
Ke-14 cewek tergabung dalam sebuah geng bernama geng perusuh kembali melakukan perjalanan. Kali ini geng perusuh akan melakukan perjalanan ke rumah neneknya Purnama. Ke Kampung Buthon namanya. Kampung terpencil diapit gunung dan bukit dengan penduduk sedikit hanya kisaran 30 kepala keluarga saja.
Sesampainya di desa sang nenek, geng perusuh menemukan keanehan. Dimana semua penduduk kampung tersebut hilang secara misterius. Semua pun sepakat untuk memecahkan misteri hilangnya warga Kampung Buthon.
Lantas, dapatkah mereka memecahkan misteri tersebut?
Cekidot!
***
Setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari menyusuri jalanan perkotaan. Kini kami telah bertemu dengan suasana pedesaan. Sayangnya, kami sampai desa sudah larut malam. Sehingga tidak bisa menikmati pemandangan nan asri khas Kampung Buthon ini.
“Masih berapa lama lagi, Pur?” tanya Midah pada Purnama, yang kebetulan satu mobil denganku bersama beberapa teman lainnya. Sedang 7 temanku yang lain berada di mobil belakang. Ya, kami ber-14 terbagi menjadi dua rombongan.
Aku, Rita, Rindu, Midah, Ira, dan Lina sebagai pengemudi, sedang Purnama sebagai pemandu. Tergabung dalam satu mobil di barisan depan.
Sementara mobil belakang diisi rombongan Riani, Tika, Sundari, Anna, Rumia, Rafunsel, dan Hanin sebagai pengemudi.
“Bentar lagi nyampe, kok. Paling sekitar 15 menitanlah,” jelas Purnama.
“Wih, aku gak sabar pengen makan soto banjar, Pur. Kamu udah bilang ‘kan, ke nenekmu supaya siapin soto banjar.” Lina meminta tanpa merasa sungkan sedikit pun. Dasar tamu gak ada akhlak.
“Udah kok, tenang aja. Beberapa hari lalu, aku udah telepon nenek supaya siapin soto banjar untuk kita,” jelas Purnama.
“Telepon lagi dong! Takutnya nenekmu lupa,” ujar Lina terkesan memaksa Purnama. Kayak lagi ngidam aja itu bocah. Ngebet banget pengen soto banjar. Heran.
“Ya ampun, Lin, plis deh, jangan malu-maluin napa!” sentak Rindu.
“Auk ih, dasar tamu gak ada akhlak!” ledek Rita.
Lina mencebik masa bodoh. “Ya biarin. Aku mah gini orangnya, apa adanya. Gak muna kayak kalian.”
“Udah-udah jangan ribut. Gak papa kok, lagian nenekku gak keberatan ini. Pasti dibikinkan kok, tapi kalau untuk meneleponnya lagi gak bisa. Maklumlah di sana susah sinyal. Kampung terpencil gitu.”
Kami mencoba mnegerti penjelasan yang Purnama paparkan. Aku coba cek ponsel, dan benar, sampai sini sudah mulai tidak ada sinyal.
“Tapi katamu beberapa hari lalu bisa telepon nenekmu?” tanya Rita. Sepertinya sama herannya denganku.
“Itu kebetulan pas nenekku lagi di pasar yang terletak di kecamatan, bertepatan pas jual hasil kebun. Jadi ada sinyal walau tidak stabil. Ya, meski kadang suara nenek terdengar putus-putus gitu. Tapi, mayanlah bisa sedikit mengobati rasa rindu di antara kami.”
Aku mengangguk mengerti akan penjelasan yang Purnama paparkan. Sebagian ber-oh ria.
“Berarti sulit ya, kamu kalau mau komunikasi sama nenekmu?” tanya Rindu.
“Ya, gitulah. Sulit banget. Makanya nanti kalau di sana jangan kaget, kita gak bisa gunakan ponsel kita untuk komunikasi atau internetan.”
“Iya, Pur, kami mengerti. Lagipula, kan, kita sengaja memilih liburan ke desa nenekmu supaya bisa rehat sejenak dalam menggunakan ponsel,” timpalku.
“Ga usah nunggu sampai rumah nenekmu, di sini juga udah ga ada sinyal,” sahut Ira sambil menggoyangkan ponselnya ke kiri dan kanan. Sudah dibilang gak ada sinyal, masih aja cari sinyal. Dasar bocah.
***
Lima belas menit berlalu. Tepat jam 11:45 malam, kami sudah sampai di perbatasan desa tempat tinggal neneknya Purnama. Lina melambatkan laju mobil. Kami mengamati sekeliling melalui kaca jendela mobil. Meski keadaan di luar sana gelap, tapi kita dapat merasakan suasana yang mencekam.
“Pur!” Purnama menyahuti panggilan Lina dengan gumaman. “Kamu yakin, ini desa nenekmu?” lanjut Lina.
“Iya, bener, kok. Tapi ... kok, beda ya, suasananya. Kayak desa mati,” jawab Purnama.
Kami dibuat bingung dengan suasana desa tempat tinggal neneknya Purnama. Sepi, gelap, tidak ada tanda adanya manusia di sekeliling. Di kejauhan terdengar suara ternak sapi dan kambing memekik, sepertinya kelaparan. Entahlah.
