
🌹🌹🌹
Saat para penjahat semakin dekat dengan rumah tempat persembunyian kami. Bani menggerakan tangan dan kepalanya memberi aba-aba kepada kita semua agar bergerak perlahan ke balik dinding lain.
Sesuai koordinasi dari Bani, kami pun mulai bangkit berdiri dan berjalan perlahan bersembunyi ke balik dinding, masuk ke ruangan lain. Aku dipapah oleh Sundari dibantu juga oleh Rita. Langkahku terpincang, sesekali meringis menahan luka tembak di kaki yang semakin nyeri kurasa.
Kami bertiga pun tertinggal di barisan paling belakang.
Midah yang sudah sampai di balik dinding terlebih dahulu, ia menyembulkan separuh badannya melambaikan tangan memberi isyarat agar kami berjalan sedikit lebih cepat lagi.
“Yan, cepat sedikit, bisa?”
Aku menimpali pertanyaan Rita dengan gelengan, karena kakiku memang tidak bisa dibawa jalan cepat.
“Periksa dalam rumah ini!”
Kudengar salah seorang penjahat memberi perintah pada kawanannya untuk memeriksa rumah ini. Ira memberi gerakan isyarat agar aku, Rita, dan Sundari lebih cepat lagi.
Dengan segenap kekuatan yang tersisa aku mencoba menahan sakit lalu berjalan lebih cepat lagi masih dibantu dipapah oleh Rita dan Sundari. Hingga akhirnya kami berhasil menyusul yang lain ke balik dinding.
Setelah semua berkumpul di ruangan yang sama. Kelana melambai memberi kode agar kami semua mendekat satu sama lain membentuk lingkaran.
“Kita tidak mungkin tetap di sini. Kita harus pergi lewat pintu belakang. Tadi aku sudah periksa dan ada jalan belakangnya.”
Kali ini Bara yang mengkoordinir kita semua dengan nada berbisik.
“Terus gimana dengan Yanti? Dia kakinya nggak mungkin bisa dipake berlari. Nanti kalau ketahuan kita harus lari, ‘kan?”
Anna mengkhawatirkan aku, nada suaranya tidak terkontrol. Sehingga Riani menempelkan telunjuk di bibirnya memberi isyarat agar Anna memelankan nada suaranya.
Semua lalu terdiam beberapa saat. Kurasa pada bingung memikirkan aku bagaimana nantinya.
“Maaf, aku merepotkan kalian,” ucapku sepelan mungkin.
“Ini musibah. Kamu tidak merepotkan, kok.” Ira menyahut cepat sambil mengusap bahu ini.
“Masalah Yanti, biar aku yang urus. Kalian pergi saja dulu lewat pintu belakang, tapi ingat ... tetap harus hati-hati. Usahakan jangan sampai menimbulkan suara sedikit pun.”
Bara mewanti-wanti dengan penuh kehati-hatian.
“Yanti gimana?” bisik Rafunsel.
“Yanti, insya Allah aman bersamaku.”
Rasa nyeri di kaki seketika sirna pasca mendengar ucapan Bara barusan. Jantung ini rasanya bertalu hebat. Deg-degan saat memikirkan kira-kira apa yang akan Bara lakukan nanti.
Satu persatu semua temanku keluar lalu pergi meninggalkan lokasi persembunyian lewat pintu belakang, yang langsung menerabas ke dalam semak belukar setinggi dada dibarengi oleh Kelana.
Dalam hitungan detik kini tinggalah aku, Bara dan Bani.
“Maaf ya, Yan. Aku terpaksa harus menggendong kamu. Tidak apa-apa, ‘kan?”
Cepat aku mengangguki ucapan Bara. Dalam hitungan detik aku sudah berada di atas punggungnya. Sementara Bani ia mengekor di belakang.
Saat kami sudah berhasil memasuki semak belukar. Salah seorang penjahat berteriak melihat keberadaan kami.
“Bos, mereka ada di dalam semak-semak!” Lagi, penjahat itu berteriak.
Tanpa ba bi bu para penjahat itu langsung memberondong kami dengan tembakan.
Bara terengah, tenaganya semakin melemah.
“Gantian aku yang gendong, Yanti, Bar,” ucap Bani, masih sambil berlari mengekor di belakang. Bara mengangguk lalu berhenti berlari, dan menurunkan aku dari gendongannya.
Cepat Bani mengambil alih posisi Bara. Dalam hitungan detik aku sudah berpindah di atas punggung Bani. Dan kini Bara berada di belakang mengamankan aku dan Bani. Kami lanjut berlari menyusul yang lain.
