
❤❤❤
“Dobrak pintunya!” titah salah satu penjahat pada temannya.
Aku dan yang lain membungkam mulut masing-masing, memejamkan mata, ada juga yang menenggelamkan kepalanya di sela lutut. Merasa ngeri.
Pintu pun kini sudah didobrak dan terbuka lebar. Suara walkie talkie milik salah satu dari penjahat menghentikan langkah mereka untuk masuk memeriksa ke dalam tempat persembunyian kami.
Selepas menerima perintah penting, yang kuyakini dari bos mereka, para penjahat itu pun pergi. Urung memeriksa ke dalam. Ke tempat persembunyian kami. Keadaan masih aman. Entah nanti?
“Alhamdulillah,” ucap kami kompak sambil mengusap dada lega. Setelah para penjahat itu pergi menjauh dari tempat persembunyian kami.
Aku langsung menenggelamkan kepala di sela lutut. Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya luruh juga.
Perasaanku saat ini takut, khawatir, cemas, bingung, bercampur menjadi satu. Aku rasa yang lain juga merasakan hal yang sama. Terlihat dari raut wajah semuanya yang kusut menyiratkan kecemasan.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Midah dengan suara parau, memecah keheningan.
Aku menghela napas pajang, mengusap sisa air mata yang membasahi pipi. Lalu menunduk tidak tahu mesti jawab apa dan berbuat apa lagi. Pun dengan Rindu, Hanin, Sundari, Rita, Lynna dan yang lainnya. Mereka hanya diam dalam kebingungan.
“Kalau kita keluar sudah pasti lambat laun akan tertangkap oleh penjahat tadi. Lagian kalau pun kita berhasil keluar gimana perginya dari desa ini? Mobil kita mogok, udah gitu sekarang dibajak sama penjahat itu,” ucap Rumia.
“Iya juga sih,” sahut Ira, membenarkan ucapan Rumia.
“Argh! Sekarang gimana? Apa yang harus kita lakukan?” ucap Anna, ia terlihat frustasi.
Suara tangisan sesegukan di pojokan menarik perhatian kami. Kami pun kompak menoleh ke arah sumber suara.
Lalu sama-sama mendekati Rafunsel yang lagi nangis di pojokan.
“Hei, kamu kenapa, Fu?” tanya Purnama, seraya mengusap bahu Rafunsel lembut.
“Iya, kamu kenapa, Fu?” sahut Lynna, dahinya berkerut bingung.
“Aku nggak mau kalau harus nginep lagi di desa ini. Takuuut,” rengek Rafunsel, dan tangisnya pun kembali pecah.
“Sssth! Hei, jangan keras-keras nangisnya nanti kita ketahuan sama penjahatnya, Fu!” sentak Sundari. Rafunsel pun langsung menunduk sedih.
“Pokoknya aku nggak mau nginep di sini. Aku mau pulang, titik!” teriak Rafunsel. Kemudian ia berdiri dalam sekali hentakan, dan berlari keluar dari persembunyian. Rafunsel tidak menghiraukan panggila kami, ia tetap berlari. Entah mau ke mana?
“Eh, itu gimana Rafunsel?” tanya Rita, bingung. Pun dengan yang lain. Sama bingungnya. Kalau semua mengejar Rafunsel maka besar kemungkinan semua akan tertangkap oleh penjahat, dan kalau semua tertangkap maka dapat dipastikan tidak ada yang bisa menyelamatkan kami nantinya.
“Oke, biar aku yang kejar Rafunsel. Kalian di sini saja susun strategi penyelamatan para tawanan itu. Kali aja kan lelaki yang ditawan tadi bisa membantu kita untuk keluar dari desa ini,” ujar Rindu. Lalu pergi menyusul Rafunsel tanpa menunggu persetujuan dari kami.
Tidak ada pilihan lain. Kami pun akhirnya mengatur siasat. Lantas kami sepakat nantinya sebagian ada yang mengalihkan perhatian para penjahat itu, dan sebagian lagi membebaskan para tawanan.
Kami pun saling pandang satu sama lain.
“Iya juga, ya?” sahut Midah.
“Argh! Udah jangan mikir macam-macam dulu. Jangan su’udzon dulu. Kita fokus aja pada rencana semula. Selamatkan tawanan,” tegas Riani.
“Tapi ....”
“Tapi apa lagi?” Hanin menyela ucapan Lynna.
“Tindakan kita ini resikonya tinggi. Nyawa taruhannya. Apa kalian semua sudah yakin dan siap?” jelas Lynna.
Kami semua pun terdiam beberapa saat. Bingung.
“Tapi sama saja lambat laun kalau kita hanya berdiam diri di sini pasti akan tertangkap juga oleh para penjahat itu,” ucap Riani.
“Bener juga sih, lagi pula tadi kan kita dengar sendiri para penjahat itu memperketat penjagaan di seluruh penjuru desa ini. Kita bagai ter-skak mat,” imbuh Rita.
“Tindakan yang tepat, ya, menyelamatkan tawanan. Lalu sama-sama cari solusi buat kabur dari sini. Setidaknya nanti kita bakal punya tambahan anggota untuk melawan penjahat itu,” timbrung Sundari.
“Tapi tetap saja, kekuatan penjahat itu patut kita waspadai. Jangan lupa mereka pakai senjata api, loh,” ujar Ira.
“Nggak ada waktu lagi. Kita harus bergerak cepat. Sebentar lagi sore. Kita usahakan sebisa mungkin malam ini kita sudah harus keluar dari desa ini kalau bisa,” ucap Hanin.
Lantas semua pun bersiap untuk mendekat ke TKP penyekapan.
Baru saja semua keluar, dan baru sampai di teras rumah tempat persembunyian kami. Rindu datang berlari tergopoh mendekat ke arah kami berada dengan napas terengah, ia berusaha menyampaikan berita.
Kalau dilihat dari raut wajahnya Rindu yang diselimuti kepanikan, tampaknya berita bahaya yang akan disampaikannya.
Entah berita apa?
N
E
X
T
👇