Horror Adventures

Horror Adventures
Tersesat di Desa Mati 2



***


"Annaaa!" pekik kami riuh nyaris bersamaan. Namun, suara Anna tidak lagi terdengar. Membuat kami semua dilanda kepanikan.


Kami berlari tergopoh ke tempat di mana suara Anna tadi berasal.


Bruuuk!


"Aww!" rintihku, saat aku tersungkur ke tanah akibat kaki tersandung entah apa? Tapi semua temanku tidak ada yang menyadari jika aku jatuh. Fokus mereka hanya berlari ke tempat suara Anna berada.


"Woy! Tunggu!" Memekik sekuat tenaga, tapi tetap mereka terus berlari tidak ada yang berhenti.


Sebuah tangan tiba-tiba mengulur saat aku kepayahan hendak berdiri. Tanpa melihat itu tangan milik siapa segera kuraih dan aku pun kini berhasil berdiri berkat bantuannya. Ternyata ada salah satu temanku yang menyadari aku terjatuh. Aku pikir semua sudah meninggalkanku.


Tapi ..., kok tadi tangannya saat kupegang terasa dingin, ya? Kayak es.


"Terima kasih ya," ucapku, sambil menoleh ke samping kanan saat selesai menebah bagian lutut yang kotor. Aku yakin tangan tadi mengulur dari sebelah kananku.


Tapi, kok ....


Lalu menoleh ke samping kiri, kemudian ke belakang. Namun, tidak ada seorang pun di sini.


Bulu kudukku mulai meremang, jantung berdetak kencang. Hasrat hati ingin berlari, tapi kaki seolah tertanam di tanah. Sulit kugerakkan apalagi untuk berlari.


Argh!


Sekuat tenaga aku mencoba mengangkat kakiku, dan berusaha lari. Namun, lutut terasa lemas.


"Aaaaaak!" pekikku histeris saat akhirnya berhasil berlari.


Aku berhenti sejenak saat sampai di sebuah pertigaan. Menoleh ke sana kemari mencari keberadaan teman-temanku yang lain, tapi tidak terjangkau oleh netra. Entah di mana mereka?


Selain kondisi yang sudah gulita tanpa penerangan sama sekali, jarak pandang tersekat oleh bangunan rumah-rumah kosong juga semak belukar dan pepohonan.


Ubrut ubrut ubrut ubrut!


"Aaaak!" Segera aku berjongkok menenggelamkan wajah di sela paha. Entah apa yang terbang di atas kepala tadi. Seolah hendak menyambar kepalaku.


"Yanti! Kamu kenapa?"


Aku bangkit, lalu berlari ke arah sumber suara berasal.


"Midah! Tolong aku, Mid!" panggilku.


Aku yakin itu suara milik Midah.


"Kamu kenapa bisa tertinggal? Bukannya tadi kamu lari di barisan paling depan?" tanya Midah. Keheranan.


"Aku tadi jatuh, kalian nggak ada yang mau nungguin aku," jelasku di sela napas yang memburu.


"Ah, jangan bercanda dong, Yan! Orang tadi aku lihat kamu lari di depanku kok," sahut Ira. Teman yang lainnya pun mendekat. Dan semua membenarkan apa yang dikatakan oleh Ira.


Kami terdiam sejenak, kemudian saling berbisik dan bertanya siapa sosok yang menyerupai aku tadi. Menelaah kejadian yang baru saja kami alami. Sungguh kejadian yang tidak termakan oleh nalar.


Kami pun kembali terdiam larut dalam pikiran masing-masing. Sebagian ada yang komat-kamit baca do'a mungkin. Entahlah. Semua terlihat kacau.


"Sekarang bagaimana? Apa yang akan kita lakukan?" tanya Agatha, memecah keheningan.


"Lanjut mencari Anna, khawatir terjadi sesuatu padanya," jawab Hanin.


"Aaaak!" Kami semua menjerit histeris saat suara serupa seperti tadi kudengar kembali tertangkap oleh indera pendengaran. Suara benda terbang tepat di atas kepala seolah ingin menyambar kepala kami semua.


