Horror Adventures

Horror Adventures
Tersesat di Desa Mati 1



***


"Aaaak!"


Aku, Riani, Agatha, Rita, Purnama, Midah, teriak histeris, syok, saat Lynna mengerem mobil secara mendadak.


Aku pikir menabrak sesuatu, tapi nyatanya tidak. Alhamdulillah. Mengelus dada lega. Sambil berusaha menstabilkan detak jantung yang berdegub kencang serta napas yang memburu.


"Kamu bisa nyetir kagak, sih?" ucap Riani ketus, seraya mengusap keningnya yang terkantuk sandaran jok mobil di depannya.


Aku yang duduk di jok depan samping kemudi menoleh sekilas ke arah Riani yang bersungut sebal. Sambil menahan tawa. Untung tadi aku pakai sabuk pengaman. Kalau tidak, mungkin aku senasib dengan Riani.


Kemudian menoleh ke arah Lynna, ia hanya bergeming matanya menatap lurus ke depan, seolah sedang melihat sesuatu. Padahal tidak ada apa-apa di depan sana.


Hanya permukiman rumah-rumah penduduk Desa yang tampak sepi, kumuh, berantakan, semrawut, seolah tidak berpenghuni.


Sementara serombongan kawan kami yang berada di mobil belakang. Yakni Rindu, Hanin, Rumia, Sundari, Tika, Ira, dan Anna, terdengar teriak-teriak. Sebagian ada yang bertanya 'kenapa berhenti?' dan sebagian lagi memekik memerintah agar segera melajukan mobilnya kembali.


Aku melongokkan kepala memekik kepada serombongan yang di belakang agar bersabar.


Kemudian kembali menoleh ke arah Lynna yang masih bergeming. Seperti tengah dilanda kebingungan.


"Kamu kenapa, Lyn?" tanya Purnama. Yang duduk tepat di jok belakang Lynna sambil mendekatkan wajahnya dan menatap Lynna dari arah samping.


"Sudah tujuh kali kita muter-muter dan mentoknya selalu di sini," jelas Lynna, seraya menatap kami satu persatu.


"Ah, yang bener dong! Kamu salah lihat kali," sahut Agatha, sambil celingukan matanya menembus jendela kaca mobil mengamati area sekitar. Yang lain membenarkan perkataan Agatha termasuk aku.


"Benar, aku nggak bohong dan nggak mungkin juga aku salah lihat. Aku belum pikun kali!" jawab Lynna, ketus. Karena tidak ada yang mempercayainya.


"Buka!" pekik Hanin, sambil menggedor pintu mobil. Disusul yang lain turut mendekati mobil yang kami tumpangi.


"Kenapa berhenti? Ada apa?" cecar Rindu, sambil melihat kami satu persatu dari luar jendela mobil yang terbuka.


Rombonganku tidak ada yang turun dari mobil. Hanya berdiam diri dan menimpali obrolan dari dalam mobil.


Lynna menjelaskan apa yang dia alami. Yang lain menimpali.


Sementara Sundari, kulihat dia begitu asyik menjepret tempat ini dengan kameranya. Dia paling tidak bisa membiarkan kameranya teronggok barang sejenak.


"Begini saja, kita coba jalan sekali lagi. Sebelum jalan kita tandai dulu tempat ini," saran Hanin. Aku dan yang lainnya mengangguk setuju.


"Kita tandai tempat ini pakai ini, ya!" pekik Tika, seraya memperlihatkan bambu kering di tangannya yang entah dari mana dia mendapatkan benda itu. Aku dan yang lain mengangguk setuju. Lantas menaruh bambu itu melintang di tengah jalan, membentuk seperti polisi tidur.


"Ayo, kita jalan lagi!" ajak Rumia. Lantas mereka kembali ke mobil belakag.


Sebelum kembali melajukan mobil, kami berdo'a bersama. Namun, tetap saja kami kembali ke tempat semula. Tempat di mana bambu tadi kami taruh.


Sekali lagi mencoba, tapi tetap pada akhirnya kami semua kembali ke tempat semula.


Hari sudah menjelang maghrib. Kami semakin dilanda kepanikan saat mobil yang kami tumpangi mogok secara bersamaan.


Semua turun dan memeriksa mesin mobil. Padahal tidak ada satu pun di antara kami yang tahu soal mesin.


Setelah mencoba mengutak-atik mesin, tapi tidak bisa menyala juga, akhirnya kami memutuskan untuk rehat sejenak. Sebagian ada yang duduk di dalam mobil, dan sebagian lagi di luar. Termasuk aku.


Menoleh ke sana kemari. Hening, tidak ada tanda-tanda kehidupan di Desa ini. Mana hari semakin petang lagi. Aku mengusap tengkuk yang tiba-tiba merinding. Seolah ada yang meniup dari arah belakang. Padahal di belakangku tidak ada siapa-siapa.