“Aaak!”
Kudengar di depan ada yang berteriak.
“Ya Tuhan, apa mereka terkena tembak?” tanyaku. Rasa khawatir seketika memenuhi ruang hati.
“Entahlah,” timpal Bani di sela napasnya yang terengah.
Sepertinya aku harus diet nanti kalau masih diberi kesempatan untuk hidup. Masak baru sebentar saja menggendong aku, kedua cowok ini sudah kelelahan. Ini aku yang berat, apa mereka yang letoy?
“Eratkan pegangan, kita percepat lari kita.”
Agak ragu dan riskan hendak mengeratkan pegangan, tapi daripada nanti jatuh akhirnya aku nurut saja. Kulingkarkan kedua tanganku di lehernya dan berpegangan pada dada bidangnya.
Ampuni aku, Tuhan. Ini keadaan darurat. Jadi terpaksa aku melakukan ini. Tapi, kapan lagi ‘kan digendong cowok ganteng, mirip artis pula. Eh, astaghfirullah hal’adzim.
Aku larut dalam lamunan hingga tak menyadari jika posisiku sudah diturunkan dari gendongan Bani, dan sudah berdiri di sela semak belukar.
“Apa yang terjadi?” tanya Bani, gusar. Aku tersentak dari lamunan, lalu memperhatikan kondisi Rafunsel yang terkapar di atas semak belukar sambil terus mengaduh kesakitan memegangi kaki kanannya.
“Ke-kenapa? Rafunsel terkena tembak juga?” Aku merangsek mendekat berjalan terpincang memastikan keadaan kaki Rafunsel. Sejenak kulupakan nyeri di kakiku sendiri.
“Bukan tertembak, tapi kakiku terkilir,” jawab Rafunsel, sambil meringis menahan sakit.
“Terus, kamu bisa jalan nggak, Fu?”
Rafunsel menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ira dengan gelengan.
“Belum dicoba berdiri udah menggeleng aja. Coba berdiri terus jalan dulu kale!” ketus Riani.
Aku mendekatkan mulutku ke telinga Rafunsel lalu berbisik, “kamu nggak lagi modus ‘kan? Jangan bilang ini caramu supaya digendong juga sama cowok ganteng entu?”
“Yaelah, aku kalau mau modus juga tahu waktu. Biar buciners sejati juga lihat kondisi kale!” ketus Rafunsel. Lalu bibirnya mengerucut kesal.
Sehingga menarik perhatian semuanya. Sebagian ada yang mendengkus kesal, dan ada juga yang menggeleng muak.
“Ya udah sih, kalau nggak ada yang percaya sama aku. Tinggalin aja aku di sini. Kalian pergi saja selamatkan diri!” imbuh Rafunsel, ketus. Matanya berkaca-kaca.
Dasar cengeng!
“Kita percaya kok,” sahut Anna, sambil mengusap bahu Rafunsel.
“Ayo kita pergi dari sini. Kamu, biar aku yang gendong,” ucap Kelana, sambil memasang punggungnya di depan Rafunsel yang duduk berselonjor kaki di atas semak belukar.
“Kamu yakin? Aku berat loh,” ucap Rafunsel sok jual mahal.
“Halah, beratan juga rindu,” sahut Kelana.
“Hapaaah!” pekik Rindu tak terima dibilang berat. “Emang kamu udah pernah angkat tubuh saya?” lanjutnya.
Kelana mengangkat kedua telapak tangannya setinggi dadanya sambil menggerakkan ke kiri dan kanan layaknya orang dada-dada.
“Bub-bukan rindu kamu, tapi rindu kangen maksudku,” jelas Kelana. Rindu menyahuti dengan ber-oh saja.
Sementara yang lain ada yang tepuk jidat, ada pula yang memutar bola matanya jengah, dan ada juga yang melet muak mendengar bucinan Kelana.
Fix, GGB ganteng-ganteng bucin ini mah.
“Bucin ketemu Bucin, klop dah.” Riani menimpali dengan nada ketus.
“Sudah-sudah! Ayo kita lanjutkan perjalanan. Para penjahat itu menyusul kita,” ujar Hanin.
Lalu kami melanjutkan perjalanan setelah Rafunsel naik ke atas punggung Kelana, dan aku kembali digendong oleh Bani.
Hingga sampai di sebuah makam yang tak terawat. Batu nisannya hanya terlihat beberapa saja. Lainnya diselimuti semak belukar yang sangat tebal dan setinggi dada manusia dewasa. Bahkan ada juga yang mampu menenggelamkan manusia, tinggi semaknya.