"Tenanglah! Itu hanya suara kalong atau kelelawar," jelas Tika.


"Yang bener Tik?" desis Rindu, dan diangguki oleh Tika. Kami semua kompak mengelus dada ada yang mengusap wajah seraya mengucap syukur. Lega. Ternyata bukan makhluk astral. Aman.


"Ya sudah, ayo lanjut mencari Anna!" ajak Riani. Gelagatnya seolah tidak betah berlama-lama di tempat ini. Entah apa yang dia rasakan. Aku yakin dia pasti melihat sesuatu yang tak kasat oleh mata kami.


Kami kembali berjalan menyusuri setiap penjuru desa yang sangat mencekam sambil meneriakkan nama Anna, tapi belum ada sahutan dari gadis cantik penyuka warna merah muda itu.


Kamu di mana Anna? Kami semua cemas.


Mengarahkan sorot senter ke sisi kiri, kanan, depan dan belakang.


Wuuush!


Sekelebat bayangan mirip Anna sedang berlari di belakang rombongan kami berada, lalu masuk ke dalam rumah kosong. Benar Anna bukan, ya?


"Gaes!" panggilku, sontak membuat teman-temanku menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arahku.


"Ada apa?" tanya Sundari dan Rita nyaris bersamaan.


"Iya, ada apa, Yan?" sahut Hanin.


"Tadi aku lihat sosok seperti Anna masuk ke dalam rumah yang di sana itu," jelasku seraya menunjuk.


"Ya sudah, ayo kita cek!" ajak Rindu.


"Sebentar!" cekal Riani, sontak membuat langkah kami terhenti. Kemudian menoleh ke arah Riani berdiri.


"Kenapa lagi, Riani?" sahut Ira.


"Memangnya kalian nggak merasa aneh, apa? Kalau itu benar Anna pasti larinya ke sini, menghampiri kita, bukan ke dalam rumah kosong itu. Percaya deh, itu bukan Anna." Riani terlihat begitu meyakini persepsinya.


"Lebih baik kita pastikan dulu ke sana. Kalau Cuma nebak-nebak kita nggak akan tahu pastinya, itu Anna atau bukan." Akhirnya kami semua mengikuti saran dari Hanin. Meski sebelumnya sempat diwarnai kericuhan karena rombongan kami terpecah menjadi dua kubu. Sebagian ada yang setuju dengan saran Hanin, dan sebagian lagi sepakat dengan yang dikatakan Riani.


Berjalan perlahan saat sampai di teras rumah yang tampak kotor, dan berserakan banyak plafon yang sudah keropos jatuh mengotori lantai teras.


Saling suruh satu sama lain, tak ada yang berani membuka pintu.


Riani yang sedari tadi diam lantas melangkah mendekati pintu berwarna abstrak yang terbuka sedikit. Lalu mendorongnya perlahan. Deritan khas pintu tak terawat pun nyaring memecah keheningan.


Kriyeeeeet ....


Senter langsung Riani sorotkan ke dalam setelah pintu menganga, sehingga menampakkan gambaran suasana di dalam rumah yang sudah entah berapa lama dibiarkan kosong.


Banyak barang berserakan, kotor, juga terdapat sarang laba-laba hampir di setiap penjuru ruang. Plafon banyak yang bolong serta pengap saat kami mulai melangkah masuk ke dalam. Tak jarang kami menginjak barang atau kayu lapuk yang berserakan. Sehingga menimbulkan bunyi khas barang terinjak.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari dalam sebuah kamar. Tangisannya terdengar memilukan membuat hati siapa saja yang mendengarnya serasa tersayat sembilu. Nyesek.


Seketika langkah kami kompak terhenti, lantas menajamkan pendengaran. Saling pandang satu sama lain dalam remang sorot cahaya senter masing-masing yang sudah mulai meredup sorotnya akibat berkurang daya baterainya.


"Kalian dengar, nggak?" tanya Riani dengan nada berbisik. Aku dan yang lainnya mengangguk nyaris bersamaan, mengiyakan bahwa kami juga mendengar suara tangisan itu.


Apa itu suara tangisan Anna?


\=B E R S A M B U N G\=