makhluk astral yang lebih mengerikan wujudnya. Mau?" sahut Purnama.
Semua pun kembali terdiam. Hening.
"Sebaiknya sebagian senternya dimatiin, dan sebagian saja yang dinyalakan untuk penerangan."
Semua pun setuju dengan saran Rindu. Lantas sebagian senternya dimatikan. Kami beristirahat di lantai yang sebelumnya sudah kami sapu sekenanya menggunakan sapu usang yang tergeletak di pojok ruangan ini. Beralaskan kertas-kertas yang tadi berserakan kami tata membentuk tikar. Tidak merata sih, tapi lumayan bisa sedikit menghalau dinginnya lantai semen.
Malam semakin larut, kami masih terjaga. Sebagian ada yang tiduran dan sebagian lagi ada yang duduk berselonjor kaki menyandarkan punggung dan kepala di tembok yang terbuat dari bata merah ini. Kotor sih, tapi mau bagaimana lagi. Kami pasrah saja.
Tiba-tiba terdengar suara riuh di luar sana. Seperti banyak orang yang lalu-lalang dan saling sapa. Ada yang tertawa bercanda ria, ada juga suara anak kecil yang menangis dan bermain. Bising sekali. Persis seperti suasana perkampungan pada umumnya.
"Gaes, kalian dengar juga nggak?" tanyaku pada yang lain.
"Iya, aku juga denger," sahut Riani, pun dengan yang lain.
Enggak yakin itu manusia, tapi rasa penasaran mendominasi jiwa. Akhirnya aku beranikan diri untuk melihat diikuti oleh yang lain.
Kugeser balok kayu yang semula untuk mengganjal pintu. Lalu kubuka perlahan daun pintu usang ini, dan seperti biasa mengeluarkan deritan khas pintu tua.
Saat pintu terbuka lebar mataku memonitor seluruh area. Sepi, tidak ada aktifitas apa pun di luar. Kami saling tatap satu dengan yang lainnya. Bingung. Lalu bergegas menutup pintunya kembali.
***
Kulihat layar gawai melihat jam sudah pukul satu dini hari. Notifikasi baterainya tinggal 11% sebentar lagi lowbat ponselku. Lantas mematikan nyala layarnya lagi.
Duh, malam ini kenapa terasa lama dan panjang sekali? Kok lama nggak pagi-pagi sih?
Duduk berselonjor kaki dan bersandar di tembok, di samping kiriku ada Rindu yang sudah berkelana di alam mimpi. Dan di sebelahnya lagi ada Hanin dan yang lainnya.
Sementara sebelah kananku ada Riani, dia masih terjaga juga, duduk dengan posisi yang sama denganku. Pun dengan Lynna dan Rita yang berjejer di sebelah kanan Riani.
Kami berempat masih terjaga. Sementara yang lain sudah terlelap. Entahlah, kenapa mereka begitu mudahnya tidur. Padahal banyak nyamuk juga di sini. Mungkin lelah menjadi faktornya.
Tiba-tiba Agatha mengerang. Sontak menarik perhatian kami berempat yang masih melek. Mendekat ke tempat ia terbaring.
Matanya melotot, mulutnya seolah terkunci seperti akan menyampaikan sesuatu tapi tercekat. Hingga hanya erangan yang keluar. Tangan dan kakinya terlihat kaku. Menegang.
"Agatha, kamu kenapa?" pekikku, bersamaan dengan Riani, Rita dan Lynna, seraya menepuk-nepuk pipi Agatha. Berusaha menyadarkannya. Sehingga yang lainnya terbangun.
"Ada apa?" tanya Rumia, ia tampak bingung.
"Ya Allah, Agatha kenapa?" pekik Sundari. Semua pun panik. Riuh, nggak tahu harus berbuat apa.
\=B E R S A M B U N G\=