
***
“Yanti, bangun! Sudah pagi.” Aku menyahuti dengan gumaman. Detik berikutnya meregangkan badan, membersihkan sudut mata, lantas bangun.
Hari masih gelap, tapi suara ayam berkokok serta burung-burung sudah berkicau ramai sekali.
“Ayo, sebagian segera mandi dan sebagian lagi beberes serta menyiapkan sarapan, ya!” Hanin mengkoordinir semuanya.
“Aku ngapain?” tanyaku sambil beranjak berdiri.
Sebagian menjawab ‘terserah’ dan sebagian lagi hanya diam.
“Kamu mandi aja, gih! Ntar gantian kamar mandinya. Biar aku yang masak, sebagian bantu masak. Sisanya silakan beberes. Oke, ya?” ujar Rindu. Semua kompak menjawab ‘oke’.
Setelah bertanya pada Purnama, di mana letak kamar mandinya. Aku pun ke belakang rumah sesuai arahan Purnama. Sesampainya di halaman belakang, terdapat sumur yang masih menggunakan alat nimba manual dengan cara dikerek. Sebelum mandi harus bersusah payah menimba airnya dulu dan diangsur ke dalam sebuah bak hitam besar. Perlu perjuangan dan semangat 45.
Tepat saat aku selesai mandi, yang lain sudah mengantri. Sedang Rindu, Lina, Purnama dan Hanin masih berkutat di dapur.
“Sarapannya ntar aja bareng-bareng. Tunggu ya! Kita mau mandi dulu,” kata Hanin. Kami pun nurut. Menunggu yang lain selesai mandi dulu.
***
Sesuai rencana semalam. Setelah selesai sarapan dan beberes, kami pun bergegas mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di Kampung Buthon ini.
Menyusuri jalanan berbatu menanjak dan menurun. Melewati rumah-rumah penduduk yang kotor tak terawat. Sepertinya sudah ditinggalkan oleh penghuninya selama beberapa hari lamanya.
Kambing, sapi, ayam, serta ternak lainnya riuh kelaparan masih di dalam kandangnya. Aku tak tega melihatnya.
“Gaes, kita harus tolongin hewan-hewan itu. Kasihan, mereka kelaparan.”
“Gimana caranya, Yan?” tanya Rumia, yang lain turut nimbrung.
“Kalau kita mesti cari rumput buat makan hewan-hewan, itu butuh waktu lama. Capek. Selain itu juga kita bakal kehabisan banyak waktu. Misi kita mencari keberadaan penduduk kampung, Yan!” tegas Sundari.
“Iya, aku ngerti. Misi kita cari warga desa, tapi masa iya lihat hewan-hewan kelaparan bahkan ada yang mati kelaparan kayak gini kita biarkan gitu aja. Kasihan tau!” Aku ngotot. Sebagian mulai sepakat denganku. Sedang sebagian lagi hanya diam.
“Oke. Coba kita pikirkan bagaimana caranya kita bisa menolong itu hewan-hewan, tapi yang gak banyak makan waktu,” ujar Riani. Kami pun mulai berpikir keras.
“Aha!” seru Anna sembari menjentikkan jarinya. Semua pun melihat ke arahnya antusias menunggu idenya. “Kita lepaskan saja hewan-hewan itu dari kandangnya supaya cari makan sendiri,” lanjutnya.
“Ide bagus!” Aku langsung sepakat dengan idenya Anna.
“Tapi, bagaimana kalau nanti hilang?” sahut Ira.
“Ck, itu mah pikir nanti aja. Sekarang kita berpencar dan lepaskan hewan-hewan dari kandangnya. Nanti setelah selesai kita kumpul lagi di sini. Oke ya, sepakat?” seru Hanin. Semua pun sepakat dan kami mulai berpencar. Pergi dari satu rumah ke rumah lainnya, menyambangi kandang-kandang hewan ternak lalu melepaskan penghuninya.
Bertepatan saat bertemu kandang sapi dan kerbau, aku merasa agak ngeri saat hendak melepaskan mereka. Takut nyeruduk.
Misi melepaskan hewan ternak selesai. Untunglah di Kampung Buthon ini warganya tidak terlalu banyak. Hanya sekitar 30-an KK. Jadi, pelepasan hewan ternaknya tidak memakan waktu lama.