"Yanti, rumah Nenekmu masih jauh kah?" tanya Ira. Sementara yang lain antusias menunggu jawabanku.


Aku mengedikkan bahu. Tanda tak tahu.


"Iya, cuma masalahnya aku nggak tahu sekarang ini kita nyasar di daerah mana dan Desa apa?" jelasku sambil mengamati sekitar yang sudah mulai meremang. Jarak pandang pun kian terbatas.


"Lah, gimana ceritanya, 'kan kamu yang jadi penunjuk jalan, Yan!" sambar Midah, turut menyalahkan.


"Tahu gitu tadi pake GPS aja!" ketus Riani. Lantas semua kompak mengeluarkan ponsel masing-masing bermaksud mengecek lokasi tempat kami berada saat ini. Namun, terkendala signal. Di sini sama sekali tidak ada jaringan internet.


Yang semula berada di dalam mobil pun turun, membaur dengan kami turut mencari signal. Namun, tetap tidak ada yang nyangkut satu pun. Kosong melompong.


"Sekarang bagaimana? Apa yang harus kita lakukan? Sebentar lagi gelap loh," tanya Anna.


"Kita cari sumur di dekat sini. Kali aja ada airnya yang bisa kita gunakan untuk wudu, sudah masuk waktu magrib ini," jawab Hanin, seraya mengamati jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Semua pun setuju, lantas berjalan menyusuri kampung yang gelap, sepi tak berpenghuni. Berbekal penerangan senter yang kami bawa dari rumah. Sebagian memakai senter yang terdapat di ponsel masing-masing.


Wuuush!


Sekelebat bayangan hitam melesat secepat kilat di samping kananku. Spontan menoleh, serta mengarahkan sorot senter ke mana bayangan tadi pergi, memastikan bayangan apa. Namun, tidak ada apa-apa.


Yang lain entah melihat atau tidak, tapi sepertinya tidak. Buktinya mereka terlihat santai. Kecuali Riani, temanku satu itu tampak terlihat gelisah seolah risih karena merasa diawasi.


Aku yakin Riani tahu sesuatu, dia orangnya peka terhadap makhluk yang tak kasat oleh mata. Orang-orang menyebut dirinya gadis indigo, tapi Riani tidak suka disebut demikian.


Kriyeeeeet ... braaak!


Kami ber-14 histeris sejurus dengan suara pintu yang terbuka dan menutup sendiri entah oleh angin atau karena hal lain. Suasana Desa mati pun mendadak riuh akibat jeritan kami secara berjama'ah.


Terdengar suara cekikik, seolah sedang menertawakan kami semua. Kami saling bergandengan tangan, getaran mulai mengguncang tubuh. Takut. Berbisik saling tanya itu suara apa?


"Sudahlah, abaikan saja! Ayo segera kita pergi menjauh dari sini!" ajak Riani. Gadis itu lantas melangkah mendahului kami semua.


***


Waktu menunjukkan pukul 18:35 akan tetapi kami belum menemukan sumur yang masih ada airnya. Semua sumur yang kami temui kering.


"Coba kita jalan lagi ke sana!" ajak Hanin, seraya menunjuk salah satu rumah kosong lainnya yang diyakini terdapat sumur juga di sana.


"Nanti kalau di sana juga tidak ada air, kita tayamum saja. Kembali ke tempat mobil kita terparkir," sambung Hanin, dan diangguki oleh yang lain. Termasuk aku.


Hampir setiap rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya begitu saja ini, terdapat sumur di halaman belakangnya. Tapi satu pun tidak ada yang berisi air. Aneh, apa ya, yang membuat orang-orang di Desa ini meninggalkan rumah-rumah mereka?


Aku yakin ketika ditinggalkan oleh pemiliknya, rumah-rumah di sini kondisinya masih bagus dan layak huni. Terlihat sampai sekarang masih tampak begitu kokoh, meski sebagian gentengnya ada yang melorot dan daun jendela serta pintu ada yang copot juga catnya yang memudar akibat tidak dirawat.


Entah sudah berapa lama Desa ini mati?


Kraaaak!


Lagi, kami semua menjerit histeris saat salah satu di antara kami ada yang menginjak sesuatu sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.


Rupanya Ira menginjak kaleng bekas minuman.


"Kalau jalan lihat-lihat napa!" bentak Rindu.


"Gelap, nggak kelihatan," jawab Ira.


Saat jarak kami tinggal beberapa langkah lagi dari sumur yang akan kami tuju. Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang meminta tolong. Suaranya terdengar tidak asing di telinga ini.


"Anna!" pekik kami serempak, saat menyadari itu suara milik Anna.


\=B E R S A M B U N G\=