
Rachel
Matahari menyinari hati ku. Sinar kebahagiaan yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya. Aku pernah mengencani berbagai pria. Menggonta-ganti laki-laki sesuka ku adalah hal biasa. Namun, kali ini aku benar-benar jatuh cinta. Dia bagai bunga matahari yang menyinari taman yang gersang.
"Hei, sebaiknya jangan percaya pria itu. Dia baru saja menemui wanita lain sebelum kamu." Ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba datang dan memberi sebuah foto lalu menghilang.
"Hai Rachel, kamu baik-baik saja?." Toni duduk didepan ku sembari meraih jemariku. Memberikan sentuhan halus.
"Katakan sebenarnya pada ku. Kamu selingkuh kan?."
"Apa?, jangan ngaco kamu."
"Lalu ini apa?." Ku tunjukkan fotonya dengan seorang gadis sedang berciuman.
"Nggak Hel, aku bisa jelaskan!."
"Bodo amat!."
Aku beranjakkan. Namun ia menahan tangan ku. Dengan gesit aku mengambil gelas es cokelat dan menuangkan ke wajahnya. "Pantas untuk mu tukang selingkuh!."
Aku mengejar pria itu, namun tidak ku temukan. Esok harinya ku datangi kafe itu dan berharap bertemu dia lagi.
"Rachel! Rachel!." aku berbalik melihat Mahu, tersenyum lebar berlari kearahku. Sahabat ku sejak SMP dan kebetulan kami di universitas dan jurusan yang sama.
"Nyari siapa?."
"Eh nggak kok." "Yaudah, ayo ke kelas nanti kita telat. Aku nggak mau dikeluarkan lagi sama dosen killer itu."
Suatu keberuntungan bagiku. Kami di kelas bahasa yang sama. Ia duduk di bangku paling belakang. Sepanjang pelajaran aku selalu mencuri pandang dengannya. Sungguh membuatku bahagia. Bisa menemuinya setiap hari, wajah pucat dan tatapan tajam seolah-olah ingin membunuh seseorang.
Setelah kelas berakhir aku menemuinya.
"Hai... Terima kasih soal kemarin."
"Oh iya sama-sama."
"Rachel!, aku duluan yaa..." Seru Mahu dan langsung melejit keluar kelas tanpa menunggu jawaban ku.
"Teo."
"Aku Rachel."
"Perempuan keriting tadi siapa?."
"Oh itu Mahu, sahabat ku." dia tidak memberi respon apa-apa. "Jika tidak keberatan mau ku traktir dinner, sebagai balas budi."
"Nggak usah repot-repot. Lagian saya lakukan itu karena dibayar."
"Maksud mu?."
"Ada yang tergila-gila kamu sama kamu dan ingin melindungi kamu. Saya dibayar orang agar bisa mengumpulkan bukti perselingkuhan pacar mu."
"Jujur sekali..." Teo langsung pergi setelah membereskan buku nya.
Sejak hari itu, aku selalu mencari Teo. Mengajaknya berbicara hingga kami menjadi dekat. Membahas perkuliahan dan mengerjakan tugas kuliah bersama. Ia tergabung dalam kelas bahasa karena ia mahasiswa pindahan luar negeri. Dia juga tidak dari fakultas kami. Karena itu sulit bagiku menemuinya.
Dia aktif keorganisasian fotografi dan perfiliman. Demi dekat dengannya aku mengikuti organisasi itu, membaca berbagai buku agar dapat menjadi teman mengobrol. Meski yang lebih banyak mengajarkan aku adalah Mahu, yaa Mahu kutu buku dan gila melukis. Dia bisa dalam berbagai hal.
Ya. Aku berhasil dekat dengan Teo, sebagai teman komunitas. Setidaknya aku bisa tertawa bersama, berdiskusi, berpesta dan liburan. Meski tidak berdua. Aku dekat dengan teman-teman Teo karena itu mereka selalu mengajak ku. Walau aku selalu berharap bisa berduaan dengan Teo, setiap aku mengajaknya dia selalu membawa temannya.
Dari tahun ke tahun, perasaan ku semakin dalam hingga hari ini. Bahkan setelah mendengar kenyataan pahit yang harus ku telan.
Dan itu Mahu, yang berusaha ku hindarkan dari Teo. Sejak masa kuliah aku sengaja tidak mengajak Mahu karena mereka memiliki kepribadian yang sama. Keduanya cerdas dan pantai bergaul. Bila ku perkenalkan mereka aku takut, Teo jatuh cinta padanya. Dan perjuangan ku akan sia-sia. Aku khawatir menjadi asing saat berada di tengah-tengah mereka.
Namun, pada akhirnya usaha ku sia-sia. Apakah ini sebuah takdir?.
Aku takut Mahu merebut jantung hati ku yang ku temui lagi 5 tahun lalu. Faktanya mereka telah bersama. Sejak kapan mereka saling mengenal?. Apakah sejak pesta malam itu, jika benar. Akulah yang membuat kesalahan.
Marah. Tentu saja. Aku miliki segalanya tetapi kenapa aku selalu iri pada Mahu, setiap laki-laki yang ingin dekat dengannya selalu jatuh dalam pelukan ku. Pernah sekali ia jatuh cinta tetapi saat ku katakan laki-laki itu adalah pacar ku. Dia tidak pernah sekalipun menjauh dari ku. Sejak itu pula, Mahu tidak bercerita soal pria yang dia sukai. Apakah ia memiliki kekhawatiran yang sama dengan ku?. Apakah kami benar-benar sahabat?. Entahlah...
Hari ini aku menemui Mahu di kafe dekat kantornya sore nanti, ingin ku tanyakan tentang Teo, yang masih membekas di benak ku sejak kemarin. Tidak mungkin mereka menikah. Ku harap mereka hanya bersandiwara.
Bersambung...