Sesuai kesepakatan, setelah selesai dengan misi pertama. Kita kembali berkumpul ke tempat semula. Yakni di perempatan jalan. Letaknya tidak begitu jauh dari rumah neneknya Purnama.
“Gimana, clear?” tanya Hanin. Aku dan yang lain kompak menjawab ‘clear’. “Oke. Kalau gitu kita lanjutkan perjalanan,” lanjutnya.
“Eum, kita mau ke arah mana, Pur?” tanya Riani. Purnama tampak berpikir sejenak.
“Kita coba ke atas bukit sana,” ujar Purnama sembari menunjuk ke atas bukit yang lumayan tinggi. Otomatis kami pun menoleh ke arah yang ditunjuk olehnya. “Di sana ada lagi beberapa rumah penduduk. Siapa tahu orang sana ada yang tahu keberadaan warga sini,” paparnya.
“Ya sudah, ayo, tunggu apa lagi.” Rindu begitu semangat. Sedang Rafunselia terlihat lesu.
“Kita ke atas bukit sana jalan kaki?” tanya Rafunselia.
Semua kompak menjawab, “ya iyalah!”
“Bawa mobil aja kenapa, sih? Capek tau, abis menyisir rumah warga yang letaknya di lereng-lereng gunung, lepasin ternak. Terus sekarang mesti jalan kaki ke atas bukit pula,” rengek Rafunselia.
“Ya elah, manja bener!” ketus Riani.
“Auk. Lebay deh!” imbuh Lina.
“Udah dibawa santai aja. Itung-itung piknik sambil olahraga.” Midah ikut nimbrung.
“Iya, bener apa kata Midah. Kita nggak bisa bawa mobil ke atas bukit sana. Medannya terjal banget, kita kan belum terbiasa mengemudi di medan seperti itu. Takutnya malah berbahaya nantinya,” papar Purnama.
“Tuh, dengerin!” sentak Tika.
“Iya iya, aku denger. Kupingku masih normal, kok, belum budek!” sungut Rafunselia.
***
Setelah menyusuri jalanan berbatu dan menanjak cukup terjal. Sisi kiri kanannya terdapat pohon-pohon besar seperti halnya pohon mahoni, jati, albasia dan pohon lainnya. Serta kebun-kebun milik warga dengan aneka tanaman.
Terdapat jurang yang cukup curam juga. Sehingga merasa ngeri kalau melihat ke bawah. Semisal sampai terperosok ke bawah sana. Entah apa jadinya. Mungkin akan hancur badan kita. Amit-amit. Jangan sampai.
“Hati-hati Gaes. Jangan terlalu minggir jalannya. Awas di depan jalannya mepet jurang lagi.” Purnama mewanti-wanti. Namun, Ira cuek dan malah asyik berfoto ria. Bahkan membuat video segala.
“Ira, awas!” pekik Tika. Namun, terlambat. Ira sudah terperosok ke bibir jurang, berpegangan pada serumpun rumput, berteriak meminta tolong. Kami syok dan panik.
Rumput yang dipegang oleh Ira tidak cukup kuat menahan berat beban badannya. Perlahan rumput itu tercabut. Ira nyaris jatuh ke jurang. Untunglah Anna sigap menangkap tangan Ira. Kami pun bahu membahu berusaha mengevakuasi Ira.
“Alhamdulillah,” ucap kami serempak saat berhasil menarik tubuh Ira yang tergantung di bibir jurang. Nyaris saja kami kehilangan satu teman.
Kami duduk di tengah jalan. Syok. Keringat membanjiri kening dan membasahi tubuh kami. Ira menangis tersedu. Pasti dia syok berat. Midah mengusap pundak Ira menenangkan. Sedang beberapa teman kami yang lain memarahi gadis malang itu.
“Makanya kalau dibilang hati-hati itu dengerin! Sibuk aja mainan HP!” sentak Lina. Tangis Ira semakin jadi.
“Udah-udah, jangan dimarahi terus. Kasihan Iranya,” sela Hanin.
“Udah, Ra. Yuk, kita lanjutkan perjalanan. Sebentar lagi kita sampai di puncak bukit , kok. Di sana kita bisa istirahat lagi nanti,” ujar Purnama seraya membantu Ira berdiri. Lantas, diambilkannya ponsel Ira yang masih teronggok di pinggir jalan, dan diberikan kepada si empunya. Untunglah baik orangnya juga Hpnya masih terselamatkan.