“Kita berhenti di sini dulu!” ajak Bara.
Bani lalu menurunkan aku dari gendongannya. Begitu juga Kelana, ia menurunkan Rafunsel. Lalu kami masuk bersembunyi di dalam semak belukar area makam.
“Usahakan bekas kaki kita rumputnya jangan ada yang terinjak agar bekas langkah kita tidak terdeteksi oleh mereka.”
Kami semua mengikuti saran Kelana. Lalu berjongkok di dalam semak belukar, di samping makam tua yang bolong tengahnya menampakkan dalam kubur yang hitam dan gelap. Meski lubang itu sebagian tertutup rumput dan tidak begitu jelas, tapi mampu membuatku merinding. Entah yang lainnya melihat penampakan ini juga atau tidak.
Tak ingin tengkuk semakin menebal merinding, aku mengalihkan penglihatanku ke arah lain. Melirik ke arah Bara berada. Begini jauh lebih baik. Huf.
Kudengar langkah kaki penjahat yang bersentuhan dengan semak semakin mendekat.
“Kayaknya mereka masuk ke area makam, Bos.” Salah satu penjahat bersuara.
“Tapi sampai sini jejak mereka tidak lagi terlihat, Bos!” pekik salah satunya lagi.
Para penjahat itu berhenti tidak lagi kudengar langkahya.
Kami di sini menahan napas, merasa ngeri.
“Bos, makam ini sangat angker. Aku tidak mau kalau harus masuk ke dalam. Lagi pula semaknya sangat tebal dan ....”
“Argh! Ya sudah. Kita kembali ke markas. Yang penting kita perketat penjagaan di dekat mobil mereka, dan tambah penjagaan di jalan-jalan keluar desa ini!”
Bos penjahat itu memberi perintah, dan dituruti oleh anak buahnya. Mereka pun balik arah terdengar dari langkahnya yang semakin menjauh dari area makam. Namun, masih terdengar suara obrolan dan langkah mereka.
Perhatianku tertuju pada sesuatu yang bergerak melata di leher Rindu yang terbungkus hijab. Aku menunjuk ke arah Rindu sambil mangap-mangap nggak jelas. Panik.
Semua mata pun tertuju ke arah yang aku tunjuk. Lantas kompak melongo. Rindu pun melirik ke arah lehernya lalu mangap hendak berteriak. Untunglah Bani yang kebetulan berada di dekatnya cepat mebungkam mulut Rindu. Kalau tidak, pasti para penjahat itu bakal kembali jika mendengar teriakannya.
Sementara aku dan yang lainnya kompak membungkam mulut masing-masing agar tidak meledak teriakan kami.
Lalu Bara dengan gagahnya menangkap ular sebesar jempol kaki, yang hampir melilit di leher Rindu. Bani masih keterusan membungkam mulut Rindu. Sementara Kelana yang melempar ular itu menjauh dari tempat kami sembunyi.
“Aaak! Bos, ada ular!” pekik salah satu penjahat. Lalu mereka semua lari terbirit. Terdengar dari langkahnya yang semakin gusar dan jauh.
Aku dan yang lainnya menahan tawa. Dan kami pun terkikik setelah para penjahat itu agak jauh.
“Sadis juga kau, Bro. Tapi keren.” Bara mengacungkan jempolnya ke hadapan Kelana. “Orang seperti mereka memang harus diberi pelajaran,” imbuhnya lirih.
“Tapi aku nggak sengaja. Tadi asal lempar saja, dan nggak nyangka juga kalau itu ular jatuhnya ke arah para penjahat itu,” timpal Kelana.
Tidak bisa aku bayangkan bagaimana nasib kami ber-14 jika tanpa ketiga cowok tangguh ini. Dalam hati tak henti kuucapkan hamdalah. Bersyukur karena Tuhan sudah mempertemukan kami semua. Sehingga bisa melewati tantangan ini bersama-sama.
“Aku lepaskan bungkamannya, tapi janji ya, jangan teriak!” bisik Bani, dan Rindu mengangguk lemas. Keringat dingin membanjiri keningnya. Pasti dia ketakutan luar biasa.
Selepas Bani membuka bungkamannya, Rindu pingsan. Kami pun panik. Bingung, sebenarnya Rindu pingsan karena takut, apa karena kehabisan oksigen atau akibat habis digigit ular tadi.
N
E
X
T
👇