“Sabar, lagi mastiin kita salah jalan atau tidak ini,” sahut Rita, sambil melongok keluar jendela juga.
Kudengar Rafunsel ber-oh di belakang sana.
“Gimana Pur, kamu yakin ini desanya?” tanya Lina memastikan. Purnama mengangguk yakin.
“Bener kok, maju sekitar 500 meter terus nanjak dikit, belok kiri sampe deh, ke rumah nenek aku.” Lina pun melajukan mobilnya sesuai arahan Purnama.
Semakin dekat rumah neneknya Purnama, suasana semakin aneh. Rumah-rumah penduduk gelap dan sepi. Hanya terdengar suara ternak yang riuh, seperti sedang kelaparan.
“Pur, emang di sini listrik belum masuk, ya?” tanya Rindu.
“Belum, tapi biasanya ada lampunya, kok. Warga sini pakai panel tenaga surya. Mereka iuran gitu untuk beli panel. Tahun lalu, pas aku sama orangtuaku mudik ke sini, rame, kalau malam terang.” Purnama menjelaskan panjang lebar.
“Tapi, kok, sekarang sepi gini, Pur?” sahut Rita.
“Nah, itu dia yang aku gak ngerti.” Purnama sama bingungnya dengan kami.
“Ada apa sama Kampung Buthon ini? Apa iya, panelnya rusak?” celetuk Rindu. Sebagian menggeleng, dan sebagian lagi mengedikkan bahu tanda tak tahu.
Jalanan yang menanjak dan berbatu membuat mobil yang kami tumpangi sedikit oleng ke kiri dan kanan. Suasana pedesaan yang dingin dan sepi menambah kesan mistis.
Tepat tengah malam, kami sampai di pelataran rumah neneknya Purnama.
Setelah mobil berhenti, dan lampunya dibiarkan menyala menyorot ke arah rumah si nenek. Purnama langsung bergegas turun dan berlari mengetuk pintu yang terbuat dari papan bercat cokelat usang sambil mengucap salam. Yang lain menyusul, termasuk aku. Lantas kami kompak mengucap salam secara berjamaah.
Namun sepi, tak ada yang menyahuti salam kami. Purnama mencoba sedikit mendorong pintunya, dan langsung terbuka perlahan diiringi deritan khas pintu tua. Menambah kesan horor saja.
“Nek, Kek, kami datang!” ucap Purnama sambil melangkah masuk perlahan. Menggunakan penerangan senter yang ada di HP masing-masing. Aku dan yang lain mengekor masuk.
Kami berpencar memeriksa seluruh penjuru rumah yang berdindingkan papan cat putih usang, berubin semen ini, untuk mencari keberadaan penghuninya. Namun nihil, kakek dan neneknya Purnama tidak ada.
Aku mencoba mencari letak sakelar lampu di rumah ini. Setelah ketemu langsung kucoba nyalakan. Lampu bohlam menyala memancarkan sinar kemerah-merahan. Hampir semua temanku mengucap hamdalah. Kini kami tak perlu lagi menyalakan senter HP.
Zaman sudah maju begini masih saja menggunakan lampu bohlam jadul begini. Padahal yang nyalanya putih terang juga sama saja wattnya.
Purnama menangis sambil terus meracau bertanya di mana nenek dan kakeknya. Kami pun jadi ikut bingung dan khawatir.
“Pur, aku tahu ini berat. Tapi, kita harus bersabar menunggu pagi baru kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di desa ini. Oke!” Hanin mencoba bicara perlahan dengan Purnama. Aku dan lainnya juga turut berupaya menenangkan Purnama yang kalut.
Awalnya Purnama ngeyel ingin mencari nenek dan kakeknya saat ini juga. Namun, akhirnya ia mau mengerti dan nurut sama saran kami.
Kami pun sepakat istirahat dulu mengumpulkan tenaga untuk persiapan esok dalam mencari tahu ke mana perginya penduduk Kampung Buthon ini.
“Yah, gagal deh, makan soto banjar,” gumam Lina sambil mengunyah roti bekal dari kota. Untung saja kami bawa bekal berupa roti dan makanan ringan lainnya. Tidak melulu mengandalkan jamuan. Jadi, lumayan bisa mengganjal perut kami yang lapar.
“Ck, dalam keadaan kayak gini masih aja mikirin soto banjar!” bentak Riani. Lina masa bodoh dan tetap mengunyah rotinya dengan malas. Tampaknya Lina tidak berselera makan rotinya, karena yang dipikirannya soto banjar melulu.
Sesudah makan, tenaga kami seolah tercharger. Kami menggelar tikar berbahan anyaman daun pandan yang semula tergulung dan berada di sudut ruangan. Lantas dijadikan alas untuk tidur. Bantal di rumah ini tidak mencukupi, sebagian pakai tas berisi pakaian masing-masing untuk mengganjal kepala.
Sudah lewat tengah malam, sebagian temanku sudah tertidur. Namun, aku belum bisa tidur. Memikirkan keanehan yang terjadi di desa ini.
Sebenarnya apa yang terjadi, dan ke mana hilangnya para penduduk kampung ini?
______________