***
Sampai di puncak bukit, kami mendatangi satu rumah ke rumah yang lain. Sama seperti di bawah bukit sana. Rumah-rumah kosong ditinggalkan pemiliknya entah ke mana.
“Sekarang bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Rumia. Sebagian menggeleng dan sebagian lagi mengedikkan bahu tanda tak tahu.
“Kita terpaksa harus menginap di salah satu rumah kosong ini,” ujar Purnama.
“Hah! Gila! Yang bener aja, masa kita nginep di rumah orang. Mana kagak ada si empunya lagi. Itu namanya lancang,” cerocos Sundari.
“Ya, mau gimana lagi. Hanya ini pilihan yang ada. Kalau kita balik ke kampung bawah bukit. Memakan waktu. Perjalanan dari bawah sana ke sini memakan waktu sampai 2 jam lebih. Sekarang sudah jam 5 sore. Kalau balik lagi ke bawah bahaya. Lagian sampai bawah udah malam. Tahu sendiri kan jalannya kayak apa. Lagipula kita juga nggak bawa penerangan.” Purnama mencoba memberi pengertian.
Tak ada pilihan lain. Kami pun akhirnya memilih satu rumah kosong untuk kami tinggali malam ini.
“Lapar,” rengek Anna.
“Sama. Kita kan tadi di jalan cuma makan roti bekal dari rumah sama air mineral doang,” sahutku.
“Ya udah, mumpung masih agak terang. Kita ke kebun yuk! Cari ubi atau semacamnya untuk kita rebus lalu kita makan,” ajak Purnama.
“Hah! Emang nggak apa-apa? Boleh?” tekan Midah.
“Ya, mau gimana lagi. Terpaksa,” ujar Purnama. Lantas, kami pun mengikuti langkah Purnama ke kebun yang terletak tak jauh dari rumah. Sekitar seratus meter di belakangnya.
Purnama berhenti di salah satu kebun yang kebetulan ada tanaman ubi jalarnya juga ubi kayunya. Aku dan yang lain ikut aja.
“Parah banget sumpah! Udah kita tinggal di rumah orang tanpa permisi. Sekarang nyolong tanamannya pula,” cerocos Riani.
“Terpaksa. Lagipula, tenang aja. Pemilik kebun ini masih saudara jauhnya nenekku, kok,” terang Purnama. Kami pun mulai mencabut ubi sebanyak yang kita butuhkan. Setelah dapat, kita bawa pulang, dibersihkan dan langsung direbus.
Sambil menunggu ubi rebus matang. Kami berbagi tugas. Sebagian beberes rumah supaya bersih dan nyaman. Sebagian lagi ngantri mandi. Sama seperti di rumah neneknya Purnama. Sebelum mandi mesti nimba dulu dengan cara dikerek. Sumurnya pun sangat dalam. Sehingga merasa ngeri setiap kali melihat ke dalamannya.
***
Usai menikmati ubi rebus, kami duduk santai sambil diselingi obrolan ringan. Aku dan yang lain bertanya-tanya tentang suasana Kampung Buthon ini sebelum penduduknya menghilang, pada Purnama. Dan Purnama pun menceritakan semuanya.
Di sela obrolan, Rindu dan Riani pamit mau pipis katanya. Lantas, mereka ke belakang.
Selang beberapa menit Rindu dan Riani berteriak memanggil dari arah luar rumah. “Gaes, sini! Cepetan keluar!”
Semua yang ada di dalam rumah pun menghambur keluar.
“Ada apa?” sahut Rita. Setelah kami semua berada di luar rumah. Lebih tepatnya berada di samping rumah.
“Lihat, itu di sana!” Semua kompak melihat ke arah yang ditunjuk oleh Rindu. Terdapat kerlip obor di balik bukit. Jauh di bawah sana.
“Di sana ada rumah lagi, Pur?” tanya Hanin.
“Perasaan nggak ada deh, tapi entah jika sekarang ada rumahnya,” jawab Purnama. “Besok kita ke sana mencari tahu!” imbuhnya.
Aku dan yang lain sependapat dengan Purnama. Kami pun pergi istirahat mengumpulkan tenaga untuk esok menjalankan misi selanjutnya.
_______